Tears And Love

Tears And Love
Part Delapan


__ADS_3

“Hei?”


“Kenapa?”


“Sora … lo?”


“Amora Sasi Januarja. Lo


bisa manggil gue Amora.”


“A—Amora Sasi?”


“Iya, kenapa?”


“Apa lo dulu pernah


tinggal di Malang?”


“Emangnya ngapain lo


nanyain gue pernah tinggal di Malang atau enggak? Gue nggak pernah tinggal di


Malang.”


“Nama lo sama kayak temen gue. Tapi, orang yang make


nama Sasi kan banyak. Mungkin gue salah ngira aja.”


Amora


duduk merenung di balkon kamarnya. Angin sepoi-sepoi menampar pipi mulusnya.


Percakapan tadi siang dengan Sora masih terngiang-ngiang di benaknya seperti


sebuah rekaman yang sedang diputar berulang-ulang kali.


Apa gue pernah kenal sama Sora sebelumnya, ya? Kok gue


ngerasa familiar banget sama tampangnya?! Tapi, gue kan nggak tahu banyak


tentang masa lalu gue. Tapi, apa bener gue pernah kenal sama Sora?


“Kamu


kenapa, Sayang? Kok melamun?” tanya Bu Nita yang tiba-tiba duduk di samping


Amora.


Amora


sedikit tersentak saat mendengar suara mamanya.


“Eh


Mama, ngagetin aja.”


“Kamu


kenapa, Sayang? Ada masalah?” tanya mamanya sarat perhatian.


Amora


menggeleng pelan.


“Amora


nggak ada masalah kok , Ma. Amora cuma lagi bingung aja.”


“Bingung


kenapa,Sayang? Sama pelajaran di sekolah, ya?”


Lagi-lagi


Amora menggeleng pelan.


“Bukan


kok, Ma. Bukan hal yang penting kok.”


“Kalo


kamu ada masalah, jangan ragu untuk cerita sama Mama,” sahut Bu Nita sambil


mengelus lembut rambut Amora.


“Iya,


Ma.”


Amora


mengembuskan nafpsnya dengan pelan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat


ini. Tapi ia masih ragu untuk mengungkapkan ganjalan di hatinya. Dengan gerakan


lambat Amora memutar kepalanya dan menatap mamanya yang kini sedang tersenyum


menatap langit.

__ADS_1


“Ma


…,” panggilnya pelan.


“Iya?


Kenapa, Sayang?”


“Ehm


….”


“Kenapa?”


“Ehm,


Amora boleh nanya nggak, Ma?” Amora menggigit bibir bawahnya untuk menutupi


kegugupannya.


“Boleh


dong. Mau nanya apa?” tanya Bu Nita antusias.


“Ehm,


tapi jawab jujur, ya, Ma?”


“Iya,


Sayang. Memangnya kamu mau nanya apa?”


“Ehm


… apa dulu kita pernah tinggal di Malang, Ma?” tanya Amora hati-hati. “Apa dulu


sebelum atau sesudah Mama mengadopsi Amora, kita pernah tinggal di Malang?”


“Kita


tidak pernah tinggal di Malang! Dari dulu kita tinggal di Jakarta! Bahkan Mama


mengadopsi kamu di salah satu panti asuhan di Jakarta. Bukan di Malang!” jawab


mamanya cepat dan tegas.


Amora


menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menggigit bibir bawahnya. Udah gue duga, tuh cowok nggak ada


hubungannya sama gue, batin Amora lirih.


kenapa dia merasa sedih saat mendengar jawaban dari mamanya. Jauh di dasar


hatinya dia sangat berharap kalau Sora adalah orang yang berasal dari masa


lalunya. Karena kalau Sora benar-benar orang dari masa lalunya, pasti Amora bisa


mendapat informasi mengenai orangtua kandungnya. Walaupun kemungkinan itu


sangat tipis.


“Emangnya


kenapa kamu nanya seperti itu Amora?”


Amora


mengangkat kepalanya dan menatap Bu Nita yang kini sedang menatapnya


lurus-lurus.


“Nggak


kenapa-napa kok, Ma.”


Bu


Nita menatap Amora tak percaya. Dia tidak semudah itu percaya dengan ucapan


Amora. Ekspresi Amora saat ini sangat tidak meyakinkannya.


“Kamu


jujur sama Mama, kenapa kamu nanya seperti itu? Mama selama ini membesarkan


kamu jadi Mama tahu kalau kamu itu tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Mama.


Cerita sama Mama, Amora.”


“Amora


beneran nggak kenapa-napa kok, Ma. Amora cuma iseng-iseng aja nanya kayak gitu.


Hehe … soalnya Amora pengen liburan ke Malang. Tadi Sila sama Anton cerita


tentang liburan mereka di Malang. Kayaknya seru gitu, Ma. Kapan-kapan kita


liburan ke Malang aja yuk, Ma?” ujar Amora berusaha seantusias mungkin.

__ADS_1


“Hm,


ya sudah, nanti Mama bilang ke papa kamu kalau kamu ingin liburan di Malang.


Semoga aja papa kamu mau!” seru Bu Nita.


“Makasih


Ma …,” sahut Amora antusias dan langsung memeluk Bu Nita.


***


Yogi


melangkah dengan pelan saat berada di ruang tengah di rumahnya.


“Yogi!”


Pekikan


keras itu sontak membuat langkah kaki Yogi berhenti. Dengan malas Yogi


membalikan badannya menghadap asal suara yang sangat dikenalnya itu.


“Ada


apa sih, Pa?” tanyanya malas.


“Kamu


dari mana saja? Sudah tengah malam kamu baru pulang! Dan kenapa kamu tidak


sekolah hari ini?” tanya Pak Andre dengan emosi yang meluap-luap.


Yogi


mengangkat tangannya dengan malas dan mengibaskannya.


“Yogi!


Papa sedang bicara sama kamu!” pekik Pak Andre kesal.


“Aku


capek, aku mau istirahat!” Yogi terus menaiki anak tangga, tanpa mengubris


perkataan papanya.


“Yogi!


Kalau kamu tidak berhenti seperti ini, Papa tidak akan anggap kamu sebagai anak


Papa lagi!” ancam Pak Andre. Kali ini habis sudah kesabarannya.


Yogi


tersenyum tipis mendengar gertakan papanya. Dia sudah kebal dengan segala


gertakan yang dilontarkan papanya sejak dia masih kecil.


“Papa


nggak mau anggap aku anak Papa lagi? Hem, itu, kan emang udah kemauan Papa dari


dulu. Sejak Mama meninggal, Papa udah banyak berubah. Papa kawin lagi dengan


Nia dan lebih sayang dengan Sora ketimbang aku. Yang anak kandung Papa itu


sebenernya Sora atau aku, Pa?” tanya Yogi setenang mungkin. Berusaha tidak


larut dan termakan oleh emosinya.


“Yogi!”


bentak Pak Andre lagi. “Kamu tidak pantas bicara seperti itu. Biar bagaimanapun,


Nia itu sudah menjadi Mama kamu. Dan soal Sora, Papa tidak pernah pilih kasih.


Semua kasih sayang yang Papa berikan, Papa bagi secara merata. Seharusnya kamu


bisa mencontoh sikap Sora. Kerjaan kamu cuma keluyuran dan berfoya-foya. Tidak


pernah berdiam diri di rumah!”


“Udah


ah, Pa. Yogi males diceramahi. Yogi capek. Sora emang lebih baik dari aku, dan


itu juga yang ngebuat Papa pilih kasih.”


“Yogi!”


bentak Pak Andre. Dan tanpa sadar sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yogi.


Yogi


membelalakan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja dia terima. Darah


segar mengalir pelan dari pinggir bibirnya. “Ternyata Papa bener-bener pilih

__ADS_1


kasih!”


__ADS_2