Tears And Love

Tears And Love
Bab 3


__ADS_3

"Harusnya dari dulu gue ngomong kayak tadi. Biar elo cepet juga sadarnya," sindir Yogi. Pemuda itu kembali mengalihkan fokusnya ke layar ponsel. Membiarkan Sora berlalu menuju dapur untuk membawa piring kotor tersebut.


Apa saja yang sudah ia lewatkan? Sora terus bertanya dalam hati. Namun ia tahu, sesuatu yang ia lewatkan adalah hal positif yang ia yakini membawa warna baru di rumah mereka. Ah, bahkan di kehidupan mereka selanjutnya.


***


Untuk pertama kalinya, Yogi secara sukarela mau semobil dengan Sora ke sekolah. Untuk kali pertama juga ia yang menyetir mobil, membiarkan Sora duduk di sampingnya sebagai penumpang.


Babak baru hidup mereka sudah dimulai. Permusuhan dan perang dingin di antara keduanya mulai mengendur. Bahkan, Yogi sengaja bangun lebih pagi agar bisa mengantar Andi ke sekolah terlebih dahulu.


"Lo berubah," ucap Sora saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di lampu merah.


Senyum simpul terbit di wajah Yogi.


"Nggak berubah," sangkal Yogi, "hanya ingin menjadi lebih baik."


Melempar pandangan ke luar jendela, Sora menggaris senyum tipis.

__ADS_1


Menjadi lebih baik? pikir Sora. Harusnya ia juga melakukan hal yang sama. Demi dirinya, orang-orang di sekitarnya, juga Amora yang sudah pergi meninggalkan dunia ini.


Setelah memarkirkan mobilnya, Yogi memanggil Sora yang hendak melangkah. Sontak pemuda itu menghentikan langkah dan menoleh pada Yogi.


"Jangan kalah sama gue. Kali ini, gue akan bersaing sehat sama lo. Dalam hal apa pun."


Tersenyum, Sora lantas mengangguk.


"Baiklah."


Mengendikkan bahu, Yogi kembali meneruskan langkah. Tidak peduli tatapan Tania yang masih dingin padanya, semenjak beberapa bulan yang lalu. Tepatnya setelah Amora meninggal.


"Salah lo! Gara-gara lo Amora meninggal!"


Yogi masih mengingat jelas teriakan dan makian Tania padanya. Ia bahkan menerima tanpa membalas saat Tania memukuli dadanya. Tidak ada yang pernah mau menerima perpisahan. Yogi tahu itu.


Menghela napas panjang, Yogi berusaha menyingkirkan kenangan yang cukup buruk tersebut. Ia tahu, masih ada kesalahpahaman yang harus ia bereskan di sini. Berkaitan dengan amarah Tania padanya yang entah kapan bisa padam.

__ADS_1


***


Ada yang berbeda. Kosong dalam kehidupan yang dijalani. Namun, ini bukan kali pertama Sora merasakannya. Ia sudah pernah merasakan, bahkan terlalu sering hingga ia hampir mati rasa.


Meski begitu, melihat bangku kosong yang semula diduduki oleh Amora, tetap membuat perih di dada Sora.


Demi Tuhan, dia sudah mulai menerima kepergian gadis itu. Namun entah kenapa, saat tidak sengaja menoleh ke arah bangku gadis itu sesak itu kembali datang tanpa diundang. Seolah gadis itu tengah duduk di sana dalam versi tiga dimensi.


Mencoba menghalau sakit yang datang bertubi-tubi, Sora pamit ke toilet pada guru yang mengajar. Sepertinya ia butuh untuk mencuci wajah, dengan harapan bayangan akan sosok Amora turut menghilang seiring dengan air yang membasahi wajahnya nanti.


Namun harapan Sora seketika hancur tatkala pemuda itu melihat seorang gadis yang tersenyum ke arahnya.


"Amora?" bisik Sora lirih.


Sora memejamkan mata, berharap semua hanya ilusi. Benar saja, saat Sora membuka mata, sosok tersebut sudah hilang entah ke mana.


"Sial!" maki Sora. Tanpa sadar meninju dinding di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2