Tears And Love

Tears And Love
Part Sebelas


__ADS_3

Yogi


berjalan tanpa arah. Dia tidak tahu jalan yang dia lalui mengarah ke mana. Yang


pasti dia ingin melepaskan penat yang ada di pikirannya. Kali ini dia terpaksa


bolos sekolah karena dia akan bertingkah tidak wajar kalau dia memaksakan pergi


sekolah di saat mood-nya tidak bagus.


Pagi


ini cukup menguras emosinya. Mulai dari Papa yang mengaturnya seenaknya, Sora


yang juga ikut campur mengaturnya, dan pertemuannya dengan gadis tak dikenal


yang tak sengaja bertubrukan dengannya di tempat parkir.


Yogi


mau tidak mau harus mengakui kalau gadis berkuncir kuda yang tadi dia tabrak


cukup memesona. Kulit putih yang mulus, rambut hitam yang indah, dan mata yang


memancarkan keteduhan.


Walaupun


merasa enggan untuk mengakui, tapi Yogi tidak bisa melepaskan dirinya dari


kenyataan kalau dia cukup tertarik dengan gadis itu. “Tuh cewek manis juga,


cewek yang menarik,” bisik Yogi tanpa sadar sambil tersenyum tipis.


“What? Apa yang gue omongin tadi? Nggak,


pasti gue salah ngomong deh! Kayaknya ada yang nggak beres sama otak gue, nih.


Masa gue bilang tuh cewek cukup menarik?!”


Dengan


kesal Yogi memukul-mukul kepalanya dengan keras. Menurutnya saat ini otaknya


sedang tidak beres karena masalah yang melanda kehidupannya tidak pernah


menemukan titik kesudahan.


“Pasti


ini gara-gara problem gue yang nggak


kelar-kelar dari dulu! Argh!” pekiknya keras. “Kenapa gue harus terlahir di


dunia ini kalo ceritanya bakalan kayak gini?”


***


Begitu


bel tanda istirahat berdering nyaring, Amora langsung menghampiri Sora  yang duduk di barisan paling belakang di kelasnya.


Sora sedikit terkejut dengan kehadiran Amora. Apalagi saat itu dia tengah


membereskan alat tulisnya dan saat dia mengangkat kepala, wajah Amora yang


pertama kali dia lihat. Sora mencoba tersenyum pada Amora, yang dibalas oleh gadis


itu dengan senyuman manis.


“Kenapa,


Ra?” tanya Sora, karena sampai sekarang Amora belum juga mengemukakan alasannya


menghampiri Sora seperti ini. Padahal dari raut wajahnya, terlihat jelas kalau


gadis itu ingin bertanya sesuatu pada Sora.


“Ehm,


gini .…” Amora terlihat ragu-ragu untuk berkata.


“Lo

__ADS_1


mau ngomong apa? Nggak usah takut-takut gitu, gih. Gue nnggak bakalan ngigit


kok, gue udah jinak. Hehe …,” kata Sora sambil terkekeh pelan.


“Ehm,


tapi jangan marah, ya?” kata Amora takut-takut.


“Iya,


kenapa?”


“Ehm,


sebelumnya maaf, ya, kalo kata-kata gue nanti ada yang menyinggung perasaan lo


atau gimana gitu. Ehm, sebenarnya cowok yang tadi pagi ribut sama gue di depan


itu siapa, ya? Lo kenal sama dia? Atau gimana? Kok kayaknya dia terlihat benci


banget sama lo, gitu. Apa dia itu musuh lo? Maaf, ya, kalo gue kesannya jadi


kayak pengen tahu banget urusan lo. Kepo gitu. Tapi gue nggak bermaksud buat


kepo, kok. Beneran deh,” ucap Amora seraya mengangkat kedua jarinya membentuk


huruf v.


“Gue


cuma penasaran aja. Kalo lo nggak mau jawab juga nggak pa-pa kok. Maaf, ya kalo


gue banyak nanyanya. Hehe.”


Amora


mengira Sora akan berdiri dan membentaknya keras. Lalu terjadilah perang mulut


antara dirinya dan Sora, seperti yang dia lakukan tadi pagi dengan cowok yang


tidak dikenalnya. Tapi ternyata perkiraan Amora salah. Bukannya marah, Sora


malah tertawa keras sambil memegangi perutnya. Wajahnya sampai memerah karena


“Kok


lo malah ketawa sih?” tanya Amora bingung.


“Haha


… habisnya lo itu lucu banget sih,” jawab Sora yang kini sudah berhenti tertawa.


“Lucu?


Lucu dari segi apanya?” tanya Amora lagi.


“Haha,


mana mungkinlah gue marah, Ra. Gue orangnya nggak mudah marah kok, gue nggak


gampang terpancing sama suasana. Lagian ngapain gue marah gara-gara lo nanya kayak


gitu? Gue nggak marah kok, beneran lagi.”


“Terus,


kenapa lo ketawa?”


“Habisnya


lo itu aneh banget. Lo nanya pake acara minta maaf segala pula. Kayak mau nanya


sama orang yang resmi aja, sih.”


“Ya


daripada nanti lo tersinggung terus marah sama gue, mending gue minta maafnya


di awal. Emangnya salah, ya?”


“Nggak


salah kok. Tapi, ya, kesannya jadi kayak terlalu formal gitu. Kita, kan sebaya,

__ADS_1


nggak usah pake kata-kata yang formallah. Pake acara minta maaf di awal pula.


Haha .…”


Amora


meringis kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Ehm,


sori deh kalo gitu.”


“Oh


iya, tadi lo nanya sama gue tentang cowok yang tadi pagi, ya?”


Amora


mengangguk pelan. “Iya, soalnya tadi lo kayaknya manggil nama tuh cowok deh.


Siapa tadi namanya? Yo, Yo apa gitu .…”


Lagi-lagi


Sora terkekeh kecil. “Namanya itu Yogi.”


“Nah


iya, Yogi! Lo kenal sama dia?”


Sora


mengangguk sambil tersenyum tipis.


“Iya,


gue kenal sama dia,” jawabnya pelan.


“Dia


itu siapa, sih? Sengak banget jadi orang. Sok hebat dan sok berkuasa gitu.”


“Dia


adek gue.”


“Bilang


sama adek lo itu, jangan nyalahin orang kalo dia sendiri yang salah!” kata


Amora sedikit emosi. Untuk sesaat Amora terdiam. Amora merasa seperti ada yang


mengganjal di pikirannya.


“Iya,


nanti gue bilangin sama adek gue,” ujar Sora lembut.


Amora


membelalakan matanya setelah mendengar perkataan Sora. Akhirnya dia sadar


sesuatu yang mengganjal di pikirinnya itu.


“Apa?!”


pekiknya. “Dia adek lo? Nggak salah?” tanyanya kaget.


“Nggak


salah kok, dia beneran adek gue,” jawab Sora. Ya, itu pun kalo dia menganggap gue sebagai kakaknya, tambahnya dalam hati.


“Kok


beda banget? Lo baik, sedangkan dia .… Ih, nggak cocok banget, deh jadi adek


lo.”


“Ya,


semua orang juga ngomong kayak gitu. Tapi biar bagaimanapun juga, dia tetep


adek gue. Adek yang gue sayang dan harus gue jaga.”

__ADS_1


__ADS_2