Tears And Love

Tears And Love
Prolog


__ADS_3

Bunga bisa layu, tapi tidak cintaku.


Matahari boleh terbenam, tapi tidak hatiku.


Langit boleh berubah bentuk, tapi tidak perasaanku.


Cinta ini tidak akan layu walau telah terpisah.


Hati ini tidak akan terbenam walaupun hari telah berganti.


Perasaan ini tidak akan pernah berubah secuil pun.


Walaupun kini kau tidak di sisiku lagi.


 


Langit cinta kita menjadi saksi bisu semuanya.


Meniti kasih dan terpisahkan takdir.


Walaupun kini hujan turut menjadi saksi.

__ADS_1


I always love you. Yesterday, now, tomorrow.


Forever….


***


Seorang pemuda tengah menarik dua koper miliknya dan memasuki sebuah rumah yang halamannya sangat luas. Kacamata hitam yang sedari tadi menutupi matanya, perlahan-lahan ia lepaskan. Di belakangnya, seorang pemuda bergaya urakan berdiri sambil menatap rumah di depannya itu dengan senyuman


mengejek.


Gayanya terlihat sok dan begitu angkuh. Rambutnya yang sedikit gondrong semakin menambah kesan ugal-ugalan pada pemuda itu. Sangat berbeda jauh dengan penampilan pemuda yang kini sudah berjalan jauh di


Pemuda di depannya terlihat rapi dan sopan. Rambutnya yang memang berwarna  coklat gelap dipotong cepak dan menyisakan sedikit poni di dahinya. Garis ketegasan terlihat jelas di wajahnya. Pemuda itu kemudian berhenti dan menoleh ke belakang. Menatap pemuda yang tengah menatapnya dengan tatapan tidak suka.


“Yogi, ayo!” seru pemuda itu sambil mengayunkan tangannya. Mengajak pemuda yang bernama Yogi itu untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah itu.


Yogi menggumam kecil dan mengumpati pemuda itu dalam hati. Dia memutar bola matanya dan dengan ogah-ogahan menarik kopernya yang sangat besar. “Males banget gue.” Yogi bergumam pelan.


Pemuda itu tersenyum tipis melihat Yogi yang akhirnya mau juga menuruti perkataannya, walaupun dengan ogah-ogahan.


"Setidaknya, saat ini, lo nurutin kata-kata gue,” lirih pemuda itu sambil kembali memakai kacamata hitamnya dan tersenyum lebar.

__ADS_1


Yogi yang sangat terlihat angkuh itu kemudian berbalik badan. Dia mengembuskan napasnya dengan keras saat melihat pemuda itu masih berdiri di dekat gerbang. Dia kira pemuda itu ikut mengikutinya memasuki rumah ini.


“Hei, mau masuk nggak, sih? Melamun aja lo! Tadi lo nyuruh gue cepet, eh elonya malah lelet kayak siput!” pekiknya kesal.


Pemuda itu seolah tersadar dan menggeleng pelan. Mana mungkin dia mau nurutin gue. Sikapnya


aja kayak gini sama gue.


"Woi, Sora! Cepetan! Lama banget!" Yogi makin tidak sabar karena langkah Sora yang menurutnya begitu lambat. Lagipula dia masih kesal karena Sora dengan seenak jidatnya meminta sopir taksi untuk menurunkan mereka di depan gerbang perumahan.


“Biar sehat,” kata Sora. Jawaban yang membuat amarah Yogi makin terpancing. Namun Sora seolah sengaja membuat Yogi marah sedemikian rupa.


Langkah Sora kini sudah menyamai Yogi. Bersisian mereka mulai mendekati pintu yang terbuat dari kayu jati itu. Belum sempat Sora menekan tombol bel, pintu tersebut telah terbuka dan menampakkan sosok Bu Nia dengan balutan gaun rumahan yang santai.


Senyumnya merekah di wajah yang seolah tidak pernah menua itu.


“Syukurlah kalian pulang dengan selamat.” Bu Nia langsung merengkuh tubuh Sora, menciumi wajahnya. Namun saat hendak merengkuh Yogi, pemuda itu memundurkan tubuhnya. Membuat Bu Nia terdiam sejenak menerima penolakan Yogi yang begitu kentara.


Menyadari hal tersebut, Sora gegas mengalihkan, “Ma, aku ada oleh-oleh, nih, buat Mama. Tapi di dalem aja, ya.”


Bu Nia mengangguk dan tersenyum. “Nggak perlu repot-repot. Melihat kalian aja sudah membuat Mama senang.”

__ADS_1


__ADS_2