
“TIDAK!!!”
Amora
tersentak dan langsung membuka matanya. Kemudian mata gadis itu langsung
menatap sekelilingnya. Tidak ada yang berbeda, posisi dan barang-barang yang
ada di kamarnya masih utuh. Namun dia merasa mimpinya barusan sangat aneh.
Barusan
Amora bermimpi dia berada di suatu tempat yang tidak dia ketahui. Tepatnya
sebuah tempat yang tidak ada di dalam ingatannya. Namun entah kenapa Amora
merasa tidak asing dan rindu dengan tempat itu. Seperti ada sebuah serpihan
kenangannya yang tertinggal di tempat tersebut.
Amora
melihat dua pasang suami-istri tengah bermain dengan seorang gadis kecil. Saat
gadis kecil itu menoleh, Amora merasa sangat familiar dengan wajah gadis kecil
itu. Anehnya lagi gadis kecil itu mendekati Amora dan saat gadis kecil itu berada
di depan Amora, gadis kecil itu langsung menghilang. Seperti masuk dan menyatu
ke dalam raganya.
Amora
bingung, ditambah lagi saat pasangan suami-istri itu langsung memeluknya dengan
erat, seolah tidak ingin Amora pergi jauh dari mereka. Amora merasa kepalanya
berputar-putar dan akhirnya matanya terpejam.
Saat
Amora membuka matanya, Amora sudah berada di dalam kamarnya. Namun ada yang
__ADS_1
aneh dengan kamar Amora karena kini kamarnya penuh dengan mainan anak
perempuan. Bahkan meja belajarnya kini berubah menjadi rumah-rumahan boneka
Barbie yang sangat indah.
Amora
memegangi kepalanya saat sebuah kenangan mencoba masuk ke dalam ingatannya.
Amora menjerit kesakitan, tapi tidak ada satu pun orang yang berada di dekat
Amora. Amora merasa seperti ada yang menariknya dan lagi-lagi Amora berteriak
keras.
Dan
setelahnya Amora langsung terbangun dari mimpinya. Terbangun dengan kondisi
yang benar-benar seperti orang yang habis lari beratus-ratus kilometer.
Keringat tidak pernah berhenti mengucur dari pelipisnya.
gue mimpiin anak kecil itu lagi. Sebenernya apa hubungan anak kecil itu sama
gue? Apa gadis kecil di dalam mimpi gue itu ada hubungannya dengan masa lalu
gue? Kalo nggak, ngapain gue mimpiin anak kecil itu terus?”
***
Yogi
terlihat tengah tertidur pulas saat Pak Andre mengintipnya dari celah pintu
yang sedikit terbuka. Pak Andre tersenyum tipis melihat wajah polos anak laki-lakiya
itu saat tertidur. Ada rasa sedih di hati Pak Andre saat melihat wajah Yogi.
“Kamu
belum sepenuhnya tahu rintangan dan masalah di dalam kehidupan ini, Yogi.
__ADS_1
Walaupun kamu sudah besar, tapi kamu belum bisa berpikiran dewasa. Papa ingin
kamu berubah, makanya Papa lebih membanggakan Sora daripada kamu. Seharusnya
kamu berubah seperti Sora kalau kamu memang mau mendapatkan kasih sayang Papa,”
kata Pak Andre lirih.
Dengan
perlahan Pak Andre menutup pintu kamar Yogi. Mengurangi timbulnya suara decitan
pelan saat pintu itu tertutup. Tak lama setelah Pak Andre menutup kamarnya,
perlahan-lahan mata Yogi terbuka.
Yogi
menyipitkan matanya mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya yang menerpanya.
Yogi menoleh ke kanan dan melirik jam dinding yang berwarna hitam metalik itu.
“Pukul
dua pagi,” pikirnya. “Mending gue tidur lagi.”
Yogi
mengambil sebuah bantal di sampingnya dan langsung menutup telinganya dengan
bantal tersebut. Kemudian pemuda itu mencoba memejamkan matanya sebelum
akhirnya kembali lagi ke alam mimpi.
Sementara
Yogi kembali tertidur, Sora terjaga dari tidurnya. Jendela kamarnya ia buka
hingga kumpulan angin menyapa wajahnya. Menatap sendu pada langit yang masih
temaram.
“Semenjak ketemu Amora, gue selalu inget elo,
__ADS_1
Sasi. Apa kalian adalah dua orang yang sama?” lirihnya pada embusan angin.