Tears And Love

Tears And Love
Part Dua Puluh Satu


__ADS_3

Yogi


langsung melemparkan tasnya ke atas meja belajar secara sembarangan sampai-sampai


bukunya terjatuh di lantai. Kemudian dia menghempaskan tubuhnya di atas


kasurnya yang empuk. Tangan dan kakinya dia rentangkan lebar-lebar. Matanya


menatap lurus langit-langit kamarnya. Sebuah senyuman lebar tercetak jelas di


wajahnya.


Kemudian


pemuda itu langsung memutar tubuhnya ke kanan. Matanya langsung tersaji sebuah


pemandangan yang sangat indah dari balik jendela kamarnya. Awan yang berarak


pelan di sekitar langit. Dedaunan yang bergoyang pelan karena tertiup angin.


Lagi-lagi Yogi tersenyum lebar saat melihatnya.


“Amora


…,” ucapnya pelan tanpa sadar.


Yogi


memejamkan matanya mencoba mengingat lekuk wajah seseorang yang entah kenapa


sangat menarik perhatiannya. Yogi ingat betul raut wajah gadis itu ketika


tengah tersenyum dan bahkan saat dia terlihat kesal karena tadi Yogi membentaknya.


Yogi


tersenyum samar saat membayangkan gadis itu tersenyum. Seakan-akan gadis itu berdiri


di depannya dan tengah tersenyum padanya. Yogi merasa ada sesuatu di dirinya


yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Seperti orang gila yang tidak pernah


berhenti untuk tersenyum.


Sangat


aneh untuk seorang Yogi yang jarang untuk tersenyum.


Yogi


tidak percaya bahwa perasaannya yang selalu senang saat melihat Amora adalah


perasaan yang sering disebut-sebut sebagai cinta. Yogi sangat meyakini kalau


perasaan ini adalah sebatas rasa kagum karena senyuman Amora.


Lo suka sama dia. Lo cinta sama dia.


Yogi


membuka matanya perlahan. Kemudian dia menggeleng pelan sambil meringis. Dengan


sekuat tenaga dia mencoba menghalau pikirannya yang terlalu jauh karena


pertemuannya dengan Amora. Yogi menarik sebelah sudut bibirnya.


“Mana


mungkin gue cinta sama cewek itu,” bisiknya pelan.


Yogi


menutup matanya kembali sampai alam mimpi membawanya kabur dari dunia nyata.


***


Sora


sudah menunggu Amora di dekat mobilnya. Dia sengaja menunggu Amora karena ingin


mengantarnya pulang. Amora agak sedikit lama keluar dari kelas karena tugas


piketnya yang mengharuskannya menunda jadwal kepulangannya ke rumah.


Setelah


sekian lama menunggu, akhirnya Sora melihat Amora yang sedang berjalan di koridor


kelasnya. Amora tidak sendirian, di sampingnya berdiri Tania yang memang


mempunyai jadwal piket yang sama dengan gadis itu.


Dua

__ADS_1


gadis itu terlihat tengah terlibat dalam sebuah obrolan yang sepertinya menarik


bagi keduanya. Bahkan Sora dapat melihat jelas dua gadis itu saling melepaskan


tawanya. Sora juga dapat melihat jelas senyuman di mata Amora.


Dengan


langkah pelan Sora berjalan mendekati Amora. Mendekati gadis yang sangat ingin


dia gali informasi mengenai gadis itu. Mencari tahu agar hatinya merasa tenang dan


lega. Tidak galau seperti saat ini. Sebuah senyuman yang lembut tidak pernah


pudar dari wajah Sora. Kedua tangan pemuda itu dimasukkan ke saku celananya.


Menambah kesan cool pada diri pemuda


itu.


Amora


menghentikan langkahnya saat melihat Sora kini tengah berdiri di depannya.


Begitu juga dengan Tania yang masih setia berdiri di sampingnya. Tanpa ragu


Amora membalas senyuman Sora dengan ramah.


“Belum


pulang?” tanya Amora.


Sora


menggeleng tanpa sekalipun melepaskan pandangan matanya dari wajah Amora. Tania


yang melihat itu langsung berpura-pura tersedak. Kemudian dia tersenyum kecil saat


Amora dan Sora langsung menoleh ke arahnya.


“Lo


sakit?” tanya Amora khawatir.


Tania


langsung menggeleng sambil tersenyum. Menunjukkan deretan giginya yang putih


dan tersusun rapi.


banget. Uhuk … jadi batuk, deh. Uhuk!” jawab Tania sambil pura-pura batuk.


Amora


mengangguk mengerti sambil menggumam pelan. Kemudian gadis itu kembali menatap


Sora yang masih setia berdiri di depannya dengan menyunggingkan senyuman


manisnya. Amora langsung terpaku melihat senyuman itu. Tiba-tiba darahnya


mengalir deras. Jantung berdetak cepat.


Amora


langsung menggeleng kuat. Mencoba menghilangkan semua keanehan yang ada di dalam


dirinya. Keanehan yang tiba-tiba muncul setiap kali melihat Sora, seperti saat


ini. Dengan susah payah, akhirnya Amora membuka suaranya.


“Kok


lo belum pulang? Kan bel udah bunyi dari tadi. Anak-anak juga udah pulang dari


tadi. Kalo pun ada, itu juga anak-anak yang lagi piket kelas sama anak-anak yang


lagi kumpul-kumpul eskul,” kejar Amora.


Sora


tersenyum kecil sambil menggaruk telinganya. Dia kelihatan salah tingkah. Tania


langsung mencoba menahan tawanya agar tidak meledak saat melihat rona merah di


pipi Sora. Kayaknya nih cowok suka sama sahabat gue deh, pikir Tania sambil tersenyum.


“Ehm,


sebenarnya …,” kata Sora sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Duh, kok gue jadi grogi gini, sih?


“Sebenarnya


apa?” tanya Amora bingung.

__ADS_1


Sora


terdiam, tiba-tiba lidahnya terasa kelu untuk digerakkan. Dia benar-benar merasa


bodoh saat ini.


“Lo


mau ngajak Amora pulang bareng sama elo, kan?” tembak Tania langsung. Tania


sedikit kesal dan geregetan karena Sora seperti susah sekali untuk mengatakan


maksudnya menghampiri Amora saat ini.


Amora


langsung membelalak kaget. Sedangkan Sora hanya tersenyum kikuk.


“Ehm,


iya. Sebenernya gue mau ngajak lo pulang bareng gue,” ucap Sora akhirnya. Dalam


hati dia memaki tindakannya yang sangat sulit mengutarakan niatnya yang sangat


mudah diucapkan ini.


Amora


langsung menatap Tania penuh arti. Tania yang melihat sahabatnya tengah menatapnya


sedemikian rupa langsung mengangguk sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Udah,


Sora baik kok,” bisik Tania pelan. Jadi kemungkinan besar Sora tidak akan


mendengar ucapannya.


Amora


terlihat seperti sedang berpikir. Gadis itu lalu menatap Sora yang tak pernah


dia ketahui sedang komat-kamit dalam hatinya. Jangan bertindak bodoh Sora. Jangan kelihatan bego di depan Amora.


Jangan bertingkah yang aneh-aneh sehingga membuat elo jelek di mata cewek yang


elo suka.


Sora


tertegun beberapa saat. Dia seperti menyadari apa yang baru saja dia katakan


dalam hati. Apa bener gue suka sama


Amora?


Amora


menatap Sora sambil tersenyum kemudian dia langsung mengangguk.


“Tan,


gue pulang duluan, ya, sama Sora?” pamit Amora sambil mengamit lengan Sora


tanpa sadar. Melihat itu Tania langsung senyum-senyum tidak jelas.


“Iya,


hati-hati di jalan, ya,” goda Tania sambil pura-pura batuk lagi.


Amora


yang mengerti tindakan Tania langsung menjauhkan tangannya dari lengan Sora.


Wajahnya langsung bersemu merah karena ulahnya sendiri.


“Eh,


sori, ya. Gue nggak sengaja,” kata Amora kikuk.


Sora


mengangguk sambil tersenyum tipis.


“Ah,


nggak pa-pa kok,” jawabnya.


Amora


tidak tahu dan tidak akan pernah tahu bahwa sekarang jantung Sora berdegup kencang.


Sama seperti jantungnya yang selalu berdegup kencang karena dirasuki oleh sebuah

__ADS_1


perasaan halus yang belum pernah mau dia akui apa namanya.


__ADS_2