Syahadat Cinta Sang Janda

Syahadat Cinta Sang Janda
Bab 34. Pulang Kampung


__ADS_3

Hidupku terasa tidak berarti.


Kepedihan akan kehilangan Randy dan Ainara masih belum bisa hilang dari fikiranku.


Dua minggu lagi menjelang puasa.


Aku akan menghabiskan puasa dan Hari Raya bersama orangtuaku.


Aku duduk di teras belakang rumah sambil menanti waktu magrib.


Ku ambil lagi diary kecilku yang berwarna biru.


kembali kutorehkan perasaan pilu yang terus menjadi temanku kini.


"Lukaku lekat pada hari dimana bulan dan matahari terus berganti.


Kepedihanku adalah bukti kehilangan yang dalam atas kepergianmu.


Sungguh... Bukan karena Aku tak ridho atas semua suratan yang telah di tentukan.


Tapi Aku hanyalah manusia biasa yang punya hati.


Kuatkan.. Kuatkan Aku...!!!


Merindumu... Ainaraku...


Menrindumu... Suami tercintaku."


Kututup pelan buku diary yang ada di tanganku.


Ku sapu Air mata yang tak terbendung di pipiku.


"Astagfirullah... Kuatkan Aku ya ALLAH..!!" bisikku dalam hati.


"Aina.. sebentar lagi magrib, Ibu mau ke mesjid. Kamu mau ikut atau tidak?" tanya Ibu padaku.

__ADS_1


"Iya Buk, Aina ikut! tunggu sebentar Aina bersiap ya!!" ucapku pada Ibu sambil segera bergegas mengambil air wudhu.


Dikampungku, suasana bulan puasa dan Hari Raya adalah satu hal yang sangat luar biasa.


Seluruh masyarakat menyambut dengan riang gembira.


Terutama anak-anak.


Setiap bulan puasa tiba, akan diadakan pasar kaget di lapangan depan Mesjid Bitul Taqarrub yang tidak jauh dari rumah kami.


Berbagai jajanan di jual disana.


Pasar akan mulai buka ba'da ashar sampai sebelum magrib tiba.


Ibu menjadi salah satu yang berjualan disana.


Aku membantunya menyiapkan beberapa kue tradisional yang akan dia jual nanti sore.


Dari mulai kue getuk, kue serabi, kue talam ubi dan terakhir berbagai macam cendol.


"Doakan laris ya..!!" ucapnya sambil tersenyum.


"Aamiin.. inshaa ALLAH.. kue ibu kan enak semua!!" ucapku sambil menciumnya manja.


Puasa kali ini penuh dengan nasihat tentang hidup untukku.


Setiap malam setelah shalat tarawih si adakan pengajian bersama untuk khatam Al-Qur'an.


Dan Aku menjadi salah satu dari mereka.


Setelah mengaji Aku selalu menyempatkan diri untuk berdiskusi secara pribadi dengan ustad atau ustazah yang membimbing pengajian.


Banyak sekali nasihat hidup yang akhirnya menenangkan hatiku.


Nasehat-nasehat yang membuatku mengerti betapa hidup yang Aku jalani hanyalah sementara saja.

__ADS_1


nasihat yang akhirnya mengembalikan semangat hidupku untuk kembali bangkit dari keterpurukan.


****


Suara takbir terdengar sangat indah di telingaku.


Aku kembali teringat betapa indahnya Hari Raya yang pernah Aku lalui bersama suami dan Anakku.


Aku kembali menangis.


"Selamat hari raya suami ku sayang... Selamat hari raya anakku sayang.... Aku sangat merindukan tawa kalian.." bisikku dalam hati.


Segera ku seka air mata yang mengalir ketika Ibu masuk ke dalam kamarku dan mengajakku untuk segera berangkat ke mesjid melaksanakan shalat Idul Fitri.


Selesai shalat, Kami saling berjabat tangan.


beberapa temanku sewaktu SMA juga melaksanakan sholat si meajid yang sama.


"Aina.. lusa ada reuni akbar di SMA jam 10.00 wib. Kamu datang gak?" tanya Yati teman sekelasku dulu.


"Belum tau Yat, Rasa nya malas ah.." kataku menjawab.


" Datang yuk... Silaturahmi dengan guru-guru dan teman-teman.. Aku jemput ya jam 10?" kata nya lagi padaku.


"Baiklah.." jawabku singkat.


"Naahh.. gitu dong, mana tau kita dapat jodoh lagi disana.. iya kan??" katanya sambil g


tertawa.


Aku cuma membalasnya dengan senyuman.


Yati memang seorang janda dua anak.


Dia berpisah dengan mantan suaminya dua tahun lalu.

__ADS_1


Kabarnya suaminya berselingkuh dengan tetangga sebelah rumah nya.


__ADS_2