Tears And Love

Tears And Love
Part Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Amora


benar-benar bingung dengan kejadian kemarin. Mamanya seolah bungkam saat


ditanya. Dan anehnya lagi papanya juga ikut-ikutan bungkam. Bahkan sekarang papanya


mulai menawarkan diri untuk mengantar dan menjemput Amora sekolah. Dia tidak


boleh pergi tanpa seizin kedua orang tuanya. Dia hanya boleh pergi dengan orang


yang dikenal atau diketahui kedua orang tuanya. Misalnya Tania dan Sora.


Walaupun


baru bertemu dengan Sora, entah kenapa kedua orang tua gadis itu percaya pada


Sora. Amora benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah laku kedua orang tuanya


yang menjadi aneh ini. Mereka benar-benar seolah mengisolasi Amora dari dunia


luar.


Sedari


tadi Amora hanya duduk sambil memangku wajahnya. Dia benar-benar pusing memikirkan


nasibnya ke depan. Kalau dia harus dijaga ketat seperti ini, gimana dia bisa jadi


anak yang mandiri, coba? Tania yang baru datang langsung menghampiri Amora


dengan senyuman lebar. Tanpa menyadari kondisi sahabatnya itu.


“Ciee,


yang kemarin kencan,” goda Tania sambil menjawil dagu Amora.


Amora


tersentak dan tersenyum kecil. Sama sekali tidak memusingkan apalagi memedulikan


perkataan Tania. Melihat itu, Tania langsung menatap Amora dengan kening


berkerut. Dia merasa ada yang tidak beres dengan Amora. Apalagi saat melihat


ekspresi Amora yang sendu.


“Lo


kenapa, Ra? Ada masalah?” tanya Tania akhirnya. “Muka cantik gitu kok malah


ditekuk?”


Amora


menoleh sekilas kemudian menggeleng.


“Gue


nggak kenapa-napa kok,” jawabnya lesu.


Tania


mengangkat bahunya. Dia tidak terlalu memaksa Amora untuk bercerita. Dia


mengerti kalau Amora tidak mau berbagi cerita dengannya. Karena, kadang dia juga


merasa ada batasan di mana cerita yang mesti dibagi dan mana cerita yang mesti


disimpan.


“Gue


bingung sekaligus kesel,” kata Amora lirih. Sontak Tania menoleh dan menatap


sahabatnya itu.


“Maksudnya?”


“Gue


kesel karena ortu gue sekarang berubah protektif banget sama gue. Gue sekarang


udah nggak bisa bebas kayak dulu lagi. Saat gue tanya kenapa, mereka malah


bentak gue. Nyuruh gue supaya nggak banyak tanya dan ikutin aja apa yang mereka

__ADS_1


katakan,” keluh Amora.


Tania


dapat melihat jelas kekecewaan dan kekesalan di wajah Amora. Karena kalau dia


berada di posisi Amora saat ini, pasti dia juga akan merasakan hal yang sama.


“Gue


nggak tahu mau ngomong apa, Ra. Gue cuma bisa ngomong lo yang sabar aja, ya.


Mungkin ortu lo ada alasan tersendiri kenapa mereka kayak gini sama elo.”


Amora


mengangguk lesu dan menyenderkan bahunya di kursinya.


“Ya,


gue juga tahu. Tapi tetep aja gue kesel. Dikekang gini tanpa ngasih tahu alasannya.


Siapa yang nggak kesel, coba?”


***


Sepanjang


waktu belajar di kelasnya, Amora sama sekali tidak menyimak materi yang


diterangkan gurunya. Tania hanya bisa menatap iba sahabatnya itu. Kalau dia berada


di posisi Amora pasti dia juga akan merasakan kebingungan. Seperti ada sesuatu


yang mengganjal di pikirannya.


Hal


yang sama juga dirasakan Sora. Cowok itu dapat melihat jelas sorot kesedihan di


mata Amora. Bahkan seringkali Sora memergoki Amora yang tengah melamun. Matanya


tidak fokus memandang ke arah luar jendela. Seperti sebuah raga yang jiwanya


Begitu


bel istirahat berbunyi, Sora langsung mendekati Amora yang sama sekali tidak


beniat ke kantin. Walaupun tadi Tania sempat mengajaknya, gadis itu hanya


menggeleng pelan sebagai jawabannya.


“Hei!”


sapa Sora sambil menepuk bahu Amora pelan.


Amora


menoleh dan tersenyum tipis.


“Kok


muka lo kusut banget? Kenapa?” Sora mencoba bertanya.


Dapat


Sora dengan dengan jelas embusan napas Amora yang terasa berat. Gadis itu


kemudian menyandarkan bahunya ke kursi. Matanya menatap lurus papan tulis yang


kini penuh oleh tulisan.


“Gue


cuma lagi mikirin sikap ortu gue yang aneh,” kata Amora lirih. Bahkan saking


lirihnya, Sora hampir tidak mendengarnya.


“Emangnya


ortu lo kenapa?” kejar pemuda itu.


“Masa


sekarang hidup gue mereka kekang? Gue nggak boleh pergi ke mana-mana selain ke

__ADS_1


sekolah. Kalaupun boleh itu harus sama elo atau Tania. Mereka percaya sama elo


karena elo kelihatan anak yang baik-baik. Gue ngerasa kayak gimana gitu,” kata


Amora sedikit emosi.


“Mereka


kayak gitu karena mereka sangat sayang sama elo, Ra.” Sora mencoba memberikan


alasan.


Amora


mengangguk pelan, napasnya terdengar sedikit tidak beraturan.


“Tapi


kan nggak kayak gini juga caranya, Sora. Gue ngerasa jadi anak yang dipingit!” keluh


gadis itu sambil melipat tangannya di depan dada.


Dengan


pelan Sora mengelus rambut Amora. Amora menoleh sekilas dan melihat Sora yang


tengah tersenyum lembut ke arahnya.


“Semua


yang orang tua lakuin buat kita, pasti ada tujuan yang baik di dalamnya. Jadi,


kalo orang tua lo mengekang elo kayak gini, mereka pasti ada tujuan yang baik


untuk keselamatan elo sendiri, Ra. Di luar sana akan lebih banyak bahaya yang


mengancam ketimbang di saat lo berada di dalam rumah,” kata Sora pelan.


Ya, saking banyaknya bahaya yang mengancam di luar


sana, Sasi bahkan harus meninggal karena kecelakaan,tambahnya dalam hati.


Amora


mengangguk dan tersenyum lebar. Dia merasa kata-kata Sora ada benarnya juga.


Tanpa sadar dia langsung menghambur ke dalam pelukan Sora. Awalnya cowok itu


kaget, tapi akhirnya kekagetan itu berganti oleh sebuah senyuman.


“Makasih,


ya, lo udah mau ngehibur gue, ngasih gue pengarahan kayak gini. Nggak pa-pa deh


kalo ortu gue gak ngizinin gue kemana-mana. Hitung-hitung, gue bisa ngirit. Hehe


.…”


Sora


menjitak pelan kepala Amora. Yang dibalas gadis itu dengan tawa kecil.


“Hu


… dasar.”


Amora


dan Sora tidak tahu bahwa tindakan mereka tadi membuat hati seseorang menjadi perih.


Mereka tidak menyadari bahwa Yogi melihat mereka dari depan pintu kelas saat


mereka berpelukan. Yogi menggepalkan kedua tangannya, sampai uratnya kelihatan.


Matanya melotot tajam ke arah Sora yang tengah tertawa lebar bersama Amora.


Rasa sesak itu benar-benar menghujani ulu hatinya.


“Lo


nggak boleh ngambil apa yang gue suka! Lo nggak boleh ngambil apa yang gue pengen!


Lo nggak boleh ngambil apa pun dari hidup gue! Termasuk Amora!” desisnya dan akhirnya


meninggalkan mereka sebelum kedua orang itu memergokinya.

__ADS_1


__ADS_2