
Hari ini hari di mana Amora akan melakukan operasi
jantung. Semua orang langsung menangis bahagia saat mendengar bahwa Amora
akhirnya mau melakukan operasi. Yogi yang selama ini belum sadar akhirnya sadar
juga. Dia langsung merasa bersalah karena telah menyebabkan Amora kecelakaan.
“Gue nggak pa-pa, kok. Kan lo juga mesti dirawat di rumah
sakit gara-gara kecelakaan itu,” sahut Amora saat Yogi datang ke ruang
rawatnya.
Seperti yang dikatakan Amora, Yogi memang harus
dirawat beberapa hari di rumah sakit. Meski sudah keluar dari rumah sakit, Yogi
masih harus mengecek kesehatannya. Karena itu pula, ia harus izin dari sekolah.
“Maafin gue, ya, Ra,” ulang Yogi.
“Iya, nggak masalah. Udah gue maafin kok sebelum lo
minta maaf.”
Amora mengembangkan senyum agar Yogi tidak terlalu
merasa bersalah. Hal yang sangat berhasil karena setelahnya Yogi turut
mengembangkan senyumnya.
“Nah, gitu dong, senyum! Gue takut, tahu, ngelihat
muka lo yang selalu merengut itu. Nyeremin banget,” canda Amora, lantas terkekeh
pelan.
“Sialan
lo!”
__ADS_1
Sedangkan Pak Andre kini dirawat di rumah sakit jiwa
karena mulai berteriak-teriak di tengah malam. Pak Andre juga sering terlihat melamun
dan sering berbicara sendiri. Dia bahkan pernah mencoba untuk melompat dari jendela
kamarnya yang berada di lantai atas. Namun tindakannya langsung dicegah saat
seorang perawat yang bertugas mengeceknya melihat percobaan bunuh diri
tersebut.
“Mungkin dia merasa bersalah karena telah memisahkan
aku dengan Sasi,” kata Bu Nia saat itu.
Namun walaupun Bu Nia telah mengetahui bahwa Amora
adalah anak kandungnya, Bu Nia belum berniat sama sekali untuk memberi tahu
Amora bahwa dia adalah Ibu kandungnya. Bu Nia selalu berkata, “Biarkan waktu
yang akan mengatakannya pada Sasi.” Mengetahui bahwa anaknya masih hidup saja
Semua orang yang menyayangi Amora kini tengah menunggu
gadis itu yang tengah melakukan operasi. Mereka mempunyai doa yang sama, yaitu
menginginkan agar operasi gadis itu bisa berjalan dengan baik. Dan gadis itu
akan kembali ke pelukan mereka seperti sedia kala.
Namun walaupun kita berdoa dan memiliki rencana, Tuhan
lebih mempunyai rencana lain untuk kita sebagai makhluk ciptaannya.
Dokter Glen yang menangani operasi Amora langsung
menggeleng pelan begitu keluar dari ruang operasi. Semua orang yang sedari tadi
setia menunggu Amora, langsung merasa takut dan waswas.
__ADS_1
“Kami sudah berusaha sesuai kemampuan kami. Awalnya
operasi ini berjalan dengan baik. Tapi setelah operasinya akan selesai, pasien
mengalami pendarahan yang sangat hebat. Maafkan kami, kami sudah berusaha
semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa korban. Tapi Tuhan berkehendak
lain. Permisi.”
Bu Nia dan Bu Nita langsung terduduk lemas di lantai.
Bahkan Bu Nita yang membesarkan Amora selama ini langsung pingsan. Dengan cepat
Pak Damar menangkap tubuh Bu Nita yang lunglai sebelum akhirnya jatuh mencium
kerasnya lantai.
Bu Nia tidak dapat melakukan apa-apa selain
menangis. Dia merasa hatinya benar-benar
sakit. Dulu, anaknya dikatakan meninggal. Kemudian anaknya ditemukan dan
ternyata masih hidup. Dan sekarang, Bu Nia harus benar-benar merelakan kalau
anaknya benar-benar pergi dari kehidupannya.
Sora menatap kosong lantai tempatnya berpijak
sekarang. Sedangkan Yogi langsung meninju dinding di dekatnya. Matanya kini
sudah banjir airmata. Ekspresi kesal dan kehilangan kini benar-benar terlihat jelas
di wajahnya.
“Sial!!” geramnya pelan.
Perlahan-lahan Sora duduk di kursi yang kebetulan ada
di dekatnya. Sora menundukkan kepalanya dan menatap datar lantai di bawahya.
__ADS_1
Perlahan-lahan air mata jatuh juga dari pelupuk matanya.
“Kenapa lo pergi lagi, Sasi?”