
Gadis kecil itu terus berlari mengejar kupu-kupu yang
terbang di atasnya. Di sampingnya, seorang anak laki-laki turut berlari
mengiringi langkah gadis kecil itu. Gadis itu menghela napas pelan karena kupu-kupu
itu telah terbang menjauh darinya. Dengan sedih gadis kecil itu duduk luruh di
atas rumput.
“Yah, kupu-kupunya udah pergi,” ucap gadis kecil itu
sedih.
Anak laki-laki yang semula berdiri kini ikut duduk di
samping gadis kecil itu. Tangannya kini mengelus pelan bahu gadis kecil itu
yang naik turun karena menangis.
“Udah, Sasi jangan nangis. Nanti kita cari kupu-kupu
lain yang lebih cantik. Kupu-kupu yang tadi mungkin lagi ada keperluan, makanya
udah nggak main lagi kita.” Anak laki-laki itu berusaha menenangkan gadis kecil
yang bernama Sasi itu.
Sasi menoleh sekilas sebelum menunduk lagi. Air matanya
sudah mengalir deras, membasahi pipinya yang mulus. “Tapi, aku mau main sama
kupu-kupu yang tadi. Aku nggak mau yang lain, Sora!” Sasi semakin menguatkan tangisnya.
Dengan kewalahan anak laki-laki yang
bernama Sora itu berusaha menenangkan Sasi.
“Udah dong, Sasi jangan nangis. Kita cari kupu-kupu
yang lain aja.”
Sasi menggeleng kuat.
“Pokoknya Sasi nggak mau main kalo nggak sama kupu-kupu
yang tadi! Sasi nggak mau!”
“Cengeng banget sih!” seru seorang anak laki-laki di
belakang Sasi dan Sora. Sora menoleh dan melihat seorang anak laki-laki tengah
berdiri di belakang mereka dengan tatapan sinis. Tangannya dia masukkan ke saku
celana kebesarannya.
“Kamu mau ngapain ke sini?” tanya Sasi dengan sedikit
membentak.
“Dasar anak cewek, bisanya cuma nangis!” cibir anak
laki-laki itu sambil tersenyum mengejek.
“Yogi,” tegur Sora pelan.
“Apa?” tanya Yogi galak sambil memelotot pada Sora.
“Kamu tidak boleh seperti itu sama Sasi. Sasi itu, kan
teman kita.”
“Temen kamu, bukan temen aku!” ralat Yogi sambil
berjalan meninggalkan Sasi dan Sora.
“Yogi nyebelin! Sasi nggak akan pernah mau main sama
Yogi lagi!” pekik Sasi keras.
__ADS_1
Yogi menoleh sekilas sambil mengangkat bahunya. “Aku nggak
peduli!”
“Udah, kan, masih ada aku yang mau main sama Sasi,” bujuk
Sora sambil tersenyum manis.
Sasi menoleh dan membalas senyuman Sora tak kalah
manis. “Sora emang temen aku yang paling baik, deh.”
***
Yogi
berjalan dengan langkah pelan dan tanpa suara. Dia mengendap-ngendap saat memasuki
rumahnya yang sudah sepi dan gelap. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul satu
pagi. Namun Yogi baru pulang ke rumahnya setelah seharian berada di rumah Bram.
Sebelumnya
dia marah besar terhadap Bram yang sudah seenaknya memukulnya yang tengah dalam
kondisi mabuk. Namun Bram berusaha memberikan Yogi alasan dan penjelasan
mengapa dia melakukan hal tersebut. Dia terus berusaha meyakinkan Yogi kalau
tindakannya memukul Yogi itu adalah tindakan yang tidak salah. Dengan berat
hati akhirnya Yogi memaafkan Bram yang telah memukulnya. Itu pun setelah dia
menghajar Bram untuk membalas pukulan laki-laki itu padanya.
Yogi
menutup pintu rumahnya dengan sangat pelan agar bunyi pintu yang dia buka tidak
menimbulkan suara decit yang akan kedengaran nyaring, yang akan memungkinkan
membuat penghuni rumahnya terbangun di pagi buta ini. Terutama papanya yang seringkali memarahinya karena
Dia
sedikit bernapas lega karena pintu itu tidak mengeluarkan bunyi sedikit pun.
Bayangan papanya yang akan terbangun dan memarahinya langsung lenyap begitu
saja. Dia sangat kesal kalau setiap habis pulang dari minum-minum sampai mabuk atau
keluyuran seperti ini, papanya yang akan menjadi orang pertama yang dilihatnya
dan ‘menyambutnya’.
Saat
tinggal beberapa langkah lagi menuju tangga, tiba-tiba lampu di ruang tengah
menyala terang. Membuat matanya yang mulai terbiasa berada di kegelapan menjadi
silau seketika. Yogi menoleh ke belakang dan melihat Pak Andre tengah berdiri
sambil melipat tangannya di depan dada. Tatapan matanya menatap Yogi
lekat-lekat dengan sorot yang tajam.
“Dari
mana saja kamu? Jam segini baru pulang? Mau jadi apa kamu?” bentak Pak Andre
langsung.
Yogi
memutar bola matanya dan mengibaskan tangannya di udara. Dia sedang malas
menanggapi semua perkataan Pak Andre. Dengan langkah pelan dia menapaki satu
__ADS_1
per satu anak tangga tanpa sekali pun berniat berbalik dan menggubris perkataan
Pak Andre.
“Yogi!
Papa sedang bicara sama kamu!” bentak Pak Andre lagi. Kemarahan terdengar jelas
dari nada suaranya.
“Udah
deh, Pa. Aku lagi males berdebat!” jawab Yogi acuh.
“Yogi,
kapan kamu bisa untuk tidak seperti ini terhadap Papa? Kenapa kamu selalu
menganggap semua ucapan Papa kepada kamu ini sebagai angin lalu?” tanya Pak
Andre.
Kesabarannya
benar-benar telah habis. Dia telah lelah menghadapi kelakuan Yogi yang sudah
kelewat batas seperti ini.
“Papa
tadi mendapat kabar kalau kemarin kamu sama sekali tidak hadir di kelas. Bahkan
kepala sekolah yang Papa tanyai pun tidak mengetahui kalau kamu berada di
sekolah. Kamu ke mana saja, ha? Seharusnya kemarin adalah hari pertama kamu
memulai aktivitas belajar kamu, tapi kamu malah seenaknya keluyuran dan pulang
jam segini! Seharusnya kamu mencontoh sikap Sora. Dia sangat mematuhi setiap
apa pun yang Papa perintahkan. Dia tidak pernah membantah ucapan Papa, tidak
seperti kamu ini!”
Yogi
yang awalnya sedikit merasa bersalah kini mulai emosi setelah papanya
membanggakan Sora tepat di depannya. Hatinya sangat sakit setelah mendengar
papanya begitu membanggakan Sora, ketimbang dirinya. Dengan kesal Yogi menapaki
anak tangga, bahkan menapaki dua anak tangga sekaligus. Dia langsung membanting
pintu kamarnya tanpa memberikan kesempatan pada Pak Andre untuk menceramahinya
lagi.
“Dasar
anak kurang ajar!” maki Pak Andre keras.
Yogi
tersenyum samar saat mendengar makian papanya. Entah sudah berapa kali papanya
melontarkan makian kepadanya. Saking sering dan banyaknya makian yang dia
terima, dia bahkan menganggap makian itu sebagai angin lalu.
Namun
kali ini berbeda. Entah kenapa hatinya terasa perih. Air mata yang tidak pernah
mau keluar dari pelupuk matanya kini memaksanya dan seakan-akan berlomba untuk keluar
dan membanjiri pipinya.
“Apa bagusnya si Sora? Kenapa dari dulu,
__ADS_1
selalunya dia yang dibanggain di keluarga ini?” katanya geram sambil
mengepalkan kedua tanggannya. “Padahal dia cuma anak pungut di keluarga ini!”