
“Ada
pendonor buat elo, Ra. Ini kabar bagus. Tapi kenapa elo malah nggak mau, Ra?”
“Gue
nggak mau dioperasi! Karena walaupun kita berusaha sekuat apa pun, kita nggak
akan pernah kabur dari yang namanya kematian.” Amora mencoba memberikan alasan.
Sora
terdiam di depan Amora setelah mendengar kata-kata Amora. Tak tahu ingin
mengatakan apa. Yang pasti, hatinya terasa sangat sakit. Seperti ada
beribu-ribu pisau belati yang menusuk-nusuk ulu hatinya sampai perih seperti
ini.
Semenjak
tahu bahwa dia mengalami kelainan jantung, Amora menjadi sedikit pendiam. Sora
sendiri tidak tahu dari mana Amora tahu mengenai penyakitnya. Padahal tidak ada
yang berani memberitahukannya pada Amora. Takut bahwa berita ini justru akan
membuat kesehatannya menurun drastis.
“Lo
kenapa, Ra?” tanya Amora setelah sempat berada dalam keheningan yang cukup
lama.
Sora
menggeleng pelan.
“Gue
nggak kenapa-napa,” jawab Sora tanpa menoleh ke wajah Amora.
Amora
langsung memegangi wajah Sora dan memutarnya agar mau menatapnya.
“Jangan
bohong,” kata Amora lirih.
Sora
__ADS_1
menundukkan kepalanya. Menelusuri jari-jarinya yang saling berpaut.
“Jangan
pergi. Jangan nolak buat ngelakuin operasi ini, Ra. Gue bakal ngabulin apa pun
yang lo pengen asalkan lo mau dioperasi,” sahut Sora pelan.
Amora
terdiam sambil menatap lurus Sora yang duduk di samping ranjangnya.
“Gue
mau aja operasi. Asalkan ada syaratnya,” kata Amora akhirnya setelah sekian lama
terdiam.
Sora
mengangkat kepalanya dan menatap Amora yang tengah tersenyum tipis.
“Apa
syaratnya?” tanyanya langsung.
Amora
mengembuskan napasnya pelan. “Lo mau janji sama gue?” tanya Amora pelan.
Sora
tiba-tiba menyelimuti hatinya. Perasaan akan kembali ditinggalkan gadis itu seperti
beberapa tahun silam.
“Lo
tadi bilang mau nurutin semua keinginan gue, kan?” sahut Amora saat melihat
keengganan di wajah Sora.
Akhirnya
Sora mengangguk cepat karena tidak mau melihat kesedihan di wajah Amora. “Iya,
gue janji sama lo. Asalkan lo juga janji bakal cepet sembuh.”
Amora
kemudian mengucapkan permintaannya dengan sangat lirih, “Kalo operasi ini
berhasil, gue mau … lo tetap ada di sini, di sisi gue selamanya.”
__ADS_1
Sora
mengembuskan napas lega saat mendengar permintaan Amora. “Gue kira lo mau
bilang apa, ternyata mau ngomong itu. Iya, Ra, gue janji bakalan ada di sisi lo
setelah operasi ini berhasil dan setelah lo sembuh,” jawab Sora sambil
tersenyum lebar.
“Tapi
.…”
Senyum
di bibir Sora langsung memudar saat Amora menatapnya dengan serius. Rasa takut yang
perlahan sudah mengabur itu kembali menyergapinya.
“Tapi,
kalo operasi ini nggak berhasil dan saat itu gue nggak akan pernah bisa membuka
mata gue kembali, gue mau, lo lupain gue dan cari pengganti gue. Karena gue nggak
yakin gue bisa ngebahagiaan elo setelahnya. Gue yakin lo bisa bahagia tanpa
gue, Sora. Janji?”
Air
mata jatuh tak tertahankan di mata Amora dan Sora. Keduanya saling menatap
penuh arti dengan air mata yang perlahan-lahan turun dari kelopak mata masing-masing.
Amora tersenyum tipis menunggu jawaban yang keluar dari bibir Sora. Tak lama
kemudian pemuda itu pun mengangguk dan memeluk Amora dengan erat. Seakan tidak
ingin dan tidak membiarkan Amora pergi jauh lagi dari kehidupannya.
“Gue
janji, Ra. Gue janji. Gue yakin operasi ini akan berhasil dan lo akan kembali
berada di sisi gue. Gue yakin lo bakalan hidup, Ra. Jangan buat gue sedih tanpa
lo, Ra.”
Amora
menggeleng pelan dan terus membiarkan air matanya jatuh dan membasahi baju
__ADS_1
Sora. “Gue cuma mau lo bahagia, Ra. Cuma itu. Lupain gue, Sora”