Tears And Love

Tears And Love
Part Satu


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu.


Langit malam itu tampak terlihat begitu gelap. Hujan yang seolah tak mau berhenti itu akhirnya reda juga setelah berjam-jam turun membasahi bumi. Bintang-bintang terlihat meredup di hitam dan kelamnya langit malam. Rintik-rintik hujan yang baru saja reda masih terdengar, walaupun samar. Menyisakan udara dingin yang memeluk erat.


Sekumpulan orang berpakaian serba putih mulai terlihat meninggalkan rumah bercat kuning gading yang di depannya berdiri tiga unit tenda berwarna senada. Bendera warna kuning tergantung di selusur pagar besi berwarna gelap yang melindungi rumah tersebut. Genangan air bermunculan di jalanan depan rumah itu yang memang sedikit rusak.


“Aku turut berduka cita.”


Kata itu terus mengalir dari para tamu yang kini tengah sibuk memberi rasa bela sungkawanya kepada Pak Andre yang berdiri di depan pintu rumahnya. Dengan balutan baju koko berwarna putih bersih, wajah Pak


Andre terlihat begitu lusuh dan sangat lelah setelah mengalami serangkaian kejadian yang harus dia lewati seharian ini.


Pak Andre kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap seorang perempuan yang berdiri tak jauh di depannya. Perempuan yang tengah menggandeng seorang anak perempuan yang tak kalah cantik dari perempuan itu. Tatapan matanya tak pernah lepas dari perempuan itu sejak pertama kali perempuan itu datang. Tiba-tiba seorang pria berjas hitam menghampiri perempuan itu. Mereka berdua terlihat begitu akrab.


“Sudah mau pulang?” tanya pria itu ramah pada sang perempuan. Perempuan itu lantas mengangguk sambil tersenyum manis.


“Iya, Mas, Sasi juga sudah rewel pengen cepet-cepet pulang,” jawab perempuan itu sambil melirik anak perempuan yang kini tengah bergelayut manja di lengannya. Seorang anak perempuan yang mengenakan gaun terusan warna biru laut. Membuat gadis kecil itu semakin terlihat cantik dan


manis.


Pria itu kemudian berlutut di depan gadis kecil yang bernama Sasi itu. “Sasi sudah mau pulang?” tanya pria itu sambil mengusap pipi kiri Sasi. Sorot kelembutan terlihat jelas di mata pria itu saat melihat Sasi.


Sasi mengangguk sambil menyipitkan matanya yang mulai mengantuk. “Iya, Pa, Sasi mau kita pulang. Sasi udah ngantuk nih, Pa …,” rengek Sasi pelan.


Pria itu kemudian berdiri dan mendekati Pak Andre yang berdiri tak jauh di dekatnya. “Ndre, aku pulang dulu, ya. Aku dan Nia turut berduka cita atas meninggalnya Aster, istrimu,” kata pria itu sambil menepuk


bahu Pak Andre, prihatin.


Pak Andre mengangguk sekilas dan membalas tepukan hangat pria itu. “Iya, tidak apa kok, Reno. Mungkin ini memang sudah takdirnya untuk pergi dari dunia ini dan meninggalkan aku sendirian. Dia membiarkan aku untuk merawat Yogi dan Sora tanpa ada dia di sisiku lagi.”


Laki-laki yang bernama Reno itu kemudian tersenyum tipis. “Aku turut prihatin dengan nasib Yogi dan Sora. Di usianya yang masih kecil itu, dia harus kehilangan sosok seorang ibu.”


Pak Andre tersenyum getir dan menatap lurus ke depan. “Aku pasti akan mendapatkan sosok Ibu pengganti untuk anak-anakku. Aku tidak akan membiarkan mereka kehilangan sosok seorang Ibu.” Pak Andre bertekad sambil menatap Bu Nia yang menggendong Sasi yang sudah tertidur.


“Aku doakan semoga kamu bisa secepatnya mendapatkan pengganti Aster dan menjadikannya ibu buat Yogi dan Sora.”


Pak Andre tersenyum mendengar kata-kata dari Pak Reno. “Itu akan terjadi secepatnya,” gumam Pak Andre pelan. Kemudian keduanya saling berpelukan dengan erat.


“Aku pulang dulu ya, Ndre.”


Pak Andre mengangguk pelan setelah sebelumnya menerima tepukan hangat di bahunya. Setelah melepas kepergian Pak Reno sekeluarga, Pak Andre merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Dengan gerakan cepat dan terlatih jemarinya bermain-main di atas keypad ponsel tersebut.


“Laksanakan perintah saya dengan benar!” titahnya tegas.


***


Seorang anak laki-laki tengah duduk di sebuah kursi kayu. Matanya menatap lurus bintang-bintang yang cahayanya terlihat begitu redup. Hujan yang baru reda masih menyisakan hawa dingin di kulit. Bahkan aroma tanah yang basah pun masih tercium jelas di indra penciumannya.


Namun rasa dingin itu seakan tidak terasa bagi anak laki-laki itu. Matanya menatap lurus bintang-bintang yang sinarnya semakin meredup. Pandangan matanya kini mengabur, tertutupi kabut air mata.


“Ma, kenapa Mama cepet banget pergi? Mama bilang Mama mau nemenin aku main, tapi kenapa Mama malah ninggalin aku sama Papa sendirian? Kenapa, Ma?” tanya anak laki-laki itu. Tubuhnya kini bergetar, bahunya terlihat naik turun. Samar-samar terdengar suara sesengukan dari bibirnya.


Anak laki-laki itu perlahan-lahan menitikkan air mata yang sedari tadi dia tahan sekuat tenaga. Air mata yang dia tahan saat melihat raga yang sangat dikasihi perlahan-lahan masuk ke dalam liang lahat. Raga yang


tidak akan bisa lagi memeluknya dengan kehangatan yang membuatnya tenang dan nyaman.


“Padahal aku masih pengen main sama Mama. Apa Mama


udah nggak sayang lagi sama aku? Makanya Mama pergi ninggalin aku sendirian?”


“Yogi?” panggil sebuah suara di dekat anak laki-laki


itu. Sontak dia menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki yang lebih tua


beberapa bulan darinya sedang berdiri sambil menatapnya dengan prihatin.


Dengan cepat Yogi menghapus sisa-sisa air matanya saat


melihat anak laki-laki itu berjalan mendekatinya. Dia kini merasa kesal, karena


ada seseorang yang menganggu saat-saat pribadinya seperti ini.


“Sora?! Ngapain kamu di sini?” tanya Yogi sambil


melotot tajam pada Sora yang kini sudah duduk di dekatnya tanpa izin.


“Aku mau nemenin kamu di sini, Yogi. Aku juga sedih


karena Mama pergi ninggalin kita,” kata Sora, wajahnya terlihat sedih.


Yogi menatap Sora sambil tersenyum mengejek. “Sedih?


Ngapain kamu sedih? Mama kan bukan siapa-siapa kamu. Kamu itu bukan anak


kandung Mama! Akulah anak kandung Mama yang sebenarnya!” pekik Yogi dingin.


Kemudian Yogi berdiri dari duduknya dan menatap tajam


ke arah Sora. Dengan langkah yang angkuh dia melewati Sora yang melongo tak


percaya setelah mendengar perkataannya barusan.


Sora menundukkan kepalanya dan bergumam dengan sedih,


“Ya, kamu benar, Yogi. Aku memang bukan anak kandung Mama, tapi apa aku salah


kalau aku juga merasa kehilangan sosok Mama?”


***


Mobil sedan itu melaju di jalanan yang sudah sepi.


Hanya lampu jalanan yang menemani perjalanan orang-orang yang ada di mobil


tersebut. Kemudian mobil itu menurunkan kecepatannya dan sesekali berjalan


dengan terseok-seok.


“Kenapa Mang Ujang?” tanya Pak Reno khawatir saat


melihat Mang Ujang yang nampak gelisah.


Mang Ujang mematikan mesin mobil dan menoleh pada Pak


Reno. “Mamang nggak tahu juga, Pak. Tiba-tiba mesin mobilnya jadi ngadat gini.


Mungkin akinya udah mesti diganti sama yang baru,” jawabnya.


“Ya sudah, mending Mang Ujang ke bengkel aja dulu.


Biar kami turun di sini saja dan naik taksi untuk pulang,” usul Pak Reno.


“Ta—tapi Pak, sekarang, kan sudah malam. Jarang ada


taksi lewat jam segini,” tolak Mang Ujang.


Namun ucapan Mang Ujang percuma, karena Pak Reno dan


Bu Nia sudah keluar dari dalam mobilnya.


“Nah, itu ada taksi!” seru Pak Reno sambil menunjuk


taksi yang sedang mangkal tak jauh dari meraka.


“Ta … tapi Pak.” Mang Ujang masih berusaha mencegah.


“Sudah, Mang Ujang ke bengkel aja. Kami bisa pulang


naik taksi itu,” sahut Bu Nia sambil menggendong Sasi yang sudah nyenyak


tertidur. Kelihatannya gadis kecil itu sangat kelelahan.


Mang Ujang menatap punggung Pak Reno dan Bu Nia yang


mendekati taksi berwarna biru itu. Dia biarkan tubuh Pak Reno dan Bu Nia serta


Sasi dibawa pergi oleh taksi itu dan menghilang di balik tikungan. Mang Ujang


merasa perasaannya tak enak. Makanya dia tadi sempat mencegah Pak Reno untuk


turun dari mobilnya.


“Duh Gusti, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan


Pak Reno dan Bu Nia,” harapnya dalam kecemasan yang luar biasa.


Mang Ujang sudah bekerja di rumah Pak Reno sejak laki-laki


itu berusia remaja. Pak Reno orang yang sangat baik dan tidak sombong. Dia


selalu menganggap Mang Ujang seperti orang tuanya sendiri, bukan sebagai


seorang pekerja di rumahnya. Itulah yang membuat Mang Ujang betah bekerja di


rumah Pak Reno.


“Aku jadi ngerasa nggak enak. Kenapa, ya? Ah, semoga


bukan sesuatu yang buruk,” pikir Mang Ujang dan tak lama kemudian mencoba


kembali menghidupkan mesin mobil dan berlalu dari tempat itu menuju bengkel


langganannya.


Pak Reno menatap putrinya yang tengah terlelap di


pangkuan istrinya yang juga tengah terlelap. Pak Reno tersenyum melihat wajah


polos Sasi yang sering membuatnya ingin cepat-cepat pulang dari kantor untuk


melihat tawa riang putrinya yang berusia tujuh tahun itu.


Pak Reno menatap Sasi dan Bu Nia secara bergantian.


Senyuman bahagia terukir di wajahnya karena melihat ciptaan Tuhan yang sangat


indah ini. Dua bidadari yang diberikan Tuhan untuknya ini sangat membuatnya


bersyukur. Wajah Sasi sangat mirip dengan Bu Nia. Mereka bagaikan pinang yang


di belah dua. Pak Reno merasa hidupnya sempurna karena Tuhan telah


menganugerahkan dua malaikat cantik ke dalam kehidupannya.


Pak Reno memajukan tubuhnya dan mencium kening Sasi


dengan pelan. Ada rasa sedih yang menyelimutinya kala itu. Pak Reno kini


menatap wajah istrinya yang sedang bersender di bahunya. Lagi-lagi ada rasa


sedih yang menghampirinya. Rasa kehilangan yang menyesakkan dada. Entah kenapa


perasaan itu mulai menyergapinya sedari tadi.


Pak Reno memalingkan wajahnya dan mencoba menghalau


rasa takutnya. Saat matanya menatap lurus jalanan di depannya, tiba-tiba sebuah


cahaya yang sangat menyilaukan matanya datang ke arahnya. Dengan sigap Pak Reno


memeluk tubuh Sasi dan Bu Nia, berusaha melindungi keduanya di dalam pelukannya.


Kejadian itu terjadi begitu cepat sampai Pak Reno tidak ingat apa yang telah


terjadi.


Pak Reno membuka matanya perlahan dan melihat Bu Nia


yang masih berada dalam pelukannya. Senyuman samar tercetak di sudut bibirnya


saat melihat Bu Nia yang selamat. Pak Reno tersentak saat melihat kepala Sasi


sudah dipenuhi darah yang mengalir deras. Pak Reno menggenggam tangan Sasi,


erat. Matanya kini semakin menutup secara perlahan. Setelahnya, semua menjadi


gelap.


***


Pak Andre berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan


panik. Setelah menerima telepon dari pihak rumah sakit, dia langsung tancap gas


menuju rumah sakit yang dimaksud. Dari kejauhan dia melihat Mang Ujang tengah


duduk di salah satu bangku di ruang tunggu dengan wajah yang ditekuk. Ekspresi


khawatir terlihat jelas di wajahnya yang kelihatan lelah itu.


“Bagaimana keadaannya, Mang?” tanya Pak Andre yang


masih sibuk mengatur napasnya.


Mang Ujang mengangkat kepalanya sekilas dan menggeleng


pelan. “Mamang juga nggak tahu, Pak. Sekarang Pak Reno sedang berada di ruang


UGD bersama Non Sasi. Bu Nia sekarang berada di ruang ICU,” jelas Mang Ujang dengan


mata berkaca-kaca.


Pak Andre menarik napas kemudian duduk di bangku

__ADS_1


kosong di sebelah Mang Ujang. Tak lama kemudian seorang dokter wanita keluar


dari dalam ruang UGD. “Apa di sini ada keluarganya Pak Reno?” tanya dokter itu


pada Pak Andre dan Mang Ujang.


Refleks Pak Andre dan Mang Ujang berdiri dan langsung


mendekati dokter itu. “Iya Dok, saya adiknya Pak Reno,” jawab Pak Andre.


Dokter itu kemudian menghela napas berat. Wajahnya


berubah menjadi sedih. “Maaf, Pak. Kami sudah berusaha sebisa kami, tapi ternyata


Tuhan berkehendak lain. Pak Reno sudah dipanggil untuk menghadap-Nya,” ucap


dokter itu kemudian berlalu meninggalkan Pak Andre dan Mang Ujang.


Mang Ujang terduduk lesu di lantai saat mendengar


kabar itu. Dia masih tidak menyangka kalau tadi adalah pertemuan terakhirnya


dengan Pak Reno. Pak Andre terdiam sambil bersandar di dinding yang berwarna


putih itu. Matanya menatap lurus ke depan. Tak lama kemudian sudut bibirnya


tertarik membentuk sebuah senyuman.


Setelah menerima perawatan dari pihak medis, akhirnya


satu jam kemudian Bu Nia membuka matanya. Dia terkejut karena saat dia


terbangun dia tidak berada di dalam kamarnya, melainkan di sebuah ruangan yang


didominasi oleh warna putih pucat. Bau obat menyeruak di organ penciumannya.


Bu Nia mengalihkan wajahnya ke samping. Dia tersentak


saat melihat Pak Andre berdiri di dekatnya sambil tersenyum penuh arti. “Kamu


sudah bangun?” tanya Pak Andre pelan.


Bu Nia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Kemudian pandangannya berhenti tepat pada sosok Pak Andre. “Ini di rumah sakit


kan, Ndre? Kenapa aku bisa ada di sini?”


“Kamu kecelakaan,” jawab Pak Andre setenang mungkin.


Bu Nia membelalakan matanya tak percaya. “Kecelakaan?”


Pak Andre mengangguk pelan. “Sekitar satu jam yang lalu


kamu kecelakaan. Kamu, Reno, juga Sasi. Taksi yang kalian tumpangi ditabrak


oleh sebuah dump truck yang melaju dengan kencang di depan kalian.


Karena itulah kamu bisa ada di sini.”


Bu Nia tersentak. Dengan cepat dia bangkit dari


tidurnya. Pak Andre langsung menahan lengan Bu Nia begitu melihat Bu Nia yang hendak


pergi. “Lepasin aku, Ndre! Aku mau melihat Reno dan Sasi! Aku ingin memastikan


mereka baik-baik saja!” pekik Bu Nia sambil mendorong bahu Pak Andre.


“Mereka sudah pergi, Nia …,” bisik Pak Andre sepelan


mungkin.


Bu Nia terpaku mendengar kata-kata Pak Andre barusan.


Dia menatap Pak Andre dengan tidak percaya. “Pe—pergi? Maksud dari kata-kata


kamu itu apa, Ndre? Pergi? Pergi ke mana?” tanyanya terbata. Ada perasaan takut


di hatinya setelah mendengar kata-kata Pak Andre.


Pak Andre menundukkan kepalanya. Sekilas dia terlihat


amat terpukul dan sedih. “Mereka sudah pergi dari dunia ini, Nia. Reno dan


Sasi, anakmu. Mereka sudah dipanggil untuk kembali pada Sang Pencipta.”


Bu Nia merasa sebagian jiwanya pergi saat itu juga.


Dia langsung terduduk lemah. Seakan-akan tidak ada satu pun tulang yang menempel


di tubuhnya. Air matanya jatuh tak tertahankan. Dengan sigap Pak Andre memeluk


tubuh Bu Nia yang kelihatan rapuh itu. “Kenapa mereka pergi secepat itu?” tanya


Bu Nia lirih. Kemudian dia menatap tajam ke arah Pak Andre. “Kamu bohong, kan


sama aku, Ndre? Kamu bohong, kan? Mas Reno sama Sasi masih hidup? Iya, kan?”


“Mereka sudah pergi, Nia,” jawab Pak Andre.


“Bohong!” pekik Bu Nia tak percaya. “Kamu bohong, Sasi


masih hidup. Begitu juga dengan Mas Reno!”


“Mereka sudah pergi Nia. Kecelakaan itu merengut nyawa


mereka berdua.”


“Bohong!” pekik Bu Nia lagi sambil mencoba mendorong


bahu Pak Andre sekuat mungkin. Dengan sigap Pak Andre menahan tubuh Bu Nia yang


hendak berdiri.


“Kamu mau ke mana, Nia?”


“Aku mau lihat Sasi sama Mas Reno! Mereka masih hidup!


Aku yakin itu, Andre!”


“Mereka sudah meninggal. Kamu harus terima kenyaatan


itu, Nia!”


“Tidak mungkin! Tidak mungkin mereka ninggalin aku! Tidak


mungkin mereka meninggal! Tidak mungkin! Mereka masih hidup!”


Bu Nia tidak dapat mendengar apa-apa lagi setelah itu.


terpukul. Sehingga tidak ada lagi kata-kata yang mewakili betapa terpukulnya


perasaannya saat itu. Kepalanya terasa sangat berat, hingga akhirnya dia jatuh


pingsan.


***


Mang Ujang menatap penuh iba pada gadis kecil yang


masih terbaring tak berdaya di depannya itu. Gadis kecil yang selalu ceria itu


sampai sekarang masih menutup matanya. “Mamang turut prihatin sama kepergian Papa,


Non. Kalau Non tahu kalau Papa Non udah pergi, pasti Non akan sedih sekali,” gumamnya


lirih.


“Mang Ujang,” panggil seseorang di belakang Mang


Ujang.


Mang Ujang menoleh dan melihat Pak Andre sedang


mendekatinya. “Dia masih belum sadar?” tanya Pak Andre sambil menunjuk Sasi


dengan bahunya.


Mang Ujang menggeleng lemah. “Belum, Pak. Sampai


sekarang Non Sasi belum juga sadar,” jawabnya sedih.


Pak Andre terdiam sambil menatap lurus ke luar


jendela. Keheningan mulai tercipta di antara Mang Ujang dan Pak Andre. Hanya bunyi


jarum jam di ruangan itu yang memecah keheningan di antara mereka.


“Kalian siapa?” sahut sebuah suara. Sontak Pak Andre


dan Mang Ujang menoleh dan mendapati Sasi telah membuka matanya.


“Non sudah sadar?” ucap Mang Ujang bahagia.


“Kalian siapa?” tanya Sasi dengan kening berkerut.


Pak Andre dan Mang Ujang tersentak kaget. Keduanya


saling berpandangan. “Non nggak kenal sama Mamang?” tanya Mang Ujang sambil


menunjuk dirinya sendiri. Sasi menggeleng sebagai jawaban. “Sama Pak Andre


kenal nggak? Non, kan sering main ke rumah Pak Andre, main sama Yogi dan Sora.”


Sasi menggeleng lagi. “Kalian siapa? Kenapa kalian ada


di sini? Dan ini di mana?”


Pak Andre menatap Sasi tidak percaya. Jangan-jangan dia .… Pak Andre kemudian


melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum lebar. Sebuah rencana


sudah tersusun di dalam kepalanya saat itu juga.


“Mang,” bisik Pak Andre tepat di telinga Mang Ujang.


“Iya? Kenapa Pak?”


“Bisa kita keluar sebentar?”


Mang Ujang menoleh sekilas pada Sasi, kemudian dia menggangguk.


“Bisa Pak,” kata Mang Ujang dan mengikuti langkah kaki Pak Andre menuju keluar.


Sasi menatap bingung dua orang laki-laki dewasa yang


kini meninggalkannya sendirian. “Mereka siapa, ya?” tanyanya bingung.


“Ada apa, Pak?” tanya Mang Ujang setelah dia menutup


pintu kamar rawat Sasi.


Pak Andre menatap lekat-lekat wajah Mang Ujang. “Saya


mau Mang Ujang menyembunyikan keberadaan Sasi dari Nia!” titahnya sambil


menatap lurus manik mata Mang Ujang. Terselip perintah yang telak dari nada


bicaranya.


Mang Ujang membelalakan matanya. “Maksud Bapak?”


“Maksud saya, Mamang tidak boleh mengatakan kepada Nia


kalau Sasi masih hidup! Mamang bilang saja kalau Sasi sudah meninggal.”


Mang Ujang semakin membelalakan matanya. “Ta … tapi


Pak ….”


“Tidak ada tapi-tapian Mang Ujang! Bapak hanya perlu


mengikuti perintah saya!” seru Pak Andre kemudian berbalik badan. “Satu lagi


yang perlu Mang Ujang lakukan … Mang Ujang tidak boleh menyebutkan nama Sasi


yang sebenarnya pada anak itu. Mamang ubah saja namanya, yang pasti jangan Sasi!


Toh, dia tidak tahu Mang Ujang sedang berbohong atau tidak. Dia kan tidak ingat


dengan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.”


Mang Ujang hanya terdiam memandangi punggung Pak Andre


yang semakin menjauh itu. Dia mengembuskan napas dengan berat sebelum akhirnya


masuk kembali ke ruang rawat Sasi.


“Saya sebenarnya siapa?” tanya Sasi langsung begitu


melihat Mang Ujang masuk.


Mang Ujang mendekati Sasi dengan sedih. Masih

__ADS_1


terbayang percakapannya dengan Pak Andre barusan. Perintah yang dilontarkan Pak


Andre tadi sangat tidak bisa dia lakukan. Namun dia tidak bisa menolak karena


kini Pak Andre yang menjadi majikannya. Karena Pak Andre adalah saudara tiri


Pak Reno.


“Non,” panggil Mang Ujang pelan. Duh Gusti, apa yang mesti saya lakukan ini? tanya Mang Ujang dalam


hati.


“Bapak tahu siapa saya? Nama saya siapa?” tanya Sasi


polos.


Mang Ujang duduk di samping Sasi, dia hendak membuka


mulutnya. “Mang Ujang tidak boleh


menyebutkan nama Sasi yang sebenarnya pada anak itu. Mamang ubah saja namanya,


yang pasti jangan Sasi!” Mang Ujang menutup mulutnya saat mengingat


kata-kata Pak Andre.


Sasi menatap Mang Ujang dengan kening berkerut. “Kok


diem? Bapak tahu siapa nama saya dan siapa saya sebenarnya?”


Mang Ujang menutup matanya dan mengembuskan napasnya


dengan pelan. Semoga apa yang kulakukan


ini adalah yang terbaik. Mang Ujang membuka matanya dan tersenyum pada


Sasi. “Tentu. Mamang tentu kenal dengan Non. Nama Non adalah Sasi Amora.”


***


“Kita mau ke mana, Mang?” tanya Sasi saat Mang Ujang


hendak membawanya pergi dari rumah sakit. Setelah lima hari di rawat, dokter


mengizinkan Sasi untuk beristirahat di rumah.


“Kita mau pulang, Non,” jawab Mang Ujang sambil


tersenyum sedih.


Sasi terdiam saat Mang Ujang menarik tangannya dan


menuntunnya masuk ke dalam mobil sedan berwarna merah metalik itu.


“Maafkan Mang Ujang, ya, Non …,” gumam Mang Ujang


sedih sambil melirik Sasi yang tengah melamun.


Mang Ujang melajukan mobilnya dengan kecepatan


standar. Mereka berhenti di sebuah rumah dengan bentuk minimalis yang berwarna


biru muda. Mang Ujang langsung menuntun Anggrek untuk turun. Saat mereka tiba


di pintu depan, seorang wanita berusia 30-an tahun menyambut mereka dengan


senyuman lebar.


Mang Ujang melepaskan gandengannya dari tangan Sasi


dan berbicara dengan wanita itu, sesekali ia melirik Sasi di belakangnya.


Wanita itu melirik Sasi sekilas dan mengangguk berkali-kali. “Pokoknya kamu


tenang saja, anak ini akan baik-baik saja.”


Mang Ujang berbalik badan dan mendekati Sasi. “Mang


Ujang pulang dulu ya, Non. Jaga diri Non baik-baik di sini. Jangan nakal,” pesan


Mang Ujang kemudian berlalu meninggalkan Sasi yang tidak mengerti apa-apa.


Mang Ujang tidak kuasa menahan air matanya untuk tidak


turun. Ada perasaan bersalah di hatinya karena harus meninggalkan Sasi di


tempat itu. “Maafkan Mamang, Non Sasi.”


“Mamang mau ke mana?” tanya Sasi yang sukses membuat


langkah Mang Ujang berhenti. Dengan cepat Mang Ujang membalikan tubuhnya dan


menatap Sasi dengan sedih.


“Sekarang Non akan tinggal di sini.”


“Kenapa harus tinggal di sini? Kenapa aku nggak


tinggal sama Mang Ujang aja?”


Mang Ujang menggelengkan kepalanya lalu berbalik badan


dan segera berlari meninggalkan Sasi. Dia terus berlari dan masuk ke dalam


mobil. Tak peduli bahwa Sasi meneriakkan namanya berulang-ulang kali dengan


setengah menangis.


“Mang Ujang!”


***


Sudah empat bulan Bu Nia merasa dunianya hampa. Hari


demi hari dia habiskan untuk menatap foto putri dan suaminya yang kini sudah


tidak dapat lagi dia rengkuh. Air mata selalu turun setiap kenangan indah yang


pernah dia lalui terkenang di hatinya.


Selama itu juga tak sedikit pun makanan dan minuman


yang berhasil masuk dan mengisi ruang di perutnya. Rasa lapar itu seketika


lenyap seiring dengan hilangnya dua orang yang begitu berarti di kehidupannya.


Sebuah tepukan hangat di bahu Bu Nia seketika


melenyapkan lamunan panjangnya. Bu Nia menoleh sekilas dan melihat Pak Andre


yang sedang memegang nampan berisi makanan berdiri di belakangnya.


“Kenapa kamu tidak mau makan, Nia?” tanya Pak Andre


pelan.


Nia menggeleng pelan dan kembali menekuri wajah-wajah


ceria yang kini sudah tidak dapat di sentuh.


“Aku tidak lapar, Ndre,” jawab Bu Nia singkat.


Dengan hati-hati Pak Andre duduk di samping Bu Nia,


menaruh nampan yang dia bawa di antaranya dan Bu Nia.


“Kamu harus makan, Nia. Kalau kamu tidak makan, kamu


bisa sakit.”


“Aku tidak mau makan, Ndre. Aku cuma mau Sasi. Aku


cuma mau putriku ada di sini. Aku ingin memeluknya, aku ingin membelai


rambutnya, aku ingin .…” Bu Nia tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Gantinya


dia mulai menitikkan air matanya dan menangis sesengukan. “Aku mau Sasi masih


hidup. Dia masih terlalu kecil untuk pergi.”


Dengan gerakan cepat Pak Andre meraih lengan Bu Nia


dan merengkuhnya penuh kasih. Bu Nia sempat berusaha melepaskan pelukan Pak


Andre, tapi rengkuhan tangan Pak Andre menahannya dengan kuat.


“Aku mau kamu ikhlasin Sasi. Karena sebanyak apa pun


kamu ngeluarin air mata, sekencang apa pun kamu menangis, sampai kapan pun hal


itu tidak akan bisa ngembaliin Sasi ke dunia ini lagi. Dia sudah pergi dari


dunia ini, Nia. Dia sudah tenang di pangkuan-Nya. Kamu harus ikhlasin dia agar


dia tidak khawatir dengan keadaan kamu sekarang.”


“Aku udah coba buat ikhlasin Sasi, tapi sekuat apa pun


aku coba, aku semakin tidak rela, Ndre. Aku sangat sayang dengan anakku. Aku tidak


percaya kalau secepat ini aku bakal kehilangan dia. Aku belum siap, Ndre. Aku


belum siap!”


“Aku akan bantu kamu untuk bisa lupain Sasi dan Reno.


Aku akan bantu kamu, Nia! Aku akan bantu kamu untuk ikhlasin kepergian Sasi dan


membuat kamu sadar kalau Sasi sudah tidak ada!”


“Gimana caranya, Ndre? Segala cara udah aku coba, tapi


yang ada malah aku semakin merasa kehilangan. Ibu mana yang tidak sedih


kehilangan anak yang begitu dia cintai dan disayangi? Dalam waktu yang


bersamaan aku harus kehilangan dua orang yang sangat aku cintai.”


“Iya, aku tahu Nia. Maka karena itulah aku mau bantuin


kamu ikhlasin Sasi.”


Bu Nia menghentikan tangisnya saat Pak Andre


melepaskan pelukannya. Bu Nia menatap Pak Andre dengan tatapan meminta


penjelasan.


“Gimana caranya, Ndre? Gimana caranya agar aku bisa


ikhlasin kepergian malaikat kecilku? Gimana caranya?”


Pak Andre mengembuskan napasnya pelan. Dia menatap Bu


Nia dengan ragu. Sama ragunya dengan perasaannya yang akan mengucapkan cara


agar Bu Nia bisa mengikhlaskan kepergian putrinya.


Tanpa Bu Nia sangka, kini Pak Andre meraih tangannya


dan menggenggamnya erat. Matanya menatap lurus mata Bu Nia yang kebingungan.


“Menikahlah denganku, Nia! Aku yakin cara ini bisa


membuatmu mengikhlaskan kepergian Reno dan Sasi. Jadilah istriku dan ibu untuk


Sora dan Yogi. Dengan begitu kamu akan bisa merelakan mereka.”


Bu Nia membelalakan matanya tak percaya setelah


mendengar pernyataan Pak Andre.


“Ta … tapi Ndre.”


“Nia, bukankah dalam surat wasiatnya tertulis kalau


Reno ingin aku menjagamu? Karena itulah aku ingin menjagamu dalam sebuah ikatan


yang akan kita jalani. Aku akan menjagamu sepenuh hatiku.”


“Tapi aku—”


“Aku tahu Nia, tapi apa salahnya memberiku


kesempatan?”


Bu Nia terdiam dan menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu


ingin berkata apa. Di satu sisi dia ingin menerima, tapi di satu sisi dia ingin


setia dengan Pak Reno walaupun kini dia dan Pak Reno sudah berbeda dunia.


“Beri aku waktu,” jawab Bu Nia akhirnya, setelah

__ADS_1


sekian lama terdiam.


__ADS_2