
Pagi
hari ini udara lebih segar dari biasanya. Amora menyambut hari baru ini dengan
senyuman lebar dan penuh keceriaan. Setelah menghabiskan sarapannya dan pamit
kepada kedua orang tua serta adik tersayangnya, Amora langsung melangkahkan
kakinya keluar rumah untuk pergi ke sekolah.
Saat
baru beberapa langkah keluar dari halaman rumahnya, Amora terkejut dengan
keberadaan Sora yang sekarang berada tepat di hadapannya. Cowok itu kemudian
tersenyum ramah sambil mendekati Amora.
“Ehm,
hei?” sapa Amora kikuk.
“Hei
juga, Amora,” balas Sora.
“Kok
elo ke sini? Ngapain?” tanya Amora yang masih belum bisa menghilangkan rasa
kagetnya.
“Gue
mau ngajak lo pergi bareng ke sekolah,” jawab cowok itu. Sora kini sudah
berdiri hanya beberapa langkah dari Amora yang masih berdiri di depan pagar
rumahnya.
“Lo
tau dari mana alamat rumah gue?” tanya Amora bingung.
“Gue
nanya sama bagian administrasi. Oh iya, lo mau, kan pergi bareng gue?” Sora
mengulang penawarannya pada Amora.
“Ta—tapi
.…”
“Ayolah,
gue nggak ada maksud yang jahat kok.” Sora berusaha meyakinkan Amora yang
terlihat ragu-ragu itu.
“Tapi
gue bisa naik mobil, Ra. Tuh mobil gue,” kata Amora sambil menunjuk sebuah
mobil berwarna biru laut yang merupakan mobilnya. Sora melirik mobil itu
sekilas, kemudian kembali menatap Amora.
“Gue
tadi udah minta izin sama nyokap lo dan beliau juga setuju. Tadi gue minta izin
saat lo masih mandi. Terus nyokap lo juga bilang kalau mobil lo mau dia pake
buat arisan. Lo tanya aja sendiri kalo lo masih nggak percaya.”
“Beneran?”
tanya Amora kaget. Kemudian tanpa pamit lagi, gadis itu langsung masuk kembali
ke dalam rumahnya. Sora tersenyum kecil saat melihat Amora yang keluar dari
rumahnya dengan ekspresi yang aneh.
“Gimana?”
tanya Sora setelah gadis itu berdiri di depannya.
Amora
menghela napas pelan dan kemudian berkata, “Gue bener-bener nggak enak sama lo,
__ADS_1
Ra. Bukannya gue nolak tujuan baik lo ini. Gue cuma nggak mau ngerepotin elo.”
Sora
menggelengkan kepalanya. “Lo nggak ngerepotin gue kok. Kan sekolah kita sama.
Jadi mana mungkin lo bakalan ngerepotin gue, Ra,” kata Sora sambil terkekeh
pelan.
Amora
terdiam sesaat. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangguk.
“Ya
udah deh. Yuk, kita pergi sekolah,” ucap Amora sambil berjalan mendekati mobil
Sora yang terparkir tidak jauh dari mereka.
Sora
tersenyum melihat Amora yang kini sudah naik ke dalam mobilnya. Lagi-lagi
perasaan hangat itu menjalari hatinya. Sebuah perasaan yang juga pernah dia
rasakan saat dia berada di dekat Sasi.
Sora
mengangkat kepalanya sejenak dan berbisik pada angin, “Gue mau mengenal elo
lebih jauh lagi, Ra. Karena entah kenapa hati gue yakin kalau elo adalah Sasi.
Entah bagaimana, karena gue sadar kalau Sasi udah meninggal.”
***
“Udah
siap, Den?” tanya Mang Ujang ramah saat melihat Yogi keluar dari dalam rumah.
Saat itu Mang Ujang baru selesai mengecek serta mencuci mobil tersebut.
Yogi
tetap berjalan mendekati mobil sport berwarna silver di dekat Mang Ujang
“Minggir
Mang Ujang! Mau sampe kapan Mamang berdiri di samping mobil aku? Aku mau pergi
sekolah!” decak Yogi sambil terus berjalan dengan angkuh.
“Mamang
disuruh Tuan Andre, Den,” jawab Mang Ujang pelan.
“Minggir
Mang! Nanti aku telat!” bentak Yogi lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.
“Kamu
pergi sekolah di antar Mang Ujang!” seru Pak Andre tegas.
Yogi
terpaksa menghentikan langkahnya dan menatap papanya dengan tatapan penuh
protes.
“Maksud
Papa apa?”
“Mulai
saat ini Mang Ujang yang bertugas mengantar kamu pergi sekolah.”
Yogi
membelalakan matanya saat mendengar perkataan Pak Andre barusan.
“Papa!
Aku udah besar ngapain aku mesti dianter Mang Ujang segala? Aku udah tujuh
belas tahun, Pa. Aku bisa pergi sekolah sendiri. Nggak perlu dan nggak butuh
jasa sopir! Aku juga bisa nyetir sendiri!” pekik Yogi kesal. “Kenapa aku nggak
__ADS_1
boleh bawa mobil sendiri? Sedangkan Sora aja Papa bolehin bawa mobil ke mana
pun dia mau. Ini nggak adil namanya, Pa!”
Pak
Andre melipat kedua tangannya di depan dada sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Kamu
memang sudah besar, Papa juga tahu itu. Dan Papa membolehkan Sora membawa mobil
sendiri karena dia sudah bisa menjalankan kewajibannya dengan baik. Dan dia itu
mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi. Tidak seperti kamu yang kerjaannya
cuma keluyuran tidak jelas!”
“Terus
kenapa Papa malah nyuruh Mang Ujang buat nganterin aku sekolah? Mending Papa
suruh Mang Ujang buat nganterin tuh tante-tante sama anaknya!”
“Siapa
tante-tante yang kamu maksud, Yogi?” tanya Pak Andre sedikit emosi.
“Siapa
lagi kalo bukan si Nia itu? Perempuan yang Papa nikahi dan Papa bawa ke dalam
keluarga kita sebagai pengganti Mama!”
“Kamu
sangat tidak sopan Yogi! Biar bagaimanapun juga Nia sekarang adalah mama kamu.
Dan Andi adalah adik kamu karena dia juga anak Papa!”
“Dia
bukan Mama aku!” tolak Yogi kasar. “Sampai kapan pun Mama aku nggak ada yang
namanya Nia! Mama aku hanya ada satu dan namanya itu Aster! Mama aku di dunia
ini cuma ada satu dan beliau sudah nggak ada lagi di dunia ini. Papa mestinya
tahu akan hal itu!”
“Yogi!
Tapi Nia sekarang adalah mama kamu. Papa sudah menikahinya setelah mama kamu
meninggal!”
Yogi
tersenyum sinis setelah mendengar kata-kata papanya.
“Dan
satu lagi yang Papa mesti tahu. Nia, Sora, dan Andi si anak tersayang Papa dan
Nia itu, nggak pernah aku anggap sebagai keluarga aku! Nggak akan pernah sampai
kapan pun!” telak Yogi langsung dan langsung masuk ke dalam mobil.
Melihat
Yogi yang telah masuk ke dalam mobil, dengan cepat Mang Ujang masuk ke dalam mobil
dan duduk di bangku kemudi.
“Jalan
Mang!” titah Yogi dingin.
Pak
Andre masih berdiri terpaku di tempatnya berdiri. Bahkan sampai mobil yang
ditumpangi Yogi menghilang dari pandangannya, Pak Andre masih terdiam setelah
mendengar kata-kata Yogi.
“Suatu
saat kamu akan bisa menerima keadaan ini, Yogi.”
__ADS_1