Tears And Love

Tears And Love
Part Delapan Belas


__ADS_3

Anak laki-laki itu memegang erat tangan sang gadis


kecil sambal menengadah ke atas langit. Mereka terlihat riang di tengah-tengah


rumput ilalang yang tumbuh tinggi. Tawa kecil dari bibir keduanya tidak pernah


sirna sekali pun.


Tiba-tiba sebuah panggilan membuat anak laki-laki itu


bangkit dari tidurnya. Gadis kecil itu kelihatan kecewa, tapi tidak berlangsung


lama setelah anak laki-laki itu mengeluarkan setangkai mawar putih dari balik


bajunya.


“Aku bakalan main lagi kok sama kamu, aku janji!” kata


anak laki-laki itu. Gadis kecil itu pun tersenyum dengan setangkai mawar putih


di genggaman tangannya.


Gadis itu tersenyum lebar dan berkata, “Hati-hati, ya.


Besok kita main lagi.” Gadis kecil itu melambaikan tangannya dan kemudian


perlahan-lahan menghilang.


Amora


tersentak dan langsung terbangun dari tidurnya. Keringat dingin mengucur deras


dari pelipisnya. Amora menoleh ke arah jam dinding Hello Kitty-nya yang berada


tepat di depannya.


“Pukul


tiga pagi,” gumamnya dengan napas yang terengah-engah.


Amora


mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. Mencoba menetralkan detak jantungnya


yang memacu aliran darahnya dengan sangat cepat. Amora memegang pelipis dan


menyeka keringatnya.


“Kenapa


gue mimpiin itu terus? Kenapa gue selalu mimpiin seorang anak laki-laki sama


seorang anak perempuan? Sebenarnya apa arti mimpi gue ini?” Amora berkata


dengan lirih.


Masih


jelas di ingatannya, tentang mimpi yang baru saja dia alami. Kata orang, mimpi adalah


bagian dari bunga tidur seseorang. Namun entah kenapa, Amora merasa mimpinya


barusan benar-benar nyata. Seperti sebuah kejadian yang pernah dia alami, tapi

__ADS_1


dia tidak tahu akan kebenarannya.


“Siapa


orang yang hadir di mimpi gue? Kenapa anak laki-laki dan anak perempuan itu


yang selalu dateng di mimpi-mimpi gue?”


Amora


masih belum bisa memejamkan kembali matanya. Rasa kantuknya hilang seketika


setelah dia memikirkan arti dari mimpinya. Bahkan sampai matahari terbit pun,


ia masih belum bisa tidur.


Amora


menoleh sekilas ke jam dindingnya. Jarum jamnya mengarah ke angka lima. Dia


menarik napas pelan sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi dan berangkat ke


sekolah. Memulai aktivitasnya sebagai pelajar, seperti biasa.


Amora


mendesah pelan dengan sedikit kecewa, “Mungkin emang itu cuma bunga tidur biasa.


Gue aja yang terlalu berlebihan menanggapinya.”


***


“Kamu


Lengkingan


suara Pak Andre terdengar jelas di pagi hari yang lumayan cerah ini. Saking


melengkingnya suara Pak Andre, sampai membuat orang yang lari pagi di depan rumahnya


harus berhenti sejenak karenanya.


Yogi


menguap lebar sambil kembali menarik selimutnya sampai menutupi seluruh


tubuhnya. Tak lupa pula dia menutup kepalanya dengan bantal. Malas mendengar


ocehan Pak Andre yang membuat telinga sakit.


“Yogi!!!”


pekik Pak Andre lagi. Kali ini dia menyentakkan selimut yang dipakai Yogi dan


melemparkannya ke sembarang arah.


Yogi


membuka matanya dan menatap Pak Andre dengan tatapan tidak suka. Kemudian dia


bangkit dari tidurnya dan duduk bersandarkan bantalnya. Lagi-lagi dia menguap


lebar.

__ADS_1


“Apa-apaan


sih, Pa? Aku masih ngantuk nih,” kata Yogi pelan. Dia mengucek-ngucek matanya


sambil menguap lebar untuk ketiga kalinya.


“Kamu


harus sekolah! Papa tidak mau menerima laporan kalau kamu tidak datang ke


sekolah!” seru Pak Andre telak.


“Pa,


aku baru bisa tidur pukul setengah dua pagi. Masa sekarang aku harus bangun dan


pergi ke sekolah? Sekolah itu ngebosenin, Pa. Mendingan aku clubbing, minum-minum, terus tidur.


Sekolah? Ah, males banget.”


Yogi


mencoba untuk tidur kembali. Bayangkan saja, bangun-bangun dia harus di suruh


pergi ke sekolah. Sedangkan dia saja baru tidur pukul setengah dua pagi. Eh,


sekarang harus dibangunkan secara paksa dan disuruh sekolah pula. Untuk orang


seperti Yogi, hal ini merupakan bencana.


“Kamu


harus sekolah, Yogi! Jangan jadi anak yang membangkang seperti ini!” bentak Pak


Andre.


“Pa,


kasih aku kompensasi, kek. Masa harus sekolah sih? Aku masih ngantuk tahu, Pa. Tega


banget sama aku.”


“Kompensasi


apa? Kemarin kamu tidak pergi ke sekolah dan juga hari-hari sebelumnya. Kurang


apalagi kompensasi dari Papa ini?”


Pak


Andre masih terus mencoba agar emosinya tidak meluap dan muncul di permukaan.


Dia sangat tidak mau kalau pagi-pagi seperti ini harus diawali dengan


kemarahan.


“Aku


mau tidur,” kata Yogi tetap tak acuh.


“Kamu


harus sekolah! Pokoknya harus! Jangan memalukan Papa dan nama baik keluarga

__ADS_1


ini!”


__ADS_2