Tears And Love

Tears And Love
Part Empat


__ADS_3

Amora duduk di atas meja belajarnya. Sudah hampir satu jam dia berkutat dengan rumus-rumus kimia. Atom, molekul, ion, senyawa, gas, semuanya dia lahap sekitar satu jam ini. Besok ada ulangan kimia di kelasnya. Karena itulah sekarang dia berkutat dengan rumus-rumus dan beberpa hipotesis dari beberapa ahli kimia.


Tak sengaja mata Amora berhenti di satu titik. Pigura foto berwarna merah hati yang terletak di ujung meja belajarnya. Amora tersenyum manis kemudian mengambil pigura foto itu.


“Walaupun gue nggak tahu siapa orang tua kandung gue, nggak tahu di mana mereka berada, tapi gue tetap bersyukur bisa tinggal di tengah-tengah keluarga yang menyayangi gue apa adanya. Walaupun mereka bukan orang tua kandung gue, gue menyayangi mereka layaknya orang tua kandung gue sendiri.”


Amora membelai pelan wajah wanita yang rambutnya disanggul. Wanita yang sedang memangku seorang gadis kecil berusia tujuh tahun.


“Ma, makasih udah mau biarin Amora jadi anak Mama. Terima kasih Mama udah memberikan kasih sayang Mama buat Amora. Makasih Ma .…”


Amora memeluk erat pigura itu dan meletakkannya kembali ke asal. Amora tersenyum lebar saat melihat setangkai mawar putih di tepi meja belajarnya. Dengan antusias Amora memetik salah satu kelopaknya.


“Gue nggak tahu kenapa gue bisa suka banget sama nih bunga. Tapi gue yakin kalo ini bisa jadi jawaban atas semua tanya di hati gue.”


***


Bu Nia duduk di tepi ranjangnya sambil menatap lekat-lekat foto di dalam pigura berwarna cokelat muda itu. Perlahan-lahan air mata mulai membanjiri wajahnya yang semakin menua.


Tangannya bergetar saat menyentuh kaca penutup pigura itu. Bibirnya bergerak pelan dan menggumamkan kata-kata dengan lirih. Berkali-kali dia memanggil sebuah nama yang sangat dirindukannya.

__ADS_1


“Sasi, Mama kangen sama kamu, Nak. Mama tidak menyangka kamu pergi lebih dulu dari Mama. Semoga kamu baik-baik saja di sana, Nak.”


Bu Nia tidak menyadari kalau sedari tadi Pak Andre berdiri tak jauh di belakangnya.


“Maafkan aku, Nia. Tapi lebih baik kamu tetap mengira Sasi telah meninggal. Karena kalau dia masih hidup, kamu pasti tidak akan pernah mau menjadi istriku. Karena kamu pasti akan selalu mengenang Reno kalau kamu tahu Sasi sebenarnya selamat dari kecelakaan itu.”


“Mama kangen kamu Sasi. Andai kamu masih hidup, Mama pasti akan menyayangi kamu sepenuh hati Mama. Mama akan merawat kamu sampai kamu tumbuh dewasa.”


Dengan langkah pelan Pak Andre mendekati istrinya dan duduk di sampingnya dengan perlahan-lahan.


“Kenapa kamu menangis, Nia?” tanya Pak Andre pelan sambil mengusap air mata di pipi istri tercintanya itu dengan jari kelingkingnya.


Bu Nia sedikit tersentak dengan kehadiran Pak Andre. Kemudian dia menoleh dan memberikan sebuah senyuman pada laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya itu.


Pak Andre mengusap pelan bahu Bu Nia dan menyenderkan kepala istrinya di atas bahunya.


“Semua ini sudah rencana Tuhan, Nia. Reno, Sasi, dan semua orang yang sudah pergi dari dunia ini merupakan salah satu dari rencana Tuhan. Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya hanya bisa menerima dan menjalankan apa yang sudah Tuhan berikan pada kita,” kata Pak Andre mencoba bijak.


“Tapi aku masih belum bisa ngerelain Sasi, Mas. Sasi masih terlalu kecil, aku masih ingin merawat Sasi sampai dia tumbuh dewasa. Aku ingin melihat Sasi bersanding dengan laki-laki pilihannya. Aku cuma ingin melihat Sasi bahagia, Mas. Apa aku salah?”

__ADS_1


“Kamu tidak salah, Nia. Kamu benar. Tapi kamu harus belajar untuk menerima kenyataan kalau Sasi sudah tidak ada di dunia ini. Sasi sudah meninggal karena kecelakaan sembilan tahun yang lalu. Dia sudah tenang di sana.”


“Apa dia merindukanku, Mas? Apa dia merindukan aku yang selalu mengenangnya di setiap hari yang aku lewati tanpanya?” tanya Bu Nia lirih.


Pak Andre tersenyum mendengar pertanyaan Bu Nia.


“Dia pasti merindukanmu, Nia. Aku yakin dia sangat merindukan ibunya yang setiap malam selalu memimpikannya di dalam tidurnya. Dia pasti lebih merindukanmu.”


“Mas …,” panggil Bu Nia pelan.


“Ya? Kenapa Nia?”


“Mas ingat gadis yang tadi pagi tidak sengaja bertubrukan denganku?”


Pak Andre mengerutkan dahinya berusaha mengingat-ingat.


“Iya, memangnya kenapa, Nia?”


“Aku merasa seperti melihat Sasi saat melihat gadis itu, Mas. Kalau Sasi masih hidup mungkin dia akan secantik gadis itu, atau bahkan lebih cantik dari gadis itu. Kalau Sasi masih hidup mungkin dia akan seperti gadis itu. Bersekolah, menimba ilmu, lulus, kuliah, mencari kerja dan akhirnya menikah,” ujar Nia lirih.

__ADS_1


“Ya, kamu benar, Nia. Tapi gadis itu bukan Sasi, karena Sasi sudah berada di tempat yang jauh dan tidak dapat kita lihat.”


“Aku masih berharap Sasi belum tiada, Mas.”


__ADS_2