Syahadat Cinta Sang Janda

Syahadat Cinta Sang Janda
Bab 28. Aku Tanpa Mu


__ADS_3

Semenjak kepergian Randy, Aku mulai menulis keluh kesahku pada sebuah diary Kecil berwarna biru.


Seperti malam ini.


Malam dimana Aku begitu sangat merindukannya.


****Merindukan mu yang telah Tiada adalah hal paling menyakitkan bagiku.


Cuma doa dalam sepi yang panjang menjadi perantara rasa rindu yang ingin Aku sampaikan.


Hari-hariku kini terasa begitu berat.


Tidak jarang Aku berkhayal dalam lamunan tentang masa lalu yang begitu indah namun terlalu singkat.


Hari ini tepat 5 tahun pernikahan kita! Hari dimana engkau mengikrarkan janji menjadi suami terbaik untukku.


Dan Kau berhasil menepatinya.


Tidak pernah satu haripun Aku lewatkan dengan penyesalan menikah denganmu.


Aku sangat merindukan mu..!!


Tiga bulan sudah kepergianmu, tapi perasaan hancur ini masih jelas menyisakan luka padaku.


Aku ibarat Kapal kehilangan nahkoda tanpamu.


Kemana lagi Aku berlabuh?


Aku menggenggam erat sebuah kertas yang bertuliskan perjanjian kita dulu.


"Proposal pengajuan diri untuk jadi calon pasangan kamu. Kalau setuju Tolong di kasih tanda tangan di bagian bawah dan jangan lupa nama jelas dan tanggal hari ini ya! " ucapmu Waktu Itu.


Proposal yang akhirnya Aku terima dengan penuh rasa bahagia.


Proposal yang membawa ku memulai hidup baru bersamamu.

__ADS_1


Tapi sekali lagi.. semuanya terlalu singkat.


Kini yang tersisa cuma ragaku yang terbalut luka kehilanganmu.


Kau membuatku begitu mencintaimu hingga


Aku menggantungkan hidupku padamu.


Lalu takdirkan dengan Mudahanlah mengambil mu dari ku.


Aku yang rapuh cuma bisa menangis pilu**.


Kulihat Ainara terbangun dari tidurnya.


Aku segera menutup diaryku.


"Papa...!! " teriaknya sambil menangis.


"Nara... kenapa nak?? Nara Mimpi ya? " tanyaku sambil memeluknya dalam dekapannku.


Ku usap pelan rambutnya.


Aku menenangkannya.


"Nara Rindu papa? " tanyaku.


Dia mengangguk.


"Besok pagi kita ziarah ke makam papa yah! Sekarang Kita kirim doa dulu untuk papa yah! " ujarku lagi.


Dia kembali mengangguk.


Kami membaca surah Al-fatihah bersama.


"Ya ALLAH titip salam rindu Nara dan Mama untuk Papa ya... Berikan Papa surga terbaikmu. Ampunkan segala dosa papa Ya ALLAH... Aamiin! " ujarku dengan suara serak menahan tangis.

__ADS_1


"Aamiin!! " Ucap Nara pula dengan suara mungilnya.


"kita bobok lagi ya nak!! Sini mama peluk anak gadis mama yang sholeha!! " ucapku sambil membawanya kembali tidur dalam pelukanku.


Aku menangis tak bersuara.


hatiku terasa sesak sekali.


****


Hal yang paling sulit bagiku kini adalah tentang perjuangan hidup tanpa Randy.


Aku yang sudah cukup lama berhenti bekerja dan hanya mengandalkan pemberian suami membuatku kebingungan dalam mengelola keuangan.


Tabunganku sudah mulai habis terkuras.


Sementara Aku belum juga mendapatkan pekerjaan baru.


Aku hampir stres rasanya.


Uang santunan kematian Randy sebenarnya ada kudapatkan dari perusahaan tempat Randy Bekerja.


Tapi Itupun akan segera habis jika Aku tidak bekerja dan tetap membayar begitu banyak tagihan.


Akhirnya Aku dengan sangat terpaksa merelakan Mobil kesayanganku dan Randy di ambil alih oleh leasing karna Aku tidak mampu lagi untuk membayar angsurannya.


"Mama.. Mobil kita mau di bawa kemana sama Om nya? "tanya Nara padaku.


"Mobilnya di pinjam sama Om Itu dulu ya nak. Nanti kalau mama punya duit banyak kita ganti mobil baru yang lebih bagus. Nara mau Mobil warna apa? " kataku dengan hati luka.


"Warna merah aja mama! " katanya dengan girang.


"Aamiin.. Inshaa ALLAH ya nak... Doakan mama banyak rejeki ya!! " ujarku lagi sambil menggendongnya dan memeluknya erat.


"Aamiin! " katanya membalas doaku.

__ADS_1


Aku kembali menangis.


"Apa yang harus Aku lakukan ya ALLAH!! " ujarku dalam hati.


__ADS_2