
Malam
tak berbintang menyisakan sedikit luka tak teraba di hati Sora. Embusan pelan
suara angin membuat hatinya yang sepi menjadi semakin sepi. Sora menengadahkan
kepalanya menatap langit tanpa bintang. Langit yang sama seperti pada saat
malam terakhir kali dia bertemu Sasi. Malam yang tidak akan pernah dia tahu
bahwa sejak saat itu Sasi pergi meninggalkannya.
“Apa
Amora itu benar-benar elo, Sas? Apa bener gue suka sama Amora? Sas, apa gue
salah kalau gue mengaggap Amora itu adalah elo? Apakah gue salah kalau gue
menyukai Amora?” bisik Sora lirih.
Lo itu suka sama Amora. Lupain Sasi, dia sudah
meninggal Sora, jerit hati Sora. Pemuda itu lantas
menggeleng keras. “Gue yakin kalau Sasi masih hidup!” katanya yakin. Walaupun
jauh di dalam hatinya, dia sendiri tidak begitu yakin kalau Sasi masih hidup,
dan Amora adalah Sasi.
“Kasih
tahu gue, Sas, kalo lo masih hidup. Kasih tahu gue supaya gue nggak akan merasa
sedih lagi seperti ini. Kalo pun emang lo udah pergi dari dunia ini, biarin gue
mengenang elo. Biarin gue mengenang elo di hati gue walaupun gue nggak yakin lo
di sana bakalan tenang kalo gue masih belum bisa relain elo.”
Lo egois, Sora. Lo egois! bisik hati Sora lagi. Menyalahkan sikap pemuda itu yang terkesan plin-plan.
Menyalahkan sikap pemuda itu yang suka menarik ulur ucapannya sendiri.
__ADS_1
“Iya,
gue egois. Gue egois dan gue nggak tahu apa yang sebenernya ada di hati gue!
Gue gak tahu!” pekik Sora frustrasi. “Jangan menyalahkan gue seperti ini, Sas.
Jangan menyalahkan gue.”
***
“Lepasin dia!” pekik sebuah suara dengan lantang.
Anak laki-laki itu kemudian menoleh dan menyeringai
saat melihat seorang anak laki-laki berdiri di depannya. “Ngapain kamu? Mau
jadi pahlawan?” tanya anak laki-laki itu tak suka.
“Yogi, lepasin Sasi. Kenapa sih kamu selalu gangguin
dia?” tanya anak laki-laki yang tadi memekik itu.
Anak laki-laki yang bernama Yogi itu kemudian mendengkus
sebal dan membanting tangan seorang anak perempuan yang sedari tadi dia
perempuan yang kini sudah menangis.
“Kalian itu nggak asik! Kamu juga! Dikit-dikit nangis!
Dasar cengeng!” cibir Yogi sambil menatap tajam anak perempuan itu. Anak
perempuan itu semakin menangis kencang saat melihat tatapan tajam Yogi.
“Yogi! Minta maaf, sekarang!” suruh anak laki-laki
yang kini sudah memeluk anak perempuan itu.
“Minta maaf? Ngapain aku minta maaf? Toh dia yang
salah,” kata Yogi tak acuh dan berlari sehingga dia tidak lagi mendengar suara
anak laki-laki itu. “Dasar sok!” cibir Yogi tak senang.
__ADS_1
“Sasi, udah
dong. Jangan nangis.” Anak laki-laki itu
mengusap pelan bahu anak perempuan itu.
Anak perempuan yang bernama Sasi itu lalu mendongakkan
kepalanya menatap anak laki-laki itu. Tak lama kemudian sebuah senyuman secerah
matahari telah terbit di wajahnya.
“Iya, aku udah nggak nangis lagi kok, Sora,” sahut
Sasi sambil tersenyum lebar. Dengan cepat Sasi menghapus sisa-sisa air matanya
dengan punggung tangannya yang mungil.
“Nah, gitu dong! Ini baru Sasi yang aku kenal!” seru anak
laki-laki itu semangat.
“Iya, makasih ya, Sora.”
Sora kemudian mengangguk sambil tersenyum tak kalah
lebar. Kemudian dia menggenggam erat tangan Sasi. “Ke kelas yuk. Udah mau bel.
Nanti guru kamu marah kalo kamu masuknya telat.”
Sasi mengangguk dan mensejajarkan langkahnya dengan
Sora.
“Makasih ya, Sora. Kamu emang teman sekaligus kakak
yang paling baiiik yang aku kenal. Oh iya, kata Mama, aku mesti manggil Sora
dengan panggilan kakak. Soalnya Sora kan lebih tua dari aku dan setingkat di
atas aku. Jadi, boleh nggak aku manggil Sora dengan panggilan ‘Kak Sora’?” tanya
Sasi polos dengan mata berbinar-binar.
__ADS_1
Sora menghentikan langkahnya dan menatap Sasi. Kemudian pemuda itu
tersenyum dan mengangguk. “Iya, boleh kok. Panggil Sora aja juga nggak pa-pa.”