Tears And Love

Tears And Love
Part Dua Puluh


__ADS_3

Yogi


tidak bisa mengelak kali ini. Pak Andre dengan segala kekuasaan dan keegoisannya


membuat Yogi dengan terpaksa menginjakkan kakinya di tempat ini. Pak Andre yang


berada di sampingnya tengah berbincang serius dengan kepala sekolahnya yang


baru.


Yogi


tidak mau tahu apa yang tengah dibicarakan. Pasti sangat membosankan. Pergi ke


sekolah seperti sekarang pun sangat membosankan untuknya. Apalagi kalau harus


mendengar perbincangan yang tidak penting yang sedang terjadi antara Pak Andre


dan kepala sekolah di depannya ini.


“Saya


ingin yang terbaik untuk Yogi.”


Hanya


itu yang bisa ditangkap oleh telinga Yogi. Kata-kata yang keluar dari bibir Pak


Andre yang tidak bisa Yogi pastikan apakan benar-benar berasal dari hati Pak


Andre atau hanya sekedar untuk menjaga imej-nya depan semua orang. Seperti yang


selama ini Pak Andre lakukan.


“Yogi,”


panggil kepala sekolah itu.


Yogi


mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dan menatap laki-laki setengah


baya di depannya itu dengan tatapan penuh arti.


“Ayo


ikut saya menuju kelas kamu yang baru. Kamu akan ditempatkan di kelas dua belas


IPA tiga. Sama seperti kakak kamu, Sora.”


Yogi


langsung melotot saat mendengar nama Sora disebut.


“APA???”


tanyanya sambil memekik keras.


“Ini


permintaan dari Pak Andre, papa kamu,” jelas kepala sekolah itu. Seolah bisa


mengerti maksud dari kata-kata dan ekspresi Yogi.


Yogi


menoleh dan menatap Pak Andre dengan tatapan tidak suka.


“Apa-apaan


ini?” Yogi langsung protes.


Jelas

__ADS_1


dia protes. Dia selalu satu sekolah dengan Sora dari SD sampai sekarang. Bahkan


selalu diusahakan untuk sekelas. Lalu sekarang, dia harus sekelas lagi dengan pemuda


itu? Hidup Yogi benar-benar berada dalam lingkaran kesialan.


“Ini


supaya kamu tidak bertindak yang aneh-aneh!” kata Pak Andre tegas. Namun dari


tatapan matanya Yogi dapat melihat jelas ancaman dari papanya itu.


Yogi


menyeringai dan tersenyum mengejek. Papanya sudah menembakkan meriam perang untuknya


sedari dulu. Kenapa tidak dia ikuti saja perang yang sudah dilemparkan papanya


itu?


“Oke,


kalau itu kemauan Papa.” Yogi menekankan kata-katanya sambil menatap Pak Andre


dengan tajam.


Papa akan menyesal dengan keputusan Papa ini.


***


Amora


menatap sebal pemuda yang kini duduk di depannya. Tubuhnya yang lebih tinggi


dari Amora membuat gadis itu kesulitan untuk mencatat materi yang tertulis di


papan tulis.


Amora


menyuruh laki-laki itu untuk sedikit menggeser tempat duduknya sehingga gadis


itu dapat mencatat.


“Emangnya


lo siapa? Pake acara nyuruh gue geser tempat duduk?” sembur pemuda yang bernama


Yogi itu langsung sambil melotot tajam pada Amora tepat di manik mata gadis


itu. Amora tersentak kaget, begitu juga dengan Tania yang duduk di sebelahnya.


“Belagu


banget sih jadi cowok. Padahal Sora yang notabene kakaknya aja nggak galak


kayak dia,” gumam Tania kala itu.


Yogi


Mahendra. Anak dari pengusaha ternama di kota Jakarta dan merupakan adik dari


Sora. Sebelumnya Amora telah mengetahui kalau Yogi adalah adik dari Sora, ya


walaupun hanya adik angkat. Karena Sora sendiri merupakan anak angkat dari


keluarga Mahendra.


Untuk


yang satu itu Amora sedikit merasa tenang dan bernapas lega. Karena kini di


dekatnya sudah ada anak yang bernasib sama dengannya. Sama-sama anak angkat dan

__ADS_1


tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Walaupun Amora merasa Sora lebih


beruntung dari dirinya.


Dasar cowok sengak! maki


Amora dalam hati.


Tidak


ada yang tahu—termasuk Amora dan Sora—bahwa Yogi sangat kesal karena tindakan


papanya yang menurutnya seenaknya itu. Dia sudah besar dan sebentar lagi akan


berusia 17 tahun. Namun kenapa setiap hal yang menyangkut dirinya harus diatur


oleh papanya?


Dia


sering merasa iri dengan Sora yang dapat bebas memilih jalan hidupnya sendiri.


Walaupun kadang Sora juga tidak kuasa menolak permintaan papanya. Namun Yogi


tetap beranggapan bahwa sudah sewajarnya Sora menuruti permintaan Pak Andre.


Sora, kan anak angkat di keluarga Mahendra.


Yogi


menoleh ke belakang dan menatap gadis yang tadi dia bentak. Gadis yang duduk


tepat di belakangnya. Gadis yang juga pernah beradu mulut dengannya. Gadis yang


membuatnya mengatakan gadis itu gadis yang manis dan cukup menarik.


Ya,


Yogi memang tidak menyangkal kalau sejak saat itu dia sedikit merasa tertarik


dengan gadis yang satu itu. Gadis yang kini menjadi teman sekelasnya yang baru.


Yogi


tersenyum samar tanpa sadar saat melihat keseriusan di wajah gadis itu saat


mengerjakan soal yang baru saja diberikan guru yang saat ini sedang berhalangan


hadir. Gadis itu menoleh sekilas dan menatap Yogi takut-takut.


Kayaknya dia masih takut karena tadi gue bentak.


“Kenapa?”


tanya Amora.


Yogi


menggeleng dan memutar tubuhnya ke posisi awal. Dia pura-pura sibuk mengerjakan


soal-soal di depan matanya. Amora mengangkat bahunya dan kembali melanjutkan


aktivitasnya yang sempat terhenti.


“Orang


aneh!” gumamnya pelan.


Amora


tidak mengetahui bahwa saat itu Yogi tengah tersenyum. Senyum yang entah sudah


berapa lama tidak pernah dia ukir di wajahnya. Senyum pertama yang berasal dari

__ADS_1


lubuk hatinya yang paling dalam.


__ADS_2