Tears And Love

Tears And Love
Part Tiga Puluh Dua


__ADS_3

Amora


membuka matanya perlahan-lahan. Aroma obat-obatan khas rumah sakit langsung


menyeruak memasuki rongga hidungnya. Samar-samar Amora melihat wajah Sora yang


kini tengah menatapnya dengan senyuman lebar. Dengan susah payah akhirnya Amora


membalas senyuman Sora.


“Lo


udah sadar?” tanya Sora lembut.


Amora


mengangguk pelan. Dia langsung memegangi kepalanya saat merasakan nyeri yang


hebat di kepalanya. Melihat hal itu Sora langsung mendekati Amora, mendudukan gadis


itu secara pelan dengan bersandarkan bantal.


“Kalo


lo ngerasa sakit, lo jangan maksain diri,” kata Sora.


Amora


tersenyum kecil menerima perhatian yang amat besar dari Sora.


“Gue


nggak kenapa-napa Sora. Jangan terlalu berlebihan mengkhawatirkan gue,” jawab


gadis itu sambil tersenyum lebar.


“Gimana


gak khawatir kalo gue taunya lo habis bangun setelah kecelakaan.”


“Gue


nggak kenapa-napa, Sora. Cuma kecelakaan doang kok.”


“Kecelakaan


lo bilang ‘cuma’?”


Mata


Sora terbelalak lebar. Kemudian pemuda itu menggeleng dengan ekspresi lucu. Mau


tidak mau Amora tertawa geli melihatnya.


“Haha,


dasar jayus lo!” kata Amora geli.


“Jayus-jayus


gini, banyak yang naksir!” seru Sora sambil menepuk dadanya.


“Haha,


selain jayus, lo juga ternyata kepedesan, eh, kepedeaan. Haha ….”


Amora


dan Sora terus tertawa geli setelah saling meledek satu sama lain. Sora merasa


senang akhirnya Amora bisa sadar dan kembali bercanda dengannya. Melihat hal


itu Bu Nia hanya bisa tersenyum lega dari balik pintu ruang rawat Amora. Air


matanya jatuh perlahan dari pelupuk matanya.


Ucapan


syukur tidak pernah berhenti terucap setelah mengetahui bahwa putri kecilnya

__ADS_1


tidak benar-benar meninggalkannya dari dunia ini. Hatinya terasa benar-benar lega


karena Tuhan mengabulkan doanya untuk bersama lagi dengan putri kecilnya tersebut.


Terima kasih Tuhan, Kau telah mengabulkan doa hambaMu


ini.


“Amora,


gue sayang sama lo,” kata Sora setelah mereka berhenti tertawa.


Amora


menoleh cepat dan menatap Sora tidak percaya.


“Sa


… sayang?”


Sora


mengangguk cepat.


“Ya,


sayang. Perasaan sayang terhadap lawan jenis. Perasaan yang disebut cinta.”


Amora


tertawa keras setelah mendengar perkataan Sora.


“Udah


deh, Ra. Gue tahu gue lagi sakit, dan gue juga tahu lo lagi menghibur gue. Tapi


jangan ngomong gini dong. Ntar gue jadi ge-er lagi, Ra,” kata Amora. Gadis ini


tidak bisa menghentikan tawanya.


“Ra,


sungguh-sungguh sambil menggenggam erat tangan Amora.


Amora *speechles*s, tidak tahu ingin berkata


apa. Yang dia tahu, Sora benar-benar mengatakan bahwa dia menyayangi Amora


tanpa kebohongan sedikit pun. Amora dapat melihat jelas sorot kejujuran di mata


Sora.


“Gue


juga suka sama lo, Ra,” kata Amora lirih. “Tapi, izinin gue buat mengenal lo


lebih jauh. Gue nggak mau menyalahartikan perasaan gue ini sebagai rasa cinta.


Jadi, kasih gue waktu untuk mengetahui perasaan gue terhadap elo.”


***


Semua


orang mengira kebahagiaan telah mereka raih. Namun walaupun mereka menginginkan


kebahagiaan, Tuhan mempunyai cobaan lain untuk menguji kita. Salah satunya dengan


kejadian yang tidak akan pernah kita dibayangkan sebelumnya.


Bu


Nita dan Bu Nia tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah dokter mengatakan


Amora mengalami kelainan jantung. Bu Nita tidak semudah itu percaya kalau Amora


mengalami kelainan jantung. Karena setahunya, Amora tidak pernah sekalipun


mengeluh sakit pada jantungnya.

__ADS_1


Namun


setelah dokter mengemukakan hasil rontgen beserta hasil pemeriksaannya dan


berbagai hasil tes lainnya termasuk tes darah terhadap Amora, mau tidak mau Bu


Nita percaya akan kata-kata dokter yang memeriksa Amora. Dengan langkah gontai


dia keluar dari ruangan dokter Glen dan menuju ruang rawat Amora.


Bu


Nia sama sekali tidak menyangka bahwa Sasi—putri kecilnya yang baru dia


temui—harus mengalami kelainan jantung. Selama dia melahirkan dan membesarkan


Sasi selama hampir delapan tahun, dia tidak tahu sama sekali mengenai penyakit


yang diderita putrinya tersebut.


“Cobaan


apa lagi yang harus aku terima?” tanyanya pelan.


Amora


yang saat itu tengah makan dengan ditemani Sora langsung menoleh saat mendengar


suara pintu ruang rawatnya terbuka. Amora langsung tersenyum saat melihat Bu


Nita berjalan ke arahnya.


“Mama


ke mana aja?” tanya Amora riang.


Mendengar


suara riang Amora, Bu Nita langsung mencoba tersenyum.


“Mama


tadi dari ruang dokter, Sayang,” jawab Bu Nita sambil membelai lembut rambut


Amora yang terlihat kusut.


“Ma,


kapan aku bisa pulang? Udah seminggu lebih aku dirawat di rumah sakit ini. Aku


bosen, Ma,” rengek Amora manja.


“Kamu


pasti akan segera pulang, Amora. Makanya, kamu jangan malas makan, istirahat


yang cukup, dan turuti perkataan dokter, ya?” saran Bu Nita.


Amora


mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolnya.


“Oke,


sip, Mama!” seru Amora riang. “Yang penting Amora bisa cepet pulang.”


Bu


Nita kembali terdiam sambil mengamati Amora yang tengah bersemangat memasukkan


makanan ke dalam mulutnya. Amora terlihat sangat bahagia saat berada di dekat


Sora.


Ya Tuhan, apa aku tega


memberi tahukan penyakit ini? Apa aku tega membuat senyuman di wajah anakku ini


memudar setelah mengetahui penyakit yang dideritanya?

__ADS_1


__ADS_2