Tears And Love

Tears And Love
Part Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Sudah


beberapa hari ini Mang Ujang mencari informasi mengenai orang yang telah


mengadopsi Sasi. Akhirnya, berbekalkan beberapa sumber yang dia temui, Mang


Ujang sampai juga di depan sebuah rumah yang berwarna biru dongker. Mang Ujang


turun dari mobilnya dan melangkah pelan menuju teras rumah.


Mang


Ujang sudah tidak tahan lagi menahan beban dihatinya. Beban yang seringkali


membuatnya susah tidur dan membuatnya terbangun di tengah malam. Ia merasa Sasi


selalu datang menghantuinya dan memintanya untuk menemukannya dengan orang tua


kandungnya.


“Non


Sasi, Mang Ujang pasti akan mempertemukan Non dengan Bu Nia. Mang Ujang janji,


Non,” bisik Mang Ujang lirih.


Dengan


tangan sedikit gemetaran Mang Ujang menekan bel di depannya. Darahnya langsung


mengalir deras saat pintu itu perlahan-lahan terbuka. Seorang perempuan yang


masih terlihat segar kini berada di depan Mang Ujang.


“Cari


siapa, Pak?” tanya wanita itu ramah.


Mang


Ujang membaca sekilas kertas kecil di genggamannya.


“Apa


benar ini rumah Bapak Damar Januarja?” tanya Mang Ujang dengan suara bergetar.


Wanita


di depan Mang Ujang sedikit mengernyitak dahinya. Kemudian wanita itu tersenyum


dan mengangguk kecil.


“Ya,


benar. Saya istrinya. Ada perlu apa, ya, Pak?” tanya Bu Nita lagi.


“Ehm,


sebenarnya .…”


Mang


Ujang kemudian menceritakan alasan kedatangannya ke mari. Wajah Bu Nita langsung


pucat setelah mendengar cerita Mang Ujang yang mengalir dari bibirnya. Ada


sorot ketakutan di matanya setelah mengetahui siapa sebenarnya Mang Ujang itu.

__ADS_1


“Jadi,


saya mau—”


“Tidak!!”


potong Bu Nita cepat. “Amora adalah anak saya! Bagaimanapun juga dia adalah


anak saya! Kamu tidak berhak untuk mempertemukannya dengan siapa pun!” pekik Bu


Nita dengan mata berkaca-kaca.


“Ta


… tapi, Bu. Saya benar-benar—”


“Amora


adalah anak saya! Anak kandung saya! Saya yang sudah membesarkan dia sampai


sekarang!” pekik Bu Nita lagi.


Bu


Nita benar-benar takut kehilangan Amora. Baginya, Amora adalah hartanya yang


paling berharga melebihi apa pun. Amora, gadis kecilnya yang kini sudah tumbuh


dewasa. Putrinya yang sangat dia sayangi. Bahkan melebih rasa sayangnya pada


Anti.


“Saya


tidak akan memberikan Amora pada kamu!”


Amora


mendengar suara ribut-ribut di depan rumahnya. Amora semakin bingung saat


melihat laki-laki yang tidak dia kenal yang sekarang tengah berdiri di depan mamanya


yang kini menangis tersedu-sedu. Amora langsung menghampiri Bu Nita dan memeluk


wanita itu.


“Ma,


Mama kenapa? Kenapa Mama nangis?” tanya Amora. Gadis itu langsung menangis saat


melihat wanita yang sangat disayangnya itu menangis tersedu-sedu seperti ini.


“Amora


.…” Bu Nita langsung memeluk Amora erat. Membuat gadis itu semakin bingung dan


meneteskan air matanya.


Mang


Ujang menatap Amora dengan tatapan kaget. Dia tidak percaya bahwa sekarang,


orang yang dia cari kini berada tepat di hadapannya. Mang Ujang langsung menyentuh


rambut Amora tanpa sadar. Matanya kini berkaca-kaca.


Amora

__ADS_1


tersentak kaget saat merasakan sebuah sentuhan di rambutnya. Amora mengangkat


kepalanya dan melihat Mang Ujang yang kini tengah menitikkan air matanya. Lagi-lagi


Amora dibuat bingung dengan kejadian di depan matanya.


“Sebenarnya


apa yang terjadi?” tanyanya.


Tak


Amora sangka, Bu Nita langsung menarik Amora sehingga membuat gadis itu


berdiri. Kemudian Bu Nita menatap Mang Ujang dengan tajam. Tangannya mengarah lurus


ke arah Mang Ujang.


“Kamu,


jangan coba-coba! Sampai kapan pun! Dia tidak akan kulepaskan!”


Amora


tidak sempat bertanya lebih lanjut karena kini Bu Nita sudah menarik tangannya


dengan kuat. Sebelum akhirnya pintu di depannya tertutup rapat, Amora sempat


melihat laki-laki tua yang tadi menyentuh rambutnya itu menangis sambil


menatapnya penuh arti.


“Dia


siapa, Ma?” tanya Amora akhirnya.


Bu


Nita langsung menoleh dan menatap Amora dengan tajam.


“Pokoknya


kamu tetap anak Mama. Kamu anak Mama!!” kata Bu Nita penuh penekanan.


Tanpa


membiarkan Amora bertanya banyak, Bu Nita langsung masuk ke kamarnya setelah


mengambil kunci pintu depan yang sudah terkunci. Dengan pelan Amora mendekat ke


arah jendela dan menyikap sedikit gordennya. Dia tersentak saat melihat laki-laki


itu tengah menatapnya sambil tersenyum miris.


Amora


langsung menutup gordennya seperti habis melihat hantu. Amora merasa seperti


pernah melihat orang itu. Tapi Amora benar-benar lupa di mana laki-laki tua itu


pernah dia temui. Amora berusaha keras mengingat laki-laki itu. Tapi yang ada


malah kepalanya terasa sakit dan berat.


Amora


menatap sekitarnya yang terasa berputar-putar, tubuhnya benar-benar terasa

__ADS_1


lemas. Lambat laun semuanya terlihat gelap, sampai akhirnya gadis itu jatuh


pingsan.


__ADS_2