
Aku turun dari kamar dengan isak tangis dan membawa koperku.
Ayah dan Ibu mertuaku yang sedang duduk menonton berita di ruang keluarga, kaget melihatku.
"Mbak mau kemana? " tanya Dian adik iparku sambil menyetopkan film Korea yang sedang di tontonnya.
"Kak Aina mau pergi dulu ya." jawabku padanya.
"Aina pamit Pak, Buk, tolong Ikhlaskan semua makan minum Aina selama menjadi menantu bapak dan Ibu! " kataku sambil menyalami mereka.
"Sebenarnya Ada apa nak? kamu betengkar dengan Rayhan? " Tanya ayah mertuaku.
"Biar Mas Rayhan Saja nanti yang menjelaskan Pak! " jawabku.
Aku keluar rumah membawa koperku.
Mas Rayhan kaget melihatku.
Segera dilepasnya genggaman tangan Dokter Rio.
"Aina? mau Kemana? " tanya nya gugup.
"Aku sudah liat semua Mas. Aku akan pulang ke pesantren. Aku tunggu surat cerai dari Mas ya?!!" kataku menahan amarah.
"Tapi kenapa? Kamu salah paham Aina. Ini adalah dokter Rio yang menjadi terapis Mas" katanya menjelaskan padaku.
"Mas.. Aku Udah liat semua.! tidak ada yg salah paham. Aku melihat dengan mataku sendiri kalian berciuman Mas!! mataku Masih sangat normal!!! Dan tidak mungkin salah liat. Cukup Mas.!! Mau sampai kapan Mas bohongin Aku?? tiap kebohongan pasti akan ketahuan Mas?!!" kataku lagi dengan nada yang cukup tinggi.
Aku sudah tidak bisa menahan emosiku.
Kuluahkan semua isi hatiku padanya.
Aku marah bahkan sampai menapar Wajahnya.
Dokter Itu hanya melihatku dengan kaget.
__ADS_1
Mungkin Dia tidak menyangka reaksiku akan berlebihan seperti ini.
Aku keluar dari pagar rumah dengan Air mata yang tak terbendungkan.
Dengan taxi yang sudah kupesan Aku berangkat menuju pesantren tempat tinggalku dulu sewaktu belum menikah.
**
Tante Rahmi kaget melihatku datang membawa koper sambil menangis.
Dia segera membawakanku segelas Air minum.
"Kenapa? Apa yang terjadi? kamu betengkar dengan Rayhan? Suami istri betengkar Itu biasa Aina! gak perlu sampai kabur dari rumah! " kata Tante Rahmi sambil mengusap punggung ku pelan.
Ku peluk Dia sambil menangis terisak.
Dia mengelus kepalaku perlahan.
Ku kumpulkan kekuatanku untuk mencerikatan semua yang telah terjadi tiga bulan terakhir ini.
Dia memelukku lagi.
Aku kembali menangis.
"Jadi kamu mau gimana? " tanya nya padaku.
"Aku juga belum tau Nte. Aku bingung!?! " jawabku.
"yaudah sekarang kamu istirahat dulu aja.! Besok kita bahas lagi ya! " Ujar tante Rahmi padaku.
Ku pejamkan mataku yang basah.
Fikiranku jauh melanyang.
"Apa yang harus Aku lekukan ya ALLaH? Bagaimana Aku menjelaskan pada Orangtuaku di kampung? Apa memang perceraian adalah Jalan terbaik? Pernikahanku baru saja terjadi Tiga bulan yang lalu, haruskah berakhir begini? " tanyaku dalam hati.
__ADS_1
Aku bangkit dari tempat tidur.
Aku keluar menuju kamar Mandi.
Kubasuh wajahku yang terasa panas dan perih di bagian mata.
mungkin karna terlalu banyak menangis.
kuambil air wudhu untuk menenangkan hatiku.
Ku Coba melakukan shalat istikharah meminta petunjuk ALLAH SWT.
Ku curahkan semua kegalauanku dalam tangis yang tertahan di atas sejadah berwarna biru.
"Bimbing Aku ya ALLAH..!!" bisikku lagi dalam doa.
Aku merasa begitu Lelah.
Kulihat jam di dinding kamar menunjukkan pukul 02.40WIB.
Kurebahkan tubuhku diatas sejadah.
Kembali Aku beristigfar.
Dan kemudian ku rasakan mataku mulai mengantuk.
"Semoga besok kudapatkan kecerahan dalam menghadapi masalah ini! Aamiin!! " kataku lagi dalam hati.
Terdengar suara hujan yang tiba-tiba menderu dari arah luar rumah.
Kurasakan kembali Perihnya hatiku.
"Peluk Aku Ya ALLAH!! Beri Aku kekuatan!! " kataku dalam hati.
Lagi..
__ADS_1
Aku kembali menangis.