
Yogi
tidak bisa mengelak kali ini. Pak Andre dengan segala kekuasaan dan keegoisannya
membuat Yogi dengan terpaksa menginjakkan kakinya di tempat ini. Pak Andre yang
berada di sampingnya tengah berbincang serius dengan kepala sekolahnya yang
baru.
Yogi
tidak mau tahu apa yang tengah dibicarakan. Pasti sangat membosankan. Pergi ke
sekolah seperti sekarang pun sangat membosankan untuknya. Apalagi kalau harus
mendengar perbincangan yang tidak penting yang sedang terjadi antara Pak Andre
dan kepala sekolah di depannya ini.
“Saya
ingin yang terbaik untuk Yogi.”
Hanya
itu yang bisa ditangkap oleh telinga Yogi. Kata-kata yang keluar dari bibir Pak
Andre yang tidak bisa Yogi pastikan apakan benar-benar berasal dari hati Pak
Andre atau hanya sekedar untuk menjaga imej-nya depan semua orang. Seperti yang
selama ini Pak Andre lakukan.
“Yogi,”
panggil kepala sekolah itu.
Yogi
mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dan menatap laki-laki setengah
baya di depannya itu dengan tatapan penuh arti.
“Ayo
ikut saya menuju kelas kamu yang baru. Kamu akan ditempatkan di kelas dua belas
IPA tiga. Sama seperti kakak kamu, Sora.”
Yogi
langsung melotot saat mendengar nama Sora disebut.
“APA???”
tanyanya sambil memekik keras.
“Ini
permintaan dari Pak Andre, papa kamu,” jelas kepala sekolah itu. Seolah bisa
mengerti maksud dari kata-kata dan ekspresi Yogi.
Yogi
menoleh dan menatap Pak Andre dengan tatapan tidak suka.
“Apa-apaan
ini?” Yogi langsung protes.
Jelas
__ADS_1
dia protes. Dia selalu satu sekolah dengan Sora dari SD sampai sekarang. Bahkan
selalu diusahakan untuk sekelas. Lalu sekarang, dia harus sekelas lagi dengan pemuda
itu? Hidup Yogi benar-benar berada dalam lingkaran kesialan.
“Ini
supaya kamu tidak bertindak yang aneh-aneh!” kata Pak Andre tegas. Namun dari
tatapan matanya Yogi dapat melihat jelas ancaman dari papanya itu.
Yogi
menyeringai dan tersenyum mengejek. Papanya sudah menembakkan meriam perang untuknya
sedari dulu. Kenapa tidak dia ikuti saja perang yang sudah dilemparkan papanya
itu?
“Oke,
kalau itu kemauan Papa.” Yogi menekankan kata-katanya sambil menatap Pak Andre
dengan tajam.
Papa akan menyesal dengan keputusan Papa ini.
***
Amora
menatap sebal pemuda yang kini duduk di depannya. Tubuhnya yang lebih tinggi
dari Amora membuat gadis itu kesulitan untuk mencatat materi yang tertulis di
papan tulis.
Amora
menyuruh laki-laki itu untuk sedikit menggeser tempat duduknya sehingga gadis
itu dapat mencatat.
“Emangnya
lo siapa? Pake acara nyuruh gue geser tempat duduk?” sembur pemuda yang bernama
Yogi itu langsung sambil melotot tajam pada Amora tepat di manik mata gadis
itu. Amora tersentak kaget, begitu juga dengan Tania yang duduk di sebelahnya.
“Belagu
banget sih jadi cowok. Padahal Sora yang notabene kakaknya aja nggak galak
kayak dia,” gumam Tania kala itu.
Yogi
Mahendra. Anak dari pengusaha ternama di kota Jakarta dan merupakan adik dari
Sora. Sebelumnya Amora telah mengetahui kalau Yogi adalah adik dari Sora, ya
walaupun hanya adik angkat. Karena Sora sendiri merupakan anak angkat dari
keluarga Mahendra.
Untuk
yang satu itu Amora sedikit merasa tenang dan bernapas lega. Karena kini di
dekatnya sudah ada anak yang bernasib sama dengannya. Sama-sama anak angkat dan
__ADS_1
tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Walaupun Amora merasa Sora lebih
beruntung dari dirinya.
Dasar cowok sengak! maki
Amora dalam hati.
Tidak
ada yang tahu—termasuk Amora dan Sora—bahwa Yogi sangat kesal karena tindakan
papanya yang menurutnya seenaknya itu. Dia sudah besar dan sebentar lagi akan
berusia 17 tahun. Namun kenapa setiap hal yang menyangkut dirinya harus diatur
oleh papanya?
Dia
sering merasa iri dengan Sora yang dapat bebas memilih jalan hidupnya sendiri.
Walaupun kadang Sora juga tidak kuasa menolak permintaan papanya. Namun Yogi
tetap beranggapan bahwa sudah sewajarnya Sora menuruti permintaan Pak Andre.
Sora, kan anak angkat di keluarga Mahendra.
Yogi
menoleh ke belakang dan menatap gadis yang tadi dia bentak. Gadis yang duduk
tepat di belakangnya. Gadis yang juga pernah beradu mulut dengannya. Gadis yang
membuatnya mengatakan gadis itu gadis yang manis dan cukup menarik.
Ya,
Yogi memang tidak menyangkal kalau sejak saat itu dia sedikit merasa tertarik
dengan gadis yang satu itu. Gadis yang kini menjadi teman sekelasnya yang baru.
Yogi
tersenyum samar tanpa sadar saat melihat keseriusan di wajah gadis itu saat
mengerjakan soal yang baru saja diberikan guru yang saat ini sedang berhalangan
hadir. Gadis itu menoleh sekilas dan menatap Yogi takut-takut.
Kayaknya dia masih takut karena tadi gue bentak.
“Kenapa?”
tanya Amora.
Yogi
menggeleng dan memutar tubuhnya ke posisi awal. Dia pura-pura sibuk mengerjakan
soal-soal di depan matanya. Amora mengangkat bahunya dan kembali melanjutkan
aktivitasnya yang sempat terhenti.
“Orang
aneh!” gumamnya pelan.
Amora
tidak mengetahui bahwa saat itu Yogi tengah tersenyum. Senyum yang entah sudah
berapa lama tidak pernah dia ukir di wajahnya. Senyum pertama yang berasal dari
__ADS_1
lubuk hatinya yang paling dalam.