Syahadat Cinta Sang Janda

Syahadat Cinta Sang Janda
Bab 26. Kabar Buruk


__ADS_3

Kebahagiaanku ternyata tidak berlangsung lama.


Masih teringat jelas di tahun ke empat pernikahanku dan Randy.


tepatnya satu minggu setelah kami merayakannya.


Saat Itu sore hari.


Aku sedang menyuapkan buah potong pada Ainara sambil duduk santai di teras depan rumah.


HPku berdering.


Kulihat nomor HP Randy disana.


Aku segera mengangkat nya.


Aku fikir Itu adalah panggilan Randy karena rindu padaku dan Ainara setelah dua hari tugas diluar kota.


"Assalamualaikum sayang.! udah dimana? jadi pulang hari ini kan?" ujarku melalui telepon.


"Waalaikumsalam Buk! " kudengar suara Sseorang lelaki tapi Bukan suamiku yang menjawab salam.


"Maaf Buk, saya teman sekantornya Pak Randy. Saya mau kasih kabar kalau bapak mengalami kecelakaan dan sekarang dalam perjalanan menuju rumah sakit Pekanbaru!" ujarnya dari seberang telepon.


Aku begitu kaget mendengarnya.


"Astagfirullah... !!" ujarku tediam.


Aku barusaha menenangkan diriku.


Aku segera telepon Bang Umar memintanya segera kerumah sakit dan mengabarkan keluarga yang lain tentang Kecelakaan yang dialami suamiku.


Aku sendiri bergegas mengganti pakaian lalu menggendong Ainara ke dalam Mobil.


Sepanjang jalan Aku beristigfar menenangkanku diriku.


Aku barusaha sebisa mungkin untuk tetap fokus dalam menyetir.


Aku langsung menuju ruang ICU (intensive care unit) sesuai arahan teman kantor Randy yang memberi kabar padaku tadi.


Kulihat dari kejauhan Bang Umar, Kak Mila dan kedua Mertuaku sudah Ada disana.


Kak Mila berlari memelukku.


Aku tediam mematung.


"Randy udah gakda Dik! " Ucap Kak Mila pelan Tapi terdengar sangat jelas ditelingaku.

__ADS_1


"Innalillahi wainna ilaihi rojiun.." ucapku nyaris tanpa suara.


Tubuhku seketika bergetar.


Kurasakan kakiku seolah-olah tidak berpijak pada bumi.


Ainara yag masih dalam gendonganku nyaris terjatuh.


Dan ketika kusadari dengan jelas ucapan Kak Mila, Aku menjerit memanggil nama nama suamiku.


"Randy....!!!?????!!!!????!! " teriakku.


Kulihat Mama dan Papa mertuaku saling bepelukan dan menangis.


Mama langsung memelukku ketika Aku mendekat.


Aku terdiam.


Aku masuk kedalam ruangan.


Kulihat Randy terbaring kaku.


Ku sentuh wajah tampan nya.


Badan nya begitu dingin.


Aku cium dia berkali-kali.


"Sayang.. bangun!!" ucapku pelan pada nya.


Dia tidak menjawab.


Kurasakan tubuhku seperti melayang.


terakhir kuingat Tante Rahmi datang memelukku dan mengambil Ainara yang menangis dalam gendonganku.


"Papa.. papa..!! " ucapnya dari bibir mungil nya.


Aku pingsan.


***


Kuantarkan suamiku di peristirahatan terakhirnya dengan tangisan takterbendung.


Masih jelas terngiang ditelingaku ucapan terakhirnya ketika akan berangkat keluar kota Dua hari yang lalu.


"Kalian berdua baik-baik ya.. Papa sayang Ainara!" kantanya sambil mencium Ainara berulang kali.

__ADS_1


"I love you sayang.. forever!! " ucapnya pula padaku lalu mencium hampir diseluruh Bagian wajahku.


Sungguh tidak kusangka Itu adalah ciuman terakhirnya.


Tidak akan pernah lagi ada malam -malam penuh cinta dari nya.


Tidak akan pernah lagi ada tawa canda dari nya untuk dan Ainara.


"Terlalu cepat ya ALLAH... Aku dan Ainara masih sangat membutuhkan nya.. Tidak bisakah Aku terbangun dari Mimpi ini?? Aku gak kuat ya ALLAH!! " kataku dalam hati sambil memeluk Ainara erat.


Ainara melepaskan pelukanku.


Di tatapnya wajahku Lekat.


"Mama.. nangis?? " ucapnya dengan suara mungilnya.


Aku cuma mengangguk mengiyakan.


Pelan di angkatnya Jari mungilnya.


Disekanya Air mata yang mengalir dipipiku.


Kuraih dan kucium tangannya.


Kembali kupeluk dia dalam dekapannku.


"Mama jangan nangis ya! Nara sayang mama! " Ucap bibir mungilnya.


"Mama juga sayang Nara nakkk.... " jawabku mengecup kening nya berkali-kali.


Kami kembali saling bepelukan.


Ibu datang memelukku.


"Ainara butuh kamu Nak. Cuma kamu yang dia miliki sekarang. Jadi kamu harus kuat!" kata Ibu memelukku.


Ibu membimbingku berjalan menuju mobil.


Ayah menggendong Anakku Ainara.


Kami berjalan beriringan bersama Mama mertua yang di gandeng Mbak Mila.


Kami semua Masih dalam Keadaan shock tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Tubuhku terasa begitu Lemah.


Tak terbayangkan betapa berat hari-hari berikutnya akan Aku lalui tanpa suami.

__ADS_1


"Aku Masih punya Ainara. Aku harus Kuat!! " ucapku dalam hati.


Aku kembali menangis.


__ADS_2