
Minggu
pagi yang tidak begitu cerah. Rintik-rintik hujan terdengar jelas sedari subuh.
Hawa dingin yang kuat serasa mematikan saat menyentuh kulit dan terasa hingga
ke tulang. Amora yang sedari tadi duduk di pinggir jendela kamarnya sambil
melihat rintik-rintik hujan langsung berdiri saat mendengar suara ketukan pelan
di pintu kamarnya.
“Kak,
ada temen Kakak tuh di bawah,” kata Anti setelah Amora membuka pintu kamarnya.
“Teman?
Siapa?” tanya Amora sambil mengernyitkan dahinya. Hujan-hujan gini masih ada yang mau keluar rumah? pikirnya.
“Nggak
tahu, tapi bukan Kakak yang beliin Anti es krim vanilla.” Anti mengangkat
bahunya sebelum berbalik dan meninggalkan Amora yang bingung.
Amora
kemudian langsung menuju ruang tamunya. Amora dapat melihat jelas siluet seseorang
yang kini duduk di ruang tamunya dengan membelakanginya.
“Siapa,
ya?” tanya Amora saat berada di dekat orang tersebut.
Orang
tersebut mengangkat kepalanya dan menatap Amora dengan senyuman lebar. Amora
terbelalak kaget saat melihat wajah tamunya. Orang tersebut kemudian berdiri dan
menatap Amora dengan sorot yang penuh kelembutan.
“Pagi,
maaf gue bertamu pas ujan-ujan gini,” ujar Sora yang tidak pernah berhenti
tersenyum.
“Ah,
nggak pa-pa kok. Duduk, Ra,” ucap Amora sambil duduk di sofa yang berada tepat
di depan Sora. Sora mengangguk kecil dan kembali duduk di tempatnya tadi.
“Sebenarnya
tadi gue mau ngajak elo ke toko buku.
Tapi ternyata malah hujan.”
“Emangnya
elo mau nyari buku apa?” tanya Amora. Dia sedikit tertarik saat mendengar Sora
mengucapkan toko buku. Kebetulan dia ingin membeli beberapa novel untuk
mengurangi rasa suntuknya di rumah.
__ADS_1
“Sebenernya
gue sih mau nyari buku tentang menajemen. Tapi kalo ada buku yang menarik, gue
mau beli juga. Hehe.”
“Ehm,
toko buku, ya? Kebetulan gue juga mau beli novel. Jadi sekalian aja,” kata Amora
antusias. Kemudian gadis itu berdiri dari duduknya. “Tunggu bentar, ya. Gue mau
ambil jaket sama dompet. Sekalian pamit sama nyokap gue.”
Sora
mengangguk pelan dan membiarkan gadis itu meninggalkannya. Kemudian Sora berdiri
dan mendekatkan kakinya mendekati sebuah buffet yang memajang beberapa pigura
foto dengan rapi.
Sora
tersenyum kecil saat melihat wajah Amora yang tengah tersenyum lebar sambil
memangku adiknya. Tadi Sora sempat bertemu dengan adik Amora, dan dia memperkenalkan
dirinya sebagai Anti. Tak sengaja mata Sora berhenti di salah satu pigura yang
berwarna coklat tua.
Sora
melotot tajam saat melihat wajah seorang anak perempuan di dalam foto itu. Sora
kemudian mengambil pigura itu dan menatap wajah anak perempuan itu lekat-lekat.
bergantian foto itu dengan foto yang ada di dalam ponselnya.
Benar-benar mirip. Jadi apa dugaan gue selama ini
benar? Bahwa Amora adalah Sasi?
“Liatin
apa, Ra?” tanya Amora yang kini sudah berada di belakang Sora.
Sora
langsung mengembalikan pigura itu ke tempatnya semula dan menatap Amora. Ada
rasa senang di dalam hatinya saat mengetahui sesuatu hal yang sangat dia yakini
sejak awal pertemuannya dengan Amora.
“Liatin
foto kamu,” jawab Sora sambil berusaha untuk tersenyum.
“Oh,
ya udah. Jadi nggak perginya? Pergi sekarang aja, ya?”
***
Yogi
keluar dari rumahnya dengan mengendap-ngendap. Kunci mobil sudah berada di
__ADS_1
genggaman tangan kirinya. Dengan sangat hati-hati dia membuka pintu rumahnya dan
perlahan-lahan mendekati sedan berwarna silver metalik di depannya. Yogi melihat
ke sekelilingnya. Setelah dirasa aman, Yogi langsung masuk dan memelesat
meninggalkan rumahnya dengan cepat.
Yogi
tidak tahu kenapa dia ingin sekali ke rumah Amora saat ini. Bertamu atau setidaknya
berbasa-basi dengannya. Dia juga bingung kenapa saat melihat gadis itu dia
merasa ada yang berbeda dengannya. Apakah ini yang namanya cinta? Jangan
tanyakan! Karena Yogi sendiri tidak tahu apa jawabannya.
Yogi
menghentikan mobilnya saat melihat Amora memasuki sebuah mobil yang sangat dia
kenal. Yogi semakin membelalakan matanya saat melihat Sora yang berdiri di
dekat gadis itu sambil membukakan pintu mobil untuknya. Yogi mengertakkan
giginya saat melihat mobil Sora pergi ke arah yang berbeda.
Dengan
kesal Yogi memukul setir mobilnya sampai klaksonnya berbunyi nyaring. Dengan
masih dibalut emosi Yogi memutar mobilnya lalu pergi dari tempat itu. Dia
merasa benar-benar kesal saat melihat Sora yang tengah bersama Amora. Dada Yogi
semakin sesak saat melihat keakraban yang terjalin di antara keduanya.
“Kenapa
selalu Sora? Kenapa selalu dia?” pekiknya kesal.
Yogi
memarkirkan mobilnya di tepi jalan yang sepi. Dengan kesal dia menjerit sambil
menjambak rambutnya dengan frustrasi. Berkali-kali dia memukul-mukul stirnya
sampai tangannya terasa sakit dan perih. Mata Yogi kini mulai terasa panas.
“Kenapa
selalu dia yang berada di depan gue? Kenapa dia yang selalu selangkah lebih
maju dari gue? Di saat gue mulai menyadari kalo gue cinta sama Amora, kenapa
malah dia yang ada di dekat Amora? Kenapa bukan gue???”
Yogi
tidak tahu lagi apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Akhirnya dia
memutuskan untuk minum-minum sebanyak mungkin untuk menghilangkan rasa sesak di
dadanya. Berharap bayangan gadis itu menghilang dari otak dan hatinya.
Yogi
menatap gelas di tangannya dan meremas gelas itu dengan kuat. Seolah gelas di
__ADS_1
genggamannya itu adalah Sora. “Kenapa gue harus selalu di bawah elo, Sora?”