Tears And Love

Tears And Love
Part Dua Puluh Lima


__ADS_3

“TIDAK!!!”


Amora


tersentak dan langsung membuka matanya. Kemudian mata gadis itu langsung


menatap sekelilingnya. Tidak ada yang berbeda, posisi dan barang-barang yang


ada di kamarnya masih utuh. Namun dia merasa mimpinya barusan sangat aneh.


Barusan


Amora bermimpi dia berada di suatu tempat yang tidak dia ketahui. Tepatnya


sebuah tempat yang tidak ada di dalam ingatannya. Namun entah kenapa Amora


merasa tidak asing dan rindu dengan tempat itu. Seperti ada sebuah serpihan


kenangannya yang tertinggal di tempat tersebut.


Amora


melihat dua pasang suami-istri tengah bermain dengan seorang gadis kecil. Saat


gadis kecil itu menoleh, Amora merasa sangat familiar dengan wajah gadis kecil


itu. Anehnya lagi gadis kecil itu mendekati Amora dan saat gadis kecil itu berada


di depan Amora, gadis kecil itu langsung menghilang. Seperti masuk dan menyatu


ke dalam raganya.


Amora


bingung, ditambah lagi saat pasangan suami-istri itu langsung memeluknya dengan


erat, seolah tidak ingin Amora pergi jauh dari mereka. Amora merasa kepalanya


berputar-putar dan akhirnya matanya terpejam.


Saat


Amora membuka matanya, Amora sudah berada di dalam kamarnya. Namun ada yang

__ADS_1


aneh dengan kamar Amora karena kini kamarnya penuh dengan mainan anak


perempuan. Bahkan meja belajarnya kini berubah menjadi rumah-rumahan boneka


Barbie yang sangat indah.


Amora


memegangi kepalanya saat sebuah kenangan mencoba masuk ke dalam ingatannya.


Amora menjerit kesakitan, tapi tidak ada satu pun orang yang berada di dekat


Amora. Amora merasa seperti ada yang menariknya dan lagi-lagi Amora berteriak


keras.


Dan


setelahnya Amora langsung terbangun dari mimpinya. Terbangun dengan kondisi


yang benar-benar seperti orang yang habis lari beratus-ratus kilometer.


Keringat tidak pernah berhenti mengucur dari pelipisnya.


gue mimpiin anak kecil itu lagi. Sebenernya apa hubungan anak kecil itu sama


gue? Apa gadis kecil di dalam mimpi gue itu ada hubungannya dengan masa lalu


gue? Kalo nggak, ngapain gue mimpiin anak kecil itu terus?”


***


Yogi


terlihat tengah tertidur pulas saat Pak Andre mengintipnya dari celah pintu


yang sedikit terbuka. Pak Andre tersenyum tipis melihat wajah polos anak laki-lakiya


itu saat tertidur. Ada rasa sedih di hati Pak Andre saat melihat wajah Yogi.


“Kamu


belum sepenuhnya tahu rintangan dan masalah di dalam kehidupan ini, Yogi.

__ADS_1


Walaupun kamu sudah besar, tapi kamu belum bisa berpikiran dewasa. Papa ingin


kamu berubah, makanya Papa lebih membanggakan Sora daripada kamu. Seharusnya


kamu berubah seperti Sora kalau kamu memang mau mendapatkan kasih sayang Papa,”


kata Pak Andre lirih.


Dengan


perlahan Pak Andre menutup pintu kamar Yogi. Mengurangi timbulnya suara decitan


pelan saat pintu itu tertutup. Tak lama setelah Pak Andre menutup kamarnya,


perlahan-lahan mata Yogi terbuka.


Yogi


menyipitkan matanya mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya yang menerpanya.


Yogi menoleh ke kanan dan melirik jam dinding yang berwarna hitam metalik itu.


“Pukul


dua pagi,” pikirnya. “Mending gue tidur lagi.”


Yogi


mengambil sebuah bantal di sampingnya dan langsung menutup telinganya dengan


bantal tersebut. Kemudian pemuda itu mencoba memejamkan matanya sebelum


akhirnya kembali lagi ke alam mimpi.


Sementara


Yogi kembali tertidur, Sora terjaga dari tidurnya. Jendela kamarnya ia buka


hingga kumpulan angin menyapa wajahnya. Menatap sendu pada langit yang masih


temaram.


“Semenjak ketemu Amora, gue selalu inget elo,

__ADS_1


Sasi. Apa kalian adalah dua orang yang sama?” lirihnya pada embusan angin.


__ADS_2