
Epilog
Raga
itu telah berhasil dimasukkan ke dalam liang lahat. Tania langsung menangis
sesengukan setelah raga sahabat terbaiknya kini telah menyatu dengan bumi.
Menghilang di balik timbunan tanah dan tidak akan pernah lagi muncul di hadapannya.
Bu
Nita langsung jatuh pingsan saat melihat raga Amora yang hendak memasuki liang
lahat. Sedari tadi wanita itu memang
menunjukkan gelagat ingin pingsan. Dan hal itu benar-benar terjadi di saat
detik-detik terakhir pemasukan raga Amora ke liang lahat.
Bu
Nia tidak pernah berhenti mengucurkan air matanya. Dia benar-benar merasa sedih
karena putri tersayangnya benar-benar telah pergi dari dunia ini. Ini tidaklah
mudah bagi Bu Nia. Karena dia harus mengulang lagi kesedihannya dari awal.
Mengulang kembali untuk belajar ikhlas merelakan Sasi.
“Amora,
lo tega …,” sahut Tania sambil sesengukan.
Mata
gadis itu kini terlihat sembap karena semalaman menangis. Begitu mendengar
kabar bahwa Amora meninggal, gadis itu langsung jatuh terduduk di lantai
kamarnya. Air mata yang tidak pernah keluar dari matanya akhirnya merebak
__ADS_1
setelah mengetahui sahabatnya telah meninggalkannya dari dunia ini.
Di
sebelahnya, Yogi terlihat tak kalah kacaunya dari Tania. Matanya juga memerah dikarenakan
menangis dan kurang tidur. Air mata telah mengalir tak terkendali lagi dari
pelupuk matanya.
Entah
sudah berapa orang dan sudah berapa banyak air mata yang keluar karena kepergian
Amora. Semua orang yang mengenal gadis itu benar-benar merasa kehilangan gadis
yang selalu terlihat ceria itu.
Senyuman
dan tawa riang gadis itu tidak dapat mereka lihat dan mereka dengar lagi. Semua
itu hanya akan tersimpan di kenangan masing-masing orang yang mencintai Amora. Kenangan
Yogi
melihat ke sekeliling. Mencari-cari seseorang yang dia pastikan akan sangat
terluka dengan kejadiaan ini. Yogi tersenyum tipis karena tidak menemukan orang
yang dicarinya. Lo pasti terluka banget,
kan? Karena gue tahu, lo suka sama Amora sejak kecil.
Sora
menatap kosong jalanan di depannya. Di saat orang-orang mengadakan penghormatan
terakhir dengan Amora, dia memilih untuk tetap berada di dalam mobil. Sora tidak
sanggup untuk melihat raga Amora yang akan menyatu dengan bumi.
__ADS_1
Masih
terbayang di ingatannya percakapan antara dirinya dan Amora beberapa hari
sebelum gadis itu dipanggil untuk menghadap-Nya.
“Tapi, kalo operasi ini nggak
berhasil dan saat itu gue nggak akan pernah bisa membuka mata gue kembali, gue
mau, lo lupain gue dan cari pengganti gue. Karena gue nggak yakin gue bisa
ngebahagiaan elo setelahnya. Gue yakin lo bisa bahagia tanpa gue, Sora. Janji?”
Sora
tersenyum tipis mengingat semua itu. Masih dia ingat jelas ekspresi Amora saat
itu. Saat gadis itu menangis, tersenyum, dan tertawa dengannya. Tanpa sadar
Sora meneteskan air matanya. Air mata yang sekuat tenaga ia tahan sedari tadi.
“Walaupun
kita akhirnya bertemu lagi dan dipisahkan lagi. Gue nggak akan pernah bisa
lupain elo. Karena hanya elo yang akan selalu mengisi pikiran dan hati gue, Amora.”
Dengan
pelan, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan di tanah. Rintik-rintiknya bagaikan
sebuah air mata yang turun dari langit. Air mata langit yang turut bersedih
karena kehilangan makhluk Tuhan yang sudah kembali kepada-Nya.
Air
mata Sora jatuh semakin deras seiring dengan derasnya hujan yang turun
membasahi bumi. Tanpa menghapus air matanya, Sora menyalakan mobil dan
__ADS_1
perlahan-lahan mulai meninggalkan pemakaman tersebut dengan hati yang patah.