
Mencoba menghalau sakit yang datang bertubi-tubi, Sora pamit ke toilet pada guru yang mengajar. Sepertinya ia butuh untuk mencuci wajah, dengan harapan bayangan akan sosok Amora turut menghilang seiring dengan air yang membasahi wajahnya nanti.
Namun harapan Sora seketika hancur tatkala pemuda itu melihat seorang gadis yang tersenyum ke arahnya.
"Amora?" bisik Sora lirih.
Sora memejamkan mata, berharap semua hanya ilusi. Benar saja, saat Sora membuka mata, sosok tersebut sudah hilang entah ke mana.
"Sial!" maki Sora. Tanpa sadar meninju dinding di dekatnya.
***
"Lo yakin nggak pulang bareng gue?" tanya Yogi sekali lagi.
Pemuda itu sudah mengajak Sora untuk pulang bersama, seperti tadi pagi. Namun Sora menolak ajakan tersebut dengan alasan ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.
"Iya, 'kan gue udah ngasih tahu elo kalau gue--"
__ADS_1
"Iya, iya," potong Yogi, setengah malas. "Ya udah kalau gitu, gue duluan."
Pemuda itu pun masuk ke dalam mobil. Tak berselang lama setelah mesin mobil dihidupkan, ia pun berlalu dari parkiran sekolah. Menatap kepergian Yogi, senyum tipis tergaris di wajah Sora.
Sebenarnya, Yogi sudah menebak tempat yang akan dituju Sora. Namun ia terlalu masa bodoh untuk mengorek lebih jauh. Ia ingin membiarkan Sora memiliki waktu sendiri untuk dirinya. Karena itu, saat Sora menolak ajakannya untuk pulang bersama, Yogi tidak terlalu memaksa.
Melangkah pelan, Sora mendekati gerbang sekolah yang cukup ramai. Para siswa yang menunggu jemputan atau sekadar merumpi membuat gerbang kini beralih fungsi bak sebuah pasar.
Merogoh ponsel dari saku celana, Sora pun membuka aplikasi transportasi daring. Setelah mengetikkan alamat yang dituju, ia membiarkan aplikasi mencari driver. Tidak butuh lama bagi Sora untuk mendapatkan driver yang akan mengantar ke tempat tujuan.
Sekitar sepuluh menit kemudian Sora sudah naik di boncengan motor sang driver. Membelah jalanan di bawah terik sinar matahari.
"Oh, boleh."
"Makasih, Bang," ucap Sora tulus. Kembali senyum kecil terbit di wajah pemuda itu.
Sesuai permintaan Sora, sang driver menghentikan motornya di depan sebuah florist. Tanpa membuang waktu Sora masuk ke sana dan membeli tujuh tangkai mawar putih. Menghidu aromanya, ada sesak yang menyempil di sudut hati lelaki itu.
__ADS_1
Menggeleng pelan sembari berusaha menerbitkan senyum, Sora menghalau rasa sesak itu. Setelah menyelesaikan transaksi, pemuda itu kembali meneruskan perjalanan.
Lokasi yang dituju Sora terlihat sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang juga membawa buket bunga, seperti dirinya.
Mencoba mengingat di mana arah menuju tempat seseorang beristirahat dengan tenang, Sora mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak lama, ia pun membawa langkah menuju jalan lurus di sebelah kanan yang dinaungi beberapa pohon kamboja.
Langkah kaki Sora terhenti di depan sebuah gundukan tanah. Nisan yang tertancap di atasnya menjadi penanda raga yang telah terbaring di dalam sana.
Berjongkok, Sora membelai nisan tersebut. Merabai ukiran nama seseorang yang begitu menyukai bunga mawar putih.
Sasi Amora (Amora Sasi Januarja)
Nama yang tertulis di sana memang sudah melalui proses kesepakatan antara Nia dan Nita. Karena sampai kapanpun nama asli Amora adalah Sasi Amora, sedangkan Nita masih menganggap Amora sebagai bagian dari keluarga Januarja.
"Ra, aku bawain bunga buat kamu," ucap Sora sendu. "Kamu apa kabar di sana? Baik-baik aja, 'kan?"
Meletakkan buket bunganya, tanpa sedetik pun melepas pandangan dari nisan Amora.
__ADS_1
"Ternyata kali ini lebih sakit kehilangan kamu, Ra. Karena kamu tidak akan bisa aku lihat lagi selamanya."