
Angin
malam saat ini sedang berembus dengan pelan. Menimbulkan udara yang sejuk,
walaupun tak sesejuk udara di pagi hari. Tapi khusus kota Jakarta, apakah masih
ada udara sejuk di pagi hari itu? Untuk sesaat Tania melamun sebelum akhirnya
kembali mengerjakan pe-er matematika-nya.
Tania
berhenti mengerjakan pe-er di teras rumahnya saat sebuah mobil sedan yang
terlihat mahal masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Tania langsung menyipitkan
matanya saat melihat seorang laki-laki tua keluar dari mobil tersebut. Tanpa Tania
duga, laki-laki itu langsung mendekatinya.
“Apa
benar ini rumahnya Pak Joko?” tanya Laki-laki itu pada Tania.
“Ah,
benar ini rumahnya pak Joko. Anda siapa, ya?” tanya Tania sambil mengamati
laki-laki itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Nih orang kalo dilihat dari penampilannya, nggak kayak orang kaya, tapi
kok mobilnya bagus banget, ya? tanyanya heran dalam hati.
“Saya
Ujang, temannya Bapak kamu. Bapak kamu ada?” tanya orang yang bernama Ujang
itu.
Tania
mengangguk dan berdiri dari duduknya.
“Tunggu
sebentar, ya. Saya panggil Bapak dulu,” sahut Tania lantas masuk ke dalam
rumahnya.
Tania
melihat bapak dan ibunya tengah duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Di
tangan kanannya, Pak Joko tengah menyeruput secangkir kopi. Tania langsung
mendekati bapaknya yang terlihat tengah bersantai itu.
“Pak,
ada tamu di depan.”
Pak
Joko mengangkat alisnya sambil meletakkan kopinya ke atas meja. “Siapa?”
Tania
mengangkat bahunya. “Nggak tahu tu, katanya dia temen Bapak.”
__ADS_1
“Kamu
tanya nggak siapa namanya?” tanya ibu Tania yang tengah serius menonton.
“Katanya
nama dia itu Ujang.”
Pak
Joko langsung membelalakan matanya, begitu juga dengan ibunya Tania. Pak Joko
lantas berdiri dan langsung menuju teras rumahnya.
“Bapak
kenapa, Bu? Kok kayak habis ngeliat setan, gitu?” tanya Tania bingung.
“Ah,
bukan urusanmu. Sudah, kamu tidur saja sana. Sudah malam.”
Sementara
itu Pak Joko langsung duduk di depan laki-laki yang bernama Ujang itu. Melihat
itu, Mang Ujang langsung duduk di kursi yang tersedia.
“Kamu
mau apa ke sini, Jang?” tanya Pak Joko langsung.
“Aku
mau menanyakan kabar tentang anak perempuan yang sembilan tahun lalu aku
“Anak
perempuan itu sudah tidak bersamaku lagi, Jang. Kamu tahulah ekonomi keluargaku
ini seperti apa. Menghidupi Tania saja aku kalang-kabut. Apalagi kalau harus
ditambah satu anak lagi. Kamu kan tahu sendiri lah, Jang.
“Hidup
di Jakarta ini nggak mudah. Beda dengan saat kita tinggal di Malang dulu. Saat
kamu menitipkan anak itu, aku memang masih ada di Malang. Tapi, saat aku pindah
tugas ke Jakarta, aku tidak yakin kalau aku mampu membiayai kehidupanku dengan
adanya anak titipanmu itu,” jelas Pak Joko panjang lebar.
“Jadi,
di mana anak itu sekarang berada?” tanya Mang Ujang. Laki-laki itu terlihat
sedih.
“Aku
menitipkannya di panti asuhan. Sehari setelah kamu menitipkan anak itu padaku.
Aku tidak tahu apakah anak itu masih di panti asuhan itu atau tidak. Kejadian
itu sudah sembilan tahun berlalu, Jang. Kecil kemungkinan kalau anak itu masih
__ADS_1
berada di sana.”
Mang
Ujang terlihat semakin putus asa.
“Jadi
di mana aku dapat menemukan anak itu lagi, Ko? Aku selalu dihantui perasaan
bersalah karena aku telah memisahkan anak itu dari Ibu kandungnya.”
“Kamu
pula, kenapa kamu mau saja mengikuti kemauan saudara majikanmu itu. Bukannya
kamu sendiri yang pernah mengatakannya padaku kalau saudara majikanmu itu orang
jahat? Kenapa kamu malah mengikuti kemauannya?! Itu salah kamu sendiri!”
Mang
Ujang menundukkan kepalanya. Rasa bersalah itu semakin menumpuk di dalam
hatinya. “Aku juga sebenarnya tidak tega, Ko. Tapi entah setan apa yang merasukiku
saat itu sehingga menuruti kemauan Pak Andre.”
“Ya
sudah, kalau kamu merasa bersalah, sebaiknya kamu cari tahu keberadaan anak
itu. Setelah itu, kamu katakan sejujurnya pada anak itu apa yang sudah terjadi.
Aku yakin, anak itu juga pasti kangen dengan orang tua kandungnya,” usul Pak
Joko.
Mang
Ujang menggeleng dengan sedih.
“Andai
semua itu semudah yang kamu katakan, Ko.”
“Lho?
Bukannya itu memang tidak sulit?”
“Hal
ini sangat sulit, Ko. Apalagi Sasi mengalami amnesia karena kecelakaan yang
menimpanya.”
Pak
Joko membelalakan matanya tak percaya. Pantas saja saat itu anak yang
dititipkan padanya terlihat seperti orang linglung. Pak Joko dan Mang Ujang
tidak pernah menyadari bahwa sedari tadi Tania menguping pembicaraan dua laki-laki
paruh baya itu.
“Siapa
__ADS_1
yang Bapak bicarakan?” Tania bertanya-tanya.