
Sudah
beberapa hari ini Mang Ujang mencari informasi mengenai orang yang telah
mengadopsi Sasi. Akhirnya, berbekalkan beberapa sumber yang dia temui, Mang
Ujang sampai juga di depan sebuah rumah yang berwarna biru dongker. Mang Ujang
turun dari mobilnya dan melangkah pelan menuju teras rumah.
Mang
Ujang sudah tidak tahan lagi menahan beban dihatinya. Beban yang seringkali
membuatnya susah tidur dan membuatnya terbangun di tengah malam. Ia merasa Sasi
selalu datang menghantuinya dan memintanya untuk menemukannya dengan orang tua
kandungnya.
“Non
Sasi, Mang Ujang pasti akan mempertemukan Non dengan Bu Nia. Mang Ujang janji,
Non,” bisik Mang Ujang lirih.
Dengan
tangan sedikit gemetaran Mang Ujang menekan bel di depannya. Darahnya langsung
mengalir deras saat pintu itu perlahan-lahan terbuka. Seorang perempuan yang
masih terlihat segar kini berada di depan Mang Ujang.
“Cari
siapa, Pak?” tanya wanita itu ramah.
Mang
Ujang membaca sekilas kertas kecil di genggamannya.
“Apa
benar ini rumah Bapak Damar Januarja?” tanya Mang Ujang dengan suara bergetar.
Wanita
di depan Mang Ujang sedikit mengernyitak dahinya. Kemudian wanita itu tersenyum
dan mengangguk kecil.
“Ya,
benar. Saya istrinya. Ada perlu apa, ya, Pak?” tanya Bu Nita lagi.
“Ehm,
sebenarnya .…”
Mang
Ujang kemudian menceritakan alasan kedatangannya ke mari. Wajah Bu Nita langsung
pucat setelah mendengar cerita Mang Ujang yang mengalir dari bibirnya. Ada
sorot ketakutan di matanya setelah mengetahui siapa sebenarnya Mang Ujang itu.
__ADS_1
“Jadi,
saya mau—”
“Tidak!!”
potong Bu Nita cepat. “Amora adalah anak saya! Bagaimanapun juga dia adalah
anak saya! Kamu tidak berhak untuk mempertemukannya dengan siapa pun!” pekik Bu
Nita dengan mata berkaca-kaca.
“Ta
… tapi, Bu. Saya benar-benar—”
“Amora
adalah anak saya! Anak kandung saya! Saya yang sudah membesarkan dia sampai
sekarang!” pekik Bu Nita lagi.
Bu
Nita benar-benar takut kehilangan Amora. Baginya, Amora adalah hartanya yang
paling berharga melebihi apa pun. Amora, gadis kecilnya yang kini sudah tumbuh
dewasa. Putrinya yang sangat dia sayangi. Bahkan melebih rasa sayangnya pada
Anti.
“Saya
tidak akan memberikan Amora pada kamu!”
Amora
mendengar suara ribut-ribut di depan rumahnya. Amora semakin bingung saat
melihat laki-laki yang tidak dia kenal yang sekarang tengah berdiri di depan mamanya
yang kini menangis tersedu-sedu. Amora langsung menghampiri Bu Nita dan memeluk
wanita itu.
“Ma,
Mama kenapa? Kenapa Mama nangis?” tanya Amora. Gadis itu langsung menangis saat
melihat wanita yang sangat disayangnya itu menangis tersedu-sedu seperti ini.
“Amora
.…” Bu Nita langsung memeluk Amora erat. Membuat gadis itu semakin bingung dan
meneteskan air matanya.
Mang
Ujang menatap Amora dengan tatapan kaget. Dia tidak percaya bahwa sekarang,
orang yang dia cari kini berada tepat di hadapannya. Mang Ujang langsung menyentuh
rambut Amora tanpa sadar. Matanya kini berkaca-kaca.
Amora
__ADS_1
tersentak kaget saat merasakan sebuah sentuhan di rambutnya. Amora mengangkat
kepalanya dan melihat Mang Ujang yang kini tengah menitikkan air matanya. Lagi-lagi
Amora dibuat bingung dengan kejadian di depan matanya.
“Sebenarnya
apa yang terjadi?” tanyanya.
Tak
Amora sangka, Bu Nita langsung menarik Amora sehingga membuat gadis itu
berdiri. Kemudian Bu Nita menatap Mang Ujang dengan tajam. Tangannya mengarah lurus
ke arah Mang Ujang.
“Kamu,
jangan coba-coba! Sampai kapan pun! Dia tidak akan kulepaskan!”
Amora
tidak sempat bertanya lebih lanjut karena kini Bu Nita sudah menarik tangannya
dengan kuat. Sebelum akhirnya pintu di depannya tertutup rapat, Amora sempat
melihat laki-laki tua yang tadi menyentuh rambutnya itu menangis sambil
menatapnya penuh arti.
“Dia
siapa, Ma?” tanya Amora akhirnya.
Bu
Nita langsung menoleh dan menatap Amora dengan tajam.
“Pokoknya
kamu tetap anak Mama. Kamu anak Mama!!” kata Bu Nita penuh penekanan.
Tanpa
membiarkan Amora bertanya banyak, Bu Nita langsung masuk ke kamarnya setelah
mengambil kunci pintu depan yang sudah terkunci. Dengan pelan Amora mendekat ke
arah jendela dan menyikap sedikit gordennya. Dia tersentak saat melihat laki-laki
itu tengah menatapnya sambil tersenyum miris.
Amora
langsung menutup gordennya seperti habis melihat hantu. Amora merasa seperti
pernah melihat orang itu. Tapi Amora benar-benar lupa di mana laki-laki tua itu
pernah dia temui. Amora berusaha keras mengingat laki-laki itu. Tapi yang ada
malah kepalanya terasa sakit dan berat.
Amora
menatap sekitarnya yang terasa berputar-putar, tubuhnya benar-benar terasa
__ADS_1
lemas. Lambat laun semuanya terlihat gelap, sampai akhirnya gadis itu jatuh
pingsan.