Tears And Love

Tears And Love
Part Enam Belas


__ADS_3

Angin


malam saat ini sedang berembus dengan pelan. Menimbulkan udara yang sejuk,


walaupun tak sesejuk udara di pagi hari. Tapi khusus kota Jakarta, apakah masih


ada udara sejuk di pagi hari itu? Untuk sesaat Tania melamun sebelum akhirnya


kembali mengerjakan pe-er matematika-nya.


Tania


berhenti mengerjakan pe-er di teras rumahnya saat sebuah mobil sedan yang


terlihat mahal masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Tania langsung menyipitkan


matanya saat melihat seorang laki-laki tua keluar dari mobil tersebut. Tanpa Tania


duga, laki-laki itu langsung mendekatinya.


“Apa


benar ini rumahnya Pak Joko?” tanya Laki-laki itu pada Tania.


“Ah,


benar ini rumahnya pak Joko. Anda siapa, ya?” tanya Tania sambil mengamati


laki-laki itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Nih orang kalo dilihat dari penampilannya, nggak kayak orang kaya, tapi


kok mobilnya bagus banget, ya? tanyanya heran dalam hati.


“Saya


Ujang, temannya Bapak kamu. Bapak kamu ada?” tanya orang yang bernama Ujang


itu.


Tania


mengangguk dan berdiri dari duduknya.


“Tunggu


sebentar, ya. Saya panggil Bapak dulu,” sahut Tania lantas masuk ke dalam


rumahnya.


Tania


melihat bapak dan ibunya tengah duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Di


tangan kanannya, Pak Joko tengah menyeruput secangkir kopi. Tania langsung


mendekati bapaknya yang terlihat tengah bersantai itu.


“Pak,


ada tamu di depan.”


Pak


Joko mengangkat alisnya sambil meletakkan kopinya ke atas meja. “Siapa?”


Tania


mengangkat bahunya. “Nggak tahu tu, katanya dia temen Bapak.”

__ADS_1


“Kamu


tanya nggak siapa namanya?” tanya ibu Tania yang tengah serius menonton.


“Katanya


nama dia itu Ujang.”


Pak


Joko langsung membelalakan matanya, begitu juga dengan ibunya Tania. Pak Joko


lantas berdiri dan langsung menuju teras rumahnya.


“Bapak


kenapa, Bu? Kok kayak habis ngeliat setan, gitu?” tanya Tania bingung.


“Ah,


bukan urusanmu. Sudah, kamu tidur saja sana. Sudah malam.”


Sementara


itu Pak Joko langsung duduk di depan laki-laki yang bernama Ujang itu. Melihat


itu, Mang Ujang langsung duduk di kursi yang tersedia.


“Kamu


mau apa ke sini, Jang?” tanya Pak Joko langsung.


“Aku


mau menanyakan kabar tentang anak perempuan yang sembilan tahun lalu aku


“Anak


perempuan itu sudah tidak bersamaku lagi, Jang. Kamu tahulah ekonomi keluargaku


ini seperti apa. Menghidupi Tania saja aku kalang-kabut. Apalagi kalau harus


ditambah satu anak lagi. Kamu kan tahu sendiri lah, Jang.


“Hidup


di Jakarta ini nggak mudah. Beda dengan saat kita tinggal di Malang dulu. Saat


kamu menitipkan anak itu, aku memang masih ada di Malang. Tapi, saat aku pindah


tugas ke Jakarta, aku tidak yakin kalau aku mampu membiayai kehidupanku dengan


adanya anak titipanmu itu,” jelas Pak Joko panjang lebar.


“Jadi,


di mana anak itu sekarang berada?” tanya Mang Ujang. Laki-laki itu terlihat


sedih.


“Aku


menitipkannya di panti asuhan. Sehari setelah kamu menitipkan anak itu padaku.


Aku tidak tahu apakah anak itu masih di panti asuhan itu atau tidak. Kejadian


itu sudah sembilan tahun berlalu, Jang. Kecil kemungkinan kalau anak itu masih

__ADS_1


berada di sana.”


Mang


Ujang terlihat semakin putus asa.


“Jadi


di mana aku dapat menemukan anak itu lagi, Ko? Aku selalu dihantui perasaan


bersalah karena aku telah memisahkan anak itu dari Ibu kandungnya.”


“Kamu


pula, kenapa kamu mau saja mengikuti kemauan saudara majikanmu itu. Bukannya


kamu sendiri yang pernah mengatakannya padaku kalau saudara majikanmu itu orang


jahat? Kenapa kamu malah mengikuti kemauannya?! Itu salah kamu sendiri!”


Mang


Ujang menundukkan kepalanya. Rasa bersalah itu semakin menumpuk di dalam


hatinya. “Aku juga sebenarnya tidak tega, Ko. Tapi entah setan apa yang merasukiku


saat itu sehingga menuruti kemauan Pak Andre.”


“Ya


sudah, kalau kamu merasa bersalah, sebaiknya kamu cari tahu keberadaan anak


itu. Setelah itu, kamu katakan sejujurnya pada anak itu apa yang sudah terjadi.


Aku yakin, anak itu juga pasti kangen dengan orang tua kandungnya,” usul Pak


Joko.


Mang


Ujang menggeleng dengan sedih.


“Andai


semua itu semudah yang kamu katakan, Ko.”


“Lho?


Bukannya itu memang tidak sulit?”


“Hal


ini sangat sulit, Ko. Apalagi Sasi mengalami amnesia karena kecelakaan yang


menimpanya.”


Pak


Joko membelalakan matanya tak percaya. Pantas saja saat itu anak yang


dititipkan padanya terlihat seperti orang linglung. Pak Joko dan Mang Ujang


tidak pernah menyadari bahwa sedari tadi Tania menguping pembicaraan dua laki-laki


paruh baya itu.


“Siapa

__ADS_1


yang Bapak bicarakan?” Tania bertanya-tanya.


__ADS_2