
“Hei?”
“Kenapa?”
“Sora … lo?”
“Amora Sasi Januarja. Lo
bisa manggil gue Amora.”
“A—Amora Sasi?”
“Iya, kenapa?”
“Apa lo dulu pernah
tinggal di Malang?”
“Emangnya ngapain lo
nanyain gue pernah tinggal di Malang atau enggak? Gue nggak pernah tinggal di
Malang.”
“Nama lo sama kayak temen gue. Tapi, orang yang make
nama Sasi kan banyak. Mungkin gue salah ngira aja.”
Amora
duduk merenung di balkon kamarnya. Angin sepoi-sepoi menampar pipi mulusnya.
Percakapan tadi siang dengan Sora masih terngiang-ngiang di benaknya seperti
sebuah rekaman yang sedang diputar berulang-ulang kali.
Apa gue pernah kenal sama Sora sebelumnya, ya? Kok gue
ngerasa familiar banget sama tampangnya?! Tapi, gue kan nggak tahu banyak
tentang masa lalu gue. Tapi, apa bener gue pernah kenal sama Sora?
“Kamu
kenapa, Sayang? Kok melamun?” tanya Bu Nita yang tiba-tiba duduk di samping
Amora.
Amora
sedikit tersentak saat mendengar suara mamanya.
“Eh
Mama, ngagetin aja.”
“Kamu
kenapa, Sayang? Ada masalah?” tanya mamanya sarat perhatian.
Amora
menggeleng pelan.
“Amora
nggak ada masalah kok , Ma. Amora cuma lagi bingung aja.”
“Bingung
kenapa,Sayang? Sama pelajaran di sekolah, ya?”
Lagi-lagi
Amora menggeleng pelan.
“Bukan
kok, Ma. Bukan hal yang penting kok.”
“Kalo
kamu ada masalah, jangan ragu untuk cerita sama Mama,” sahut Bu Nita sambil
mengelus lembut rambut Amora.
“Iya,
Ma.”
Amora
mengembuskan nafpsnya dengan pelan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat
ini. Tapi ia masih ragu untuk mengungkapkan ganjalan di hatinya. Dengan gerakan
lambat Amora memutar kepalanya dan menatap mamanya yang kini sedang tersenyum
menatap langit.
__ADS_1
“Ma
…,” panggilnya pelan.
“Iya?
Kenapa, Sayang?”
“Ehm
….”
“Kenapa?”
“Ehm,
Amora boleh nanya nggak, Ma?” Amora menggigit bibir bawahnya untuk menutupi
kegugupannya.
“Boleh
dong. Mau nanya apa?” tanya Bu Nita antusias.
“Ehm,
tapi jawab jujur, ya, Ma?”
“Iya,
Sayang. Memangnya kamu mau nanya apa?”
“Ehm
… apa dulu kita pernah tinggal di Malang, Ma?” tanya Amora hati-hati. “Apa dulu
sebelum atau sesudah Mama mengadopsi Amora, kita pernah tinggal di Malang?”
“Kita
tidak pernah tinggal di Malang! Dari dulu kita tinggal di Jakarta! Bahkan Mama
mengadopsi kamu di salah satu panti asuhan di Jakarta. Bukan di Malang!” jawab
mamanya cepat dan tegas.
Amora
menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menggigit bibir bawahnya. Udah gue duga, tuh cowok nggak ada
hubungannya sama gue, batin Amora lirih.
kenapa dia merasa sedih saat mendengar jawaban dari mamanya. Jauh di dasar
hatinya dia sangat berharap kalau Sora adalah orang yang berasal dari masa
lalunya. Karena kalau Sora benar-benar orang dari masa lalunya, pasti Amora bisa
mendapat informasi mengenai orangtua kandungnya. Walaupun kemungkinan itu
sangat tipis.
“Emangnya
kenapa kamu nanya seperti itu Amora?”
Amora
mengangkat kepalanya dan menatap Bu Nita yang kini sedang menatapnya
lurus-lurus.
“Nggak
kenapa-napa kok, Ma.”
Bu
Nita menatap Amora tak percaya. Dia tidak semudah itu percaya dengan ucapan
Amora. Ekspresi Amora saat ini sangat tidak meyakinkannya.
“Kamu
jujur sama Mama, kenapa kamu nanya seperti itu? Mama selama ini membesarkan
kamu jadi Mama tahu kalau kamu itu tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Mama.
Cerita sama Mama, Amora.”
“Amora
beneran nggak kenapa-napa kok, Ma. Amora cuma iseng-iseng aja nanya kayak gitu.
Hehe … soalnya Amora pengen liburan ke Malang. Tadi Sila sama Anton cerita
tentang liburan mereka di Malang. Kayaknya seru gitu, Ma. Kapan-kapan kita
liburan ke Malang aja yuk, Ma?” ujar Amora berusaha seantusias mungkin.
__ADS_1
“Hm,
ya sudah, nanti Mama bilang ke papa kamu kalau kamu ingin liburan di Malang.
Semoga aja papa kamu mau!” seru Bu Nita.
“Makasih
Ma …,” sahut Amora antusias dan langsung memeluk Bu Nita.
***
Yogi
melangkah dengan pelan saat berada di ruang tengah di rumahnya.
“Yogi!”
Pekikan
keras itu sontak membuat langkah kaki Yogi berhenti. Dengan malas Yogi
membalikan badannya menghadap asal suara yang sangat dikenalnya itu.
“Ada
apa sih, Pa?” tanyanya malas.
“Kamu
dari mana saja? Sudah tengah malam kamu baru pulang! Dan kenapa kamu tidak
sekolah hari ini?” tanya Pak Andre dengan emosi yang meluap-luap.
Yogi
mengangkat tangannya dengan malas dan mengibaskannya.
“Yogi!
Papa sedang bicara sama kamu!” pekik Pak Andre kesal.
“Aku
capek, aku mau istirahat!” Yogi terus menaiki anak tangga, tanpa mengubris
perkataan papanya.
“Yogi!
Kalau kamu tidak berhenti seperti ini, Papa tidak akan anggap kamu sebagai anak
Papa lagi!” ancam Pak Andre. Kali ini habis sudah kesabarannya.
Yogi
tersenyum tipis mendengar gertakan papanya. Dia sudah kebal dengan segala
gertakan yang dilontarkan papanya sejak dia masih kecil.
“Papa
nggak mau anggap aku anak Papa lagi? Hem, itu, kan emang udah kemauan Papa dari
dulu. Sejak Mama meninggal, Papa udah banyak berubah. Papa kawin lagi dengan
Nia dan lebih sayang dengan Sora ketimbang aku. Yang anak kandung Papa itu
sebenernya Sora atau aku, Pa?” tanya Yogi setenang mungkin. Berusaha tidak
larut dan termakan oleh emosinya.
“Yogi!”
bentak Pak Andre lagi. “Kamu tidak pantas bicara seperti itu. Biar bagaimanapun,
Nia itu sudah menjadi Mama kamu. Dan soal Sora, Papa tidak pernah pilih kasih.
Semua kasih sayang yang Papa berikan, Papa bagi secara merata. Seharusnya kamu
bisa mencontoh sikap Sora. Kerjaan kamu cuma keluyuran dan berfoya-foya. Tidak
pernah berdiam diri di rumah!”
“Udah
ah, Pa. Yogi males diceramahi. Yogi capek. Sora emang lebih baik dari aku, dan
itu juga yang ngebuat Papa pilih kasih.”
“Yogi!”
bentak Pak Andre. Dan tanpa sadar sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yogi.
Yogi
membelalakan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja dia terima. Darah
segar mengalir pelan dari pinggir bibirnya. “Ternyata Papa bener-bener pilih
__ADS_1
kasih!”