Tears And Love

Tears And Love
Part Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Hari ini hari di mana Amora akan melakukan operasi


jantung. Semua orang langsung menangis bahagia saat mendengar bahwa Amora


akhirnya mau melakukan operasi. Yogi yang selama ini belum sadar akhirnya sadar


juga. Dia langsung merasa bersalah karena telah menyebabkan Amora kecelakaan.


“Gue nggak pa-pa, kok. Kan lo juga mesti dirawat di rumah


sakit gara-gara kecelakaan itu,” sahut Amora saat Yogi datang ke ruang


rawatnya.


Seperti yang dikatakan Amora, Yogi memang harus


dirawat beberapa hari di rumah sakit. Meski sudah keluar dari rumah sakit, Yogi


masih harus mengecek kesehatannya. Karena itu pula, ia harus izin dari sekolah.


“Maafin gue, ya, Ra,” ulang Yogi.


“Iya, nggak masalah. Udah gue maafin kok sebelum lo


minta maaf.”


Amora mengembangkan senyum agar Yogi tidak terlalu


merasa bersalah. Hal yang sangat berhasil karena setelahnya Yogi turut


mengembangkan senyumnya.


“Nah, gitu dong, senyum! Gue takut, tahu, ngelihat


muka lo yang selalu merengut itu. Nyeremin banget,” canda Amora, lantas terkekeh


pelan.


“Sialan


lo!”

__ADS_1


Sedangkan Pak Andre kini dirawat di rumah sakit jiwa


karena mulai berteriak-teriak di tengah malam. Pak Andre juga sering terlihat melamun


dan sering berbicara sendiri. Dia bahkan pernah mencoba untuk melompat dari jendela


kamarnya yang berada di lantai atas. Namun tindakannya langsung dicegah saat


seorang perawat yang bertugas mengeceknya melihat percobaan bunuh diri


tersebut.


“Mungkin dia merasa bersalah karena telah memisahkan


aku dengan Sasi,” kata Bu Nia saat itu.


Namun walaupun Bu Nia telah mengetahui bahwa Amora


adalah anak kandungnya, Bu Nia belum berniat sama sekali untuk memberi tahu


Amora bahwa dia adalah Ibu kandungnya. Bu Nia selalu berkata, “Biarkan waktu


yang akan mengatakannya pada Sasi.” Mengetahui bahwa anaknya masih hidup saja


Semua orang yang menyayangi Amora kini tengah menunggu


gadis itu yang tengah melakukan operasi. Mereka mempunyai doa yang sama, yaitu


menginginkan agar operasi gadis itu bisa berjalan dengan baik. Dan gadis itu


akan kembali ke pelukan mereka seperti sedia kala.


Namun walaupun kita berdoa dan memiliki rencana, Tuhan


lebih mempunyai rencana lain untuk kita sebagai makhluk ciptaannya.


Dokter Glen yang menangani operasi Amora langsung


menggeleng pelan begitu keluar dari ruang operasi. Semua orang yang sedari tadi


setia menunggu Amora, langsung merasa takut dan waswas.

__ADS_1


“Kami sudah berusaha sesuai kemampuan kami. Awalnya


operasi ini berjalan dengan baik. Tapi setelah operasinya akan selesai, pasien


mengalami pendarahan yang sangat hebat. Maafkan kami, kami sudah berusaha


semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa korban. Tapi Tuhan berkehendak


lain. Permisi.”


Bu Nia dan Bu Nita langsung terduduk lemas di lantai.


Bahkan Bu Nita yang membesarkan Amora selama ini langsung pingsan. Dengan cepat


Pak Damar menangkap tubuh Bu Nita yang lunglai sebelum akhirnya jatuh mencium


kerasnya lantai.


Bu Nia tidak dapat melakukan apa-apa selain


menangis.  Dia merasa hatinya benar-benar


sakit. Dulu, anaknya dikatakan meninggal. Kemudian anaknya ditemukan dan


ternyata masih hidup. Dan sekarang, Bu Nia harus benar-benar merelakan kalau


anaknya benar-benar pergi dari kehidupannya.


Sora menatap kosong lantai tempatnya berpijak


sekarang. Sedangkan Yogi langsung meninju dinding di dekatnya. Matanya kini


sudah banjir airmata. Ekspresi kesal dan kehilangan kini benar-benar terlihat jelas


di wajahnya.


“Sial!!” geramnya pelan.


Perlahan-lahan Sora duduk di kursi yang kebetulan ada


di dekatnya. Sora menundukkan kepalanya dan menatap datar lantai di bawahya.

__ADS_1


Perlahan-lahan air mata jatuh juga dari pelupuk matanya.


“Kenapa lo pergi lagi, Sasi?”


__ADS_2