Tears And Love

Tears And Love
Part Lima


__ADS_3

“Pagi Ma, Pa, Andi …,” sapa Sora sambil menarik kursi di depan Andi dan mendudukinya.


“Pagi juga kak Sora …,” jawab Andi cepat sambil tersenyum riang.


“Pagi juga, Sayang. Gimana sekolahnya? Bagus nggak?” tanya Nia sambil mengoleskan selai nanas di atas roti tawarnya.


“Ehm, kalo yang kemaren Sora lihat, sih, lumayan, deh, Ma. Emang sih nggak sebagus SMA yang ada di Sydney, tapi, ya lumayan nyaman buat belajar,” kata Sora sambil ikut mengolesi selai kacang di atas roti tawarnya.


“Kamu kenapa baru pulang sekarang? Keenakan sekolah di sana?” canda Pak Andre dari balik koran paginya.


Sora tertawa kecil mendengar perkataan papanya. “Ya enggaklah, Pa. Di mana-mana paling enak itu tinggal di negeri sendiri, bukan di negeri orang.” Kemudian matanya berhenti di satu titik di samping Andi. “Oh iya, Yogi mana, Ma? Kok dia nggak ikut sarapan bareng?”


“Kak Yogi, kan emang nggak pernah ikut sarapan bareng kita, Kak,” jawab Andi dengan mulut yang penuh.


Sora menatap kursi di samping Andi dengan nanar. Sejak Mama meninggal dia jadi berubah.


“Kamu memang berbeda dengan Yogi, pilihan Papa untuk menjadikan kamu pengawas Yogi memang tepat,” ucap Pak Andre tegas sambil melipat korannya.


Sora memperlambat sarapannya dan menatap Pak Andre dengan tidak mengerti. “Maksud Papa?” tanyanya dengan kening berkerut.


Pak Andre menyeruput kopinya pelan dan menatap Sora dengan tajam. “Dia itu hanya bisa pulang malam dan menghabiskan waktunya dengan berfoya-foya. Kamu juga pasti tahu kalau hal itulah yang menyebabkan Papa mengirimnya ke Sydney saat kalian SMP. Karena anak itu memang hanya bisa membuat keonaran dalam keluarga ini.”


“Ta—tapi Pa—”

__ADS_1


“Karena itu jugalah Papa mengirim kamu ke Sydney dengan tujuan mengawasi dia. Tapi bukannya berubah, dia malah semakin membuat onar di sana. Sehingga Papa terpaksa memulangkannya kembali ke Indonesia.”


“Maksud Papa apa? Sora sama sekali nggak ngerti.”


“Papa tidak mau Andi menjadi nakal seperti Yogi.” Andre menggantungkan kalimatnya dan menatap Sora penuh arti. “Papa ingin kamu menggantikan Papa sebagai pemimpin di perusahaan dan menjaga Andi agar tidak seperti Yogi. Kamu mengerti, kan maksud Papa?”


“Papa mau Sora gantiin Papa? Maksud semua ini apa sih, Pa?” tanya Sora, setengah berteriak.


“Usia kamu sudah 17 tahun, sudah saatnya kamu menjadi ahli waris Papa.”


“Tapi, Pa, Yogi, kan anak Papa juga. Dia yang lebih berhak atas jabatan di perusahaan Papa. Lagipula Sora kan ….”


Pak Andre menghela napas dengan berat dan menatap Sora lekat-lekat.


***


“Ra, katanya ada murid baru ya?!” seru Tania saat dia baru masuk ke dalam kelas. Tania merupakan teman sebangku Amora sekaligus temannya sejak SMP.


“Murid baru? Cewek apa cowok? Kelas berapa?”


“Katanya sih cowok, kelas dua belas juga,” jawab Tania bersemangat. Dia memang bersemangat setiap kali membahas tentang makhluk yang dipanggil cowok.


“Oh, pindahan dari mana?” tanya Amora sedikit antusias.

__ADS_1


“Dari Sydney, Ra! Sydney! Ya ampun, gue nggak nyangka kalau sekolah kita bakalan kedatangan murid dari luar negeri!” pekik Tania histeris.


Spontan Amora menutup kedua telinganya saat Tania memekik histeris. “Biasa aja kali, Tan. Nggak usah lebay gitu, deh,” balas Amora sewot.


“Hehe … habisnya gue seneng sekolah kita kedatangan murid dari Sydney. Secara, gue dari dulu pengen banget ke Sydney. Tapi lo tau sendiri lah gimana keuangan keluarga gue.”


Amora mengangguk mengerti, dia memang mengenal baik keluarga Tania. Tania memang berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya hanya karyawan biasa di sebuah perkantoran, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang membuka warung gado-gado di teras rumah mereka. Amora sering main ke rumah Tania dan mencicipi kelezatan gado-gado ibunya Tania.


“Selamat pagi anak-anak.” suara Bu Yenti menggelegar di kelas Amora. Sontak Amora membetulkan posisi duduknya dan menatap lurus ke depan.


“Kapan belnya bunyi? Kok tiba-tiba nih guru main masuk aja di kelas ini?” bisik Tania pelan.


“Kayaknya belnya bunyi pas lo cerita sama gue,” jawab Amora tak kalah pelan.


“Anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru.”


Bersamaan setelah Bu Yenti menyelesaikan ucapannya seorang pemuda bertubuh atletis masuk ke dalam kelas Amora. Seketika ruang kelas menjadi gaduh akibat teriakan hiperbolis dari siswa perempuan di kelasnya. Amora terpaksa menutup telinganya karena Tania yang duduk di sebelahnya ikut-ikutan menjerit histeris.


Lho, itu kan cowok yang kemarin tabrakan sama gue di koridor.


Pemuda itu menyunggingkan senyuman hangatnya ke seluruh penjuru kelas. “Perkenalkan, nama saya Sora Mahendra. Kalian bisa memanggil saya Sora.”


“Nah Sora, kamu silakan duduk di samping Anton. Karena cuma itu bangku yang kosong. Nah, anak-anak, karena sesi perkenalan sudah selesai, kita lanjutkan materi pelajaran kita!”

__ADS_1


__ADS_2