Tears And Love

Tears And Love
Part Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Yogi


menghentikan mobilnya di sebuah taman yang cukup asing untuknya. Entah kenapa


otaknya mengarahkan seluruh anggota tubuhnya untuk menuju tempat ini. Padahal


tadi dia berniat pergi ke bar atau bertamu ke rumah Bram dan teman-temannya yang


lain.


Dengan


malas-malasan akhirnya Yogi membuka pintu mobil lalu turun dari mobilnya. Ada


sedikit sesak di hatinya saat melihat seorang anak laki-laki tengah bermain


bola dengan ayahnya. Yogi merasa kesal karena baru saja dia tiba di tempat ini,


dia sudah disuguhi pemandangan yang membuatnya bergejolak.


Yogi


hendak naik lagi ke mobilnya dan pergi dari tempat ini secepatnya. Tapi


langsung mengurungkan niatnya saat melihat siluet seseorang yang dia kenal


melintas di depannya dengan menggandeng seorang gadis kecil yang


diperkirakannya seumuran dengan Andi.


Kemudian


Yogi mendekati orang itu dengan langkah pelan, nyaris tanpa suara. Entah sadar


atau tidak, sekarang dia tangah menyunggingkan senyumannya yang tak kalah


hangat dari sinar matahari yang memancar di bumi saat ini.


Orang


itu kemudian duduk di salah satu ayunan kayu. Gadis kecil yang tadi digandengnya


ikut duduk di ayunan kayu di samping orang itu. Lagi-lagi Yogi tersenyum melihatnya.


Emosi yang tadi muncul di hatinya seketika langsung menghilang saat melihat


orang itu.


Tak


sengaja orang itu menoleh ke arah Yogi berada sekarang. pandangan mereka berdua


pun saling beradu. Orang itu terlihat kaget dengan kehadiran Yogi. Bahkan orang


itu langsung berdiri dengan ekspresi kaget seperti habis melihat hantu.


“Yogi?!”


kata orang itu tak percaya.


Yogi


tersenyum kecil sambil mengangkat sebelah tangannya.

__ADS_1


“Hai,


Amora,” sapa pemuda itu yang langsung membuat Amora melongo.


Kok cowok ini nyapa gue sih? Aneh banget. Tadi aja dia


bentak-bentak gue. Kok sekarang malah nyapa gue sambil senyum-senyum pula?!  Amora tidak habis pikir.


“Ah,


eh, hai juga, Yogi,” balas Amora kikuk. “Lo ngapain ke sini?” tanyanya.


“Gue


tadi lagi jalan-jalan aja. Tapi nggak tahu kenapa gue malah nyasar ke sini,” jawab


Yogi sambil mendekati Amora. “Lo sendiri?” tanyanya balik.


“Ah,


ehm, gue cuma lagi nemenin adik gue main,” jawab Amora. Entah kenapa dia merasa


agak takut saat Yogi mendekatinya seperti ini.


Yogi


lalu menatap gadis kecil yang kata Amora adalah adiknya itu. Senyuman lembut


dia hadiahi untuk gadis kecil yang tengah menatapnya dengan sorot penuh tanda


tanya itu.


“Anti,”


Amora.


“Kenapa,


Kak?”


“Kenalin,


ini teman sekolah Kakak. Namanya Kak Yogi.” Amora menarik tangan Anti dengan


lembut lalu memperkenalkannya dengan Yogi. “Yogi, ini adik gue. Namanya Anti.”


Yogi


tersenyum tipis lalu menjabat tangan mungil Anti dengan antusias. Melihat


senyuman Yogi, Anti langsung mengembangkan senyumannya pada orang yang


dikenalkan Amora sebagai teman satu sekolahnya.


“Adik


lo lucu,” puji Yogi tulus. “Imut, manis.”


“Ehm,


makasih.”


“Walau

__ADS_1


pun nggak seimut lo,” kata Yogi tanpa sadar saat dia menatap Amora.


Amora


langsung tersentak saat Yogi mengatakannya. Matanya membulat maksimal, mulutnya


ternganga.


Barusan dia ngomong apa? Gue nggak salah denger? Dia


tadi … muji gue?


“Lo


tadi ngomong apa barusan?” kata Amora akhirnya.


Yogi


tersentak dan segera mengutuki perkataan yang keluar dari bibirnya tanpa


terkendali lagi. Dengan cepat laki-laki itu menggeleng.


“Gue


nggak ngomong apa-apa kok, lo salah denger kali,” elaknya.


“Tapi,


tadi gue denger, elo ngomong—”


Dengan


cepat Yogi memotong ucapan Amora agar Amora tidak bertanya lebih lanjut. “Makan


es krim yuk. Anti mau?” tanya Yogi pada Anti yang tidak mengerti dengan situasi


yang ada.


Mendengar


salah satu makanan favoritnya disebut, Anti langsung mengangguk antusias.


“Iya,


Kak. Anti mau makan es krim. Yang rasa vanila, ya?” seru Anti dengan mata


berbinar-binar.


Yogi


langsung mengelus puncak kepala Anti penuh kasih. Seperti rasa kasih sayang


dari seorang kakak kepada adiknya. Kemudian Yogi tersenyum dan mengangguk


mantap.


“Iya,


nanti Kakak beliin Anti es krim vanila,” jawab cowok itu yang langsung membuat


Anti memeluknya erat.


“Makasih,

__ADS_1


Kak!” serunya senang.


__ADS_2