Tears And Love

Tears And Love
Bab 2


__ADS_3

"Lo tadi bilang mau menerima takdir, tapi kenyataannya nggak demikian. Malah gue yang lebih dulu nerima takdir dan mau manggil Nia dengan panggilan 'Mama'. Mana Sora yang selalu dibanggakan papa sebagai orang yang lebih dewasa dari gue?"


Sora membisu.


"Ternyata cowok yang dibanggain bokap gue, nggak lebih dari cowok pengecut yang cengeng dan nggak bisa nerima takdir! Payah!"


Setelah mengatakannya, Yogi berlalu dari hadapan Sora. Tidak menoleh ataupun membiarkan Sora untuk membalas kata-katanya. Yogi ingin Sora memikirkan ulang ucapannya.


***


Sora dan Yogi sedari kecil tidak pernah dekat. Bahkan Yogi terlihat begitu anti dengan Sora. Seolah pemuda itu adalah sebuah virus dan kuman yang akan menjangkiti Yogi apabila mereka saling berdekatan.

__ADS_1


Namun setelah kematian Amora dan kondisi Andre yang tidak memungkinkan, Sora dapat melihat Yogi yang perlahan berubah. Ia juga masih mengingat jelas bagaimana sulitnya bibir Yogi bergerak untuk memanggil Nia untuk sebutan 'Mama'. Pertama kalinya Sora melihat Yogi lebih dulu memeluk tubuh Nia yang bergetar karena panggilan tiba-tiba dari pemuda itu.


"Ma--Mama nggak usah nangis." Meski terlihat ragu, Yogi menepuk pelan punggung Nia. Mencoba menenangkan wanita itu.


"Mama menangis karena bahagia," ucap Nia saat pelukan mereka terurai.


Kala itu Sora hanya bisa melihat, tanpa turut bergabung dalam keharuan. Ia bahagia. Tentu saja. Namun rasa sedih akibat kehilangan Amora lebih mendominasi. Mengakibatkan pemuda itu beringsut menjauh, meninggalkan Yogi dan Nia.


Kata-kata Yogi jelas menampar Sora telak. Melirik makanan di atas nakas, Sora pun beringsut mendekat. Meletakkan di atas pangkuannya, untuk pertama kalinya setelah kematian Amora, selera makan Sora kembali seperti sedia kala.


Lagi-lagi Yogi benar. Di sisi Tuhan sekarang, pasti Amora juga tidak berkeinginan melihat Sora yang masih berselimut duka. Sora harus bangkit. Ia tidak ingin menyusahkan Amora dengan kesedihan yang membelenggunya.

__ADS_1


Makanan Sora tandas dengan cepat. Biasanya pemuda itu akan makan sedikit dan menyisakan lebih banyak, yang membuat Nia sedih. Namun sekarang, makanan Sora tidak bersisa.


Ah, memang benar, terkadang kata-kata bisa melukai, melebih pedang. Namun di satu sisi ia bisa menjadi penyemangat bagi jiwa-jiwa yang butuh motivasi, seperti Sora saat ini.


Membawa baki setelah menghabiskan air mineral di dalam gelas, Sora bertemu dengan Andi dan Yogi yang tengah memainkan ponsel. Adik bungsu mereka itu duduk di pangkuan Yogi. Senyum tipis terbit di wajah Sora. Sudah berapa lama ia menantikan adegan ini? Melihat Yogi yang bisa menerima kehadirannya sebagai anak angkat, Nia sebagai ibu tirinya, dan Andi yang menjadi adik tirinya.


Merasa ada yang memperhatikan, Yogi memutar kepalanya, mengarah pada Sora. Senyum miring tercetak di wajah pemuda itu tatkala melihat baki yang Sora bawa. Pun makanan dan minuman pemuda itu yang sudah berpindah ke dalam perut Sora.


"Harusnya dari dulu gue ngomong kayak tadi. Biar elo cepet juga sadarnya," sindir Yogi. Pemuda itu kembali mengalihkan fokusnya ke layar ponsel. Membiarkan Sora berlalu menuju dapur untuk membawa piring kotor tersebut.


Apa saja yang sudah ia lewatkan? Sora terus bertanya dalam hati. Namun ia tahu, sesuatu yang ia lewatkan adalah hal positif yang ia yakini membawa warna baru di rumah mereka. Ah, bahkan di kehidupan mereka selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2