Tears And Love

Tears And Love
Part Tujuh Belas


__ADS_3

Gadis kecil itu terus berlari mengejar kupu-kupu yang


terbang di atasnya. Di sampingnya, seorang anak laki-laki turut berlari


mengiringi langkah gadis kecil itu. Gadis itu menghela napas pelan karena kupu-kupu


itu telah terbang menjauh darinya. Dengan sedih gadis kecil itu duduk luruh di


atas rumput.


“Yah, kupu-kupunya udah pergi,” ucap gadis kecil itu


sedih.


Anak laki-laki yang semula berdiri kini ikut duduk di


samping gadis kecil itu. Tangannya kini mengelus pelan bahu gadis kecil itu


yang naik turun karena menangis.


“Udah, Sasi jangan nangis. Nanti kita cari kupu-kupu


lain yang lebih cantik. Kupu-kupu yang tadi mungkin lagi ada keperluan, makanya


udah nggak main lagi kita.” Anak laki-laki itu berusaha menenangkan gadis kecil


yang bernama Sasi itu.


Sasi menoleh sekilas sebelum menunduk lagi. Air matanya


sudah mengalir deras, membasahi pipinya yang mulus. “Tapi, aku mau main sama


kupu-kupu yang tadi. Aku nggak mau yang lain, Sora!” Sasi semakin menguatkan tangisnya.


Dengan kewalahan anak laki-laki  yang


bernama Sora itu berusaha menenangkan Sasi.


“Udah dong, Sasi jangan nangis. Kita cari kupu-kupu


yang lain aja.”


Sasi menggeleng kuat.


“Pokoknya Sasi nggak mau main kalo nggak sama kupu-kupu


yang tadi! Sasi nggak mau!”


“Cengeng banget sih!” seru seorang anak laki-laki di


belakang Sasi dan Sora. Sora menoleh dan melihat seorang anak laki-laki tengah


berdiri di belakang mereka dengan tatapan sinis. Tangannya dia masukkan ke saku


celana kebesarannya.


“Kamu mau ngapain ke sini?” tanya Sasi dengan sedikit


membentak.


“Dasar anak cewek, bisanya cuma nangis!” cibir anak


laki-laki itu sambil tersenyum mengejek.


“Yogi,” tegur Sora pelan.


“Apa?” tanya Yogi galak sambil memelotot pada Sora.


“Kamu tidak boleh seperti itu sama Sasi. Sasi itu, kan


teman kita.”


“Temen kamu, bukan temen aku!” ralat Yogi sambil


berjalan meninggalkan Sasi dan Sora.


“Yogi nyebelin! Sasi nggak akan pernah mau main sama


Yogi lagi!” pekik Sasi keras.

__ADS_1


Yogi menoleh sekilas sambil mengangkat bahunya. “Aku nggak


peduli!”


“Udah, kan, masih ada aku yang mau main sama Sasi,” bujuk


Sora sambil tersenyum manis.


Sasi menoleh dan membalas senyuman Sora tak kalah


manis. “Sora emang temen aku yang paling baik, deh.”


***


Yogi


berjalan dengan langkah pelan dan tanpa suara. Dia mengendap-ngendap saat memasuki


rumahnya yang sudah sepi dan gelap. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul satu


pagi. Namun Yogi baru pulang ke rumahnya setelah seharian berada di rumah Bram.


Sebelumnya


dia marah besar terhadap Bram yang sudah seenaknya memukulnya yang tengah dalam


kondisi mabuk. Namun Bram berusaha memberikan Yogi alasan dan penjelasan


mengapa dia melakukan hal tersebut. Dia terus berusaha meyakinkan Yogi kalau


tindakannya memukul Yogi itu adalah tindakan yang tidak salah. Dengan berat


hati akhirnya Yogi memaafkan Bram yang telah memukulnya. Itu pun setelah dia


menghajar Bram untuk membalas pukulan laki-laki itu padanya.


Yogi


menutup pintu rumahnya dengan sangat pelan agar bunyi pintu yang dia buka tidak


menimbulkan suara decit yang akan kedengaran nyaring, yang akan memungkinkan


membuat penghuni rumahnya terbangun di pagi buta ini. Terutama  papanya yang seringkali memarahinya karena


Dia


sedikit bernapas lega karena pintu itu tidak mengeluarkan bunyi sedikit pun.


Bayangan papanya yang akan terbangun dan memarahinya langsung lenyap begitu


saja. Dia sangat kesal kalau setiap habis pulang dari minum-minum sampai mabuk atau


keluyuran seperti ini, papanya yang akan menjadi orang pertama yang dilihatnya


dan ‘menyambutnya’.


Saat


tinggal beberapa langkah lagi menuju tangga, tiba-tiba lampu di ruang tengah


menyala terang. Membuat matanya yang mulai terbiasa berada di kegelapan menjadi


silau seketika. Yogi menoleh ke belakang dan melihat Pak Andre tengah berdiri


sambil melipat tangannya di depan dada. Tatapan matanya menatap Yogi


lekat-lekat dengan sorot yang tajam.


“Dari


mana saja kamu? Jam segini baru pulang? Mau jadi apa kamu?” bentak Pak Andre


langsung.


Yogi


memutar bola matanya dan mengibaskan tangannya di udara. Dia sedang malas


menanggapi semua perkataan Pak Andre. Dengan langkah pelan dia menapaki satu

__ADS_1


per satu anak tangga tanpa sekali pun berniat berbalik dan menggubris perkataan


Pak Andre.


“Yogi!


Papa sedang bicara sama kamu!” bentak Pak Andre lagi. Kemarahan terdengar jelas


dari nada suaranya.


“Udah


deh, Pa. Aku lagi males berdebat!” jawab Yogi acuh.


“Yogi,


kapan kamu bisa untuk tidak seperti ini terhadap Papa? Kenapa kamu selalu


menganggap semua ucapan Papa kepada kamu ini sebagai angin lalu?” tanya Pak


Andre.


Kesabarannya


benar-benar telah habis. Dia telah lelah menghadapi kelakuan Yogi yang sudah


kelewat batas seperti ini.


“Papa


tadi mendapat kabar kalau kemarin kamu sama sekali tidak hadir di kelas. Bahkan


kepala sekolah yang Papa tanyai pun tidak mengetahui kalau kamu berada di


sekolah. Kamu ke mana saja, ha? Seharusnya kemarin adalah hari pertama kamu


memulai aktivitas belajar kamu, tapi kamu malah seenaknya keluyuran dan pulang


jam segini! Seharusnya kamu mencontoh sikap Sora. Dia sangat mematuhi setiap


apa pun yang Papa perintahkan. Dia tidak pernah membantah ucapan Papa, tidak


seperti kamu ini!”


Yogi


yang awalnya sedikit merasa bersalah kini mulai emosi setelah papanya


membanggakan Sora tepat di depannya. Hatinya sangat sakit setelah mendengar


papanya begitu membanggakan Sora, ketimbang dirinya. Dengan kesal Yogi menapaki


anak tangga, bahkan menapaki dua anak tangga sekaligus. Dia langsung membanting


pintu kamarnya tanpa memberikan kesempatan pada Pak Andre untuk menceramahinya


lagi.


“Dasar


anak kurang ajar!” maki Pak Andre keras.


Yogi


tersenyum samar saat mendengar makian papanya. Entah sudah berapa kali papanya


melontarkan makian kepadanya. Saking sering dan banyaknya makian yang dia


terima, dia bahkan menganggap makian itu sebagai angin lalu.


Namun


kali ini berbeda. Entah kenapa hatinya terasa perih. Air mata yang tidak pernah


mau keluar dari pelupuk matanya kini memaksanya dan seakan-akan berlomba untuk keluar


dan membanjiri pipinya.


“Apa bagusnya si Sora? Kenapa dari dulu,

__ADS_1


selalunya dia yang dibanggain di keluarga ini?” katanya geram sambil


mengepalkan kedua tanggannya. “Padahal dia cuma anak pungut di keluarga ini!”


__ADS_2