
Anak laki-laki itu memegang erat tangan sang gadis
kecil sambal menengadah ke atas langit. Mereka terlihat riang di tengah-tengah
rumput ilalang yang tumbuh tinggi. Tawa kecil dari bibir keduanya tidak pernah
sirna sekali pun.
Tiba-tiba sebuah panggilan membuat anak laki-laki itu
bangkit dari tidurnya. Gadis kecil itu kelihatan kecewa, tapi tidak berlangsung
lama setelah anak laki-laki itu mengeluarkan setangkai mawar putih dari balik
bajunya.
“Aku bakalan main lagi kok sama kamu, aku janji!” kata
anak laki-laki itu. Gadis kecil itu pun tersenyum dengan setangkai mawar putih
di genggaman tangannya.
Gadis itu tersenyum lebar dan berkata, “Hati-hati, ya.
Besok kita main lagi.” Gadis kecil itu melambaikan tangannya dan kemudian
perlahan-lahan menghilang.
Amora
tersentak dan langsung terbangun dari tidurnya. Keringat dingin mengucur deras
dari pelipisnya. Amora menoleh ke arah jam dinding Hello Kitty-nya yang berada
tepat di depannya.
“Pukul
tiga pagi,” gumamnya dengan napas yang terengah-engah.
Amora
mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. Mencoba menetralkan detak jantungnya
yang memacu aliran darahnya dengan sangat cepat. Amora memegang pelipis dan
menyeka keringatnya.
“Kenapa
gue mimpiin itu terus? Kenapa gue selalu mimpiin seorang anak laki-laki sama
seorang anak perempuan? Sebenarnya apa arti mimpi gue ini?” Amora berkata
dengan lirih.
Masih
jelas di ingatannya, tentang mimpi yang baru saja dia alami. Kata orang, mimpi adalah
bagian dari bunga tidur seseorang. Namun entah kenapa, Amora merasa mimpinya
barusan benar-benar nyata. Seperti sebuah kejadian yang pernah dia alami, tapi
__ADS_1
dia tidak tahu akan kebenarannya.
“Siapa
orang yang hadir di mimpi gue? Kenapa anak laki-laki dan anak perempuan itu
yang selalu dateng di mimpi-mimpi gue?”
Amora
masih belum bisa memejamkan kembali matanya. Rasa kantuknya hilang seketika
setelah dia memikirkan arti dari mimpinya. Bahkan sampai matahari terbit pun,
ia masih belum bisa tidur.
Amora
menoleh sekilas ke jam dindingnya. Jarum jamnya mengarah ke angka lima. Dia
menarik napas pelan sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi dan berangkat ke
sekolah. Memulai aktivitasnya sebagai pelajar, seperti biasa.
Amora
mendesah pelan dengan sedikit kecewa, “Mungkin emang itu cuma bunga tidur biasa.
Gue aja yang terlalu berlebihan menanggapinya.”
***
“Kamu
Lengkingan
suara Pak Andre terdengar jelas di pagi hari yang lumayan cerah ini. Saking
melengkingnya suara Pak Andre, sampai membuat orang yang lari pagi di depan rumahnya
harus berhenti sejenak karenanya.
Yogi
menguap lebar sambil kembali menarik selimutnya sampai menutupi seluruh
tubuhnya. Tak lupa pula dia menutup kepalanya dengan bantal. Malas mendengar
ocehan Pak Andre yang membuat telinga sakit.
“Yogi!!!”
pekik Pak Andre lagi. Kali ini dia menyentakkan selimut yang dipakai Yogi dan
melemparkannya ke sembarang arah.
Yogi
membuka matanya dan menatap Pak Andre dengan tatapan tidak suka. Kemudian dia
bangkit dari tidurnya dan duduk bersandarkan bantalnya. Lagi-lagi dia menguap
lebar.
__ADS_1
“Apa-apaan
sih, Pa? Aku masih ngantuk nih,” kata Yogi pelan. Dia mengucek-ngucek matanya
sambil menguap lebar untuk ketiga kalinya.
“Kamu
harus sekolah! Papa tidak mau menerima laporan kalau kamu tidak datang ke
sekolah!” seru Pak Andre telak.
“Pa,
aku baru bisa tidur pukul setengah dua pagi. Masa sekarang aku harus bangun dan
pergi ke sekolah? Sekolah itu ngebosenin, Pa. Mendingan aku clubbing, minum-minum, terus tidur.
Sekolah? Ah, males banget.”
Yogi
mencoba untuk tidur kembali. Bayangkan saja, bangun-bangun dia harus di suruh
pergi ke sekolah. Sedangkan dia saja baru tidur pukul setengah dua pagi. Eh,
sekarang harus dibangunkan secara paksa dan disuruh sekolah pula. Untuk orang
seperti Yogi, hal ini merupakan bencana.
“Kamu
harus sekolah, Yogi! Jangan jadi anak yang membangkang seperti ini!” bentak Pak
Andre.
“Pa,
kasih aku kompensasi, kek. Masa harus sekolah sih? Aku masih ngantuk tahu, Pa. Tega
banget sama aku.”
“Kompensasi
apa? Kemarin kamu tidak pergi ke sekolah dan juga hari-hari sebelumnya. Kurang
apalagi kompensasi dari Papa ini?”
Pak
Andre masih terus mencoba agar emosinya tidak meluap dan muncul di permukaan.
Dia sangat tidak mau kalau pagi-pagi seperti ini harus diawali dengan
kemarahan.
“Aku
mau tidur,” kata Yogi tetap tak acuh.
“Kamu
harus sekolah! Pokoknya harus! Jangan memalukan Papa dan nama baik keluarga
__ADS_1
ini!”