
Sora masuk ke dalam kamarnya dengan pikiran yang masih memusat pada percakapannya tadi. Dia segera membanting tubuhnya ke atas ranjang.
“Amora Sasi Januarja. Lo bisa manggil gue Amora.”
“A—Amora Sasi?”
“Iya, kenapa?”
Sora menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pemikiran yang masuk ke dalam otaknya. Dia mencengkram rambutnya kuat-kuat sambil memejamkan matanya.
“Kenapa hati gue yakin kalo dia itu Sasi gue? Padahal kenyataannya Sasi udah meninggal sembilan tahun yang lalu. Kenapa namanya sama dengan Sasi? Apa dia benar-benar Sasi? Tapi kenapa dia sama sekali gak inget sama gue?” tanya Sora frustrasi.
Sora melemparkan pandangannya pada pigura yang berada di atas meja di samping ranjangnya. Sora tersenyum tipis saat melihat senyuman gadis kecil dalam foto tersebut.
“Kalo itu beneran lo, apa lo juga punya perasaan yang sama kayak gue? Apa lo juga ngerasain rindu yang sama dengan yang kayak gue rasain? Andai dia benar-benar lo, gue janji akan selalu jagain lo. Gue janji, Sasi.”
“Kamu kenapa?” tanya Sora pada Sasi yang tengah duduk sendirian di taman. Wajahnya terlihat sangat kusut.
Sasi menoleh sekilas dan menggeleng lemah.
“Aku nggak kenapa-napa.”
Sora menyipitkan matanya, tak percaya dengan apa yang dilontarkan Sasi. “Kalo kamu ada masalah, cerita
sama aku.”
“Aku kesel sama Yogi,” desah Sasi pelan.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Gara-gara dia aku kena marah Papa. Padahal, kan dia yang salah, dia yang gangguin aku. Tapi Papa selalu aja belain dia. Mentang-mentang dia itu cowok.”
“Kalo dia gangguin kamu lagi, bilang sama aku!” seru Sora dengan semangat.
“Kok aku mesti bilang sama kamu? Emangnya kenapa?”
“Soalnya kalo dia gangguin kamu, aku bisa jagain kamu. Jadi kamu nggak kena marah Papa kamu lagi
deh.”
“Emangnya kamu mau jagain aku?” tanya Sasi polos.
Tanpa ragu Sora langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
Dengan senang Sasi mengamit jari kelingking Sora.
“Makasih ya.”
***
Pemuda itu memainkan puntung rokok di tangannya. Sesekali dia menarik napas berat sambil menatap lurus jalanan di depannya.
“Kenapa lo nggak semangat gitu?” tanya seorang lelaki berpenampilan preman di samping pemuda itu. Pemuda itu menoleh sekilas dan menggelengkan kepalanya.
“Gue capek banget hidup kayak gini. Bokap gue terlalu protective banget sama gue. Apalagi si Sora mau-mau aja jadi bodyguard gratis gue. Emangnya gue anak kecil apa, mesti diatur-atur mulu?” dumel pemuda itu, kesal.
__ADS_1
Laki-laki berpenampilan preman dan bertato itu menunjukkan wajah prihatinnya dan mengusap-usap punggung pemuda itu. “Lo harusnya bersyukur masih punya keluarga, tajir pula. Coba lo lihat penduduk di kampung ini, tinggal berkelompok aja udah syukur banget. Walaupun bukan sama keluarga asli. Buat makan pun harus malak dulu.”
“Tapi gue capek Bram! Lo tahu? Gue kabur dari asrama gue di Sydney karena gue nggak mau terikat dalam aturan. Eh, malah gue ketahuan sama si Sora. Gara-gara dia gue harus digelandang secara paksa buat sekolah di Indonesia lagi.”
“Mungkin keluarga lo ada benarnya, Gi,” sahut laki-laki yang bernama Bram itu.
“Apa pun alasannya, gue nggak mau bokap terlalu ngatur-ngatur gue!!” bentak pemuda itu dengan emosi dan langsung pergi meninggalkan Bram. Bram cuma bisa geleng-geleng melihat perlakuan pemuda itu.
Bram dan teman-temannya yang lain sudah paham betul tabiat pemuda itu. Sosok yang terlihat bringasan itu tak lebih dari seorang pemuda yang rapuh. Bram masih ingat betul pertemuan pertamanya dengan pemuda itu.
Saat itu Bram bermaksud memalak pemuda yang sedang duduk termenung di pinggir jembatan. Tatapan matanya begitu kosong. Walaupun preman, Bram juga masih mempunyai hati nurani.
“Eh bocah. Ngapain lo duduk-duduk di sini? Nggak sekolah lo? Ntar ortu lo nyariin lo!” sahut Bram sambil menepuk pelan anak SMP di depannya.
Anak SMP itu mengangkat kepalanya. Bram bisa merasakan kesedihan di mata anak SMP itu. Karena dia juga
dulu pernah merasakan sebuah kesedihan.
“Gue males sekolah,” jawab orang itu singkat.
Bram mengernyitkan dahinya mendengar jawaban anak laki-laki itu. Mana mungkin anak SMP di depannya
ini males sekolah. Dilihat dari penampilannya saja Bram tahu kalau anak ini berasal dari kalangan borjuis. Tiba-tiba muncul ide gila di benak Bram.
“Lo mau ikutan jadi preman?” tanya Bram langsung.
Bram kira anak itu langsung lari dari hadapannya dengan cepat. Siapa sangka anak laki-laki itu langsung menunjukkan antusiasmenya.
__ADS_1
“Preman? Gue mau!”