
Amora
membuka matanya perlahan-lahan. Aroma obat-obatan khas rumah sakit langsung
menyeruak memasuki rongga hidungnya. Samar-samar Amora melihat wajah Sora yang
kini tengah menatapnya dengan senyuman lebar. Dengan susah payah akhirnya Amora
membalas senyuman Sora.
“Lo
udah sadar?” tanya Sora lembut.
Amora
mengangguk pelan. Dia langsung memegangi kepalanya saat merasakan nyeri yang
hebat di kepalanya. Melihat hal itu Sora langsung mendekati Amora, mendudukan gadis
itu secara pelan dengan bersandarkan bantal.
“Kalo
lo ngerasa sakit, lo jangan maksain diri,” kata Sora.
Amora
tersenyum kecil menerima perhatian yang amat besar dari Sora.
“Gue
nggak kenapa-napa Sora. Jangan terlalu berlebihan mengkhawatirkan gue,” jawab
gadis itu sambil tersenyum lebar.
“Gimana
gak khawatir kalo gue taunya lo habis bangun setelah kecelakaan.”
“Gue
nggak kenapa-napa, Sora. Cuma kecelakaan doang kok.”
“Kecelakaan
lo bilang ‘cuma’?”
Mata
Sora terbelalak lebar. Kemudian pemuda itu menggeleng dengan ekspresi lucu. Mau
tidak mau Amora tertawa geli melihatnya.
“Haha,
dasar jayus lo!” kata Amora geli.
“Jayus-jayus
gini, banyak yang naksir!” seru Sora sambil menepuk dadanya.
“Haha,
selain jayus, lo juga ternyata kepedesan, eh, kepedeaan. Haha ….”
Amora
dan Sora terus tertawa geli setelah saling meledek satu sama lain. Sora merasa
senang akhirnya Amora bisa sadar dan kembali bercanda dengannya. Melihat hal
itu Bu Nia hanya bisa tersenyum lega dari balik pintu ruang rawat Amora. Air
matanya jatuh perlahan dari pelupuk matanya.
Ucapan
syukur tidak pernah berhenti terucap setelah mengetahui bahwa putri kecilnya
__ADS_1
tidak benar-benar meninggalkannya dari dunia ini. Hatinya terasa benar-benar lega
karena Tuhan mengabulkan doanya untuk bersama lagi dengan putri kecilnya tersebut.
Terima kasih Tuhan, Kau telah mengabulkan doa hambaMu
ini.
“Amora,
gue sayang sama lo,” kata Sora setelah mereka berhenti tertawa.
Amora
menoleh cepat dan menatap Sora tidak percaya.
“Sa
… sayang?”
Sora
mengangguk cepat.
“Ya,
sayang. Perasaan sayang terhadap lawan jenis. Perasaan yang disebut cinta.”
Amora
tertawa keras setelah mendengar perkataan Sora.
“Udah
deh, Ra. Gue tahu gue lagi sakit, dan gue juga tahu lo lagi menghibur gue. Tapi
jangan ngomong gini dong. Ntar gue jadi ge-er lagi, Ra,” kata Amora. Gadis ini
tidak bisa menghentikan tawanya.
“Ra,
sungguh-sungguh sambil menggenggam erat tangan Amora.
Amora *speechles*s, tidak tahu ingin berkata
apa. Yang dia tahu, Sora benar-benar mengatakan bahwa dia menyayangi Amora
tanpa kebohongan sedikit pun. Amora dapat melihat jelas sorot kejujuran di mata
Sora.
“Gue
juga suka sama lo, Ra,” kata Amora lirih. “Tapi, izinin gue buat mengenal lo
lebih jauh. Gue nggak mau menyalahartikan perasaan gue ini sebagai rasa cinta.
Jadi, kasih gue waktu untuk mengetahui perasaan gue terhadap elo.”
***
Semua
orang mengira kebahagiaan telah mereka raih. Namun walaupun mereka menginginkan
kebahagiaan, Tuhan mempunyai cobaan lain untuk menguji kita. Salah satunya dengan
kejadian yang tidak akan pernah kita dibayangkan sebelumnya.
Bu
Nita dan Bu Nia tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah dokter mengatakan
Amora mengalami kelainan jantung. Bu Nita tidak semudah itu percaya kalau Amora
mengalami kelainan jantung. Karena setahunya, Amora tidak pernah sekalipun
mengeluh sakit pada jantungnya.
__ADS_1
Namun
setelah dokter mengemukakan hasil rontgen beserta hasil pemeriksaannya dan
berbagai hasil tes lainnya termasuk tes darah terhadap Amora, mau tidak mau Bu
Nita percaya akan kata-kata dokter yang memeriksa Amora. Dengan langkah gontai
dia keluar dari ruangan dokter Glen dan menuju ruang rawat Amora.
Bu
Nia sama sekali tidak menyangka bahwa Sasi—putri kecilnya yang baru dia
temui—harus mengalami kelainan jantung. Selama dia melahirkan dan membesarkan
Sasi selama hampir delapan tahun, dia tidak tahu sama sekali mengenai penyakit
yang diderita putrinya tersebut.
“Cobaan
apa lagi yang harus aku terima?” tanyanya pelan.
Amora
yang saat itu tengah makan dengan ditemani Sora langsung menoleh saat mendengar
suara pintu ruang rawatnya terbuka. Amora langsung tersenyum saat melihat Bu
Nita berjalan ke arahnya.
“Mama
ke mana aja?” tanya Amora riang.
Mendengar
suara riang Amora, Bu Nita langsung mencoba tersenyum.
“Mama
tadi dari ruang dokter, Sayang,” jawab Bu Nita sambil membelai lembut rambut
Amora yang terlihat kusut.
“Ma,
kapan aku bisa pulang? Udah seminggu lebih aku dirawat di rumah sakit ini. Aku
bosen, Ma,” rengek Amora manja.
“Kamu
pasti akan segera pulang, Amora. Makanya, kamu jangan malas makan, istirahat
yang cukup, dan turuti perkataan dokter, ya?” saran Bu Nita.
Amora
mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolnya.
“Oke,
sip, Mama!” seru Amora riang. “Yang penting Amora bisa cepet pulang.”
Bu
Nita kembali terdiam sambil mengamati Amora yang tengah bersemangat memasukkan
makanan ke dalam mulutnya. Amora terlihat sangat bahagia saat berada di dekat
Sora.
Ya Tuhan, apa aku tega
memberi tahukan penyakit ini? Apa aku tega membuat senyuman di wajah anakku ini
memudar setelah mengetahui penyakit yang dideritanya?
__ADS_1