
Yogi
menghentikan mobilnya di sebuah taman yang cukup asing untuknya. Entah kenapa
otaknya mengarahkan seluruh anggota tubuhnya untuk menuju tempat ini. Padahal
tadi dia berniat pergi ke bar atau bertamu ke rumah Bram dan teman-temannya yang
lain.
Dengan
malas-malasan akhirnya Yogi membuka pintu mobil lalu turun dari mobilnya. Ada
sedikit sesak di hatinya saat melihat seorang anak laki-laki tengah bermain
bola dengan ayahnya. Yogi merasa kesal karena baru saja dia tiba di tempat ini,
dia sudah disuguhi pemandangan yang membuatnya bergejolak.
Yogi
hendak naik lagi ke mobilnya dan pergi dari tempat ini secepatnya. Tapi
langsung mengurungkan niatnya saat melihat siluet seseorang yang dia kenal
melintas di depannya dengan menggandeng seorang gadis kecil yang
diperkirakannya seumuran dengan Andi.
Kemudian
Yogi mendekati orang itu dengan langkah pelan, nyaris tanpa suara. Entah sadar
atau tidak, sekarang dia tangah menyunggingkan senyumannya yang tak kalah
hangat dari sinar matahari yang memancar di bumi saat ini.
Orang
itu kemudian duduk di salah satu ayunan kayu. Gadis kecil yang tadi digandengnya
ikut duduk di ayunan kayu di samping orang itu. Lagi-lagi Yogi tersenyum melihatnya.
Emosi yang tadi muncul di hatinya seketika langsung menghilang saat melihat
orang itu.
Tak
sengaja orang itu menoleh ke arah Yogi berada sekarang. pandangan mereka berdua
pun saling beradu. Orang itu terlihat kaget dengan kehadiran Yogi. Bahkan orang
itu langsung berdiri dengan ekspresi kaget seperti habis melihat hantu.
“Yogi?!”
kata orang itu tak percaya.
Yogi
tersenyum kecil sambil mengangkat sebelah tangannya.
__ADS_1
“Hai,
Amora,” sapa pemuda itu yang langsung membuat Amora melongo.
Kok cowok ini nyapa gue sih? Aneh banget. Tadi aja dia
bentak-bentak gue. Kok sekarang malah nyapa gue sambil senyum-senyum pula?! Amora tidak habis pikir.
“Ah,
eh, hai juga, Yogi,” balas Amora kikuk. “Lo ngapain ke sini?” tanyanya.
“Gue
tadi lagi jalan-jalan aja. Tapi nggak tahu kenapa gue malah nyasar ke sini,” jawab
Yogi sambil mendekati Amora. “Lo sendiri?” tanyanya balik.
“Ah,
ehm, gue cuma lagi nemenin adik gue main,” jawab Amora. Entah kenapa dia merasa
agak takut saat Yogi mendekatinya seperti ini.
Yogi
lalu menatap gadis kecil yang kata Amora adalah adiknya itu. Senyuman lembut
dia hadiahi untuk gadis kecil yang tengah menatapnya dengan sorot penuh tanda
tanya itu.
“Anti,”
Amora.
“Kenapa,
Kak?”
“Kenalin,
ini teman sekolah Kakak. Namanya Kak Yogi.” Amora menarik tangan Anti dengan
lembut lalu memperkenalkannya dengan Yogi. “Yogi, ini adik gue. Namanya Anti.”
Yogi
tersenyum tipis lalu menjabat tangan mungil Anti dengan antusias. Melihat
senyuman Yogi, Anti langsung mengembangkan senyumannya pada orang yang
dikenalkan Amora sebagai teman satu sekolahnya.
“Adik
lo lucu,” puji Yogi tulus. “Imut, manis.”
“Ehm,
makasih.”
“Walau
__ADS_1
pun nggak seimut lo,” kata Yogi tanpa sadar saat dia menatap Amora.
Amora
langsung tersentak saat Yogi mengatakannya. Matanya membulat maksimal, mulutnya
ternganga.
Barusan dia ngomong apa? Gue nggak salah denger? Dia
tadi … muji gue?
“Lo
tadi ngomong apa barusan?” kata Amora akhirnya.
Yogi
tersentak dan segera mengutuki perkataan yang keluar dari bibirnya tanpa
terkendali lagi. Dengan cepat laki-laki itu menggeleng.
“Gue
nggak ngomong apa-apa kok, lo salah denger kali,” elaknya.
“Tapi,
tadi gue denger, elo ngomong—”
Dengan
cepat Yogi memotong ucapan Amora agar Amora tidak bertanya lebih lanjut. “Makan
es krim yuk. Anti mau?” tanya Yogi pada Anti yang tidak mengerti dengan situasi
yang ada.
Mendengar
salah satu makanan favoritnya disebut, Anti langsung mengangguk antusias.
“Iya,
Kak. Anti mau makan es krim. Yang rasa vanila, ya?” seru Anti dengan mata
berbinar-binar.
Yogi
langsung mengelus puncak kepala Anti penuh kasih. Seperti rasa kasih sayang
dari seorang kakak kepada adiknya. Kemudian Yogi tersenyum dan mengangguk
mantap.
“Iya,
nanti Kakak beliin Anti es krim vanila,” jawab cowok itu yang langsung membuat
Anti memeluknya erat.
“Makasih,
__ADS_1
Kak!” serunya senang.