Syahadat Cinta Sang Janda

Syahadat Cinta Sang Janda
Bab 33. Tanpa Ainara


__ADS_3

"Barang - barang nya udah di kemas semua?" tanya Ibu padaku.


"Sudah Buk!" jawabku.


Lalu Ayah dan Pak syaiful tetanggaku mengangkat beberapa kardus yang sudah rapi menuju mobil.


Hari ini, Aku, Ayah, Ibu dan Pak syaiful sekeluarga Akan pergi ke salah satu panti asuhan yang ada di kota Pekanbaru ini untuk menyerahkan beberapa sembako dan Semua barang milik Ainara anakku.


Banyak baju bekas dan Mainan Ainara yang masih sangat layak pakai dan bahkan beberapa yang belum terpakai hasil dari kado yang dia terima ketika merayakan ulang tahunnya yang ke tiga tahun.


Tapi malang tak dapat ditolak, belum sempat dia menikmati semua kadonya ALLAH memanggilnya untuk kembali dalam dekapannya.


Mobil berjalan perlahan menuju Panti Asuhan Belas Kasih.


Panti Asuhan yang cukup besar menurutku.


Cat dinding nya berwarna hijau.


Bagian depan di jadikan kantor pengelola panti asuhan.


Sebelah kanan nya terdapat lapangan yang cukup luas berpagar hitam.


Dan bagian belakang terdapat sekitar 10 pintu dengan dua lantai di bagian atasnya.


"Kurang lebih ada sekitar 80 anak yang tinggal disini. Pengasuhnya hanya ada 12 Orang saja" jelas salah satu pengasuh panti.


Dia mengajak kami berkeliling panti asuhan.


Kulihat beberapa anak lelaki sedang bermain bola di taman.


Ada pula beberapa anak peremouan sedang tertawa bersama.


"Lihatlah mereka. Mereka bertiga seperti saudara kembar. Umur mereka sama. mereka di titipkan disini berjarak 3 hari saja" kata pengasuh lagi sambil menunjuk 3 orang anak lelaki seumuran Ainara sedang asik berbaring tanpa alas di teras sambil menikmati susu mereka masing-masing.

__ADS_1


Hatiku bergetar melihat mereka.


Kami masuk kedalam salah satu kamar yang di penuhi dengan box bayi.


"Ada 20 bayi yang di rawat di panti ini. 8 diantara nya bayi perempuan, dan 12 lagi bayi lelaki". ucapnya lagi.


Kulihat seorang pengasuh lain sedang menggantikan popok bayi yang masih sangat kecil.


"umurnya baru 12 hari, Ibu nya meninggal saat melahirkan nya, sementara Ayah nya tidak bisa menjaganya. Karena itulah Bayi ini dititipkan di panti ini" ucap pengasuh lagi pada kami.


Kulihat seorang anak perempuan mungil, umurnya sekitar 1 tahun sedang berdiri di dalam box nya sambil mengangkat kedua tangan nya, seolah minta di gendong.


Aku berdiri menggendongnya keluar dari box nya.


Dia lalu memelukku erat.


Aku tersentuh seketika.


Airmataku menetes tanpa terasa.


Di tatapnya wajahku.


Lalu Dia tersenyum.


Sangat manis.


Seolah tau kesedihan yang tengah Aku rasakan.


Aku mengeluarkan sebuah boneka princess sofia berukuran kecil di dalam tasku.


Boneka yang sebenarnya adalah sebuah gantungan kunci.


Mainan kesukaan Ainara yang selalu dititip nya di dalam tas ku jika kami pergi keluar rumah.

__ADS_1


Kusodorkan pada anak mungil ini mainan Ainara.


Dia memelukku lagi, Sangat erat.


Lalu mencium pipi kanan ku.


Seolah mengucapkan terimakasih.


Aku memeluknya lagi, sambil menangis.


"Kamu harus tumbuh sehat ya!! Jadi anak pintar dan sholeha. Mainan ini untuk kamu cantik!!" ucapku mencium kening nya.


Dia tertawa.


Aku kembali terbayang wajah Ainara anakku yang sangat suka sekali di gendong dan di peluk olehku.


Wajahnya akan tertawa bahagia jika ku angkat tubuh mungilnya dalam gendonganku, lalu kuhujani dia dengan ciuman yang banyak.


"Mama.. geli... sudah.. sudah..!!" ucapnya berteriak sambik tertawa menhindari ciumanku.


"Ya ALLAH... betapa Aku merindukan malaikat kecilku. Ainara rindu mama gak nak?? Mama rindu sekali dengan Nara..!!" ucapku dalam hati sambil memeluk bayi mungil yang sedang Aku gendong ini.


Selesai dari panti asuhan, Aku langsung berpamitan pada Pak syaiful sekeluarga.


Buk Nita memelukku erat sambil menangis.


"Aku pulang dulu ya Buk, Titip toko Kue. Inshaa ALLAH jika Aku sudah kembali kuat, Aku akan kembali ke Pekanbaru!" ucapku pada Buk Nita.


"Kamu yang tabah ya. Segera kembali kesini. Di kamoung nya jangan lama-lama!" ucap buk nita sambil menyeka Air matanya.


Hari ini Aku akan ikut Ayah dan Ibu pulang ke kampung halaman untuk menenangkan diriku.


Entah sampai kapan Aku di kampung.

__ADS_1


Seperti butuh waktu yang lama untuk bisa kembali ke kota ini menata hidup baru tanpa Ainara dan Randy.


Mobil kami perlahan menuju rumah tante Rahmi, kami akan kesana dulu berpamitan.


__ADS_2