Tears And Love

Tears And Love
Part Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Minggu


pagi yang tidak begitu cerah. Rintik-rintik hujan terdengar jelas sedari subuh.


Hawa dingin yang kuat serasa mematikan saat menyentuh kulit dan terasa hingga


ke tulang. Amora yang sedari tadi duduk di pinggir jendela kamarnya sambil


melihat rintik-rintik hujan langsung berdiri saat mendengar suara ketukan pelan


di pintu kamarnya.


“Kak,


ada temen Kakak tuh di bawah,” kata Anti setelah Amora membuka pintu kamarnya.


“Teman?


Siapa?” tanya Amora sambil mengernyitkan dahinya. Hujan-hujan gini masih ada yang mau keluar rumah? pikirnya.


“Nggak


tahu, tapi bukan Kakak yang beliin Anti es krim vanilla.” Anti mengangkat


bahunya sebelum berbalik dan meninggalkan Amora yang bingung.


Amora


kemudian langsung menuju ruang tamunya. Amora dapat melihat jelas siluet seseorang


yang kini duduk di ruang tamunya dengan membelakanginya.


“Siapa,


ya?” tanya Amora saat berada di dekat orang tersebut.


Orang


tersebut mengangkat kepalanya dan menatap Amora dengan senyuman lebar. Amora


terbelalak kaget saat melihat wajah tamunya. Orang tersebut kemudian berdiri dan


menatap Amora dengan sorot yang penuh kelembutan.


“Pagi,


maaf gue bertamu pas ujan-ujan gini,” ujar Sora yang tidak pernah berhenti


tersenyum.


“Ah,


nggak pa-pa kok. Duduk, Ra,” ucap Amora sambil duduk di sofa yang berada tepat


di depan Sora. Sora mengangguk kecil dan kembali duduk di tempatnya tadi.


“Sebenarnya


tadi gue mau  ngajak elo ke toko buku.


Tapi ternyata malah hujan.”


“Emangnya


elo mau nyari buku apa?” tanya Amora. Dia sedikit tertarik saat mendengar Sora


mengucapkan toko buku. Kebetulan dia ingin membeli beberapa novel untuk


mengurangi rasa suntuknya di rumah.

__ADS_1


“Sebenernya


gue sih mau nyari buku tentang menajemen. Tapi kalo ada buku yang menarik, gue


mau beli juga. Hehe.”


“Ehm,


toko buku, ya? Kebetulan gue juga mau beli novel. Jadi sekalian aja,” kata Amora


antusias. Kemudian gadis itu berdiri dari duduknya. “Tunggu bentar, ya. Gue mau


ambil jaket sama dompet. Sekalian pamit sama nyokap gue.”


Sora


mengangguk pelan dan membiarkan gadis itu meninggalkannya. Kemudian Sora berdiri


dan mendekatkan kakinya mendekati sebuah buffet yang memajang beberapa pigura


foto dengan rapi.


Sora


tersenyum kecil saat melihat wajah Amora yang tengah tersenyum lebar sambil


memangku adiknya. Tadi Sora sempat bertemu dengan adik Amora, dan dia memperkenalkan


dirinya sebagai Anti. Tak sengaja mata Sora berhenti di salah satu pigura yang


berwarna coklat tua.


Sora


melotot tajam saat melihat wajah seorang anak perempuan di dalam foto itu. Sora


kemudian mengambil pigura itu dan menatap wajah anak perempuan itu lekat-lekat.


bergantian foto itu dengan foto yang ada di dalam ponselnya.


Benar-benar mirip. Jadi apa dugaan gue selama ini


benar? Bahwa Amora adalah Sasi?


“Liatin


apa, Ra?” tanya Amora yang kini sudah berada di belakang Sora.


Sora


langsung mengembalikan pigura itu ke tempatnya semula dan menatap Amora. Ada


rasa senang di dalam hatinya saat mengetahui sesuatu hal yang sangat dia yakini


sejak awal pertemuannya dengan Amora.


“Liatin


foto kamu,” jawab Sora sambil berusaha untuk tersenyum.


“Oh,


ya udah. Jadi nggak perginya? Pergi sekarang aja, ya?”


***


Yogi


keluar dari rumahnya dengan mengendap-ngendap. Kunci mobil sudah berada di

__ADS_1


genggaman tangan kirinya. Dengan sangat hati-hati dia membuka pintu rumahnya dan


perlahan-lahan mendekati sedan berwarna silver metalik di depannya. Yogi melihat


ke sekelilingnya. Setelah dirasa aman, Yogi langsung masuk dan memelesat


meninggalkan rumahnya dengan cepat.


Yogi


tidak tahu kenapa dia ingin sekali ke rumah Amora saat ini. Bertamu atau setidaknya


berbasa-basi dengannya. Dia juga bingung kenapa saat melihat gadis itu dia


merasa ada yang berbeda dengannya. Apakah ini yang namanya cinta? Jangan


tanyakan! Karena Yogi sendiri tidak tahu apa jawabannya.


Yogi


menghentikan mobilnya saat melihat Amora memasuki sebuah mobil yang sangat dia


kenal. Yogi semakin membelalakan matanya saat melihat Sora yang berdiri di


dekat gadis itu sambil membukakan pintu mobil untuknya. Yogi mengertakkan


giginya saat melihat mobil Sora pergi ke arah yang berbeda.


Dengan


kesal Yogi memukul setir mobilnya sampai klaksonnya berbunyi nyaring. Dengan


masih dibalut emosi Yogi memutar mobilnya lalu pergi dari tempat itu. Dia


merasa benar-benar kesal saat melihat Sora yang tengah bersama Amora. Dada Yogi


semakin sesak saat melihat keakraban yang terjalin di antara keduanya.


“Kenapa


selalu Sora? Kenapa selalu dia?” pekiknya kesal.


Yogi


memarkirkan mobilnya di tepi jalan yang sepi. Dengan kesal dia menjerit sambil


menjambak rambutnya dengan frustrasi. Berkali-kali dia memukul-mukul stirnya


sampai tangannya terasa sakit dan perih. Mata Yogi kini mulai terasa panas.


“Kenapa


selalu dia yang berada di depan gue? Kenapa dia yang selalu selangkah lebih


maju dari gue? Di saat gue mulai menyadari kalo gue cinta sama Amora, kenapa


malah dia yang ada di dekat Amora? Kenapa bukan gue???”


Yogi


tidak tahu lagi apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Akhirnya dia


memutuskan untuk minum-minum sebanyak mungkin untuk menghilangkan rasa sesak di


dadanya. Berharap bayangan gadis itu menghilang dari otak dan hatinya.


Yogi


menatap gelas di tangannya dan meremas gelas itu dengan kuat. Seolah gelas di

__ADS_1


genggamannya itu adalah Sora. “Kenapa gue harus selalu di bawah elo, Sora?”


__ADS_2