
Bel tanda istirahat berbunyi bersamaan dengan berakhirnya ulangan kimia yang berlangsung selama satu jam itu. Dani—ketua kelas di kelas Amora—langsung berkeliling untuk mengambil kertas jawaban dari seluruh siswa dan menaruhnya di atas meja guru setelah semua kertas jawaban terkumpul di tangannya.
Amora merentangkan tangannya lebar-lebar. Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku sehabis mengerjakan ulangan barusan.
“Huft! Pusing!” keluh Tania sambil memajukan tubuhnya hingga menempel ke pinggiran meja. Tangannya dia rentangkan ke depan. “Itu soal apa racun, sih?”
Amora tersenyum kecil melihat tingkah teman satu mejanya itu.
“Elo kenapa, Tan?” tanya Amora.
Tania memutar kepalanya dan menatap Amora sambil menyipitkan matanya. “Ya ampun, Ra! Udah tahu gue lagi pusing, lo malah nanya ‘kenapa’?!” sahut Tania dramatis.
“Tapi gue beneran nggak tahu. Emangnya kenapa lo bisa pusing? Mang Eta yang tukang sapu di sekolah kita ini nembak elo?”
“What? Mang Eta? Amit-amit!” kata Tania sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dan meja secara bergantian. “Enak aja lo, jangan sampe lah Mang Eta nembak gue. Bininya aja udah ada 5 di kampungnya.” Tania bergidik ngeri.
Amora tertawa geli melihat ekspresi Tania. “Haha, lucu banget tampang lo, Tan. Haha .…”
“Ish, apaan, sih, lo? Emangnya ada yang lucu?” Tania melipat kedua tangannya sambil mengerucutkan
bibirnya.
“Hehe, sori. Jangan marah gitu dong.”
“Elo ini ya, udah tahu gue lagi pusing, malah didoain Mang Eta nembak gue pula. Astaga banget, deh,” sahut Tania sambil geleng-geleng kepala. “Untungnya lo itu temen gue. Kalo enggak … udah gue jadiin lo sate buat jadi santapan gue malem nanti,” kata Tania sambil memasang tampang seperti para vampir yang haus darah.
__ADS_1
Lagi-lagi Amora tertawa geli melihat ekspresi Tania. “Emangnya lo kenapa, sih jadi senewen gini? Emangnya apa yang buat lo pusing?”
Tania menggelengkan kepalanya sambil berdecak beberapa kali. “Dasar lo itu ya, mentang-mentang anak pinter jadi nggak ikutan pusing. Gue pusing gara-gara ngerjain soal kimia-nya Bu Yenti yang susahnya minta ampun! Elo mah enak ngerti, lah gue? Nggak ngerti sama sekali. Rumus-rumus yang gue hapalin dari semalem langsung buyar gara-gara liat tampangnya Bu Yenti yang super duper nyeremin itu.”
Amora manggut-manggut mendengar celotehan Tania yang terus mengalir.
“Tapi beneran deh, Tan. Soalnya tadi itu mudah kok.”
“Mudah buat lo, susah buat gue!” protes Tania yang hanya ditanggapi Amora dengan senyum tipis.
Saat Amora membalikan tubuhnya ke belakang, tak sengaja tatapan matanya bertabrakan dengan Sora. Saat itu Amora merasa waktu di sekitarnya berhenti hanya untuk mereka berdua.
Kok kayaknya gue pernah ngerasain ini sebelumnya. Tapi di mana? Amora bingung sendiri.
Amora masih terus berusaha untuk mengingat-ingat kejadian yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Saat dia berusaha mengingat keras, rasa sakit di kepalanya tiba-tiba datang menyergapnya. Refleks Amora memegangi tempurung kepalanya yang terasa nyeri dan berat.
“Gue nggak kenapa-napa,” jawab Amora pelan sambil menyunggingkan senyumnya untuk meyakinkan Tania kalau dia baik-baik saja.
Sora yang melihat kejadian itu ikut khawatir saat melihat Amora merintih kesakitan. Kenapa gue khawatir banget sama dia?
***
Bel pulang berbunyi dengan nyaring di seantero kelas. Dengan segera Amora memasukkan seluruh alat tulisnya secara serampangan. Baru beberapa langkah Amora hendak meninggalkan kelasnya, tiba-tiba tangannya ditahan oleh seseorang.
“Hei?” panggil orang tersebut dan membuat Amora menoleh.
__ADS_1
Amora sedikit tersentak saat melihat anak baru yang bernama Sora itu berdiri di belakangnya.
“Kenapa?” tanya Amora singkat.
Sora mengulurkan tangannya.
“Sora … lo?”
Amora menatap Sora dengan bingung. “Amora Sasi Januarja. Lo bisa manggil gue Amora.”
Sora tersentak saat mendengar nama gadis itu.
“A—Amora Sasi?” tanyanya tak percaya.
“Iya, kenapa?”
Amora Sasi? Kayak pernah denger. Sora membelalakan matanya. Sasi Amora? Nama itu, kan ….
“Apa lo dulu pernah tinggal di Malang?” tanya Sora langsung. Matanya menatap lurus mata bening Amora.
Amora membelalakan matanya saat mendengar pertanyaan aneh dari mulut Sora. “Emangnya ngapain lo nanyain gue pernah tinggal di Malang atau enggak? Gue nggak pernah tinggal di Malang.”
Sora mengerjapkan matanya dengan cepat. Nggak. Dia bukan Sasi. Mana mungkin Sasi masih hidup.
“Nama lo sama kayak temen gue. Tapi, orang yang make nama Sasi, kan banyak. Mungkin gue salah ngira aja,” sahut Sora cepat dan langsung meninggalkan Amora yang menatapnya dengan bingung.
__ADS_1
Nggak mungkin dia itu Sasi yang sama. Jelas-jelas gue lihat dengan mata kepala gue sendiri pemakaman Sasi dan papanya. Kecuali … nggak! Nggak mungkin Mang Ujang dan Papa bohong tentang keberadaan Sasi. Mungkin ini karena gue belum bisa relain Sasi pergi. Ya. Mungkin karena itu. Tapi, kalo itu bener … gue harus cari tahu!
Amora menatap punggung Sora yang semakin menjauh itu. “Tuh cowok aneh banget sih.”