Tears And Love

Tears And Love
Part Sembilan Belas


__ADS_3

Sora


melajukan mobilnya membelah kota Jakarta yang semakin hari semakin padat itu. Embusan


angin yang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil menemani perjalanannya menuju


sekolah.


Masih


teringat jelas di pikirannya tentang kebersamaannya dengan Amora walaupun sejenak.


Entah kenapa hati kecilnya semakin yakin kalau Sasi dan Amora adalah orang yang


sama. Walaupun dia harus mengabaikan realita yang mengatakan bahwa Sasi telah


meninggal dunia.


Meninggalkannya


dan orang-orang yang mengasihinya. Meninggalkannya yang menyimpan perasaan yang


lebih untuk gadis itu. Sora sudah menerima kenyataan bahwa Sasi sudah


meninggal. Namun sejak melihat Amora, hatinya berontak. Hatinya mengatakan


kalau Sasi masih hidup dan Amora adalah Sasi.


Sora


merasa nyaman saat berada di samping Amora. Ingin merengkuhnya dan membawanya


ke dalam pelukannya. Memeluk gadis itu dan tidak akan membiarkannya pergi dari


kehidupannya lagi. Kalau Amora benar-benar Sasi.


Namun


sayangnya, Amora bukanlah Sasi. Gadis itu hanyalah gadis biasa yang kebetulan


memiliki beberapa kesamaan dengan Sasi. Sasinya yang telah tiada.


Namun


tidak ada salahnya, kan kalau dia berharap demikian? Bukannya masih ada celah


untuk munculnya suatu harapan di atas segala kejadian. Walaupun harapan itu


sangatlah kecil.


“Sasi,


apa lo lihat gimana hidup gue setelah lo pergi? Mungkin orang mengira ini


adalah cinta monyet. Perasaan yang hanya muncul untuk anak kecil yang belum


mengenal baik apa itu cinta. Perasaan biasa yang mudah datang dan mudah juga


pergi. Tapi bagi gue, perasaan ini beda Sas. Gue bener-bener suka sama lo dari


dalam hati gue. Gue suka sama lo tulus apa adanya,” ujar Sora lirih.


Sora


menghentikan mobil dan menepikannya di pinggir jalan. Dia menundukkan kepala di


atas tangannya yang terlipat di atas setir.


“Kapan


gue bisa ketemu lo lagi, Sas? Kenapa lo tega ninggalin gue? Apa gue masih ada

__ADS_1


harapan buat ketemu lo lagi?” Sora tertawa pilu setelah mengatakannya. Dia


benar- benar merasa bodoh telah menatakan hal-hal yang mustahil akan terjadi di


kehidupan nyata.


Perlahan-lahan


tawa pilu Sora berhenti. Air mata sudah menggantung di pelupuk matanya. Dengan


cepat dia mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya sebelum benar-benar


jatuh ke bumi.


“Cowok


nggak boleh cengeng, Sora!” katanya pada diri sendiri.


Sekuat


tenaga, Sora berusaha untuk tersenyum. Walaupun pada akhirnya hanya sebuah


senyum terpaksa yang berhasil terbentuk di wajahnya. Sora menarik napas panjang


untuk menetralkan perasaannya yang kacau.


“Gue


kangen sama elo. Gue sayang sama elo, Sasi.”


***


Amora


masih belum bisa mengenyahkan mimpinya semalam dari pikirannya. Ada sesuatu hal


dari mimpi itu yang membuatnya serasa menempel erat di memori Amora. Gadis itu terlihat


kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati sahabatnya itu.


“Lo


kenapa, Ra?” tanya Tania akhirnya. Setelah tanda tanya besar muncul di


kepalanya.


Amora


menggeleng pelan dengan lesu.


“Gue


nggak pa-pa kok, Tan,” jawab Amora lirih.


Tania


mengernyitkan dahinya. Dia tidak semudah itu memercayai kata-kata Amora. Dia


sudah kenal baik seperti apa sifat Amora. Gadis yang selalu ceria itu tidak


pernah terlihat kusut seperti saat ini.


“Ngomong


deh sama gue. Lo kenapa? Nggak biasanya lo kayak gini, Ra,” kejar Tania.


Amora


menoleh dan menatap Tania dengan bimbang. Apa


gue harus cerita hal ini sama Tania? Tapi … Tania kan nggak tahu kalau gue

__ADS_1


amnesia, batin Amora ragu.


“Hei,


kok diem aja sih?” tanya Tania, membuyarkan lamunan singkat Amora.


“Ah ... eh …?”


Tania


terkekeh pelan melihat ekspresi Amora.


“Nggak


usah tegang gitu dong mukanya. Biasa aja kali, Ra. Haha … gue nggak maksa kok


lo mau cerita apa enggak. Gue tadi cuma bercanda doang, tahu!” ucap Tania


sambil tertawa lepas.


Amora


langsung cemberut saat melihat Tania tertawa. Dengan gemas dia mencubiti perut


Tania yang terasa geli karena tertawa.


“Ketawa


aja terus lo sampe puas.”


“Haha .…”


“Emangnya


lucu?” kata Amora. Pura-pura ngambek.


“Lucu


lah. Kalo nggak lucu, nggak mungkin gue ketawa. Haha .…”


“Hu


dasar lo, Tan!” cibir Amora sambil ikut tertawa bersama Tania.


Amora


mengalihkan pandangan matanya ke pintu kelas. Saat itulah dia melihat Sora yang


hendak masuk ke dalam kelas. Sora melihat gadis itu dan langsung memberikan gadis


itu senyumannya yang hangat.


Saat


itu Amora merasa perasaan yang aneh itu kembali menyergapinya. Tanpa ragu Amora


membalas senyuman Sora tak kalah hangat. Tidak memedulikan kalau saat itu


jantungnya seperti ingin meloncat keluar.


“Ciee


yang lagi jatuh cinta …,” goda Tania karena Amora masih tersenyum meskipun Sora


kini telah duduk di kursinya.


Seketika


wajah Amora langsung memerah.


“Ish, apaan, sih?”

__ADS_1


__ADS_2