Tears And Love

Tears And Love
Part Tiga Belas


__ADS_3

Hujan


turun dengan deras ketika Amora baru saja melangkahkan kaki keluar dari


kelasnya. Gadis itu tersenyum kecil melihat rintik-rintik air yang turun


membasahi bumi. Amora tidak menyadari bahwa tak jauh di dekatnya Sora tengah


tersenyum melihatnya.


“Yah,


hujan. Gimana gue pulang?” keluh Tania yang berdiri di samping Amora.


Amora


menoleh dan menepuk bahu Tania pelan.


“Kan


lo bisa nunggu ujannya reda, baru pulang,” kata Amora lembut. “Lagian, kayaknya


hujannya nggak lama kok. Paling beberapa menit lagi udah berhenti.”


“Yah,


gue nggak bisa nunggu ujannya reda. Gue ada urusan di rumah. Mana gue harus


bantuin nyokap gue jualan pula,” keluh Tania. “Gerbang sekolah jauh pula. Kenapa,


sih, kelas kita mesti jauh banget letaknya? Kan repot pas hujan gini.


“Ya


udah, sabar aja dulu. Atau berdoa biar hujannya segera reda, nggak pake lama.” Amora


masih berusaha menenangkan Tania yang semakin gusar.


“Kalian


mau pulang?” tanya sebuah suara di belakang Amora dan Tania. Sontak dua gadis


itu menoleh bersamaan.


“Sora?”


tanya Tania setengah berteriak.


“Kalian


mau pulang? Bareng gue aja, yuk. Kebetulan gue bawa mobil,” tawar Sora sambil

__ADS_1


menyunggingkan senyum manisnya.


Tania


langsung tersenyum lebar saat mendengar Sora mengajaknya pulang bersama.


Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dia akan pulang naik mobil mewah. Sora,


kan anak orang kaya. Mobil yang dia bawa pun harganya mahal.


“Wah,


dengan senang hati,” kata Tania langsung.


“Tania


…,” tegur Amora pelan.


Tania


menoleh sambil memutar bola matanya. “Kenapa Ra? Kapan lagi coba kita naik


mobil mewah? Lagian, lo juga lagi nggak bawa mobil, kan?” bisiknya tak kalah


pelan.


“Tapi


jangan langsung mau kayak gitu dong. Kita, kan belum kenal banget sama Sora.”


“Ya


mungkinlah dia itu bukan orang baik-baik,” balas Tania yakin.


Amora


bukannya tidak percaya, hanya saja dia tidak mau merepotkan Sora lagi. Cukup sekali


ia nebeng mobil Sora. Itu pun bukan atas kehendaknya sendiri.


“Kalian


mau nggak? Hujannya makin deres nih,” kata Sora, memecah perbincangan kecil


antara Amora dan Tania.


Tania


menoleh dan tersenyum sangat manis pada Sora. “Gue sih mau-mau aja. Nggak tahu


sama nih orang,” sahut Tania sambil melirik Amora.

__ADS_1


Amora


yang merasa sebagai orang yang dimaksud pun langsung melotot pada Tania.


“Lo


mau kan pulang bareng gue, Ra?” tanya Sora.


“Ah,


gue nggak usah deh. Biar Tania aja yang pulang bareng elo. Gue nunggu ujannya


reda aja, baru pulang,” kata Amora sambil berusaha untuk tersenyum.


“Nunggu


ujannya reda itu masih lama, Ra, ujannya masih deres banget. Sekarang aja udah mau


sore, kalo lo mau nunggu ujannya reda, bisa-bisa lo pulangnya kemaleman. Nggak


bagus, loh anak cewek pulang malem-malem.”


“Iya,


Ra. Lo ikut aja, masa gue tega sih ninggalin elo, sedangkan gue pulang sama


Sora,” timpal Tania sambil mengamit lengan Amora.


Amora


masih terlihat ragu untuk ikut walaupun dia memang membenarkan kata-kata Sora.


Dia juga takut kalau pulang malam-malam. Entah kenapa dia sangat takut kalau


berada di jalan pada saat malam hari. Dia takut akan terjadi apa-apa dengan


dirinya. Seperti ada semacam trauma yang ada di dalam dirinya.


“Ikut


aja, Ra. Lagi pula nanti lo susah dapetin busnya kalo udah malem.” Tania masih


berusaha membujuk Amora.


Akhirnya


Amora mengangguk pelan. Melihat itu Sora dan Tania langsung tersenyum lega.


Bahkan Tania langsung memeluk dan mencubit kedua pipi Amora.


“Apaan

__ADS_1


sih?” sahut Amora sebal sambil memegangi pipinya yang sudah memerah.


“Hehe.”


__ADS_2