
Bu
Nita dan Pak Damar berlari dengan perasaan khawatir. Setelah mendengar kabar
kalau putri kesayangannya kecelakaan, mereka langsung bergegas untuk melihat
kondisi putrinya tersebut. Tak jauh dibelakangnya, Bu Nia dan Pak Andre juga
terlihat khawatir dengan kondisi Yogi.
Pak
Andre sama sekali tidak menyangka bahwa hari ini putra kesayangannya akan
mengalami kecelakaan. Setelah mendapat telepon dari Sora, Pak Andre yang saat
itu tengah meeting langsung menghentikkan meeting-nya untuk melihat keadaan
Yogi.
Bu
Nita langsung menghentikan langkahnya saat melihat Mang Ujang berdiri di depan
pintu ruang UGD. Sora langsung tersenyum lega saat melihat kedua orang tua Amora
dan kedua orang tuanya telah tiba di rumah sakit.
Tanpa
dikomando lagi Bu Nita mendekati Mang Ujang dan langsung menampar keras pipi
Mang Ujang. Bu Nia yang melihat itu langsung terpekik tanpa sadar. Sora hanya
dapat melongo kaget saat Bu Nita menampar Mang Ujang. Setahunya, Bu Nita tidak
mengenal Mang Ujang.
“Berapa
kali saya harus bilang, ha?” tanya Bu Nita keras. Air mata mengalir deras dari
pelupuk matanya.
“Ma,
sudah …,” kata Pak Damar sambil berusaha menenangkan istrinya. “Ini di rumah
sakit.”
“Peduli
apa kalau ini di rumah sakit? Dia .…” Bu Nita menunjuk Mang Ujang. “Dia yang
ingin mengambil Amora dari sisi kita, Pa!” pekik Bu Nita. Dia tidak dapat
mengendalikan emosinya.
Mendengar
kabar kalau Amora mengalami kecelakaan saja sudah menguras emosinya. Ditambah
lagi dengan kenyataan bahwa Mang Ujang tengah menunggu di depan ruang UGD.
Semua orang, kalau berada di posisi Bu Nita pasti akan langsung mengira kalau
Mang Ujang terlibat dengan kecelakaan yang melibatkan Amora.
Bu
Nia dan Pak Andre yang berdiri tak jauh di belakangnya hanya bisa memandang bingung
__ADS_1
Bu Nita yang terlihat begitu emosi saat melihat wajah Mang Ujang. Bu Nia ingin
bertanya, tapi dia takut kalau pertanyaannya nanti malah akan memperkeruh
suasana.
“Sampai
kapan pun saya tegaskan! Amora adalah anak saya!” pekik Bu Nita lagi.
Mang
Ujang yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Dia
memang anak Ibu, tapi bukan anak kandung Ibu. Ibu adalah orang tua angkat Non
Amora. Orang tua kandung Non Amora adalah Bu Nia,” kata Mang Ujang lantang
sambil menunjuk Bu Nia.
Bu
Nia yang tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi semakin bingung saat Mang
Ujang tiba-tiba menyebut namanya sambil menunjuknya. Bu Nita langsung menoleh
dan menatap Bu Nia dari balik matanya yang berkabut.
“Mang,
kenapa nama saya disebut?” tanya Bu Nia akhirnya.
Mang
Ujang langsung mendekati Bu Nia dan bersujud di kaki Bu Nia.
“Bu,
lalu saya mengatakan Non Sasi ikut meninggal bersama Pak Reno. Padahal, yang
meninggal dalam kecelakaan itu hanya Pak Reno seorang. Sebenarnya Non Sasi
masih hidup saat itu. Tapi kata dokter dia mengalami amnesia sehingga tidak
dapat mengingat kejadian yang dia lalui,” kata Mang Ujang sambil menangis.
Tanpa
sadar Bu Nia meneteskan air matanya setelah mendengar ucapan Mang Ujang. Ada
rasa sedih dan bahagia yang kini bercampur menjadi satu di dalam hatinya. “Sasi
… Sasi, masih hidup? Sasi anakku masih hidup?” katanya tak percaya.
“Maafkan
saya, Bu. Selama ini saya dihantui rasa bersalah. Sampai akhirnya saya mencoba
untuk mencari Non Sasi. Dari sanalah saya mengetahui kalau Non Sasi tinggal dan
diadopsi oleh keluarga Bapak Januarja. Saya menyesal telah merahasiakan ini
semua dari Ibu. Saya menyesal,” ujar Mang Ujang dengan lirih.
Pak
Andre langsung melotot maksimal setelah Mang Ujang membocorkan rahasia sembilan
tahun yang lalu. Dalam hati dia mengumpat Mang Ujang berkali-kali. Dengan kesal
__ADS_1
Pak Andre menarik tubuh Mang Ujang agar berdiri.
“Dasar
laki-laki bodoh!” umpatnya. “Kenapa hal ini kamu ceritakan?” pekiknya kesal.
Dapat terlihat jelas kilatan amarah di mata Pak Andre.
Semua
orang yang ada di sana langsung menoleh dan menatap Mang Ujang dan Pak Andre
dengan seribu tanya di hati mereka. Mang Ujang menundukkan kepalanya, tidak
berani menatap wajah Pak Andre yang hanya berjarak beberapa senti dari
wajahnya.
“Maafkan
Mamang, Pak. Tapi Mamang benar-benar ingin Non Sasi bertemu dengan orang tua
kandungnya dan mengetahui kebenaran yang sebenarnya.”
Pak
Andre hendak buka suara, tapi pertanyaan Bu Nia mengurungkan niatnya untuk
berbicara. “Maksud, Mas dan Mang Ujang apa? Katakan yang sebenarnya padaku!”
Akhirnya
Mang Ujang menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Bu Nia. Semua orang yang
ada di sana mendengarkannya dengan seksama, tak terkecuali Sora. Pemuda itu
sempat tidak percaya saat Mang Ujang mengatakan bahwa Pak Andre yang
menyuruhnya untuk memisahkan Sasi yang saat itu tengah amnesia dari ibu
kandungnya. Sora tidak habis pikir kalau ayahnya mempunyai pikiran sepicik itu.
Dengan
langkah pelan Pak Andre mencoba melarikan diri dari kerumunan orang. Dia
mengira dia akan berhasil kabur. Namun ternyata dugaannya salah, karena Sora
melihatnya yang ingin kabur dan meneriakkan namanya.
“Papa,
jangan kabur!”
Kemudian
pemuda itu langsung mengejar Pak Andre dengan diikuti oleh Mang Ujang dan Pak Damar.
Bu Nia hanya terduduk lesu di bangku tunggu setelah mendengar cerita Mang
Ujang. Begitu juga Bu Nita. Wanita itu tidak percaya bahwa sekarang dia bertemu
langsung dengan orang tua kandung Amora.
Gadis
riangnya yang sudah dia besarkan selama sembilan tahun. Gadis yang begitu disayanginya
walaupun bukan murni darah dagingnya sendiri. Dengan pelan Bu Nita ikut duduk
di samping Bu Nia. Ikut merasakan kesedihan yang dialami Bu Nia.
__ADS_1
“Saya menyayangi Amora lebih dari apa pun. Saya
tidak akan semudah itu melepaskan dia dari pelukan saya!”