Tears And Love

Tears And Love
Part Dua Belas


__ADS_3

Jauh


beberapa kilometer dari tempat Amora dan Sora berada, Yogi tengah duduk di sebuah


meja dengan sebotol minuman keras tergeletak di atasnya. Yogi menelungkupkan


wajah di celah-celah tangannya yang dia lipat di atas meja.


“Kenapa


Mama pergi secepat itu? Kenapa Mama pergi dan malah biarin Papa nikah lagi? Apa


Mama nggak sayang sama Yogi? Cukup Sora yang masuk ke keluarga kita, Ma. Jangan


tambah orang lain lagi. Kehadiran Sora aja udah membuat aku kesal. Apalagi


dengan keberadaan Nia dan anaknya. Mama tega sama Yogi.”


Yogi


mengangkat wajahnya dan menuangkan lagi isi dari botol minuman itu ke dalam


gelasnya yang sudah kosong melompong. Wajahnya terlihat sangat kusut dan


awut-awutan. Dengan gerakan cepat Yogi meminum minuman itu dalam beberapa


teguk. Kemudian mengisi lagi minuman itu ke dalam gelasnya dengan tatapan sayu.


“Apa


gue salah kalau gue berbuat demikian? Apa gue salah kalau gue melepaskan rasa


kesal gue dengan berbuat seperti ini? Ma, bilang sama aku kalau ini benar adanya.


Mama pasti tahu kan isi hati aku yang sebenarnya?”


Yogi


terus mengoceh tak jelas dan kembali meminum minuman keras itu sampai sebuah


tepukan pelan mendarat di bahunya. Yogi menoleh dengan mata yang sudah memerah.

__ADS_1


“Lo


udah banyak minum hari ini. Lo kenapa?” tanya orang itu dan duduk di samping


Yogi.


Yogi


menyipitkan matanya dan tersenyum samar. Tangannya dia kibas-kibaskan di udara.


“Udah deh Bram, lo tahu apa sih? Lo nggak tahu apa-apa tentang hidup gue. Jadi


percuma aja kalo gue cerita sama elo. Gak mutu tau! Haha!”


Orang


yang bernama Bram itu kemudian menggeleng pelan. “Gue emang nggak tahu apa-apa


tentang lu, Gi. Tapi setidaknya gue ngerti masalah yang lo hadepin. Karena gue


jadi begini juga karena gue kesel sama keluarga gue. Sama kayak lo yang sampe


sekarang ngerasa kesel karena bokap lo kawin lagi. Iya, kan?”


mau lo apa? Mau lo apa, ha? Duit? Iya?”


“Gue


emang preman dan lagi butuh duit. Tapi gue nggak butuh sama sekali duit dari


lo! Mending sekarang lo pulang daripada lo mabuk dan meracau nggak jelas kayak


gini. Bisa-bisa gue emosi ngeliat elo. Gue udah sabar ngadepin lo yang lagi


mabuk kayak gini. Apalagi ucapan lo itu nusuk banget.”


“Gue


nggak mau pulang!” pekik Yogi kesal. “Lo siapa, sih? Cuma preman kampung yang


beberapa tahun yang lalu secara nggak sengaja ketemu dan deket sama gue! Lo

__ADS_1


bukan siapa-siapa gue! Jadi nggak usah nyuruh-nyuruh gue pulang! Bokap gue aja nggak


peduli apa gue pulang ke rumah ato enggak!”


“Gue


juga pernah kayak lu. Gue juga ngerasaan hal yang sama kayak elu. Gue kabur


dari rumah karena bokap gue kawin lagi. Nyokap gue yang sakit-sakitan akhirnya


meninggal. Gue sama kayak elu. Udah deh, mendingan lo pulang. Gue nggak mau lu


semakin rusak kayak gue!”


“Nggak


mau rusak kayak lo?” cibir Yogi. “Bukannya elo yang bawa gue ke tempat ginian?


Ngajarin gue jadi preman dan mabuk-mabukan? Halah, sok suci banget lo.”


Bram


mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Niat baiknya ternyata dianggap


sebelah mata oleh laki-laki di depannya ini. Kesabarannya sudah habis, emosinya


yang terkubur kini mencuat di permukaan. Akhirnya sebuah bogem mentah dia layangkan


ke wajah Yogi. Yogi yang mabuk seketika langsung ambruk setelah menerima


bogeman Bram.


“Gue


cuma nggak mau lo bakalan nyesel kayak gue. Maafin gue make cara yang kayak


gini,” bisik Bram lemah lalu meraih lengan Yogi dan melingkarkannya di bahunya.


Dengan susah payah dia menggeret Yogi yang tengah pingsan.


“Lo

__ADS_1


harus secepatnya sadar kalo hidup lo lebih beruntung dari gue. Jangan sampe lo


nyesel.”


__ADS_2