Tears And Love

Tears And Love
Part Dua Puluh Dua


__ADS_3

Yogi


mendekati jendela kamarnya saat mendengar deru mobil Sora memasuki pekarangan


rumah mereka. Kemudian Yogi mengambil dompet dan jaketnya yang tergelatak di


atas kasur lalu berjalan keluar kamarnya.


“Dari


mana lo baru pulang segini?” tanya Yogi sambil mencibir Sora yang agak sedikit


telat pulang ke rumah. Ini yang katanya


anak kebanggaan Papa? Pulang aja lebih telat dari gue, batin Yogi sambil


menatap Sora lurus-lurus dengan tatapan tidak suka.


“Lo


mau ke mana?” tanya Sora saat melihat Yogi yang sudah memakai jaket


kebesarannya.


Yogi


memutar bola matanya dan berjalan mendekati Sora dengan gaya angkuhnya yang


khas.


“Minggir


lo!” seru Yogi sambil mendorong Sora yang sedari tadi berdiri di samping


mobilnya. Sontak tubuh Sora sedikit bergeser. Kemudian dia langsung masuk ke


dalam mobil  Sora dan menguncinya dari


dalam.


Sora


seakan tersadar dari rasa kagetnya saat mendengar suara mesin mobilnya yang


dihidupkan Yogi. “Sora, lo mau ke mana?” pekik Sora sambil berusaha membuka


mobilnya.


Yogi


tidak memedulikan pertanyaan Sora. Kemudian dia memundurkan mobilnya dan


melajukannya dengan kencang sehingga Sora tidak dapat mengejarnya.


Sora


berusaha mengejar Yogi walaupun itu adalah perbuatan yang mustahil. Bahkan saat


pemuda itu sudah berada di gerbang rumahnya, mobilnya sudah tidak terlihat


lagi. Dengan kesal Sora menarik rambutnya dan memekik kesal.


“Padahal


gue udah janji sama Papa bakal jagain Yogi. Kalo kayak gini caranya, gimana gue


bisa jagain dia?” gumam Sora frustrasi.

__ADS_1


Dengan


langkah gontai cowok itu kembali masuk ke dalam rumahnya. Dia terlihat begitu


sedih karena merasa gagal menepati janjinya. Mang Ujang yang baru keluar dari kamar


kecil di samping pos satpam langsung mendekati Sora yang terlihat begitu lesu.


“Kenapa,


Den Sora? Kok mukanya ditekuk-tekuk gitu? Ada masalah, ya?” tanya Mang Ujang


sarat perhatian.


Sora


mengangkat wajahnya dan menatap Mang Ujang sekilas. Kemudian dia mencoba


tersenyum dan menggeleng pelan. Walaupun Mang Ujang tahu kalau itu adalah


sebuah senyum yang dipaksakan untuk terbit di wajah pemuda itu.


“Aku


nggak kenapa-napa kok, Mang,” jawab Sora pelan.


Mang


Ujang jelas tidak semudah itu percaya dengan ucapan Sora. Dia kenal betul


seperti apa Sora itu. Laki-laki setengah baya itu selalu menemani Sora bermain


tatkala Yogi enggan bermain dengannya.


Mang


pos satpam. Sora langsung menurut saat Mang Ujang yang sudah dia anggap sebagai


ayahnya sendiri itu menarik tangannya dengan lembut.


“Berantem


lagi sama Den Yogi?” tanya Mang Ujang langsung.


Dia


tahu betul Yogi dan Sora tidak pernah merasa cocok satu sama lain. Namun karena


amanat yang diberikan padanya, mau tidak mau Sora harus bisa menerima semua


sikap Yogi padanya. Dan akhirnya sekarang dia sudah terbiasa dengan tingkah


laku Yogi.


Sora


menggeleng pelan. Kemudian dia menengadahkan kepalanya. Menatap langit yang


ditemani awan yang berarak pelan. Kemudian pemuda itu menghembuskan napas yang


terdengar begitu letih.


“Aku


ngerasa gagal, Mang. Aku ngerasa gagal menunaikan perintah Papa. Harusnya aku


bisa menjadi seorang kakak yang baik untuk Yogi. Tapi ternyata aku lalai.

__ADS_1


Bukannya membuatnya berubah, aku malah seakan membiarkannya menjadi anak yang


buruk di mata Papa. Padahal aku tahu kalau Papa sangat menyayangi Yogi. Kalau


Papa tidak sayang dengannya, mana mungkin Papa menyuruhku mengawasi Yogi sampai


sekarang,” kata Sora lirih.


Di


sebelahnya, Mang Ujang terdiam mendengar kata hati Sora yang menurutnya


benar-benar berasal dari dalam hatinya. Dia mengerti apa yang dirasakan Sora,


karena dia juga merasa bahwa Yogi sekarang semakin berubah menjadi anak yang


liar. Sering membangkang perintah orang tuanya.


Mang


Ujang tidak tahu akan berkata apa. Dia lebih memilih diam dan menjadi pendengar


yang baik. Dengan pelan dia mengusap-usap bahu Sora. Sora menoleh sekilas, dan


memberikannya senyuman tipis.


“Dia


selalu marah sama aku, Mang. Dia selalu beranggapan kalau Papa lebih


membanggakan aku daripada dia. Padahal, kalau dipikir-pikir dia masih beruntung


daripada aku. Dia mempunyai orang tua yang sangat menyayanginya. Sedangkan aku,


walaupun aku merasa Papa dan Mama menyayangiku dengan tulus, tapi mereka bukan


orang tua kandung aku. Aku … aku ….” kata Sora terbata. Dia tidak sanggup


melanjutkan kata-katanya.


Melihat


itu Mang Ujang langsung memeluk Sora. Membiarkan pemuda itu menumpahkan semua


emosi yang bergerumul di dadanya. Mencoba untuk mengurangi rasa sesak yang


menumpuk di dalam dada Sora.


“Semua


ini sudah jalannya. Kita tidak pernah tahu seperti apa takdir yang akan kita


jalani setelah kita dilahirkan di dunia ini. Kita hanya tahu bahwa kita terus


mengikuti takdir yang sudah Tuhan berikan. Kita tidak dapat memilih seperti apa


keluarga kita nanti. Hanya Tuhan yang tahu dan memilihkan untuk kita,” kata


Mang Ujang pelan.


Sora


melepaskan dirinya dari pelukan Mang Ujang. Dilihatnya kini mata Mang Ujang


berkaca-kaca. “Terima kasih, Mang,” ucap Sora lirih. “Terima kasih sudah mau


menjadi tempatku mengurangi beban ini.”

__ADS_1


__ADS_2