
Yogi
mendekati jendela kamarnya saat mendengar deru mobil Sora memasuki pekarangan
rumah mereka. Kemudian Yogi mengambil dompet dan jaketnya yang tergelatak di
atas kasur lalu berjalan keluar kamarnya.
“Dari
mana lo baru pulang segini?” tanya Yogi sambil mencibir Sora yang agak sedikit
telat pulang ke rumah. Ini yang katanya
anak kebanggaan Papa? Pulang aja lebih telat dari gue, batin Yogi sambil
menatap Sora lurus-lurus dengan tatapan tidak suka.
“Lo
mau ke mana?” tanya Sora saat melihat Yogi yang sudah memakai jaket
kebesarannya.
Yogi
memutar bola matanya dan berjalan mendekati Sora dengan gaya angkuhnya yang
khas.
“Minggir
lo!” seru Yogi sambil mendorong Sora yang sedari tadi berdiri di samping
mobilnya. Sontak tubuh Sora sedikit bergeser. Kemudian dia langsung masuk ke
dalam mobil Sora dan menguncinya dari
dalam.
Sora
seakan tersadar dari rasa kagetnya saat mendengar suara mesin mobilnya yang
dihidupkan Yogi. “Sora, lo mau ke mana?” pekik Sora sambil berusaha membuka
mobilnya.
Yogi
tidak memedulikan pertanyaan Sora. Kemudian dia memundurkan mobilnya dan
melajukannya dengan kencang sehingga Sora tidak dapat mengejarnya.
Sora
berusaha mengejar Yogi walaupun itu adalah perbuatan yang mustahil. Bahkan saat
pemuda itu sudah berada di gerbang rumahnya, mobilnya sudah tidak terlihat
lagi. Dengan kesal Sora menarik rambutnya dan memekik kesal.
“Padahal
gue udah janji sama Papa bakal jagain Yogi. Kalo kayak gini caranya, gimana gue
bisa jagain dia?” gumam Sora frustrasi.
__ADS_1
Dengan
langkah gontai cowok itu kembali masuk ke dalam rumahnya. Dia terlihat begitu
sedih karena merasa gagal menepati janjinya. Mang Ujang yang baru keluar dari kamar
kecil di samping pos satpam langsung mendekati Sora yang terlihat begitu lesu.
“Kenapa,
Den Sora? Kok mukanya ditekuk-tekuk gitu? Ada masalah, ya?” tanya Mang Ujang
sarat perhatian.
Sora
mengangkat wajahnya dan menatap Mang Ujang sekilas. Kemudian dia mencoba
tersenyum dan menggeleng pelan. Walaupun Mang Ujang tahu kalau itu adalah
sebuah senyum yang dipaksakan untuk terbit di wajah pemuda itu.
“Aku
nggak kenapa-napa kok, Mang,” jawab Sora pelan.
Mang
Ujang jelas tidak semudah itu percaya dengan ucapan Sora. Dia kenal betul
seperti apa Sora itu. Laki-laki setengah baya itu selalu menemani Sora bermain
tatkala Yogi enggan bermain dengannya.
Mang
pos satpam. Sora langsung menurut saat Mang Ujang yang sudah dia anggap sebagai
ayahnya sendiri itu menarik tangannya dengan lembut.
“Berantem
lagi sama Den Yogi?” tanya Mang Ujang langsung.
Dia
tahu betul Yogi dan Sora tidak pernah merasa cocok satu sama lain. Namun karena
amanat yang diberikan padanya, mau tidak mau Sora harus bisa menerima semua
sikap Yogi padanya. Dan akhirnya sekarang dia sudah terbiasa dengan tingkah
laku Yogi.
Sora
menggeleng pelan. Kemudian dia menengadahkan kepalanya. Menatap langit yang
ditemani awan yang berarak pelan. Kemudian pemuda itu menghembuskan napas yang
terdengar begitu letih.
“Aku
ngerasa gagal, Mang. Aku ngerasa gagal menunaikan perintah Papa. Harusnya aku
bisa menjadi seorang kakak yang baik untuk Yogi. Tapi ternyata aku lalai.
__ADS_1
Bukannya membuatnya berubah, aku malah seakan membiarkannya menjadi anak yang
buruk di mata Papa. Padahal aku tahu kalau Papa sangat menyayangi Yogi. Kalau
Papa tidak sayang dengannya, mana mungkin Papa menyuruhku mengawasi Yogi sampai
sekarang,” kata Sora lirih.
Di
sebelahnya, Mang Ujang terdiam mendengar kata hati Sora yang menurutnya
benar-benar berasal dari dalam hatinya. Dia mengerti apa yang dirasakan Sora,
karena dia juga merasa bahwa Yogi sekarang semakin berubah menjadi anak yang
liar. Sering membangkang perintah orang tuanya.
Mang
Ujang tidak tahu akan berkata apa. Dia lebih memilih diam dan menjadi pendengar
yang baik. Dengan pelan dia mengusap-usap bahu Sora. Sora menoleh sekilas, dan
memberikannya senyuman tipis.
“Dia
selalu marah sama aku, Mang. Dia selalu beranggapan kalau Papa lebih
membanggakan aku daripada dia. Padahal, kalau dipikir-pikir dia masih beruntung
daripada aku. Dia mempunyai orang tua yang sangat menyayanginya. Sedangkan aku,
walaupun aku merasa Papa dan Mama menyayangiku dengan tulus, tapi mereka bukan
orang tua kandung aku. Aku … aku ….” kata Sora terbata. Dia tidak sanggup
melanjutkan kata-katanya.
Melihat
itu Mang Ujang langsung memeluk Sora. Membiarkan pemuda itu menumpahkan semua
emosi yang bergerumul di dadanya. Mencoba untuk mengurangi rasa sesak yang
menumpuk di dalam dada Sora.
“Semua
ini sudah jalannya. Kita tidak pernah tahu seperti apa takdir yang akan kita
jalani setelah kita dilahirkan di dunia ini. Kita hanya tahu bahwa kita terus
mengikuti takdir yang sudah Tuhan berikan. Kita tidak dapat memilih seperti apa
keluarga kita nanti. Hanya Tuhan yang tahu dan memilihkan untuk kita,” kata
Mang Ujang pelan.
Sora
melepaskan dirinya dari pelukan Mang Ujang. Dilihatnya kini mata Mang Ujang
berkaca-kaca. “Terima kasih, Mang,” ucap Sora lirih. “Terima kasih sudah mau
menjadi tempatku mengurangi beban ini.”
__ADS_1