
“Makasih
ya, Ra, atas tumpangannya!” seru Tania sebelum akhirnya menutup pintu mobil
Sora. Sora mengangguk kecil dan membalas lambaian tangan Tania sebelum akhirnya
pergi dari rumah Tania.
Sora
melajukan mobilnya dengan pelan. Amora yang duduk di sebelahnya dari tadi tidak
pernah membuka suaranya. Padahal saat jam istirahat tadi, gadis itu terlihat
ramah pada Sora. Tapi entah kenapa sekarang gadis itu malah bersikap sebaliknya.
Baik
Sora maupun Amora tidak ada yang memulai untuk berbicara. Hanya suara mesin
mobil yang melaju dan suara rintik-rintik hujanlah yang menemani kesunyian di
antara mereka.
Sora
tidak tahu bahwa di dalam hatinya Amora merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu
yang membuatnya ingin berteriak sekencang mungkin dan berlari secepat yang dia
bisa. Amora juga merasa ada sedikit rasa kerinduan yang tiba-tiba
menghinggapinya. Amora ingin menangis, dia ingin berkata, tapi rasanya airmatanya
sudah mongering, dan suaranya tercekat di tenggorokan. Akhirnya dia memilih
untuk diam daripada mengikuti alur perasaannya yang tidak dia ketahui.
Sora
menoleh sekilas ke arah Amora yang masih enggan untuk membuka suaranya.
“Lo
kenapa? Kok diem aja?” tanya Sora akhirnya.
Amora
menoleh sekilas dan kembali menatap lurus ke depan.
“Nggak
kok. Gue nggak kenapa-nap,” jawabnya singkat sambil berusaha tersenyum.
Sora
mengangguk sekilas sambil menggumam kecil.
Hujan
sudah hampir reda pada saat itu. Langit yang mendung pun kini sudah berubah
__ADS_1
menjadi langit senja yang berhiaskan warna keemasan. Sora menghentikan mobilnya
di sebuah taman yang berada di jalan yang menuju rumah Amora.
Amora
menatap Sora dengan tatapan tak mengerti. Tapi Sora tidak melihatnya, cowok itu
malah mematikan mesin mobilnya lalu turun dan menuju sebuah bangku yang menatap
langsung ke ufuk barat.
“Nih
cowok mau ngapain, sih?” tanya Amora pada dirinya sendiri. Akhirnya Amora
memilih untuk turun dan duduk di samping Sora untuk bertanya lebih lanjut.
Sora
menoleh sekilas saat merasakan seseorang duduk di sampingnya. Cowok itu
memberikan Amora senyuman tipis sebelum akhirnya kembali menatap sang surya
yang kini berada ambang pergantian waktu.
“Lo
mau—”
Belum
dengan ucapannya yang lirih, “Gue selalu nikmatin pergantian malam.”
“Maksud
lo?”
“Di
saat rona-rona jingga itu berpendar dengan indah. Di saat langit yang berwarna
keemasan itu berganti menjadi langit yang gelap, gue ngerasa gue semakin jauh
dengan dia.”
Amora
menatap Sora dengan bingung. Dari nada suaranya, Amora dapat mendengar jelas
kata-kata Sora yang mengandung suatu arti. Bahkan ekspresi cowok itu pun
berubah menjadi sendu. Bunyi suara burung-burung yang mengantar kepergian senja
terdengar begitu nyaring.
“Maksud
lo apa, sih? Gue nggak ngerti.”
“Gimana,
__ADS_1
ya kabar dia sekarang? Apa dia sekarang bahagia di sana?” ujar Sora dengan
lirih. Kemudian cowok itu menoleh ke arah Amora yang sedang menatapnya bingung.
“Lo
kenapa?” tanya Amora pelan saat melihat sorot kesedihan di mata Sora.
Sora
menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
“Gue
nggak kenapa-napa. Gue hanya teringat pada seseorang di masa kecil gue yang
udah pergi jauh dari kehidupan gue. Orang yang gue sayang, yang harus pergi
ninggalin gue untuk selamanya karena takdir.”
Amora
menundukkan kepalanya setelah mendengar kata-kata Sora. Dia tidak tahu harus
berkata apa lagi. Amora bukanlah orang yang dengan mudah merangkai kata-kata
untuk menenangkan seseorang yang tengah sedih.
“Lo
enak lagi, Ra. Seenggaknya lo masih nyimpen kenangan masa kecil lo. Sedangkan
gue ….” Amora mengangkat kepalanya dan tersenyum samar. “Gue nggak inget apa
pun tentang masa lalu gue. Nggak inget
apa pun yang terjadi di hidup gue.“
Setelahnya,
tidak ada lagi yang membuka suaranya. Amora duduk sambil menatap lurus ke
depan, menatap matahari yang kini sudah kembali ke peraduannya. Di sebelahnya
Sora duduk sambil terus menatap wajah gadis itu. Mengamati setiap garis-garis
wajahnya tanpa ada satupun yang terlewatkan.
“Gue
anak angkat.”
Ucapan
Amora membuka keheningan yang tercipta di antara mereka. Sora membelalakan
matanya tak percaya.
“A—anak
angkat?”
__ADS_1