Tears And Love

Tears And Love
Part Sembilan


__ADS_3

Pagi


hari ini udara lebih segar dari biasanya. Amora menyambut hari baru ini dengan


senyuman lebar dan penuh keceriaan. Setelah menghabiskan sarapannya dan pamit


kepada kedua orang tua serta adik tersayangnya, Amora langsung melangkahkan


kakinya keluar rumah untuk pergi ke sekolah.


Saat


baru beberapa langkah keluar dari halaman rumahnya, Amora terkejut dengan


keberadaan Sora yang sekarang berada tepat di hadapannya. Cowok itu kemudian


tersenyum ramah sambil mendekati Amora.


“Ehm,


hei?” sapa Amora kikuk.


“Hei


juga, Amora,” balas Sora.


“Kok


elo ke sini? Ngapain?” tanya Amora yang masih belum bisa menghilangkan rasa


kagetnya.


“Gue


mau ngajak lo pergi bareng ke sekolah,” jawab cowok itu. Sora kini sudah


berdiri hanya beberapa langkah dari Amora yang masih berdiri di depan pagar


rumahnya.


“Lo


tau dari mana alamat rumah gue?” tanya Amora bingung.


“Gue


nanya sama bagian administrasi. Oh iya, lo mau, kan pergi bareng gue?” Sora


mengulang penawarannya pada Amora.


“Ta—tapi


.…”


“Ayolah,


gue nggak ada maksud yang jahat kok.” Sora berusaha meyakinkan Amora yang


terlihat ragu-ragu itu.


“Tapi


gue bisa naik mobil, Ra. Tuh mobil gue,” kata Amora sambil menunjuk sebuah


mobil berwarna biru laut yang merupakan mobilnya. Sora melirik mobil itu


sekilas, kemudian kembali menatap Amora.


“Gue


tadi udah minta izin sama nyokap lo dan beliau juga setuju. Tadi gue minta izin


saat lo masih mandi. Terus nyokap lo juga bilang kalau mobil lo mau dia pake


buat arisan. Lo tanya aja sendiri kalo lo masih nggak percaya.”


“Beneran?”


tanya Amora kaget. Kemudian tanpa pamit lagi, gadis itu langsung masuk kembali


ke dalam rumahnya. Sora tersenyum kecil saat melihat Amora yang keluar dari


rumahnya dengan ekspresi yang aneh.


“Gimana?”


tanya Sora setelah gadis itu berdiri di depannya.


Amora


menghela napas pelan dan kemudian berkata, “Gue bener-bener nggak enak sama lo,

__ADS_1


Ra. Bukannya gue nolak tujuan baik lo ini. Gue cuma nggak mau ngerepotin elo.”


Sora


menggelengkan kepalanya. “Lo nggak ngerepotin gue kok. Kan sekolah kita sama.


Jadi mana mungkin lo bakalan ngerepotin gue, Ra,” kata Sora sambil terkekeh


pelan.


Amora


terdiam sesaat. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangguk.


“Ya


udah deh. Yuk, kita pergi sekolah,” ucap Amora sambil berjalan mendekati mobil


Sora yang terparkir tidak jauh dari mereka.


Sora


tersenyum melihat Amora yang kini sudah naik ke dalam mobilnya. Lagi-lagi


perasaan hangat itu menjalari hatinya. Sebuah perasaan yang juga pernah dia


rasakan saat dia berada di dekat Sasi.


Sora


mengangkat kepalanya sejenak dan berbisik pada angin, “Gue mau mengenal elo


lebih jauh lagi, Ra. Karena entah kenapa hati gue yakin kalau elo adalah Sasi.


Entah bagaimana, karena gue sadar kalau Sasi udah meninggal.”


***


“Udah


siap, Den?” tanya Mang Ujang ramah saat melihat Yogi keluar dari dalam rumah.


Saat itu Mang Ujang baru selesai mengecek serta mencuci mobil tersebut.


Yogi


tetap berjalan mendekati mobil sport berwarna silver di dekat Mang Ujang


“Minggir


Mang Ujang! Mau sampe kapan Mamang berdiri di samping mobil aku? Aku mau pergi


sekolah!” decak Yogi sambil terus berjalan dengan angkuh.


“Mamang


disuruh Tuan Andre, Den,” jawab Mang Ujang pelan.


“Minggir


Mang! Nanti aku telat!” bentak Yogi lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.


“Kamu


pergi sekolah di antar Mang Ujang!” seru Pak Andre tegas.


Yogi


terpaksa menghentikan langkahnya dan menatap papanya dengan tatapan penuh


protes.


“Maksud


Papa apa?”


“Mulai


saat ini Mang Ujang yang bertugas mengantar kamu pergi sekolah.”


Yogi


membelalakan matanya saat mendengar perkataan Pak Andre barusan.


“Papa!


Aku udah besar ngapain aku mesti dianter Mang Ujang segala? Aku udah tujuh


belas tahun, Pa. Aku bisa pergi sekolah sendiri. Nggak perlu dan nggak butuh


jasa sopir! Aku juga bisa nyetir sendiri!” pekik Yogi kesal. “Kenapa aku nggak

__ADS_1


boleh bawa mobil sendiri? Sedangkan Sora aja Papa bolehin bawa mobil ke mana


pun dia mau. Ini nggak adil namanya, Pa!”


Pak


Andre melipat kedua tangannya di depan dada sambil menggeleng-gelengkan


kepalanya.


“Kamu


memang sudah besar, Papa juga tahu itu. Dan Papa membolehkan Sora membawa mobil


sendiri karena dia sudah bisa menjalankan kewajibannya dengan baik. Dan dia itu


mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi. Tidak seperti kamu yang kerjaannya


cuma keluyuran tidak jelas!”


“Terus


kenapa Papa malah nyuruh Mang Ujang buat nganterin aku sekolah? Mending Papa


suruh Mang Ujang buat nganterin tuh tante-tante sama anaknya!”


“Siapa


tante-tante yang kamu maksud, Yogi?” tanya Pak Andre sedikit emosi.


“Siapa


lagi kalo bukan si Nia itu? Perempuan yang Papa nikahi dan Papa bawa ke dalam


keluarga kita sebagai pengganti Mama!”


“Kamu


sangat tidak sopan Yogi! Biar bagaimanapun juga Nia sekarang adalah mama kamu.


Dan Andi adalah adik kamu karena dia juga anak Papa!”


“Dia


bukan Mama aku!” tolak Yogi kasar. “Sampai kapan pun Mama aku nggak ada yang


namanya Nia! Mama aku hanya ada satu dan namanya itu Aster! Mama aku di dunia


ini cuma ada satu dan beliau sudah nggak ada lagi di dunia ini. Papa mestinya


tahu akan hal itu!”


“Yogi!


Tapi Nia sekarang adalah mama kamu. Papa sudah menikahinya setelah mama kamu


meninggal!”


Yogi


tersenyum sinis setelah mendengar kata-kata papanya.


“Dan


satu lagi yang Papa mesti tahu. Nia, Sora, dan Andi si anak tersayang Papa dan


Nia itu, nggak pernah aku anggap sebagai keluarga aku! Nggak akan pernah sampai


kapan pun!” telak Yogi langsung dan langsung masuk ke dalam mobil.


Melihat


Yogi yang telah masuk ke dalam mobil, dengan cepat Mang Ujang masuk ke dalam mobil


dan duduk di bangku kemudi.


“Jalan


Mang!” titah Yogi dingin.


Pak


Andre masih berdiri terpaku di tempatnya berdiri. Bahkan sampai mobil yang


ditumpangi Yogi menghilang dari pandangannya, Pak Andre masih terdiam setelah


mendengar kata-kata Yogi.


“Suatu


saat kamu akan bisa menerima keadaan ini, Yogi.”

__ADS_1


__ADS_2