
Sora melangkahkan kakinya ke koridor yang terlihat sepi itu. Saat itu dia sedang melihat-lihat isi sekolah barunya tanpa bantuan penunjuk arah. Tadi kepala sekolah barunya menawarkan untuk menemani, tapi Sora menolak dengan alasan tidak mau merepotkan. Lagipula dia lebih suka jalan-jalan sendiri tanpa ada yang menemani.
Saat hendak berbelok, tak sengaja dia bertubrukan dengan seseorang. Untung tubuhnya yang atletis membuatnya tetap kokoh berdiri. Sayangnya, orang yang dia tubruk malah jatuh terjerembap ke belakang.
Refleks Sora mengulurkan tangannya hendak menolong orang tersebut yang ternyata adalah seorang gadis berambut panjang sepinggang. “Lo nggak apa-apa?” tanya Sora khawatir.
Gadis itu mengangkat kepalanya. Sora sedikit kaget saat melihat wajah gadis itu. Kenapa wajah ni cewek keliatan familiar banget, ya? Kayak pernah gue lihat sebelumnya.
Gadis itu mematung saat melihat wajah Sora. Melihat cewek itu terdiam tanpa berkedip, Sora langsung mengibaskan tangannya di depan wajah gadis itu. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Bulu matanya yang lentik sangat indah dilihat saat gadis itu mengerjapkan matanya. Sora sedikit terkesima karenanya.
“Ah … eh,” kata gadis itu.
“Lo nggak apa-apa? Ada yang sakit nggak? Sori ya, gue tadi nggak liat ke depan,” kata Sora sambil membantu gadis itu berdiri.
Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. “Gue nggak kenapa-napa kok,” ujarnya pelan.
Suaranya yang merdu seketika membuat jantung Sora berdebar kencang.
Sora mengembuskan napas lega setelah mendengar jawaban gadis itu. “Syukur deh kalo gitu. Ehm, sekali lagi maaf ya. Oh, iya, gue pamit dulu ya, gue masih ada urusan. Permisi.”
Sora kemudian meninggalkan gadis itu dengan setengah berlari. Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan gadis itu, Sora menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Gadis itu masih berdiri di sana sambil melipat tangannya di depan dada, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.
“Kenapa gue ngerasa seneng banget ngeliat tuh cewek? Kenapa gue seperti ngeliat sosok Sasi dalam diri cewek itu?”
***
Pak Andre masuk ke dalam rumahnya dengan tampang yang penuh amarah. Di belakangnya Bu Nia berjalan sambil menggandeng seorang anak laki-laki berusia delapan tahun. Ekspresi ketakutan jelas terlihat dari wajah anak laki-laki itu.
__ADS_1
“Sudah berapa kali Papa bilang? Kamu jangan buat masalah di sekolah! Apa tidak cukup hukuman yang Papa berikan untuk kamu selama ini?” bentak Pak Andre, membuat anak laki-laki itu bersembunyi di balik pinggang Bu Nia.
Dengan penuh rasa keibuan, Bu Nia mengelus punggung anak laki-laki itu, mencoba menenangkannnya. “Andi jangan takut, ada Mama di sini,” bisik Bu Nia lembut.
“Membuat anak perempuan menangis, itu bukan sikap yang Papa ajarkan sama kamu! Kamu itu jadi laki-laki harus bertanggung jawab! Jangan bisanya cuma buat anak orang nangis dan berkelahi dengan anak laki-laki yang lain! Mau ditaruh di mana wajah Papa kalau rekan bisnis Papa tahu kalau anak Papa kerjaannya hanya buat kegaduhan? Masih SD saja kamu sudah begini, apalagi kalau kamu sudah SMA nanti!” maki Pak Andre sambil menunjuk-nunjuk wajah Andi.
“Sudah, Mas. Andi, kan masih kecil, dia belum tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik.” Bu Nia mencoba menenangkan Pak Andre dengan lembut.
“Kamu juga Nia! Kamu jangan memanjakan Andi terlalu jauh! Kamu lihat, kan sekarang gimana nakalnya dia?! Sudah sering kita dipanggil kepala sekolahnya akibat ulah yang ditimbulkan Andi!”
“Tapi, kan Andi nggak salah Pa, salah dia juga kenapa cengeng banget,” bela Andi dari balik pinggang Bu Nia.
“Diam kamu, Andi!” bentak Pak Andre. “Kamu tahu apa, ha? Kamu itu masih kecil! Kamu itu jangan menyusahkan orang tua! Kerjaan kamu itu cuma belajar dan belajar, tidak boleh membuat susah orang tua kamu seperti ini! Papa sudah capek berurusan dengan guru-guru yang melapor tentang kenakalan kamu!”
Andi langsung ciut saat mendengar bentakan papanya yang sangat keras itu. Dia memegang ujung baju mamanya dengan erat. Dia membenamkan kepalanya rapat-rapat ke tubuh Bu Nia.
Pak Andre mengembuskan napasnya dengan berat. Kemudian dia melangkah menuju tangga untuk masuk ke kamarnya. Saat ini dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Urusan di kantor saja sudah membuat kepalanya seperti ingin pecah. Ditambah lagi dengan kenakalan putranya di sekolah.
“Kamu jangan ikut-ikutan bandel seperti kakak-kakak kamu,” seru Pak Andre lemah. “Kalau sekali lagi Papa dengar kamu membuat keributan lagi di sekolah. Papa tidak segan-segan mengirim kamu ke Sydney, seperti kakak kamu dulu!”
“Sudahlah Mas, Andi masih kecil, jangan terlalu sering dimarahi, kan kasihan …,” bujuk Bu Nia lembut sambil mengusap pelan bahu suaminya yang naik turun.
“Nia, aku cuma tidak mau kalau sifat Andi mirip dengan Yogi,” ucap Pak Andre pelan.
“Justru kalau Mas memarahinya seperti ini dia malah akan seperti Yogi.”
Pak Andre terdiam mendengarkan kata-kata istrinya yang menurutnya ada benarnya. “Padahal aku menginginkan Yogi berubah, makanya sembilan tahun yang lalu aku memutuskan untuk pindah ke luar kota. Ternyata pemikiranku salah. Bukannya melunak, Yogi malah makin menjadi. Malah sekarang sifatnya turun ke Andi. Mengesalkan saja!”
__ADS_1
***
Sora menatap nanar tanaman yang tumbuh dengan subur di balkon kamarnya. Tanaman yang memiliki sejuta kenangan di dalam hatinya. Kenangan yang tidak akan pernah pudar dan mati sampai kapan pun.
Dengan mata yang kini tertutup kabut air mata, Sora menengadahkan kepalanya menatap langit biru di atas sana. Pikirannya kini melayang jauh ke masa lalu. Masa yang tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya di dalam hidupnya.
Sora menggandeng tangan Sasi dengan erat. Keduanya saling tersenyum bahagia saat melihat bunga mawar yang sedang tumbuh dengan indahnya. Tanpa perintah lagi, Sora langsung memetik mawar berwarna putih itu dan memberikannya langsung pada Sasi.
“Wah, bagus ya bunganya!” seru Sasi riang saat melihat mawar putih yang kini berada di dalam genggaman tangannya.
Sora tersenyum senang saat melihat Sasi tersenyum.
Lesung pipi di wajah gadis kecil itu semakin membuat senyum Sora terkembang lebar. “Sasi suka bunganya? Mau Sora petik lagi?” tawar Sora. Tangannya kini hendak memetik bunga mawar itu lagi.
Dengan cepat Sasi menahan tangan Sora agar cowok itu menghentikan tindakannya. “Nggak usah, ini aja udah cukup kok.”
“Tapi itu cuma satu. Lebih banyak, kan, lebih bagus.”
Sasi menggeleng pelan. Kemudian dia menghidu aroma dari bunga mawar yang tampak menawan itu. “Satu udah cukup kok. Sasi nggak peduli bunganya banyak atau enggak. Sasi tetep nggak peduli. Yang pasti Sasi
akan senang kalau Sora yang ngasih bunganya. Bukan orang lain.”
“Bener?” tanya Sora dengan mata berbinar-binar.
Sasi mengangguk cepat. “Iya, bener. Sasi akan tetap suka walaupun bunganya ada sedikit, yang penting Sora yang ngasih bunganya untuk Sasi.”
Sora tersenyum tipis saat mengingat kejadian itu. Air matanya akan mengalir dengan sendirinya setiap kali dia mengingat kenangan manis di dalam hidupnya itu.
__ADS_1
“Andai sampai sekarang lo masih hidup, mungkin gue nggak kesepian seperti ini.”