
Hujan
turun dengan deras ketika Amora baru saja melangkahkan kaki keluar dari
kelasnya. Gadis itu tersenyum kecil melihat rintik-rintik air yang turun
membasahi bumi. Amora tidak menyadari bahwa tak jauh di dekatnya Sora tengah
tersenyum melihatnya.
“Yah,
hujan. Gimana gue pulang?” keluh Tania yang berdiri di samping Amora.
Amora
menoleh dan menepuk bahu Tania pelan.
“Kan
lo bisa nunggu ujannya reda, baru pulang,” kata Amora lembut. “Lagian, kayaknya
hujannya nggak lama kok. Paling beberapa menit lagi udah berhenti.”
“Yah,
gue nggak bisa nunggu ujannya reda. Gue ada urusan di rumah. Mana gue harus
bantuin nyokap gue jualan pula,” keluh Tania. “Gerbang sekolah jauh pula. Kenapa,
sih, kelas kita mesti jauh banget letaknya? Kan repot pas hujan gini.
“Ya
udah, sabar aja dulu. Atau berdoa biar hujannya segera reda, nggak pake lama.” Amora
masih berusaha menenangkan Tania yang semakin gusar.
“Kalian
mau pulang?” tanya sebuah suara di belakang Amora dan Tania. Sontak dua gadis
itu menoleh bersamaan.
“Sora?”
tanya Tania setengah berteriak.
“Kalian
mau pulang? Bareng gue aja, yuk. Kebetulan gue bawa mobil,” tawar Sora sambil
__ADS_1
menyunggingkan senyum manisnya.
Tania
langsung tersenyum lebar saat mendengar Sora mengajaknya pulang bersama.
Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dia akan pulang naik mobil mewah. Sora,
kan anak orang kaya. Mobil yang dia bawa pun harganya mahal.
“Wah,
dengan senang hati,” kata Tania langsung.
“Tania
…,” tegur Amora pelan.
Tania
menoleh sambil memutar bola matanya. “Kenapa Ra? Kapan lagi coba kita naik
mobil mewah? Lagian, lo juga lagi nggak bawa mobil, kan?” bisiknya tak kalah
pelan.
“Tapi
jangan langsung mau kayak gitu dong. Kita, kan belum kenal banget sama Sora.”
“Ya
mungkinlah dia itu bukan orang baik-baik,” balas Tania yakin.
Amora
bukannya tidak percaya, hanya saja dia tidak mau merepotkan Sora lagi. Cukup sekali
ia nebeng mobil Sora. Itu pun bukan atas kehendaknya sendiri.
“Kalian
mau nggak? Hujannya makin deres nih,” kata Sora, memecah perbincangan kecil
antara Amora dan Tania.
Tania
menoleh dan tersenyum sangat manis pada Sora. “Gue sih mau-mau aja. Nggak tahu
sama nih orang,” sahut Tania sambil melirik Amora.
__ADS_1
Amora
yang merasa sebagai orang yang dimaksud pun langsung melotot pada Tania.
“Lo
mau kan pulang bareng gue, Ra?” tanya Sora.
“Ah,
gue nggak usah deh. Biar Tania aja yang pulang bareng elo. Gue nunggu ujannya
reda aja, baru pulang,” kata Amora sambil berusaha untuk tersenyum.
“Nunggu
ujannya reda itu masih lama, Ra, ujannya masih deres banget. Sekarang aja udah mau
sore, kalo lo mau nunggu ujannya reda, bisa-bisa lo pulangnya kemaleman. Nggak
bagus, loh anak cewek pulang malem-malem.”
“Iya,
Ra. Lo ikut aja, masa gue tega sih ninggalin elo, sedangkan gue pulang sama
Sora,” timpal Tania sambil mengamit lengan Amora.
Amora
masih terlihat ragu untuk ikut walaupun dia memang membenarkan kata-kata Sora.
Dia juga takut kalau pulang malam-malam. Entah kenapa dia sangat takut kalau
berada di jalan pada saat malam hari. Dia takut akan terjadi apa-apa dengan
dirinya. Seperti ada semacam trauma yang ada di dalam dirinya.
“Ikut
aja, Ra. Lagi pula nanti lo susah dapetin busnya kalo udah malem.” Tania masih
berusaha membujuk Amora.
Akhirnya
Amora mengangguk pelan. Melihat itu Sora dan Tania langsung tersenyum lega.
Bahkan Tania langsung memeluk dan mencubit kedua pipi Amora.
“Apaan
__ADS_1
sih?” sahut Amora sebal sambil memegangi pipinya yang sudah memerah.
“Hehe.”