
Yogi
berjalan tanpa arah. Dia tidak tahu jalan yang dia lalui mengarah ke mana. Yang
pasti dia ingin melepaskan penat yang ada di pikirannya. Kali ini dia terpaksa
bolos sekolah karena dia akan bertingkah tidak wajar kalau dia memaksakan pergi
sekolah di saat mood-nya tidak bagus.
Pagi
ini cukup menguras emosinya. Mulai dari Papa yang mengaturnya seenaknya, Sora
yang juga ikut campur mengaturnya, dan pertemuannya dengan gadis tak dikenal
yang tak sengaja bertubrukan dengannya di tempat parkir.
Yogi
mau tidak mau harus mengakui kalau gadis berkuncir kuda yang tadi dia tabrak
cukup memesona. Kulit putih yang mulus, rambut hitam yang indah, dan mata yang
memancarkan keteduhan.
Walaupun
merasa enggan untuk mengakui, tapi Yogi tidak bisa melepaskan dirinya dari
kenyataan kalau dia cukup tertarik dengan gadis itu. “Tuh cewek manis juga,
cewek yang menarik,” bisik Yogi tanpa sadar sambil tersenyum tipis.
“What? Apa yang gue omongin tadi? Nggak,
pasti gue salah ngomong deh! Kayaknya ada yang nggak beres sama otak gue, nih.
Masa gue bilang tuh cewek cukup menarik?!”
Dengan
kesal Yogi memukul-mukul kepalanya dengan keras. Menurutnya saat ini otaknya
sedang tidak beres karena masalah yang melanda kehidupannya tidak pernah
menemukan titik kesudahan.
“Pasti
ini gara-gara problem gue yang nggak
kelar-kelar dari dulu! Argh!” pekiknya keras. “Kenapa gue harus terlahir di
dunia ini kalo ceritanya bakalan kayak gini?”
***
Begitu
bel tanda istirahat berdering nyaring, Amora langsung menghampiri Sora yang duduk di barisan paling belakang di kelasnya.
Sora sedikit terkejut dengan kehadiran Amora. Apalagi saat itu dia tengah
membereskan alat tulisnya dan saat dia mengangkat kepala, wajah Amora yang
pertama kali dia lihat. Sora mencoba tersenyum pada Amora, yang dibalas oleh gadis
itu dengan senyuman manis.
“Kenapa,
Ra?” tanya Sora, karena sampai sekarang Amora belum juga mengemukakan alasannya
menghampiri Sora seperti ini. Padahal dari raut wajahnya, terlihat jelas kalau
gadis itu ingin bertanya sesuatu pada Sora.
“Ehm,
gini .…” Amora terlihat ragu-ragu untuk berkata.
“Lo
__ADS_1
mau ngomong apa? Nggak usah takut-takut gitu, gih. Gue nnggak bakalan ngigit
kok, gue udah jinak. Hehe …,” kata Sora sambil terkekeh pelan.
“Ehm,
tapi jangan marah, ya?” kata Amora takut-takut.
“Iya,
kenapa?”
“Ehm,
sebelumnya maaf, ya, kalo kata-kata gue nanti ada yang menyinggung perasaan lo
atau gimana gitu. Ehm, sebenarnya cowok yang tadi pagi ribut sama gue di depan
itu siapa, ya? Lo kenal sama dia? Atau gimana? Kok kayaknya dia terlihat benci
banget sama lo, gitu. Apa dia itu musuh lo? Maaf, ya, kalo gue kesannya jadi
kayak pengen tahu banget urusan lo. Kepo gitu. Tapi gue nggak bermaksud buat
kepo, kok. Beneran deh,” ucap Amora seraya mengangkat kedua jarinya membentuk
huruf v.
“Gue
cuma penasaran aja. Kalo lo nggak mau jawab juga nggak pa-pa kok. Maaf, ya kalo
gue banyak nanyanya. Hehe.”
Amora
mengira Sora akan berdiri dan membentaknya keras. Lalu terjadilah perang mulut
antara dirinya dan Sora, seperti yang dia lakukan tadi pagi dengan cowok yang
tidak dikenalnya. Tapi ternyata perkiraan Amora salah. Bukannya marah, Sora
malah tertawa keras sambil memegangi perutnya. Wajahnya sampai memerah karena
“Kok
lo malah ketawa sih?” tanya Amora bingung.
“Haha
… habisnya lo itu lucu banget sih,” jawab Sora yang kini sudah berhenti tertawa.
“Lucu?
Lucu dari segi apanya?” tanya Amora lagi.
“Haha,
mana mungkinlah gue marah, Ra. Gue orangnya nggak mudah marah kok, gue nggak
gampang terpancing sama suasana. Lagian ngapain gue marah gara-gara lo nanya kayak
gitu? Gue nggak marah kok, beneran lagi.”
“Terus,
kenapa lo ketawa?”
“Habisnya
lo itu aneh banget. Lo nanya pake acara minta maaf segala pula. Kayak mau nanya
sama orang yang resmi aja, sih.”
“Ya
daripada nanti lo tersinggung terus marah sama gue, mending gue minta maafnya
di awal. Emangnya salah, ya?”
“Nggak
salah kok. Tapi, ya, kesannya jadi kayak terlalu formal gitu. Kita, kan sebaya,
__ADS_1
nggak usah pake kata-kata yang formallah. Pake acara minta maaf di awal pula.
Haha .…”
Amora
meringis kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Ehm,
sori deh kalo gitu.”
“Oh
iya, tadi lo nanya sama gue tentang cowok yang tadi pagi, ya?”
Amora
mengangguk pelan. “Iya, soalnya tadi lo kayaknya manggil nama tuh cowok deh.
Siapa tadi namanya? Yo, Yo apa gitu .…”
Lagi-lagi
Sora terkekeh kecil. “Namanya itu Yogi.”
“Nah
iya, Yogi! Lo kenal sama dia?”
Sora
mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Iya,
gue kenal sama dia,” jawabnya pelan.
“Dia
itu siapa, sih? Sengak banget jadi orang. Sok hebat dan sok berkuasa gitu.”
“Dia
adek gue.”
“Bilang
sama adek lo itu, jangan nyalahin orang kalo dia sendiri yang salah!” kata
Amora sedikit emosi. Untuk sesaat Amora terdiam. Amora merasa seperti ada yang
mengganjal di pikirannya.
“Iya,
nanti gue bilangin sama adek gue,” ujar Sora lembut.
Amora
membelalakan matanya setelah mendengar perkataan Sora. Akhirnya dia sadar
sesuatu yang mengganjal di pikirinnya itu.
“Apa?!”
pekiknya. “Dia adek lo? Nggak salah?” tanyanya kaget.
“Nggak
salah kok, dia beneran adek gue,” jawab Sora. Ya, itu pun kalo dia menganggap gue sebagai kakaknya, tambahnya dalam hati.
“Kok
beda banget? Lo baik, sedangkan dia .… Ih, nggak cocok banget, deh jadi adek
lo.”
“Ya,
semua orang juga ngomong kayak gitu. Tapi biar bagaimanapun juga, dia tetep
adek gue. Adek yang gue sayang dan harus gue jaga.”
__ADS_1