
Amora
mengangguk pelan. Kemudian dia tersenyum samar. “Saat itu umur gue tujuh tahun.
Terlalu kecil untuk mengingat semua yang terjadi. Yang gue tahu saat itu
keluarga Pak Januarja membawa gue ke rumahnya dan memperlakukan gue seperti
anak mereka sendiri. Gue ga tau dimana orang tua gue, seperti apa wajah mereka,
apa mereka masih hidup atau enggak, gue nggak tahu semuanya.”
Sora
terdiam mendengar setiap kata yang mengalir dari bibir tipis Amora. Sora merasakan
aura kesedihan dari nada bicara Amora sejak gadis itu memulai pembicaraannya.
Amora sendiri tidak tahu kenapa dia selancar itu bercerita dengan Sora.
Laki-laki yang baru dikenalnya.
“Gue
nggak tahu siapa diri gue yang sebenarnya. Gue amnesia sejak kecil. Saat gue
bangun tiba-tiba gue ada di rumah sakit. Di depan gue ada seorang laki-laki
paruh baya yang ngeliatin gue dengan mata berkaca-kaca. Dari dialah gue tau
kalau nama gue Amora. Dan dia jugalah yang bawa gue sebuah rumah sebelum
akhirnya dibawa lagi oleh orang yang nggak gue kenal ke panti asuhan itu.”
Amora
terdiam sambil memejamkan matanya. Saat ini, Amora ingin sekali menumpahkan air
matanya yang selama ini ia tahan. Namun entah kenapa, air matanya seolah enggan
untuk turun dari pelupuk matanya yang lentik. Sora menatap iba pada gadis di
sampingnya itu, tanpa disadari gadis itu.
“Gue
juga anak angkat,” bisiknya pelan. Sepelan hembusan angin di dekat mereka.
Amora
langsung membuka matanya saat mendengar suara Sora. Dia mengalihkan wajahnya
dan menatap Sora tak percaya. Kemudian dia memiringkan kepalanya untuk meminta
klarifikasi lebih lanjut dari seorang Sora.
Sora
menarik napas pelan sebelum kembali melanjutkan kata-katanya, “Gue diangkat
jadi anak di dalam keluarga Mahendra sejak gue masih bayi. Saat itu Pak Andre dan istrinya yang nggak
__ADS_1
sengaja ke panti asuhan ngeliat gue yang lagi tidur di salah satu boks bayi di
panti itu. Mereka kemudian nanyain gue sama ibu panti di tempat gue berada.
Karena Bu Aster seneng banget sama anak kecil, akhirnya beliau ngangkat gue
jadi anak angkat mereka. Padahal saat itu Bu Aster tengah mengandung Yogi.”
Sora kembali menarik napas. Dia seperti berat menceritakan kisah hidupnya.
“Gue
nggak tahu siapa orang tua gue, dimana mereka tinggal, apa alasan mereka
ninggalin gue, berapa usia mereka sekarang dan saat mereka ninggalin gue gitu
aja, gue nggak tahu apa pun. Andai gue tahu siapa orang tua gue, gue nggak
bakal marahin mereka, nggak akan pernah. Gue cuma pengen tahu aja apa alasan
mereka sampe mereka tega ninggalin gue di panti asuhan. Apa mereka nggak
mikirin gimana rasanya jadi gue tanpa lindungan dan kasih sayang dari orang tua
kandung gue?” sambungnya lirih.
Sora
menatap lurus ke depan. Pandangannya menjadi kabur tertutupi kabut yang
perlahan-lahan menutupi lensa matanya.
“Andai
Amora
menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat. “Andai gue bisa
sembuh dari amnesia gue. Mungkin gue bisa tahu siapa orang tua kandung gue.”
Amora
dan Sora saling berpandangan satu sama lain. Kemudian mereka tertawa. Tertawa
lepas yang berasal dari hati.
“Ternyata
kita sama-sama anak angkat!” seru mereka berbarengan.
Amora
menghentikan tawanya dan kembali menatap lurus ke depan. “Gue nggak tahu kenapa
gue bisa cerita segitu banyaknya sama elo. Padahal rahasia ini nggak ada yang
tahu selain gue dan orang tua angkat gue.” Amora kemudian mengalihkan pandangannya.
Menatap Sora lekat-lekat. “Lo harus janji, jangan sebarin rahasia ini ke orang
lain! Gue nggak mau Pak Januarja sedih gara-gara mereka sadar kalau gue anak
__ADS_1
angkat mereka.”
“Tenang
aja, selama lo menjaga rahasia gue. Gue juga akan menjaga rahasia lo.”
“Janji?”
tanya Amora dengan senyum sumringah.
Sora
mengangguk mantap sambil mengangkat jari kelingkingnya. “Iya, gue janji.”
Dengan
senang Amora kemudian mengaitkan kelingkingnya di kelingking Sora. Amora
menghentikan senyumannya. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan berat. Keadaan
di sekelilingnya seolah berputar-putar. Dan saat dia menatap Sora, yang muncul
adalah seorang anak laki-laki yang menatapnya dengan senyuman lebar. Amora
memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit.
Tiba-tiba
sekelebat bayangan merasuki pikirannya. Seperti sebuah rekaman yang terlihat
samar-samar. Amora merasakan sakit yang amat sangat yang menghampiri kepalanya.
Seperti ada sebuah batu besar yang sangat berat yang menghantamnya sehingga di
merasa kesakitan.
“Amora,
lo kenapa?” tanya Sora khawatir.
Amora
menggeleng pelan. “Gue nggak tahu, tiba-tiba kepala gue jadi pusing. Dan gue
ngerasa, hal ini sebelumnya pernah terjadi di kehidupan gue. Tapi bukan sama
lo, melainkan dengan anak laki-laki yang gue nggak tahu siapa. Saat gue berusaha
buat mengingat anak laki-laki itu, kepala gue jadi semakin pusing.”
“Kita
pulang aja yuk, mending lo istirahat di rumah.”
Amora
mengangguk lemah. Rasanya dia tidak sanggup berkata-kata lagi. Dengan penuh
rasa kekhawatiran Sora langsung menuntun Amora menuju mobilnya yang terpakir
tak jauh dari tempat mereka berada.
__ADS_1
Semoga lo baik-baik aja, Ra.