
Yogi
langsung melemparkan tasnya ke atas meja belajar secara sembarangan sampai-sampai
bukunya terjatuh di lantai. Kemudian dia menghempaskan tubuhnya di atas
kasurnya yang empuk. Tangan dan kakinya dia rentangkan lebar-lebar. Matanya
menatap lurus langit-langit kamarnya. Sebuah senyuman lebar tercetak jelas di
wajahnya.
Kemudian
pemuda itu langsung memutar tubuhnya ke kanan. Matanya langsung tersaji sebuah
pemandangan yang sangat indah dari balik jendela kamarnya. Awan yang berarak
pelan di sekitar langit. Dedaunan yang bergoyang pelan karena tertiup angin.
Lagi-lagi Yogi tersenyum lebar saat melihatnya.
“Amora
…,” ucapnya pelan tanpa sadar.
Yogi
memejamkan matanya mencoba mengingat lekuk wajah seseorang yang entah kenapa
sangat menarik perhatiannya. Yogi ingat betul raut wajah gadis itu ketika
tengah tersenyum dan bahkan saat dia terlihat kesal karena tadi Yogi membentaknya.
Yogi
tersenyum samar saat membayangkan gadis itu tersenyum. Seakan-akan gadis itu berdiri
di depannya dan tengah tersenyum padanya. Yogi merasa ada sesuatu di dirinya
yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Seperti orang gila yang tidak pernah
berhenti untuk tersenyum.
Sangat
aneh untuk seorang Yogi yang jarang untuk tersenyum.
Yogi
tidak percaya bahwa perasaannya yang selalu senang saat melihat Amora adalah
perasaan yang sering disebut-sebut sebagai cinta. Yogi sangat meyakini kalau
perasaan ini adalah sebatas rasa kagum karena senyuman Amora.
Lo suka sama dia. Lo cinta sama dia.
Yogi
membuka matanya perlahan. Kemudian dia menggeleng pelan sambil meringis. Dengan
sekuat tenaga dia mencoba menghalau pikirannya yang terlalu jauh karena
pertemuannya dengan Amora. Yogi menarik sebelah sudut bibirnya.
“Mana
mungkin gue cinta sama cewek itu,” bisiknya pelan.
Yogi
menutup matanya kembali sampai alam mimpi membawanya kabur dari dunia nyata.
***
Sora
sudah menunggu Amora di dekat mobilnya. Dia sengaja menunggu Amora karena ingin
mengantarnya pulang. Amora agak sedikit lama keluar dari kelas karena tugas
piketnya yang mengharuskannya menunda jadwal kepulangannya ke rumah.
Setelah
sekian lama menunggu, akhirnya Sora melihat Amora yang sedang berjalan di koridor
kelasnya. Amora tidak sendirian, di sampingnya berdiri Tania yang memang
mempunyai jadwal piket yang sama dengan gadis itu.
Dua
__ADS_1
gadis itu terlihat tengah terlibat dalam sebuah obrolan yang sepertinya menarik
bagi keduanya. Bahkan Sora dapat melihat jelas dua gadis itu saling melepaskan
tawanya. Sora juga dapat melihat jelas senyuman di mata Amora.
Dengan
langkah pelan Sora berjalan mendekati Amora. Mendekati gadis yang sangat ingin
dia gali informasi mengenai gadis itu. Mencari tahu agar hatinya merasa tenang dan
lega. Tidak galau seperti saat ini. Sebuah senyuman yang lembut tidak pernah
pudar dari wajah Sora. Kedua tangan pemuda itu dimasukkan ke saku celananya.
Menambah kesan cool pada diri pemuda
itu.
Amora
menghentikan langkahnya saat melihat Sora kini tengah berdiri di depannya.
Begitu juga dengan Tania yang masih setia berdiri di sampingnya. Tanpa ragu
Amora membalas senyuman Sora dengan ramah.
“Belum
pulang?” tanya Amora.
Sora
menggeleng tanpa sekalipun melepaskan pandangan matanya dari wajah Amora. Tania
yang melihat itu langsung berpura-pura tersedak. Kemudian dia tersenyum kecil saat
Amora dan Sora langsung menoleh ke arahnya.
“Lo
sakit?” tanya Amora khawatir.
Tania
langsung menggeleng sambil tersenyum. Menunjukkan deretan giginya yang putih
dan tersusun rapi.
banget. Uhuk … jadi batuk, deh. Uhuk!” jawab Tania sambil pura-pura batuk.
Amora
mengangguk mengerti sambil menggumam pelan. Kemudian gadis itu kembali menatap
Sora yang masih setia berdiri di depannya dengan menyunggingkan senyuman
manisnya. Amora langsung terpaku melihat senyuman itu. Tiba-tiba darahnya
mengalir deras. Jantung berdetak cepat.
Amora
langsung menggeleng kuat. Mencoba menghilangkan semua keanehan yang ada di dalam
dirinya. Keanehan yang tiba-tiba muncul setiap kali melihat Sora, seperti saat
ini. Dengan susah payah, akhirnya Amora membuka suaranya.
“Kok
lo belum pulang? Kan bel udah bunyi dari tadi. Anak-anak juga udah pulang dari
tadi. Kalo pun ada, itu juga anak-anak yang lagi piket kelas sama anak-anak yang
lagi kumpul-kumpul eskul,” kejar Amora.
Sora
tersenyum kecil sambil menggaruk telinganya. Dia kelihatan salah tingkah. Tania
langsung mencoba menahan tawanya agar tidak meledak saat melihat rona merah di
pipi Sora. Kayaknya nih cowok suka sama sahabat gue deh, pikir Tania sambil tersenyum.
“Ehm,
sebenarnya …,” kata Sora sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Duh, kok gue jadi grogi gini, sih?
“Sebenarnya
apa?” tanya Amora bingung.
__ADS_1
Sora
terdiam, tiba-tiba lidahnya terasa kelu untuk digerakkan. Dia benar-benar merasa
bodoh saat ini.
“Lo
mau ngajak Amora pulang bareng sama elo, kan?” tembak Tania langsung. Tania
sedikit kesal dan geregetan karena Sora seperti susah sekali untuk mengatakan
maksudnya menghampiri Amora saat ini.
Amora
langsung membelalak kaget. Sedangkan Sora hanya tersenyum kikuk.
“Ehm,
iya. Sebenernya gue mau ngajak lo pulang bareng gue,” ucap Sora akhirnya. Dalam
hati dia memaki tindakannya yang sangat sulit mengutarakan niatnya yang sangat
mudah diucapkan ini.
Amora
langsung menatap Tania penuh arti. Tania yang melihat sahabatnya tengah menatapnya
sedemikian rupa langsung mengangguk sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Udah,
Sora baik kok,” bisik Tania pelan. Jadi kemungkinan besar Sora tidak akan
mendengar ucapannya.
Amora
terlihat seperti sedang berpikir. Gadis itu lalu menatap Sora yang tak pernah
dia ketahui sedang komat-kamit dalam hatinya. Jangan bertindak bodoh Sora. Jangan kelihatan bego di depan Amora.
Jangan bertingkah yang aneh-aneh sehingga membuat elo jelek di mata cewek yang
elo suka.
Sora
tertegun beberapa saat. Dia seperti menyadari apa yang baru saja dia katakan
dalam hati. Apa bener gue suka sama
Amora?
Amora
menatap Sora sambil tersenyum kemudian dia langsung mengangguk.
“Tan,
gue pulang duluan, ya, sama Sora?” pamit Amora sambil mengamit lengan Sora
tanpa sadar. Melihat itu Tania langsung senyum-senyum tidak jelas.
“Iya,
hati-hati di jalan, ya,” goda Tania sambil pura-pura batuk lagi.
Amora
yang mengerti tindakan Tania langsung menjauhkan tangannya dari lengan Sora.
Wajahnya langsung bersemu merah karena ulahnya sendiri.
“Eh,
sori, ya. Gue nggak sengaja,” kata Amora kikuk.
Sora
mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Ah,
nggak pa-pa kok,” jawabnya.
Amora
tidak tahu dan tidak akan pernah tahu bahwa sekarang jantung Sora berdegup kencang.
Sama seperti jantungnya yang selalu berdegup kencang karena dirasuki oleh sebuah
__ADS_1
perasaan halus yang belum pernah mau dia akui apa namanya.