Tears And Love

Tears And Love
Part Empat Belas


__ADS_3

“Makasih


ya, Ra, atas tumpangannya!” seru Tania sebelum akhirnya menutup pintu mobil


Sora. Sora mengangguk kecil dan membalas lambaian tangan Tania sebelum akhirnya


pergi dari rumah Tania.


Sora


melajukan mobilnya dengan pelan. Amora yang duduk di sebelahnya dari tadi tidak


pernah membuka suaranya. Padahal saat jam istirahat tadi, gadis itu terlihat


ramah pada Sora. Tapi entah kenapa sekarang gadis itu malah bersikap sebaliknya.


Baik


Sora maupun Amora tidak ada yang memulai untuk berbicara. Hanya suara mesin


mobil yang melaju dan suara rintik-rintik hujanlah yang menemani kesunyian di


antara mereka.


Sora


tidak tahu bahwa di dalam hatinya Amora merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu


yang membuatnya ingin berteriak sekencang mungkin dan berlari secepat yang dia


bisa. Amora juga merasa ada sedikit rasa kerinduan yang tiba-tiba


menghinggapinya. Amora ingin menangis, dia ingin berkata, tapi rasanya airmatanya


sudah mongering, dan suaranya tercekat di tenggorokan. Akhirnya dia memilih


untuk diam daripada mengikuti alur perasaannya yang tidak dia ketahui.


Sora


menoleh sekilas ke arah Amora yang masih enggan untuk membuka suaranya.


“Lo


kenapa? Kok diem aja?” tanya Sora akhirnya.


Amora


menoleh sekilas dan kembali menatap lurus ke depan.


“Nggak


kok. Gue nggak kenapa-nap,” jawabnya singkat sambil berusaha tersenyum.


Sora


mengangguk sekilas sambil menggumam kecil.


Hujan


sudah hampir reda pada saat itu. Langit yang mendung pun kini sudah berubah

__ADS_1


menjadi langit senja yang berhiaskan warna keemasan. Sora menghentikan mobilnya


di sebuah taman yang berada di jalan yang menuju rumah Amora.


Amora


menatap Sora dengan tatapan tak mengerti. Tapi Sora tidak melihatnya, cowok itu


malah mematikan mesin mobilnya lalu turun dan menuju sebuah bangku yang menatap


langsung ke ufuk barat.


“Nih


cowok mau ngapain, sih?” tanya Amora pada dirinya sendiri. Akhirnya Amora


memilih untuk turun dan duduk di samping Sora untuk bertanya lebih lanjut.


Sora


menoleh sekilas saat merasakan seseorang duduk di sampingnya. Cowok itu


memberikan Amora senyuman tipis sebelum akhirnya kembali menatap sang surya


yang kini berada ambang pergantian waktu.


“Lo


mau—”


Belum


dengan ucapannya yang lirih, “Gue selalu nikmatin pergantian malam.”


“Maksud


lo?”


“Di


saat rona-rona jingga itu berpendar dengan indah. Di saat langit yang berwarna


keemasan itu berganti menjadi langit yang gelap, gue ngerasa gue semakin jauh


dengan dia.”


Amora


menatap Sora dengan bingung. Dari nada suaranya, Amora dapat mendengar jelas


kata-kata Sora yang mengandung suatu arti. Bahkan ekspresi cowok itu pun


berubah menjadi sendu. Bunyi suara burung-burung yang mengantar kepergian senja


terdengar begitu nyaring.


“Maksud


lo apa, sih? Gue nggak ngerti.”


“Gimana,

__ADS_1


ya kabar dia sekarang? Apa dia sekarang bahagia di sana?” ujar Sora dengan


lirih. Kemudian cowok itu menoleh ke arah Amora yang sedang menatapnya bingung.


“Lo


kenapa?” tanya Amora pelan saat melihat sorot kesedihan di mata Sora.


Sora


menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.


“Gue


nggak kenapa-napa. Gue hanya teringat pada seseorang di masa kecil gue yang


udah pergi jauh dari kehidupan gue. Orang yang gue sayang, yang harus pergi


ninggalin gue untuk selamanya karena takdir.”


Amora


menundukkan kepalanya setelah mendengar kata-kata Sora. Dia tidak tahu harus


berkata apa lagi. Amora bukanlah orang yang dengan mudah merangkai kata-kata


untuk menenangkan seseorang yang tengah sedih.


“Lo


enak lagi, Ra. Seenggaknya lo masih nyimpen kenangan masa kecil lo. Sedangkan


gue ….” Amora mengangkat kepalanya dan tersenyum samar. “Gue nggak inget apa


pun tentang masa lalu gue.  Nggak inget


apa pun yang terjadi di hidup gue.“


Setelahnya,


tidak ada lagi yang membuka suaranya. Amora duduk sambil menatap lurus ke


depan, menatap matahari yang kini sudah kembali ke peraduannya. Di sebelahnya


Sora duduk sambil terus menatap wajah gadis itu. Mengamati setiap garis-garis


wajahnya tanpa ada satupun yang terlewatkan.


“Gue


anak angkat.”


Ucapan


Amora membuka keheningan yang tercipta di antara mereka. Sora membelalakan


matanya tak percaya.


“A—anak


angkat?”

__ADS_1


__ADS_2