
Amora
tidak pernah tahu apa yang ada di dalam hatinya setiap kali berada di dekat
Sora. Seperti halnya saat ini. Dia merasa jantungnya berdegup dua kali lebih
cepat dari biasanya. Dia juga merasa pipinya memanas setiap kali secara tak
sengaja dia memergoki Sora meliriknya walaupun sekilas.
Ada
perasaan asing yang merasukinya. Yang membuatnya selalu salah tingkah di
hadapan cowok yang sekarang tengah duduk di sampingnya. Ditambah lagi dengan suasana
hening di antara mereka. Membuat Amora merasa yakin ada sesuatu yang mengganjal
di dalam hatinya.
Gue kenapa?batin
Amora lirih. Kenapa gue ngerasa
deg-degan?
Amora
melirik Sora yang tengah konsentrasi mengemudi. Lagi-lagi hatinya bergerumuh.
Andai ada speaker di dalam hatinya, pasti Sora dapat mendengar jelas degup
jantung Amora saat ini.
Amora
sedikit bernapas lega saat mobil yang dia tumpangi telah masuk ke dalam
pekarangan sekolahnya. Dia langsung turun begitu mobil itu berhenti. Setidaknya
dia dapat menetralkan hatinya yang jumpalitan sedari tadi.
“Ehm,
makasih ya Ra, udah nganterin gue. Gue ngerasa nggak enak karena udah
ngerepotin elo,” kata Amora.
“Iya
nggak pa-pa kok. Lagian lo nggak ngerepotin gue. Jadi lo jangan ngerasa nggak
enak kayak gitu,” balas Sora sambil tersenyum manis.
“Ehm,
gue duluan ke kelas, ya. Permisi,” kata Amora akhirnya dan berlalu dari hadapan
Sora yang memandangnya penuh arti.
“Andai
lo itu bener-bener Sasi, Ra. Gue nggak akan biarin lo pergi lagi dari hidup gue,”
gumam Sora lirih.
***
Sepanjang
perjalanan tidak ada kata yang keluar dari bibir Yogi. Dari tadi dia sibuk
melamunkan semua kejadian yang masih tercetak jelas di ingatannya. Berkali-kali
bibirnya mencetak senyuman samar dan penuh kepahitan.
“Papa mau memperkenalkan Mama baru untuk kalian!” seru
Pak Andre pada Yogi dan Sora yang saat itu sedang menikmati makan malamnya.
“Maksud Papa apa?” tanya Yogi langsung. Ekspresi tidak
__ADS_1
suka tergambar jelas di wajahnya.
“Apa boleh Papa menikah lagi? Ini juga untuk kebaikan
kalian. Papa tidak mau anak-anak Papa nanti besar tanpa kasih sayang seorang
ibu. Lagi pula, Mama kalian pasti menginginkan agar kalian mendapatkan
pengganti figur seorang ibu. Papa merasa tidak bisa sendirian membesarkan
kalian berdua. Papa butuhpartner untuk membesarkan kalian.
“Sudah lima bulan Papa merasa tidak sanggup
membesarkan kalian. Papa sering pulang malam, bahkan sering lembur di kantor.
Papa tidak mau kalian kurang kasih sayang. Karena itulah Papa mau memberikan
ibu bagi kalian,” jelas Pak Andre panjang lebar.
Yogi langsung berdiri dari duduknya dan menggebrak
meja yang membuat piring serta gelas yang ada di dekatnya bergetar.
“Aku nggak mau ada orang lain lagi yang masuk ke dalam
rumah ini!” serunya sambil melirik Sora dengan tajam.
Sora yang merasa sebagai orang yang dimaksud Yogi
dalam ucapannya langsung menundukkan wajahnya.
“Tapi ini demi kebaikan kalian semua.”
“Itu demi kebaikan Papa dan Sora! Bukan untuk kebaikan
aku!” seru Yogi emosi.
“Kita
sudah sampai, Den.” Sahutan dari Mang Ujang seketika langsung membuyarkan
lamunan Yogi.
mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung turun dari mobil dan memasuki area
sekolah yang masih terasa asing baginya.
Saat
melewati parkiran motor yang lenggang tak sengaja dia menabrak sesuatu.
Tabrakan yang sedikit keras itu tak membuat tubuhnya yang lumayan kekar jatuh
terjerembap. Namun tidak bagi orang yang tak sengaja ditabrak Yogi. Dari
rintihan yang di dengar Yogi, dia tahu kalau orang yang dia tabrak terjatuh.
“Aduh
…,” rintih orang tersebut.
Yogi
melihat di depannya terdapat seorang gadis yang dikuncir kuda sedang meringis
kesakitan.
“Kalo
jalan hati-hati dong!” pekik Yogi langsung.
Gadis
itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap Yogi dengan kesal setelah
mendengar bentakan dari Yogi. Bukannya
minta maaf, malah bentak-bentak gue! batin gadis itu tak senang dan kesal.
Dengan
__ADS_1
segera gadis itu berdiri dan menatap Yogi dengan tajam tepat di manik matanya.
“Eh,
kok elo malah bentak-bentak gue? Jelas-jelas elo yang salah! Elo yang udah
nabrak gue!” pekik Amora kesal. Padahal Amora tidak berniat sama sekali untuk marah-marah
saat pagi hari. Kalau saja cowok di depannya ini bersikap manis, pasti emosinya
tidak akan terpancing seperti sekarang.
Yogi
melipat tangannya di depan dada dan menatap Amora dengan senyuman mengejek.
“Gue salah? Nggak salah tuh? Bukannya elo, ya, yang salah?!”
Amora
semakin kesal karena cowok tak dikenal yang sepertinya tidak pernah mengenal
dan tidak pernah mengucapkan kata maaf itu. Amora hendak mengeluarkan makiannya
lagi, tapi tiba-tiba sebuah suara menghentikan keinginannya itu.
“Yogi?
Ngapain kamu di situ?” tanya suara itu di antara kerumunan yang tanpa disadari
sudah berada di sekitar Yogi dan Amora.
Yogi
menoleh ke asal suara dan langsung mencibir begitu melihat wajah si empunya
suara.
“Dia
lagi!” desis Yogi sambil tesenyum sinis.
Sora
langsung mendekati Amora dan Yogi yang kini sudah menjadi tontonan murid-murid.
Keributan yang mereka buat menjadi tontonan gratis di pagi hari ini.
“Sekarang
masih pagi untuk membuat keributan,” kata Sora bijak.
“Apa
peduli elo? Suka-suka gue mau ngebuat keributan kapan aja. Mau pagi kek, siang,
sore, malem, itu suka-suka gue! Lo nggak berhak ngatur-ngatur gue!”
Sora
kemudian mendekati Yogi dan berbisik di telinganya. Amora tidak tahu apa yang
dikatakan Sora. Yang pasti setelah itu wajah Yogi langsung berubah menjadi
semakin kesal. Kemudian dengan sengaja dia menubruk bahu Sora dan langsung
pergi begitu saja.
“Lo
tadi ngomong apaan sama dia? Kok dia kelihatan semakin bête gitu?” tanya Amora
penasaran setelah kerumunan yang tadi mengelilinginya berangsur-angsur menjauh
dan akhirnya bubar.
Sora
tidak menjawab pertanyaan Amora. Dia hanya menaikan sebelah alisnya dan
menggedikkan bahunya sebelum akhirnya meninggalkan Amora yang kebingungan.
__ADS_1
“Sebenarnya
ada hubungan apa Sora sama cowok yang tadi?”