
Sora
melajukan mobilnya membelah kota Jakarta yang semakin hari semakin padat itu. Embusan
angin yang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil menemani perjalanannya menuju
sekolah.
Masih
teringat jelas di pikirannya tentang kebersamaannya dengan Amora walaupun sejenak.
Entah kenapa hati kecilnya semakin yakin kalau Sasi dan Amora adalah orang yang
sama. Walaupun dia harus mengabaikan realita yang mengatakan bahwa Sasi telah
meninggal dunia.
Meninggalkannya
dan orang-orang yang mengasihinya. Meninggalkannya yang menyimpan perasaan yang
lebih untuk gadis itu. Sora sudah menerima kenyataan bahwa Sasi sudah
meninggal. Namun sejak melihat Amora, hatinya berontak. Hatinya mengatakan
kalau Sasi masih hidup dan Amora adalah Sasi.
Sora
merasa nyaman saat berada di samping Amora. Ingin merengkuhnya dan membawanya
ke dalam pelukannya. Memeluk gadis itu dan tidak akan membiarkannya pergi dari
kehidupannya lagi. Kalau Amora benar-benar Sasi.
Namun
sayangnya, Amora bukanlah Sasi. Gadis itu hanyalah gadis biasa yang kebetulan
memiliki beberapa kesamaan dengan Sasi. Sasinya yang telah tiada.
Namun
tidak ada salahnya, kan kalau dia berharap demikian? Bukannya masih ada celah
untuk munculnya suatu harapan di atas segala kejadian. Walaupun harapan itu
sangatlah kecil.
“Sasi,
apa lo lihat gimana hidup gue setelah lo pergi? Mungkin orang mengira ini
adalah cinta monyet. Perasaan yang hanya muncul untuk anak kecil yang belum
mengenal baik apa itu cinta. Perasaan biasa yang mudah datang dan mudah juga
pergi. Tapi bagi gue, perasaan ini beda Sas. Gue bener-bener suka sama lo dari
dalam hati gue. Gue suka sama lo tulus apa adanya,” ujar Sora lirih.
Sora
menghentikan mobil dan menepikannya di pinggir jalan. Dia menundukkan kepala di
atas tangannya yang terlipat di atas setir.
“Kapan
gue bisa ketemu lo lagi, Sas? Kenapa lo tega ninggalin gue? Apa gue masih ada
__ADS_1
harapan buat ketemu lo lagi?” Sora tertawa pilu setelah mengatakannya. Dia
benar- benar merasa bodoh telah menatakan hal-hal yang mustahil akan terjadi di
kehidupan nyata.
Perlahan-lahan
tawa pilu Sora berhenti. Air mata sudah menggantung di pelupuk matanya. Dengan
cepat dia mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya sebelum benar-benar
jatuh ke bumi.
“Cowok
nggak boleh cengeng, Sora!” katanya pada diri sendiri.
Sekuat
tenaga, Sora berusaha untuk tersenyum. Walaupun pada akhirnya hanya sebuah
senyum terpaksa yang berhasil terbentuk di wajahnya. Sora menarik napas panjang
untuk menetralkan perasaannya yang kacau.
“Gue
kangen sama elo. Gue sayang sama elo, Sasi.”
***
Amora
masih belum bisa mengenyahkan mimpinya semalam dari pikirannya. Ada sesuatu hal
dari mimpi itu yang membuatnya serasa menempel erat di memori Amora. Gadis itu terlihat
kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati sahabatnya itu.
“Lo
kenapa, Ra?” tanya Tania akhirnya. Setelah tanda tanya besar muncul di
kepalanya.
Amora
menggeleng pelan dengan lesu.
“Gue
nggak pa-pa kok, Tan,” jawab Amora lirih.
Tania
mengernyitkan dahinya. Dia tidak semudah itu memercayai kata-kata Amora. Dia
sudah kenal baik seperti apa sifat Amora. Gadis yang selalu ceria itu tidak
pernah terlihat kusut seperti saat ini.
“Ngomong
deh sama gue. Lo kenapa? Nggak biasanya lo kayak gini, Ra,” kejar Tania.
Amora
menoleh dan menatap Tania dengan bimbang. Apa
gue harus cerita hal ini sama Tania? Tapi … Tania kan nggak tahu kalau gue
__ADS_1
amnesia, batin Amora ragu.
“Hei,
kok diem aja sih?” tanya Tania, membuyarkan lamunan singkat Amora.
“Ah ... eh …?”
Tania
terkekeh pelan melihat ekspresi Amora.
“Nggak
usah tegang gitu dong mukanya. Biasa aja kali, Ra. Haha … gue nggak maksa kok
lo mau cerita apa enggak. Gue tadi cuma bercanda doang, tahu!” ucap Tania
sambil tertawa lepas.
Amora
langsung cemberut saat melihat Tania tertawa. Dengan gemas dia mencubiti perut
Tania yang terasa geli karena tertawa.
“Ketawa
aja terus lo sampe puas.”
“Haha .…”
“Emangnya
lucu?” kata Amora. Pura-pura ngambek.
“Lucu
lah. Kalo nggak lucu, nggak mungkin gue ketawa. Haha .…”
“Hu
dasar lo, Tan!” cibir Amora sambil ikut tertawa bersama Tania.
Amora
mengalihkan pandangan matanya ke pintu kelas. Saat itulah dia melihat Sora yang
hendak masuk ke dalam kelas. Sora melihat gadis itu dan langsung memberikan gadis
itu senyumannya yang hangat.
Saat
itu Amora merasa perasaan yang aneh itu kembali menyergapinya. Tanpa ragu Amora
membalas senyuman Sora tak kalah hangat. Tidak memedulikan kalau saat itu
jantungnya seperti ingin meloncat keluar.
“Ciee
yang lagi jatuh cinta …,” goda Tania karena Amora masih tersenyum meskipun Sora
kini telah duduk di kursinya.
Seketika
wajah Amora langsung memerah.
“Ish, apaan, sih?”
__ADS_1