Tears And Love

Tears And Love
Part Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Bu


Nita dan Pak Damar berlari dengan perasaan khawatir. Setelah mendengar kabar


kalau putri kesayangannya kecelakaan, mereka langsung bergegas untuk melihat


kondisi putrinya tersebut. Tak jauh dibelakangnya, Bu Nia dan Pak Andre juga


terlihat khawatir dengan kondisi Yogi.


Pak


Andre sama sekali tidak menyangka bahwa hari ini putra kesayangannya akan


mengalami kecelakaan. Setelah mendapat telepon dari Sora, Pak Andre yang saat


itu tengah meeting langsung menghentikkan meeting-nya untuk melihat keadaan


Yogi.


Bu


Nita langsung menghentikan langkahnya saat melihat Mang Ujang berdiri di depan


pintu ruang UGD. Sora langsung tersenyum lega saat melihat kedua orang tua Amora


dan kedua orang tuanya telah tiba di rumah sakit.


Tanpa


dikomando lagi Bu Nita mendekati Mang Ujang dan langsung menampar keras pipi


Mang Ujang. Bu Nia yang melihat itu langsung terpekik tanpa sadar. Sora hanya


dapat melongo kaget saat Bu Nita menampar Mang Ujang. Setahunya, Bu Nita tidak


mengenal Mang Ujang.


“Berapa


kali saya harus bilang, ha?” tanya Bu Nita keras. Air mata mengalir deras dari


pelupuk matanya.


“Ma,


sudah …,” kata Pak Damar sambil berusaha menenangkan istrinya. “Ini di rumah


sakit.”


“Peduli


apa kalau ini di rumah sakit? Dia .…” Bu Nita menunjuk Mang Ujang. “Dia yang


ingin mengambil Amora dari sisi kita, Pa!” pekik Bu Nita. Dia tidak dapat


mengendalikan emosinya.


Mendengar


kabar kalau Amora mengalami kecelakaan saja sudah menguras emosinya. Ditambah


lagi dengan kenyataan bahwa Mang Ujang tengah menunggu di depan ruang UGD.


Semua orang, kalau berada di posisi Bu Nita pasti akan langsung mengira kalau


Mang Ujang terlibat dengan kecelakaan yang melibatkan Amora.


Bu


Nia dan Pak Andre yang berdiri tak jauh di belakangnya hanya bisa memandang bingung

__ADS_1


Bu Nita yang terlihat begitu emosi saat melihat wajah Mang Ujang. Bu Nia ingin


bertanya, tapi dia takut kalau pertanyaannya nanti malah akan memperkeruh


suasana.


“Sampai


kapan pun saya tegaskan! Amora adalah anak saya!” pekik Bu Nita lagi.


Mang


Ujang yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.


“Dia


memang anak Ibu, tapi bukan anak kandung Ibu. Ibu adalah orang tua angkat Non


Amora. Orang tua kandung Non Amora adalah Bu Nia,” kata Mang Ujang lantang


sambil menunjuk Bu Nia.


Bu


Nia yang tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi semakin bingung saat Mang


Ujang tiba-tiba menyebut namanya sambil menunjuknya. Bu Nita langsung menoleh


dan menatap Bu Nia dari balik matanya yang berkabut.


“Mang,


kenapa nama saya disebut?” tanya Bu Nia akhirnya.


Mang


Ujang langsung mendekati Bu Nia dan bersujud di kaki Bu Nia.


“Bu,


lalu saya mengatakan Non Sasi ikut meninggal bersama Pak Reno. Padahal, yang


meninggal dalam kecelakaan itu hanya Pak Reno seorang. Sebenarnya Non Sasi


masih hidup saat itu. Tapi kata dokter dia mengalami amnesia sehingga tidak


dapat mengingat kejadian yang dia lalui,” kata Mang Ujang sambil menangis.


Tanpa


sadar Bu Nia meneteskan air matanya setelah mendengar ucapan Mang Ujang. Ada


rasa sedih dan bahagia yang kini bercampur menjadi satu di dalam hatinya. “Sasi


… Sasi, masih hidup? Sasi anakku masih hidup?” katanya tak percaya.


“Maafkan


saya, Bu. Selama ini saya dihantui rasa bersalah. Sampai akhirnya saya mencoba


untuk mencari Non Sasi. Dari sanalah saya mengetahui kalau Non Sasi tinggal dan


diadopsi oleh keluarga Bapak Januarja. Saya menyesal telah merahasiakan ini


semua dari Ibu. Saya menyesal,” ujar Mang Ujang dengan lirih.


Pak


Andre langsung melotot maksimal setelah Mang Ujang membocorkan rahasia sembilan


tahun yang lalu. Dalam hati dia mengumpat Mang Ujang berkali-kali. Dengan kesal

__ADS_1


Pak Andre menarik tubuh Mang Ujang agar berdiri.


“Dasar


laki-laki bodoh!” umpatnya. “Kenapa hal ini kamu ceritakan?” pekiknya kesal.


Dapat terlihat jelas kilatan amarah di mata Pak Andre.


Semua


orang yang ada di sana langsung menoleh dan menatap Mang Ujang dan Pak Andre


dengan seribu tanya di hati mereka. Mang Ujang menundukkan kepalanya, tidak


berani menatap wajah Pak Andre yang hanya berjarak beberapa senti dari


wajahnya.


“Maafkan


Mamang, Pak. Tapi Mamang benar-benar ingin Non Sasi bertemu dengan orang tua


kandungnya dan mengetahui kebenaran yang sebenarnya.”


Pak


Andre hendak buka suara, tapi pertanyaan Bu Nia mengurungkan niatnya untuk


berbicara. “Maksud, Mas dan Mang Ujang apa? Katakan yang sebenarnya padaku!”


Akhirnya


Mang Ujang menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Bu Nia. Semua orang yang


ada di sana mendengarkannya dengan seksama, tak terkecuali Sora. Pemuda itu


sempat tidak percaya saat Mang Ujang mengatakan bahwa Pak Andre yang


menyuruhnya untuk memisahkan Sasi yang saat itu tengah amnesia dari ibu


kandungnya. Sora tidak habis pikir kalau ayahnya mempunyai pikiran sepicik itu.


Dengan


langkah pelan Pak Andre mencoba melarikan diri dari kerumunan orang. Dia


mengira dia akan berhasil kabur. Namun ternyata dugaannya salah, karena Sora


melihatnya yang ingin kabur dan meneriakkan namanya.


“Papa,


jangan kabur!”


Kemudian


pemuda itu langsung mengejar Pak Andre dengan diikuti oleh Mang Ujang dan Pak Damar.


Bu Nia hanya terduduk lesu di bangku tunggu setelah mendengar cerita Mang


Ujang. Begitu juga Bu Nita. Wanita itu tidak percaya bahwa sekarang dia bertemu


langsung dengan orang tua kandung Amora.


Gadis


riangnya yang sudah dia besarkan selama sembilan tahun. Gadis yang begitu disayanginya


walaupun bukan murni darah dagingnya sendiri. Dengan pelan Bu Nita ikut duduk


di samping Bu Nia. Ikut merasakan kesedihan yang dialami Bu Nia.

__ADS_1


“Saya menyayangi Amora lebih dari apa pun. Saya


tidak akan semudah itu melepaskan dia dari pelukan saya!”


__ADS_2