Suffering Bride

Suffering Bride
Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

Kini di tangan Kiana sudah ada dua buah apel berwarna merah yang ia petik sendiri langsung dari pohonnya. Kiana hendak melahap apel merah tersebut namun Tuan Lucas langsung mengambilnya begitu saja, hal itu membuat Kiana mengerucutkan bibirnya kesal. Tuan Lucas mengambil air mineral kemudian membuka kaca mobilnya dan mencuci apel merah tersebut. Hal itu tidak luput dari perhatian Kiana. Bahkan pengawalnya pun ikut melihat kearah Tuan Lucas , tapi dengan bibir yang bungkam.


“Lain kali jika mau memakan sesuatu yang langsung dari pohonnya itu di cuci lebih dahulu,” kata Tuan Lucas.


“Terima kasih,” jawab Kiana dengan senyuman manisnya. “Apakah Anda mau?” tanya Kiana dengan menyodorkan buah apel itu dihadapan Tuan Lucas dengan wajah polos.


Tuan Lucas menggengam tangan Kiana kemudian mengarahkan buah apel itu kedalam mulutnya dan menggigitnya. Tuan Lucas mengamati Kiana yang kini sedang mengerucutkan bibirnya setelah melihatnya langsung mengigit dua kali buah apel itu.


“Ja-jangan dihabiskan saya hanya ambil dua buah apel saja tadi,” kata Kiana dengan wajah yang cemberut. “Uang Anda banyak nanti bisa beli jika ada supermarket,” kata Kiana lagi. Kiana bahkan tidak sadar dengan apa yang ia katakan barusan mungkin karena wanita itu terlalu sibuk melihat buah apel yang ia petik tadi.


“Makanlah,” kata Tuan Lucas dengan membenahi posisi duduknya.


“Terima kasih,” kata Kiana dengan tersenyum manis.


“Hanya karena buah apel saja dia cemberut begitu,” kata Tuan Lucas. “Aku akan memberikan banyak uang padamu tapi berikan satu buah apel itu padaku,” kata Tuan Lucas mencoba untuk mengetes Kiana.


“Tidak mau, mending uang itu Anda buat beli pohon apel saja dan jangan di tukar dengan punya saya,” kata Kiana dengan mengunyah buah apel yang ada didalam mulutnya.


“Dia Naif sekali,” batin Tuan Lucas. “Sepertinya kau mau mendapatkan hukuman,” kata Tuan Lucas.


Kiana langsung menghentikan aktifitas mengunyah buah apel tersebut dan melihat kearah Tuan Lucas. “Ja-jangan, ini Anda makan saja,” kata Kiana dengan terpaksa. Kiana memberikan buah Apel itu dengan wajah yang sedih sekali.


“Aku berubah pikiran dan sebaiknya langsung kamu makan saja,” kata Tuan Lucas.


“Terima kasih,” jawab Kiana lagi dengan wajah yang bahagia.


Selang beberapa waktu.


Dari pusat kota menuju ke perdesaan ini menghabiskan waktu sekitar 7 jam perjalanan. Kiana yang merasa lelah pun tertidur usai makan siang. Jalanan perdesaan ini berbatu dan juga berkelok membuat Kiana yang sedang tidur hampir saja terbentur jendela mobil andaikan Tuan Lucas tadi tidak menarik tubuh Kiana kedalam dekapannya.


“Maaf,” kata Kiana yang langsung tersadar dari tidur nyenyak nya. Kiana yang menyadari jika kini kepalanya sudah bersandar di dada bidang Tuan Lucas pun hendak menarik kepalanya dan membenarkan posisi tubuhnya, tapi kata-kata Tuan Lucas mengurungkan niat awalnya itu.


“Lanjutkan saja tidur kamu,” pinta Tuan Lucas.

__ADS_1


Kiana yang merasa ngantuk pun kembali masuk kedalam alam mimpi. Andaikan saja Tuan Lucas melihat akan hal ini pasti lelaki itu tidak akan henti meledek Tuan Lucas.


Sedangkan disisi lain kini Tuan Fkar sedang sibuk berkutat dengan begitu banyak tumpukan berkas. Tuan Lucas pergi secara mendadak dan meninggalkan pekerjaan yang begitu banyak bagi Tuan Fkar, hal itu membuat Fkar sampai tidak bisa melakukan makan siang karena begitu banyak pekerjaan yang harus lelaki itu urus sedangkan sang pemilik perusahaan ini sedang pergi untuk jalan-jalan dengan istrinya.


Kiana membuka matanya dan plafon kamar yang berwarna hitam terbuat dari kayu yang begitu kuat mulai memenuhi seluruh pandangannya. Kiana mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan kamar ini. Suasana estetik terlihat jelas dari perabotan sederhana yang ada didalam ruangan ini dan Kiana mulai mendudukkan tubuhnya, ruangan ini sepi tidak terdapat satu orangpun didalamnya.


“Aku ada dimana,” tanya Kiana pada dirinya sendiri.


Kiana mulai beranjak turun dari atas ranjang kemudian keluar dari ruangan kamar ini dan secara kebetulan ada seorang perempuan yang Kiana percaya bekerja untuk membersihkan tempa itu hal itu bisa dilihat dari sapu dan juga peralatan sejenisnya yang kini sedang wanita paruh baya itu pegang.


“Apakah Anda mencari Tuan Lucas?” tanya wanita paruh baya itu.


“Ya, apakah Anda mengenalnya?” tanya Kiana.


“Ini adalah villa milik Tuan Lucas tentu saja saya mengenalnya,” kata wanita paruh baya itu. “Baru kali ini Tuan Lucas mengajak seorang wanita berkunjung sebab biasanya beliau akan datang sendirian jika sudah lelah dengan urusannya di kantor,” jelas wanita paruh baya itu lagi.


“Tuan Lucas sekarang ada di mana?” tanya Kiana.


Di tempat lain.


“Tuan Lucas,” panggil Kiana. “Bolehkan saya duduk di sini juga?” tanya Kiana dengan kepala yang tertunduk.


Kiana seakan melupakan janjinya pada Anna dan juga Raka beberapa hari yang lalu kalau perempuan itu tidak akan mendekati Tuan Lucas. Bolehkah jika Kiana merasa egois satu kali saja karena selama ini hidupnya selalu saja dipenuhi dengan kegelisahan namun ketika melihat perubahan sikap Tuan Lucas yang begitu hangat padanya membuat Kiana merasa bahagia.


“Duduklah,” kata Tuan Lucas kemudian menutup laptopnya.


“Maaf, jika saya mengganggu Anda dan sebaiknya Anda lanjutkan saja pekerjaannya karena itu jauh lebih penting.” Kiana begitu gugup sekali ketika melihat Tuan Lucas menutup laptopnya begitu saja dan ketika Kiana sudah berbalik arah bersiap untuk menjauh dari gazebo tersebut Tuan Lucas langsung memegangi tangannya.


“Duduklah! Pekerjaan itu tidak terlalu penting,” kata Tuan Lucas mencoba untuk meyakinkan Kiana.


“Kenapa aku malah mencarinya ketika membuka mata, seharunya aku menjauh dari Tuan Lucas  karena dia adalah milik Wessica. Aku tidak boleh egois seperti ini,” batin Kiana mulai berperang dengan akal dan juga hatinya yang sekarang sedang berjalan tidak selaras.


“Kenapa masih berdiri duduklah!” perintah Tuan Lucas dengan tatapan yang teduh.

__ADS_1


“Sa-saya tidak pantas berada disamping Anda karena saya hanyalah seorang pelayan,” kata Kiana dengan menarik balik tangannya. “Saya tidak boleh dekat dengan Anda, karena Anda hanyalah milik Wessica saja.” Suara Kiana terdengar bergetar ketika mengucapkan akan kebenaran itu.


Kediaman Hitsyah.


“Kamu hubungi anak nakal itu dan suruh dia lekas kembali! Karena Papa takut jika Kiana mencoba untuk mengambil perhatian Tuan Lucas, bukankah kita sudah bisa melihat sendiri perubahan Kiana sekarang,” kata Raka yang mulai merasa cemas.


“Mama sudah mencoba untuk menghubungi Wessica, tapi dia malah tidak mengaktifkan ponselnya,” kata Anna dengan menghempaskan kasar tubuhnya di sofa yang sama dengan Raka.


“Jika sampai Tuan Lucas mencintai Kiana maka aku akan menahan Wessica agar tidak mengacaukan hubungan mereka.” Raka sudah mengambil keputusan.


“Papa, mana mungkin kamu bisa bicara seperti itu, Wessica adalah putri kita sendiri dan kita akan melakukan apapun untuk membantunya,” kata Anna tidak serta-merta setuju begitu saja dengan apa yang suaminya katakan barusan.


Di tempat Kiana berada.


Tuan Lucas memperhatikan hidung Kiana yang mulai kembang-kempis dan kedua alis perempuan itu mulai memerah dan sedikit berkerut, tatapan Tuan Lucas mulai jatuh pada kedua kornea mata Kiana yang sudah diselimuti oleh kristal bening. Waktu seakan berjalan melambat ketika kedua insan tuhan yang sedang tidak mengerti dengan isi hatinya sekarang, itu mulai saling menatap satu sama lain. Angin berhembus sepoi-sepoi di pinggir sawah ini memainkan rambut Kiana yang tergerai begitu saja kesana-kemari mengikuti nafas angin membawanya.


“Kenapa dia bersedih? Aku melihat rasa sakit yang terpancar jelas dari kedua manik matanya itu, apakah dia sudah jatuh cinta padaku? Ataukah karena dia ketakutan padaku hingga hampir menangis seperti itu?” tanya Lucas pada dirinya sendiri didalam hati mencoba menebak apa yang sedang Kiana pikirkan sekarang namun, lelaki itu tidak berhasil menemukan jawabannya.


“Saya permisi pergi terlebih dahulu,” pamit Kiana.


“Wessica tidak ada di sini! Selama dia belum kembali maka kamu bebas berada di sampingku,” kata Tuan Lucas sembari menarik tangan Kiana kembali untuk duduk disampingnya.


Kiana tersenyum miris setelah mendengarkan apa yang Tuan Lucas katakan padanya barusan. Haruskah Kiana sedih atau justru ia akan bahagia karena menjadi pengganti dan akan dibuang begitu saja ketika sang pemilik suaminya yang asli datang. Apakah Kiana terlahir didalam dunia ini hanya untuk mendapatkan siksaan dan juga hinaan saja bahkan tidak ada satupun kebahagiaan yang tulus untuknya. Kiana juga tahu jika Anna dan juga Raka berubah menjadi baik padanya karena kedua orangtua angkatnya menginginkan Kiana memihak pada mereka, Kiana tahu akan semua itu sebab ia tidak buta namun, Kiana tidak mempermasalahkannya karena sejak dari awal Tuan Lucas memang milik Wessica.


“Kenapa kamu hanya diam saja?” tanya Tuan Lucas dengan melihat lurus ke depan.


“Saya bingung ingin bicara apa,” jawab Kiana jujur.


“Dari mana kamu tahu aku berada di sini?” tanya Tuan Lucas mencoba mengubah topik perbincangan mereka. Sungguh ini untuk kali pertama Tuan Lucas bertanya pada orang lain mengenai hal yang tidak penting seperti ini.


“Seorang wanita paruh baya memberitahukan pada saya,” jawab Kiana jujur.


“Apakah kamu mau berkeliling tempat ini?” tanya Tuan Lucas.

__ADS_1


“Sepertinya saya akan melakukannya sendiri karena Anda pasti sedang repot sekarang,” kata Kiana.


__ADS_2