
Amora
benar-benar bingung dengan kejadian kemarin. Mamanya seolah bungkam saat
ditanya. Dan anehnya lagi papanya juga ikut-ikutan bungkam. Bahkan sekarang papanya
mulai menawarkan diri untuk mengantar dan menjemput Amora sekolah. Dia tidak
boleh pergi tanpa seizin kedua orang tuanya. Dia hanya boleh pergi dengan orang
yang dikenal atau diketahui kedua orang tuanya. Misalnya Tania dan Sora.
Walaupun
baru bertemu dengan Sora, entah kenapa kedua orang tua gadis itu percaya pada
Sora. Amora benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah laku kedua orang tuanya
yang menjadi aneh ini. Mereka benar-benar seolah mengisolasi Amora dari dunia
luar.
Sedari
tadi Amora hanya duduk sambil memangku wajahnya. Dia benar-benar pusing memikirkan
nasibnya ke depan. Kalau dia harus dijaga ketat seperti ini, gimana dia bisa jadi
anak yang mandiri, coba? Tania yang baru datang langsung menghampiri Amora
dengan senyuman lebar. Tanpa menyadari kondisi sahabatnya itu.
“Ciee,
yang kemarin kencan,” goda Tania sambil menjawil dagu Amora.
Amora
tersentak dan tersenyum kecil. Sama sekali tidak memusingkan apalagi memedulikan
perkataan Tania. Melihat itu, Tania langsung menatap Amora dengan kening
berkerut. Dia merasa ada yang tidak beres dengan Amora. Apalagi saat melihat
ekspresi Amora yang sendu.
“Lo
kenapa, Ra? Ada masalah?” tanya Tania akhirnya. “Muka cantik gitu kok malah
ditekuk?”
Amora
menoleh sekilas kemudian menggeleng.
“Gue
nggak kenapa-napa kok,” jawabnya lesu.
Tania
mengangkat bahunya. Dia tidak terlalu memaksa Amora untuk bercerita. Dia
mengerti kalau Amora tidak mau berbagi cerita dengannya. Karena, kadang dia juga
merasa ada batasan di mana cerita yang mesti dibagi dan mana cerita yang mesti
disimpan.
“Gue
bingung sekaligus kesel,” kata Amora lirih. Sontak Tania menoleh dan menatap
sahabatnya itu.
“Maksudnya?”
“Gue
kesel karena ortu gue sekarang berubah protektif banget sama gue. Gue sekarang
udah nggak bisa bebas kayak dulu lagi. Saat gue tanya kenapa, mereka malah
bentak gue. Nyuruh gue supaya nggak banyak tanya dan ikutin aja apa yang mereka
__ADS_1
katakan,” keluh Amora.
Tania
dapat melihat jelas kekecewaan dan kekesalan di wajah Amora. Karena kalau dia
berada di posisi Amora saat ini, pasti dia juga akan merasakan hal yang sama.
“Gue
nggak tahu mau ngomong apa, Ra. Gue cuma bisa ngomong lo yang sabar aja, ya.
Mungkin ortu lo ada alasan tersendiri kenapa mereka kayak gini sama elo.”
Amora
mengangguk lesu dan menyenderkan bahunya di kursinya.
“Ya,
gue juga tahu. Tapi tetep aja gue kesel. Dikekang gini tanpa ngasih tahu alasannya.
Siapa yang nggak kesel, coba?”
***
Sepanjang
waktu belajar di kelasnya, Amora sama sekali tidak menyimak materi yang
diterangkan gurunya. Tania hanya bisa menatap iba sahabatnya itu. Kalau dia berada
di posisi Amora pasti dia juga akan merasakan kebingungan. Seperti ada sesuatu
yang mengganjal di pikirannya.
Hal
yang sama juga dirasakan Sora. Cowok itu dapat melihat jelas sorot kesedihan di
mata Amora. Bahkan seringkali Sora memergoki Amora yang tengah melamun. Matanya
tidak fokus memandang ke arah luar jendela. Seperti sebuah raga yang jiwanya
Begitu
bel istirahat berbunyi, Sora langsung mendekati Amora yang sama sekali tidak
beniat ke kantin. Walaupun tadi Tania sempat mengajaknya, gadis itu hanya
menggeleng pelan sebagai jawabannya.
“Hei!”
sapa Sora sambil menepuk bahu Amora pelan.
Amora
menoleh dan tersenyum tipis.
“Kok
muka lo kusut banget? Kenapa?” Sora mencoba bertanya.
Dapat
Sora dengan dengan jelas embusan napas Amora yang terasa berat. Gadis itu
kemudian menyandarkan bahunya ke kursi. Matanya menatap lurus papan tulis yang
kini penuh oleh tulisan.
“Gue
cuma lagi mikirin sikap ortu gue yang aneh,” kata Amora lirih. Bahkan saking
lirihnya, Sora hampir tidak mendengarnya.
“Emangnya
ortu lo kenapa?” kejar pemuda itu.
“Masa
sekarang hidup gue mereka kekang? Gue nggak boleh pergi ke mana-mana selain ke
__ADS_1
sekolah. Kalaupun boleh itu harus sama elo atau Tania. Mereka percaya sama elo
karena elo kelihatan anak yang baik-baik. Gue ngerasa kayak gimana gitu,” kata
Amora sedikit emosi.
“Mereka
kayak gitu karena mereka sangat sayang sama elo, Ra.” Sora mencoba memberikan
alasan.
Amora
mengangguk pelan, napasnya terdengar sedikit tidak beraturan.
“Tapi
kan nggak kayak gini juga caranya, Sora. Gue ngerasa jadi anak yang dipingit!” keluh
gadis itu sambil melipat tangannya di depan dada.
Dengan
pelan Sora mengelus rambut Amora. Amora menoleh sekilas dan melihat Sora yang
tengah tersenyum lembut ke arahnya.
“Semua
yang orang tua lakuin buat kita, pasti ada tujuan yang baik di dalamnya. Jadi,
kalo orang tua lo mengekang elo kayak gini, mereka pasti ada tujuan yang baik
untuk keselamatan elo sendiri, Ra. Di luar sana akan lebih banyak bahaya yang
mengancam ketimbang di saat lo berada di dalam rumah,” kata Sora pelan.
Ya, saking banyaknya bahaya yang mengancam di luar
sana, Sasi bahkan harus meninggal karena kecelakaan,tambahnya dalam hati.
Amora
mengangguk dan tersenyum lebar. Dia merasa kata-kata Sora ada benarnya juga.
Tanpa sadar dia langsung menghambur ke dalam pelukan Sora. Awalnya cowok itu
kaget, tapi akhirnya kekagetan itu berganti oleh sebuah senyuman.
“Makasih,
ya, lo udah mau ngehibur gue, ngasih gue pengarahan kayak gini. Nggak pa-pa deh
kalo ortu gue gak ngizinin gue kemana-mana. Hitung-hitung, gue bisa ngirit. Hehe
.…”
Sora
menjitak pelan kepala Amora. Yang dibalas gadis itu dengan tawa kecil.
“Hu
… dasar.”
Amora
dan Sora tidak tahu bahwa tindakan mereka tadi membuat hati seseorang menjadi perih.
Mereka tidak menyadari bahwa Yogi melihat mereka dari depan pintu kelas saat
mereka berpelukan. Yogi menggepalkan kedua tangannya, sampai uratnya kelihatan.
Matanya melotot tajam ke arah Sora yang tengah tertawa lebar bersama Amora.
Rasa sesak itu benar-benar menghujani ulu hatinya.
“Lo
nggak boleh ngambil apa yang gue suka! Lo nggak boleh ngambil apa yang gue pengen!
Lo nggak boleh ngambil apa pun dari hidup gue! Termasuk Amora!” desisnya dan akhirnya
meninggalkan mereka sebelum kedua orang itu memergokinya.
__ADS_1