Tears And Love

Tears And Love
Part Lima Belas


__ADS_3

Amora


mengangguk pelan. Kemudian dia tersenyum samar. “Saat itu umur gue tujuh tahun.


Terlalu kecil untuk mengingat semua yang terjadi. Yang gue tahu saat itu


keluarga Pak Januarja membawa gue ke rumahnya dan memperlakukan gue seperti


anak mereka sendiri. Gue ga tau dimana orang tua gue, seperti apa wajah mereka,


apa mereka masih hidup atau enggak, gue nggak tahu semuanya.”


Sora


terdiam mendengar setiap kata yang mengalir dari bibir tipis Amora. Sora merasakan


aura kesedihan dari nada bicara Amora sejak gadis itu memulai pembicaraannya.


Amora sendiri tidak tahu kenapa dia selancar itu bercerita dengan Sora.


Laki-laki yang baru dikenalnya.


“Gue


nggak tahu siapa diri gue yang sebenarnya. Gue amnesia sejak kecil. Saat gue


bangun tiba-tiba gue ada di rumah sakit. Di depan gue ada seorang laki-laki


paruh baya yang ngeliatin gue dengan mata berkaca-kaca. Dari dialah gue tau


kalau nama gue Amora. Dan dia jugalah yang bawa gue sebuah rumah sebelum


akhirnya dibawa lagi oleh orang yang nggak gue kenal ke panti asuhan itu.”


Amora


terdiam sambil memejamkan matanya. Saat ini, Amora ingin sekali menumpahkan air


matanya yang selama ini ia tahan. Namun entah kenapa, air matanya seolah enggan


untuk turun dari pelupuk matanya yang lentik. Sora menatap iba pada gadis di


sampingnya itu, tanpa disadari gadis itu.


“Gue


juga anak angkat,” bisiknya pelan. Sepelan hembusan angin di dekat mereka.


Amora


langsung membuka matanya saat mendengar suara Sora. Dia mengalihkan wajahnya


dan menatap Sora tak percaya. Kemudian dia memiringkan kepalanya untuk meminta


klarifikasi lebih lanjut dari seorang Sora.


Sora


menarik napas pelan sebelum kembali melanjutkan kata-katanya, “Gue diangkat


jadi anak di dalam keluarga Mahendra sejak gue masih bayi.  Saat itu Pak Andre dan istrinya yang nggak

__ADS_1


sengaja ke panti asuhan ngeliat gue yang lagi tidur di salah satu boks bayi di


panti itu. Mereka kemudian nanyain gue sama ibu panti di tempat gue berada.


Karena Bu Aster seneng banget sama anak kecil, akhirnya beliau ngangkat gue


jadi anak angkat mereka. Padahal saat itu Bu Aster tengah mengandung Yogi.”


Sora kembali menarik napas. Dia seperti berat menceritakan kisah hidupnya.


“Gue


nggak tahu siapa orang tua gue, dimana mereka tinggal, apa alasan mereka


ninggalin gue, berapa usia mereka sekarang dan saat mereka ninggalin gue gitu


aja, gue nggak tahu apa pun. Andai gue tahu siapa orang tua gue, gue nggak


bakal marahin mereka, nggak akan pernah. Gue cuma pengen tahu aja apa alasan


mereka sampe mereka tega ninggalin gue di panti asuhan. Apa mereka nggak


mikirin gimana rasanya jadi gue tanpa lindungan dan kasih sayang dari orang tua


kandung gue?” sambungnya lirih.


Sora


menatap lurus ke depan. Pandangannya menjadi kabur tertutupi kabut yang


perlahan-lahan menutupi lensa matanya.


“Andai


Amora


menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat. “Andai gue bisa


sembuh dari amnesia gue. Mungkin gue bisa tahu siapa orang tua kandung gue.”


Amora


dan Sora saling berpandangan satu sama lain. Kemudian mereka tertawa. Tertawa


lepas yang berasal dari hati.


“Ternyata


kita sama-sama anak angkat!” seru mereka berbarengan.


Amora


menghentikan tawanya dan kembali menatap lurus ke depan. “Gue nggak tahu kenapa


gue bisa cerita segitu banyaknya sama elo. Padahal rahasia ini nggak ada yang


tahu selain gue dan orang tua angkat gue.” Amora kemudian mengalihkan pandangannya.


Menatap Sora lekat-lekat. “Lo harus janji, jangan sebarin rahasia ini ke orang


lain! Gue nggak mau Pak Januarja sedih gara-gara mereka sadar kalau gue anak

__ADS_1


angkat mereka.”


“Tenang


aja, selama lo menjaga rahasia gue. Gue juga akan menjaga rahasia lo.”


“Janji?”


tanya Amora dengan senyum sumringah.


Sora


mengangguk mantap sambil mengangkat jari kelingkingnya. “Iya, gue janji.”


Dengan


senang Amora kemudian mengaitkan kelingkingnya di kelingking Sora. Amora


menghentikan senyumannya. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan berat. Keadaan


di sekelilingnya seolah berputar-putar. Dan saat dia menatap Sora, yang muncul


adalah seorang anak laki-laki yang menatapnya dengan senyuman lebar. Amora


memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit.


Tiba-tiba


sekelebat bayangan merasuki pikirannya. Seperti sebuah rekaman yang terlihat


samar-samar. Amora merasakan sakit yang amat sangat yang menghampiri kepalanya.


Seperti ada sebuah batu besar yang sangat berat yang menghantamnya sehingga di


merasa kesakitan.


“Amora,


lo kenapa?” tanya Sora khawatir.


Amora


menggeleng pelan. “Gue nggak tahu, tiba-tiba kepala gue jadi pusing. Dan gue


ngerasa, hal ini sebelumnya pernah terjadi di kehidupan gue. Tapi bukan sama


lo, melainkan dengan anak laki-laki yang gue nggak tahu siapa. Saat gue berusaha


buat mengingat anak laki-laki itu, kepala gue jadi semakin pusing.”


“Kita


pulang aja yuk, mending lo istirahat di rumah.”


Amora


mengangguk lemah. Rasanya dia tidak sanggup berkata-kata lagi. Dengan penuh


rasa kekhawatiran Sora langsung menuntun Amora menuju mobilnya yang terpakir


tak jauh dari tempat mereka berada.

__ADS_1


Semoga lo baik-baik aja, Ra.


__ADS_2