Tears And Love

Tears And Love
Epilog


__ADS_3

Epilog


Raga


itu telah berhasil dimasukkan ke dalam liang lahat. Tania langsung menangis


sesengukan setelah raga sahabat terbaiknya kini telah menyatu dengan bumi.


Menghilang di balik timbunan tanah dan tidak akan pernah lagi muncul di hadapannya.


Bu


Nita langsung jatuh pingsan saat melihat raga Amora yang hendak memasuki liang


lahat. Sedari tadi wanita  itu memang


menunjukkan gelagat ingin pingsan. Dan hal itu benar-benar terjadi di saat


detik-detik terakhir pemasukan raga Amora ke liang lahat.


Bu


Nia tidak pernah berhenti mengucurkan air matanya. Dia benar-benar merasa sedih


karena putri tersayangnya benar-benar telah pergi dari dunia ini. Ini tidaklah


mudah bagi Bu Nia. Karena dia harus mengulang lagi kesedihannya dari awal.


Mengulang kembali untuk belajar ikhlas merelakan Sasi.


“Amora,


lo tega …,” sahut Tania sambil sesengukan.


Mata


gadis itu kini terlihat sembap karena semalaman menangis. Begitu mendengar


kabar bahwa Amora meninggal, gadis itu langsung jatuh terduduk di lantai


kamarnya. Air mata yang tidak pernah keluar dari matanya akhirnya merebak

__ADS_1


setelah mengetahui sahabatnya telah meninggalkannya dari dunia ini.


Di


sebelahnya, Yogi terlihat tak kalah kacaunya dari Tania. Matanya juga memerah dikarenakan


menangis dan kurang tidur. Air mata telah mengalir tak terkendali lagi dari


pelupuk matanya.


Entah


sudah berapa orang dan sudah berapa banyak air mata yang keluar karena kepergian


Amora. Semua orang yang mengenal gadis itu benar-benar merasa kehilangan gadis


yang selalu terlihat ceria itu.


Senyuman


dan tawa riang gadis itu tidak dapat mereka lihat dan mereka dengar lagi. Semua


itu hanya akan tersimpan di kenangan masing-masing orang yang mencintai Amora. Kenangan


Yogi


melihat ke sekeliling. Mencari-cari seseorang yang dia pastikan akan sangat


terluka dengan kejadiaan ini. Yogi tersenyum tipis karena tidak menemukan orang


yang dicarinya. Lo pasti terluka banget,


kan? Karena gue tahu, lo suka sama Amora sejak kecil.


Sora


menatap kosong jalanan di depannya. Di saat orang-orang mengadakan penghormatan


terakhir dengan Amora, dia memilih untuk tetap berada di dalam mobil. Sora tidak


sanggup untuk melihat raga Amora yang akan menyatu dengan bumi.

__ADS_1


Masih


terbayang di ingatannya percakapan antara dirinya dan Amora beberapa hari


sebelum gadis itu dipanggil untuk menghadap-Nya.


“Tapi, kalo operasi ini nggak


berhasil dan saat itu gue nggak akan pernah bisa membuka mata gue kembali, gue


mau, lo lupain gue dan cari pengganti gue. Karena gue nggak yakin gue bisa


ngebahagiaan elo setelahnya. Gue yakin lo bisa bahagia tanpa gue, Sora. Janji?”


Sora


tersenyum tipis mengingat semua itu. Masih dia ingat jelas ekspresi Amora saat


itu. Saat gadis itu menangis, tersenyum, dan tertawa dengannya. Tanpa sadar


Sora meneteskan air matanya. Air mata yang sekuat tenaga ia tahan sedari tadi.


“Walaupun


kita akhirnya bertemu lagi dan dipisahkan lagi. Gue nggak akan pernah bisa


lupain elo. Karena hanya elo yang akan selalu mengisi pikiran dan hati gue, Amora.”


Dengan


pelan, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan di tanah. Rintik-rintiknya bagaikan


sebuah air mata yang turun dari langit. Air mata langit yang turut bersedih


karena kehilangan makhluk Tuhan yang sudah kembali kepada-Nya.


Air


mata Sora jatuh semakin deras seiring dengan derasnya hujan yang turun


membasahi bumi. Tanpa menghapus air matanya, Sora menyalakan mobil dan

__ADS_1


perlahan-lahan mulai meninggalkan pemakaman tersebut dengan hati yang patah.


__ADS_2