Syahadat Cinta Sang Janda

Syahadat Cinta Sang Janda
Bab 31. Ainara Sakit


__ADS_3

"Mama.. Nara mau sama Papa! " Ucap Nara tiba-tiba membangunkanku.


Dia duduk sambil menangis.


Aku terbangun dari tidurku.


Kulihat jam di dinding menunjukkan 03.03 Wib.


"Nara kenapa nak?" tanyaku padanya.


"Nara mau sama Papa!!" katanya lagi sambil menangis.


Kusentuh wajahnya.


Badan nya panas.


"Nara demam sayang?" tanyaku padanya.


Dia mengagguk dan masih menangis.


Segera Aku minumkan Nara obat penurun panas, lalu Aku kompres tubuh nya dengan handuk basah.


"Besok kita ke dokter ya nak!" ucapku padanya.


"Nara gak mau..!! takut Mama!!" katanya memelukku.


"Baiklah.. kalo gitu Nara bobo ya.. istirahat biar besok sembuh jadi gak perlu ke dokter deh!" ucapku menenangkan nya.


Lama ku kompres tubuh nya yang panas.


Dan akhirnya dia tertidur.


Akupun tertidur di samping nya.


Aku harus ke toko pagi ini, ada pesanan kue yang akan di antar nanti sore untuk pesta pernikahan adik teman nya tante Rahmi.


Kusentuh badan Ainara, sudah agak mendingan sepertinya.


Aku dan Ainara naik taxi menuju rumah mertuaku.


"Mama.. titip Ainara ya..!?" kataku pada Mama mertua.


"Kemaren malam badan nya panas sekali Ma. Demam nya cukup tinggi. Ini ada obat penurun panas nya ya Ma!" ucapku lagi.


"Ok! Nanti Nara minum obat sama Eyang ya!" ucapnya sambil mencium Nara yang ada dalam pelukan nya.


"Mama lekas pulang ya!!" kata Nara pula padaku.


"Siaaapp.. segera setelah kerjaan Mama selesai, Mama langsung pulang. Hari ini kita bobo nya disini, rumah Eyang. Jadi Nara boleh main sepuasnya dengan kakak Amy. Tapi jangan main panas-panas ya!! Nara kan masih demam!" kataku lagi padanya.


"Ok.. Buk Boss!!" ujarnya padaku.


Kamipun tertawa.

__ADS_1


"Love you cantik!!!" ujarku lagi sambil menghujaninya dengan ciuman menggemaskan.


Sesampainya di toko, kukihat Buk Nita telah mengerjakan sebagian pesanan yang akan di antar nanti sore.


"Maaf telat ya Buk. Ainara demam, jadi tadi saya titip dulu di rumah mertua" ujarku pada Buk Nita.


"Kok tiba-tiba demam?"tanya Buk Nita.


"beberapa hari lalu Dia emang agak hangat, tapi udh sembuh setetelah minum obat. Tapi kemarin malam Demam nya tiba-tiba tinggi sekali, sampai mengigau mangil Papa nya" ucapku bercerita.


"Bawa kedokter aja biar lekas sembuh" kata buk Nita pula.


"Kalau demam nya gak berhenti dan tetap naik turun, mungkin nanti malam saya bawa k dokter Buk!" jawabku lagi.


"Smoga Nara lekas sembuh ya!" ucap Buk Nita lagi padaku.


"Aamiin!!" jawabku pula.


Aku sampai kerumah mertuaku tepat jam 17.05 wib.


"Nara badan nya tadi agak hangat, tapi udah Mama minumkan obat turun panasnya. Sekarang Dia lagi tidur di kamar Mama.." ujar Mama mertua padaku.


"Makasih ya Ma.." ucapku padanya.


Dia mengangguk.


Selesai shalat magrib Aku mengetuk kamar mertuaku dan meminta izin masuk melihat Nara yang tertidur.


Pelan kudekati anak semata wayangku.


Tidak ku dengar jawaban darinya.


Pelan kuusap dengan lembut rambutnya.


Dahi nya terasa sangat panas.


"Nara..!!" ucapku sambil membalikkan tubuhnya.


Aku kaget sekali ketika melihat darah segar mengalir dari kedua lubang hidung nya.


"Mama... Papa.. tolong!!" teriakku memanggil kedua mertuaku sambil segera menggendong Nara keluar kamar.


Papa dan Mama mertuaku segera berlari kearahku yang sudah ada di depan pintu kamar.


"Astagfirullah... Lekas ambil kunci mobil Pa.. kita bawa Nara kerumah sakit!" ucap Mama sambil membatuku membawa Nara ke arah mobil.


Sepanjang perjalanan Nara mengalami mimisan dan tidak sadarkan diri.


Aku memelukknya erat sambil menangis terisak.


"Selamatkan Anakku ya ALLAH!" bisikku dalam hati.


Sampai dirumah sakit, Ainara langsung di bawa menuju ruang PICU dan segera di tangani dokter.

__ADS_1


Kulihat seorang dokter berlarian bersama dua orang perawat menuju ke arah anakku di beri pertolongan.


jelas terdengar sekilas ketika perawat menjelaskan kondisi anakku pada sang dokter.


"sudah tidak ada respon, sempat mengalami kejang dan mimisan" ucap seorang perawat pada nya.


"Astagfirullah... anakku!!! selamat kan Ainaraku ya ALLAH!" doaku dalam hati sambil terduduk lemas di kursi yang terdapat disepanjang koridor.


Kak Mila yang baru saja tiba bersama Bang Umar segera memelukku erat.


"Inshaa ALLAH Ainara tidak apa-apa! kamu yang tenang ya!" ucapnya memelukku yang menangis.


"Aamiin" kataku sambil mengangguk.


Kurang lebih satu jam dokter yang menangani Ainara keluar dari ruangan PICU.


"Keluarga Ainara?" tanya nya


Aku dan yang lain segera berdiri.


"Saya Ibu nya Dok!" kataku pelan sambil menyeka air mata.


"Maaf ibu, kami sedang berusaha untuk menyelamatkan Ainara, tapi untuk saat ini kondisi nya sangat lemah. Dan terpaksa kami bantu dengan beberapa alat medis. Ainara terserang DBD. Mimisan yang terjadi padanya adalah efek dari kerusakan pembuluh darah yang mungkin dikarenakan suhu panasnya yang tinggi.Jadi, untuk sementara kita berdoa semoga ALLAH SWT memberi kesembuhan pada Ainara!" ucapnya dengan jelas.


Kakiku terasa begitu lemas mendengarnya.


Air mataku tak henti mengalir.


"Apa boleh kami jenguk?" tanya Bang Umar.


"Untuk sementara belum. Tapi bisa di lihat melalui kaca saja. dan masuk nya juga bergantian ya Pak!" ujar dokter lagi.


Bang umar mengangguk.


Setelah dokter pergi menjauh, kulihat Papa mertuaku segera masuk kedalam ruangan.


Bergantian dengan Mama.


"Masuklah nak!" ucap mama padaku sambil menangis.


"Aku takut Ma..! Aku gak berani liat!" ucapku memeluk erat Mama mertua.


"Kamu harus kuat!" katanya lagi mengelus pundakku.


Kulangkahkan kaki perlahan menuju ruang PICU.


Kulihat Ainara dari kaca jendela.


Wajah mungilnya tertidur.


di tangan kanan nya ada jarum menancap.


dan beberapa alat terlihat di bagian dada nya.

__ADS_1


"Ainaraku sayang...!!! Mama disini nak... Bangun sayang!!" ucapku berteriak dalam hati.


Aku keluar dengan perasaan hancur.


__ADS_2