
Tibalah Devi di rumahnya, dengan sangat lemas masuk ke rumah. duduk di sofa sebelah adiknya Tia dan Cita.
"kakak kenapa?? kaya yang capek gitu" kata Cita
"abis dari pantai, pulang ke Jakarta terus ke Bandung, balik lagi ke Jakarta. duh badan pegel-pegel" kata Devi
"ga biasanya kakak capek abis pake nyetir mobil... bukannya kakak suka main pake mobil" kata Tia
"Neng... seminggu kakak di luar kota wajar ajah kali ini kakak kecapean" kata Devi
"aku yakin bukan itu yang bikin kakak capek" kata Tia
"ah... kalian bikin kakak bete ajah, bukannya pijitin kek, dah ah kakak ke kamar dulu mau mandi dulu" kata Devi
Tia ga percaya begitu saja, dia mencari tau apa yang buat kakaknya itu sangat kelelahan. mukanya terlihat sedih. dan Tia mempunyai rahasia tentang Yodi. dia ingin menceritakan tentang hal itu.
Tia yang selalu baik hati di tengah keluarganya yang tidak adil, dia memperlakukan saudaranya dengan perhatian yang sangat lebih. walaupun kakak dan adiknya bersikap terkadang tidak sopan atau cuek kepadanya. karena satu-satunya anak yang tidak terbawa tren kekinian. dari kecil dia sudah punya prinsip, hidup mandiri dan menjadi muslimah yang baik.
Tia membuat teh manis hangat dan buah-buahan untuk di bawakan kepada kakaknya Devi. dia membawanya ke lantai dua rumahnya. lalu dia masuk ke kamar Devi. walaupun pintu kamar Devi setengah terbuka Tia selalu memakai adab, dan hormat kepada kakaknya.
"kak... kak Devi" kata Tia
Devi belum menjawab panggilan dari Tia. Tia melihat kakaknya di depan pintu yang setengah terbuka, Devi sedang melamun di depan cermin. kondisinya masih memakai handuk. Tia melihat Devi seperti mempunyai masalah besar, baru kali ini dia melihat kakaknya seperti orang yang stress berat. Tia mencoba masuk ke dalam dengan mengetuk pintu kamar Devi.
"kak Devi...." kata Tia
Devi kaget dan melihat ke arah pintu
"kamu ngagetin kakak ajah" kata Devi
"maaf kak... Tia cuman bawain ini, teh manis sama buah apel. biar kakak ga capek lagi" kata Tia
"ya ampun neng.... makasih ya" kata Devi
"kak... di kamar mandi kok bau rokok, kakak ngerokok lagi??" kata Tia
"iya... kakak lagi pingin ajah, ga haram kan??" kata Devi
"haram urusan belakangan kita tunda dulu... Tia mau nanya, kakak lagi punya masalah berat ya ka??" kata Tia
"engga... kakak baik-baik ajah, kenapa emang??" kata Devi
"oh... kalo gitu, Tia boleh cerita sama kakak ga??" kata Tia
__ADS_1
"ya ampun... kamu itu sama kakak sendiri sopannya kaya ke orang lain ajah. kalo cerita mah sok ajah cerita tapi bentar kakak pakai baju dulu" kata Devi
Devi sejenak menggunakan baju tidur yang sangat terbuka. Tia selalu minder kalo memperhatikan kakaknya. Tia memperhatikan kakaknya mulai dari rambut sampai ujung kaki.
"hei... katanya mau cerita !! cerita apa??" kata Devi
"kenapa ya kakak di berikan fisik yang indah, rambut kakak bagus, rapih, mukanya cantik badannya atletis sama kulit kaka putih banget, ga kaya aku item, kriwil, kurus kalo dulu aku masih sekolah keringetan udah ga jelas banget deh" kata Tia
"neng... cuman gitu ceritanya, kamu ini ada-ada aja. kamu juga cantik kok. semuanya adik kakak pada cantik dan ganteng-ganteng" kata Devi
"iya... aku ngerasa wajar ajah sih di kejar-kejar cowok yang udah tunangan rela meninggalkan tunangannya, demi dapetin kakak aku ini" kata Tia
"maksud kamu apa neng?? kok ngomong kaya gitu" kata Devi
Devi sangat kaget dia tau udah tau apa yang di rasakan oleh Devi. padahal hal itu Devi juga baru tau tadi siang. semenjak kapan dia bisa baca pikiran orang.
"kak... ada yang harus aku kasih tau ke kakak" kata Tia
"coba apa yang kamu tau??" kata Devi
"kakak inget kan, waktu aku datang ke rumah temen kakak yang harus nge jelasin warisan itu??" kata Tia
"iya kakak inget" kata Devi
"waktu kakak nyuruh kamu kesana, kakak belum jadian. pas kamu telepon katanya ga jadi itu kakak kondisinya baru jadian" kata Devi
"iya.. intinya, aku pergi kesana dengan tunangannya cowok kakak, aku mengenal nya di WhatsApp kakak yang bareng aku. dan dia ngakunya udah tunangan bahkan katanya mau nikah... maaf ya ka kalo Tia lancang" kata Tia
Devi langsung mengeluarkan air mata, dia menangis dan Tia udah tau duluan.
"kenapa kamu baru cerita neng??" kata Devi
"tadinya aku mau cerita pas di hotel... tapi aku ga tega kakak nangis-nangis yang aku ga tau kakak kenapa??" kata Tia
"jadi kamu berangkat sama Shanti??" kata Devi
"oh... iya benar, namanya Shanti" kata Tia
"Shanti itu sahabat kakak. dia teman yang sangat baik, kakak juga ga tau kalo cowok kakak udah tunangan sama Shanti. tadi kakak di siram sama dia. dan kakak terima itu, walau gimanapun kakak yang salah" kata Devi
"ya udah kak... cuman itu ajah yang aku bisa ceritakan sama kakak, aku ke bawah dulu" kata Tia
"bentar neng... solusinya gimana??" kata Devi
__ADS_1
"simpel ajah kak dari aku... mending kakak sempurna kan hijrah kakak dulu" kata Tia
"neng... kakak mencintai nya saat SMA dulu, dia cowok baik. dia siap buat hijrah bareng kakak. besok kakak mau beli rumah. kalo papah pulang kakak mau bilang sama papah dan mamah, dia bakalan nikahin kakak. semuanya sudah terlanjur" kata Devi
"iya bagusnya kakak ajah... syukur kalo sejalan sama kakak" kata Tia
"neng... kamu pernah ketemu kan sama Shanti, bisa tolong kakak, kamu kuatkan hatinya Shanti ya" kata Devi
"berat ka... tapi Tia usahain" kata Tia
"satu lagi neng... yang bikin kakak berat buat nikah" kata Devi
"apa itu kak??" kata Tia
"kamu... siapa yang bela kamu nanti di depan keluarga" kata Devi
"kak... jangan khawatir, aku juga mau beli rumah. kalo mau besok bareng ajah ka" kata Tia
"apa?? uang dari mana kamu??" kata Devi
"Alhamdulillah... selama aku ngajar ada bantuan buat guru, aku lolos lumayan jadi ga usah pake DP cuman bayar cicilan nya ajah. jadi aku bisa buka les ngaji kaya gitu di sana. mungkin aku juga bakalan tinggal di sana juga" kata Tia
"Alhamdulillah...." kata Devi sambil memeluk Tia
"ya udah aku ke bawah dulu ya..." kata Tia
"iya makasih ya neng teh manisnya, eh satu lagi, rokok ga haram kan??" kata Tia
"sampai saat ini masih belum ada status hukumnya, cuman rokok itu termasuk produk katagori hobais" kata Tia
"apaan itu hobais??" kata Devi
"hobais itu sesuatu yang menjijikan... level jijik disitu di samakan dengan bangkai hewan, kotoran hewan atau bisa sajah memakan kotoran sendiri" kata Tia
"oh ya... ?? tapi kakak suka" kata Devi
"ya udah itu di kembalikan lagi sama kakak" kata Tia
"kebiasaan loh... ending nya kaya gitu " kata Devi
"buat saat ini, silahkan kakak iqra sendiri hehehehe, aku ke bawah dulu ya" kata Tia
"ya udah kakak nanti iqra lagi" kata Devi
__ADS_1