
Jauh
beberapa kilometer dari tempat Amora dan Sora berada, Yogi tengah duduk di sebuah
meja dengan sebotol minuman keras tergeletak di atasnya. Yogi menelungkupkan
wajah di celah-celah tangannya yang dia lipat di atas meja.
“Kenapa
Mama pergi secepat itu? Kenapa Mama pergi dan malah biarin Papa nikah lagi? Apa
Mama nggak sayang sama Yogi? Cukup Sora yang masuk ke keluarga kita, Ma. Jangan
tambah orang lain lagi. Kehadiran Sora aja udah membuat aku kesal. Apalagi
dengan keberadaan Nia dan anaknya. Mama tega sama Yogi.”
Yogi
mengangkat wajahnya dan menuangkan lagi isi dari botol minuman itu ke dalam
gelasnya yang sudah kosong melompong. Wajahnya terlihat sangat kusut dan
awut-awutan. Dengan gerakan cepat Yogi meminum minuman itu dalam beberapa
teguk. Kemudian mengisi lagi minuman itu ke dalam gelasnya dengan tatapan sayu.
“Apa
gue salah kalau gue berbuat demikian? Apa gue salah kalau gue melepaskan rasa
kesal gue dengan berbuat seperti ini? Ma, bilang sama aku kalau ini benar adanya.
Mama pasti tahu kan isi hati aku yang sebenarnya?”
Yogi
terus mengoceh tak jelas dan kembali meminum minuman keras itu sampai sebuah
tepukan pelan mendarat di bahunya. Yogi menoleh dengan mata yang sudah memerah.
__ADS_1
“Lo
udah banyak minum hari ini. Lo kenapa?” tanya orang itu dan duduk di samping
Yogi.
Yogi
menyipitkan matanya dan tersenyum samar. Tangannya dia kibas-kibaskan di udara.
“Udah deh Bram, lo tahu apa sih? Lo nggak tahu apa-apa tentang hidup gue. Jadi
percuma aja kalo gue cerita sama elo. Gak mutu tau! Haha!”
Orang
yang bernama Bram itu kemudian menggeleng pelan. “Gue emang nggak tahu apa-apa
tentang lu, Gi. Tapi setidaknya gue ngerti masalah yang lo hadepin. Karena gue
jadi begini juga karena gue kesel sama keluarga gue. Sama kayak lo yang sampe
sekarang ngerasa kesel karena bokap lo kawin lagi. Iya, kan?”
mau lo apa? Mau lo apa, ha? Duit? Iya?”
“Gue
emang preman dan lagi butuh duit. Tapi gue nggak butuh sama sekali duit dari
lo! Mending sekarang lo pulang daripada lo mabuk dan meracau nggak jelas kayak
gini. Bisa-bisa gue emosi ngeliat elo. Gue udah sabar ngadepin lo yang lagi
mabuk kayak gini. Apalagi ucapan lo itu nusuk banget.”
“Gue
nggak mau pulang!” pekik Yogi kesal. “Lo siapa, sih? Cuma preman kampung yang
beberapa tahun yang lalu secara nggak sengaja ketemu dan deket sama gue! Lo
__ADS_1
bukan siapa-siapa gue! Jadi nggak usah nyuruh-nyuruh gue pulang! Bokap gue aja nggak
peduli apa gue pulang ke rumah ato enggak!”
“Gue
juga pernah kayak lu. Gue juga ngerasaan hal yang sama kayak elu. Gue kabur
dari rumah karena bokap gue kawin lagi. Nyokap gue yang sakit-sakitan akhirnya
meninggal. Gue sama kayak elu. Udah deh, mendingan lo pulang. Gue nggak mau lu
semakin rusak kayak gue!”
“Nggak
mau rusak kayak lo?” cibir Yogi. “Bukannya elo yang bawa gue ke tempat ginian?
Ngajarin gue jadi preman dan mabuk-mabukan? Halah, sok suci banget lo.”
Bram
mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Niat baiknya ternyata dianggap
sebelah mata oleh laki-laki di depannya ini. Kesabarannya sudah habis, emosinya
yang terkubur kini mencuat di permukaan. Akhirnya sebuah bogem mentah dia layangkan
ke wajah Yogi. Yogi yang mabuk seketika langsung ambruk setelah menerima
bogeman Bram.
“Gue
cuma nggak mau lo bakalan nyesel kayak gue. Maafin gue make cara yang kayak
gini,” bisik Bram lemah lalu meraih lengan Yogi dan melingkarkannya di bahunya.
Dengan susah payah dia menggeret Yogi yang tengah pingsan.
“Lo
__ADS_1
harus secepatnya sadar kalo hidup lo lebih beruntung dari gue. Jangan sampe lo
nyesel.”