Tears And Love

Tears And Love
Part Dua


__ADS_3

Matahari bersinar dengan sinarnya yang hangat. Burung-burung bernyanyi dengan kicauan yang indah di atas ranting pepohonan yang rindang. Bunga-bunga beraneka warna bermandikan embun menyambut pergantian hari yang indah ini.


Kelopaknya bermekaran dengan indah yang menyejukkan mata. Awan-awan menari di atas sana membentuk beraneka macam bentuk yang membangkitkan semangat. Mawar putih yang terletak di atas meja belajar itu pun tak luput dari keceriaan di pagi hari ini.


Gadis itu mematut tubuhnya di depan sebuah cermin besar yang memperlihatkan seluruh tubuhnya, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Cermin berwarna ungu muda yang berada di sudut kamarnya yang didominasi oleh warna biru dan ungu.


“Dasi, cek! Rok 5 senti di bawah lutut, cek! Rompi, cek! Seragam nggak dikeluarin, cek!  Kaos kaki putih setengah betis, cek! Oke. Semuanya beres!” seru gadis itu senang sambil menjentikkan jarinya.


Dengan gerakan cepat, gadis itu mengambil tas yang berada di atas kasur dan langsung keluar dari kamar. Tak lupa gadis itu menoleh dan tersenyum hangat pada bunga mawar putih yang tumbuh subur di atas meja belajarnya. Kemudian menutup pintu kamar dan bergegas menuju ruang makan.


Gadis itu tersenyum lebar saat melihat seorang wanita sedang duduk sambil mengunyah roti pangganggnya dengan santai.


“Pagi, Ma…,” sapa sang gadis sambil mencium kedua pipi wanita itu.


Wanita itu menoleh sekilas kemudian tersenyum hangat. “Pagi juga, Sayang. Ceria bener pagi ini.”


“Wah, harus dong, Ma. Pagi-pagi itu kita harus selalu ceria!” sahut gadis itu riang sambil mengunyah roti selai cokelatnya. Salah satu menu favoritnya.


Wanita itu mengangguk senang. “Kamu belum berangkat, Nak? Nanti kamu telat, loh pergi sekolahnya.”


Gadis itu meminum susu coklatnya dengan cepat, kemudian langsung berdiri dan mencium kedua pipi wanita itu. “Amora pergi sekolah dulu ya, Ma. Assalamualaikum …,” pamit gadis yang bernama Amora itu.


“Waalaikum salam. Hati-hati di jalan, Ra.”

__ADS_1


“Sip, Mama!”


Amora melajukan mobilnya sesantai mungkin. Dia selalu memegang teguh pesan mamanya untuk selalu melajukan mobil dengan kecepatan standar. Dari kecil sampai sekarang, Amora selalu menuruti setiap perkataan mama dan papanya. Dia sangat menyayangi kedua orang tuanya, begitu juga sebaliknya.


Amora, gadis berusia 16 tahun yang sekarang duduk di bangku kelas dua belas di salah satu SMA swasta di Jakarta karena mengikuti kelas akselerasi saat SMP. Gadis yang hidup di lingkungan keluarga yang penuh cinta dan kasih. Keluarga yang terdiri dari anggota yang utuh. ayah yang merupakan manager pemasaran di salah satu perusahaan terkemuka di Jakarta. Pak Damar Januarja, namanya.


Selain itu, Amora mempunyai seorang ibu yang sangat menyayanginya, Nita Januarja. Seorang ibu rumah tangga yang selalu siap siaga menemani Amora di rumah. Amora juga mempunyai seorang adik perempuan yang kini duduk di kelas 3 SD. Namanya Anti Januarja.


Amora memarkirkan mobilnya di dekat sebuah mobil sport berwarna hitam. Amora menatap mobil itu dengan kening berkerut. “Itu mobil siapa, ya? Kok gue baru lihat hari ini?” tanyanya pada diri sendiri. Amora mengangkat bahunya dan menuju kelasnya dengan langkah santai nan anggun.


Saat Amora hendak masuk ke koridor sekolah, tak sengaja Amora menubruk seorang wanita yang berusia sekitar 30-an, karena wajahnya masih terlihat segar. Wanita itu terlihat sangat modis dan berkelas. Amora menatap wanita itu tanpa berkedip.


Kayaknya gue pernah lihat Ibu ini. tapi di mana, ya? Dan kenapa gue rasanya kangen banget liat wajah Ibu ini? Amora bermonolog dalam hati.


Mereka saling bertatapan satu sama lain. Seperti ada magnet yang ada di dalam tatapan mereka masing-masing. Beberapa detik kemudian Amora memutuskan kontak mata itu.


Wanita itu menatap Amora dengan kening berkerut. Gadis ini… aku seperti pernah melihatnya. Tapi di mana?


“Nia, kamu sudah mengurusi administrasinya?” tanya sebuah suara di belakang Amora. Sontak Amora dan wanita yang dipanggil Nia itu menoleh.


Wanita yang bernama Nia itu kemudian tersenyum. “Tidak apa-apa kok, Nak. Ibu juga salah,” balas Bu Nia dan berjalan mendekati laki-laki yang memakai setelan jas berwarna abu-abu gelap itu.


“Dia siapa, Nia?” tanya laki-laki itu sambil menunjuk Amora dengan dagunya.

__ADS_1


“Murid di sini, Mas. Tadi kami tidak sengaja bertubrukan,” jelas Bu Nia dan langsung pergi bersama laki-laki itu.


Amora menatap punggung dua orang yang kini menjauh itu. Ada rasa sakit di hatinya saat melihat laki-laki itu menggenggam erat tangan wanita itu. Tanpa sadar Amora meneteskan air matanya tanpa terkendali.


Amora tersenyum getir saat melihat mobil sport hitam yang tadi terpakir di samping mobilnya perlahan mulai meninggalkan pekarangan sekolahnya. Tiba-tiba sebuah perasaan rindu merasuk ke relung hatinya. Memberikan tempat tersendiri di hatinya.


Bel tanda masuk yang berbunyi nyaring langsung membuyarkan lamunan Amora. Amora berjalan cepat-cepat karena dikejar waktu. Langkah kakinya harus terhenti saat dia tak sengaja menabrak seseorang di koridor yang sepi itu. Tubuh Amora terjatuh ke belakang. Punggungnya tak sengaja menabrak dengan keras ke dinding di belakangnya.


“Aduh …,” rintihnya sambil mengusap-usap punggungnya yang terasa perih itu.


“Lo nggak apa-apa?” tanya seseorang sambil mengulurkan tangannya, hendak menolong Amora berdiri.


Amora menerima uluran tangan itu dengan susah payah. Amora mengangkat kepalanya dan melihat seorang pemuda sedang menatapnya dengan pandangan bersalah. Pemuda dengan rambut cepak yang berwarna cokelat yang sedikit gelap, bola matanya berwarna cokelat terang, alis matanya tebal dan melengkung sempurna. Untuk beberapa detik, Amora menatap tanpa berkedip makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.


Pemuda itu mengibaskan tanggannya di depan wajah Amora yang membuat gadis itu langsung


mengerjapkan matanya.


“Ah … eh,”


“Lo nggak apa-apa? Ada yang sakit nggak? Sori, ya, gue tadi nggak liat ke depan.” Pemuda itu meminta maaf, terdengar sangat tulus.


Amora menggelengkan kepalanya pelan. “Gue nggak kenapa-napa kok,” ujarnya pelan.

__ADS_1


Pemuda itu mengembuskan napas lega. “Syukur deh kalo gitu. Ehm, sekali lagi maaf ya. Oh, iya, gue pamit dulu ya, gue masih ada urusan. Permisi.” Pemuda itu kemudian berjalan setengah berlari dan menjauh dari Amora.


“Dia siapa, ya? Kok gue nggak pernah lihat? Apa dia anak baru?”


__ADS_2