
Mang
Ujang menunggu Yogi dengan sabar. Sesuai permintaan Pak Andre, dia harus
menunggui Yogi sejak dia pergi sampai pulang sekolah. Menunggui cowok itu agar
tidak kabur atau membolos dari sekolah. Seperti yang sering dia lakukan di
sekolah-sekolah yang sebelumnya.
Dari
kejauhan Mang Ujang melihat Yogi berjalan di tengah kerumunan siswa yang
menyeruak setelah bel pulang berbunyi nyaring. Dengan gayanya yang angkuh, Yogi
mendekati Mang Ujang yang berdiri di samping mobil.
“Den
…,” panggil Mang Ujang pelan saat Yogi hendak masuk ke dalam mobil.
Yogi
mengurungkan niatnya untuk masuk dan menoleh.
“Apa?”
tanyanya galak.
“Ehm,
Mamang permisi ke belakang dulu, ya. Tiba-tiba kebelet.”
Yogi
mengangguk dan mengibaskan tangannya di udara.
“Ya,
ya, cepetan! Gue nggak mau pulang telat!” titah Yogi penuh penekanan.
Mang
Ujang mengangguk dan langsung berlari meninggalkan Yogi untuk memenuhi
panggilan alamnya. Dengan kesal Yogi menunggu Mang Ujang sambil bersender di
mobilnya. Saat dia menoleh ke koridor utama, tak sengaja dia melihat Sora dan Amora
tengah berjalan berdampingan. Mereka terlihat tengah mengobrol dengan akrab.
Bahkan Amora tertawa kecil saat Sora menceritakan sesuatu.
Apaan tuh pake acara ketawa segala? Emangnya ada yang
lucu?
Yogi
langsung mendekati mereka saat melihat kedua orang itu sedang menuju ke arahnya,
tepatnya menuju mobil Sora yang tengah terpakir. Sora dan Amora sedikit
terkejut saat melihat Yogi yang kini berdiri di depan mereka. Amora langsung
menghadiahi Yogi sebuah senyuman lebar. Walaupun pemuda itu tidak akan mau membalas
senyuman Amora. Rasa gengsinya lebih dia utamakan dibandingkan apa pun.
“Eh,
hai, Gi,” sapa Amora yang terdengar seperti basa-basi.
Yogi
tidak membalas sapaan Amora, dia hanya menatap Sora dengan tatapan tajam.
Kemudian Yogi langsung mencengkram lengan Amora sampai kulit putihnya kini
memerah. Melihat itu Sora langsung mencoba melepaskan Amora dari cengkraman
Yogi.
__ADS_1
“Lo
pulang sama gue!” putus Yogi telak. Sarat akan perintah.
Tanpa
sempat dicegah lagi, Yogi langsung membawa Amora dan mendorong tubuh gadis itu
agar masuk ke dalam mobil. Sora tidak tinggal diam. Pemuda itu langsung berlari
menuju mobilnya dan mencoba mengejar mobil Yogi. Mang Ujang yang melihat adegan
itu langsung mendekati Sora yang baru saja masuk ke dalam mobil. Mang Ujang
langsung masuk ke dalam mobil Sora saat pemuda itu menyuruhnya naik.
Sora
langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli bahwa
sesungguhnya dia masih berada di lingkungan sekolahnya. Mang Ujang langsung
berpegangan dan memasang seat belt-nya
saat melihat Sora yang tampaknya akan ngebut.
“Sebenarnya
ada apa?” tanya Mang Ujang.
“Yogi
membawa paksa Amora,” jawab Sora tanpa menoleh.
Dia
bahkan lupa bahwa Mang Ujang sama sekali tidak kenal dengan Amora. Bukan tidak
kenal, hanya saja Mang Ujang tidak mengetahui siapa Amora yang dimaksud oleh
Sora.
Sora
tidak tahu bahwa saat itu Yogi tengah menatapnya dengan senyuman sinis dari
balik kaca spion. Yogi bukannya tidak tahu bahwa Sora akan mengejarnya seperti
ini. Karena itulah dia melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum. Tidak
peduli dengan caci maki orang-orang yang dia temui di jalanan yang baru saja
dia lalui.
Amora
tidak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi di kehidupannya saat ini. Orang
tua yang tiba tiba berubah menjadi aneh, dia yang harus ditarik paksa oleh
Yogi. Lalu sekarang, Yogi membawa mobilnya dengan ugal-ugalan. Berkali-kali
Amora menahan mual yang mendesak isi perutnya agar keluar. Dan Yogi sama sekali
tidak memperhatikan wajah Amora yang kini memucat.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa hidup gue jadi
aneh kayak gini?
Yogi
tidak sadar akan bahaya yang akan menimpanya kalau dia ngebut-ngebutan tidak
jelas seperti ini. Dia tertawa keras saat mengetahui Sora yang berkali-kali
mendapatkan halangan untuk menyusulnya. Yogi menoleh ke belakang sambil
tertawa, tanpa menyadari bahwa di depannya kini berdiri sebuah pohon besar yang
kokoh.
Amora
__ADS_1
memegangi kepalanya yang terasa sakit. Perlahan-lahan dia membuka matanya walaupun
terasa berat. Amora tersentak kaget saat melihat seorang laki-laki kini
memeluknya dengan sorot mata yang teduh. Amora langsung tersenyum saat melihat
wajah orang yang sangat familiar itu.
Laki-laki
itu membalas senyuman Amora lalu mengelus pelan pipi Amora. “Papa .,” kata
Amora lirih sebelum akhirnya jatuh pingsan.
Sora
melotot kaget saat melihat kejadian yang baru saja terjadi di depannya. Mang
Ujang yang duduk di sampingnya juga tak kalah kaget. Sora lalu menghentikan
mobilnya dan berlari mendekati mobil Yogi. Mang Ujang mengikutinya dari
belakang.
Sora
langsung membuka pintu mobil Yogi dan membawa tubuh Amora keluar dari mobil
itu. Sora meletakkan kepala Amora di dada bidangnya.
“Amora!
Bangun Amora!” pekik Sora sambil menepuk-nepuk pelan pipi Amora. Darah segar
mengalir deras dari dahinya.
Mang
Ujang yang berdiri di belakang Sora langsung melotot kaget saat melihat siapa
gadis yang berada di pangkuan Sora. Tanpa sadar Mang Ujang langsung mendekati
gadis itu dan meneteskan air matanya saat melihat darah yang mengalir deras
dari dahi gadis itu.
“Non
Sasi! Bangun Non! Non Sasi!”
Sora
melotot kaget saat mendengar nama yang dipanggil Mang Ujang. “Mang, namanya
Amora. Bukan Sasi, lagipula Sasi kan—”
“Dia
Non Sasi, Den …,” potong Mang Ujang cepat. “Dia Non Sasi! Non Sasi masih
hidup!”
“Mang,
jangan bercanda!” pekik Sora tidak suka. “Aku emang sempat mengira kalau dia
adalah Sasi. Tapi aku sadar kalau Sasi sudah meninggal. Dia ini Amora, Mang. Amora!!”
Lagi-lagi
Mang Ujang menggeleng.
“Dia
benar-benar Non Sasi, Den. Mamang tahu betul kalau Non Sasi masih hidup.”
Amora
membelalakan matanya tidak percaya. Dia tahu betul Mang Ujang tidak akan
berbohong. Dengan gerakan pelan Sora menoleh dan menatap wajah Amora yang kini
berada di pangkuannya.
__ADS_1
Jadi, lo bener-bener Sasi?