Tears And Love

Tears And Love
Part Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

“Ada


pendonor buat elo, Ra. Ini kabar bagus. Tapi kenapa elo malah nggak mau, Ra?”


“Gue


nggak mau dioperasi! Karena walaupun kita berusaha sekuat apa pun, kita nggak


akan pernah kabur dari yang namanya kematian.” Amora mencoba memberikan alasan.


Sora


terdiam di depan Amora setelah mendengar kata-kata Amora. Tak tahu ingin


mengatakan apa. Yang pasti, hatinya terasa sangat sakit. Seperti ada


beribu-ribu pisau belati yang menusuk-nusuk ulu hatinya sampai perih seperti


ini.


Semenjak


tahu bahwa dia mengalami kelainan jantung, Amora menjadi sedikit pendiam. Sora


sendiri tidak tahu dari mana Amora tahu mengenai penyakitnya. Padahal tidak ada


yang berani memberitahukannya pada Amora. Takut bahwa berita ini justru akan


membuat kesehatannya menurun drastis.


“Lo


kenapa, Ra?” tanya Amora setelah sempat berada dalam keheningan yang cukup


lama.


Sora


menggeleng pelan.


“Gue


nggak kenapa-napa,” jawab Sora tanpa menoleh ke wajah Amora.


Amora


langsung memegangi wajah Sora dan memutarnya agar mau menatapnya.


“Jangan


bohong,” kata Amora lirih.


Sora

__ADS_1


menundukkan kepalanya. Menelusuri jari-jarinya yang saling berpaut.


“Jangan


pergi. Jangan nolak buat ngelakuin operasi ini, Ra. Gue bakal ngabulin apa pun


yang lo pengen asalkan lo mau dioperasi,” sahut Sora pelan.


Amora


terdiam sambil menatap lurus Sora yang duduk di samping ranjangnya.


“Gue


mau aja operasi. Asalkan ada syaratnya,” kata Amora akhirnya setelah sekian lama


terdiam.


Sora


mengangkat kepalanya dan menatap Amora yang tengah tersenyum tipis.


“Apa


syaratnya?” tanyanya langsung.


Amora


mengembuskan napasnya pelan. “Lo mau janji sama gue?” tanya Amora pelan.


Sora


tiba-tiba menyelimuti hatinya. Perasaan akan kembali ditinggalkan gadis itu seperti


beberapa tahun silam.


“Lo


tadi bilang mau nurutin semua keinginan gue, kan?” sahut Amora saat melihat


keengganan di wajah Sora.


Akhirnya


Sora mengangguk cepat karena tidak mau melihat kesedihan di wajah Amora. “Iya,


gue janji sama lo. Asalkan lo juga janji bakal cepet sembuh.”


Amora


kemudian mengucapkan permintaannya dengan sangat lirih, “Kalo operasi ini


berhasil, gue mau … lo tetap ada di sini, di sisi gue selamanya.”

__ADS_1


Sora


mengembuskan napas lega saat mendengar permintaan Amora. “Gue kira lo mau


bilang apa, ternyata mau ngomong itu. Iya, Ra, gue janji bakalan ada di sisi lo


setelah operasi ini berhasil dan setelah lo sembuh,” jawab Sora sambil


tersenyum lebar.


“Tapi


.…”


Senyum


di bibir Sora langsung memudar saat Amora menatapnya dengan serius. Rasa takut yang


perlahan sudah mengabur itu kembali menyergapinya.


“Tapi,


kalo operasi ini nggak berhasil dan saat itu gue nggak akan pernah bisa membuka


mata gue kembali, gue mau, lo lupain gue dan cari pengganti gue. Karena gue nggak


yakin gue bisa ngebahagiaan elo setelahnya. Gue yakin lo bisa bahagia tanpa


gue, Sora. Janji?”


Air


mata jatuh tak tertahankan di mata Amora dan Sora. Keduanya saling menatap


penuh arti dengan air mata yang perlahan-lahan turun dari kelopak mata masing-masing.


Amora tersenyum tipis menunggu jawaban yang keluar dari bibir Sora. Tak lama


kemudian pemuda itu pun mengangguk dan memeluk Amora dengan erat. Seakan tidak


ingin dan tidak membiarkan Amora pergi jauh lagi dari kehidupannya.


“Gue


janji, Ra. Gue janji. Gue yakin operasi ini akan berhasil dan lo akan kembali


berada di sisi gue. Gue yakin lo bakalan hidup, Ra. Jangan buat gue sedih tanpa


lo, Ra.”


Amora


menggeleng pelan dan terus membiarkan air matanya jatuh dan membasahi baju

__ADS_1


Sora. “Gue cuma mau lo bahagia, Ra. Cuma itu. Lupain gue, Sora”


__ADS_2