
Apa yang dilakukan seseorang setelah ditinggal pergi orang yang ia cintai? Terlebih orang tersebut tidak bisa lagi ia lihat dan sentuh. Telah pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya dan tidak kembali lagi.
Sora merasakan hal yang sama. Sepeninggal Amora, ia menghabiskan waktunya di kamar. Merenung, memutar balik kisah yang telah mereka lalui bersama, meski hanya sebentar.
Ah, kenangan masa kecil mereka terlalu singkat. Begitu pun saat mereka sudah tumbuh menjadi remaja.
Jika bisa memutar ulang waktu, Sora tentu akan menghabiskan banyak waktunya bersama Amora. Melalui waktu yang begitu berharga itu dengan suka, canda, dan tawa yang akan ia kenang selamanya.
Mengintip dari celah daun pintu kamar Sora, Yogi hanya bisa mengembuskan napas panjang. Di belakang pemuda itu, Nia berdiri dengan membawa baki berisi makanan untuk Sora. Begitu Yogi berbalik, pemuda itu menggeleng pelan, sebagai isyarat bagi Nia bahwa kondisi Sora makin mengenaskan.
"Nanti aku aja yang ngasih ke Sora," ucap Yogi, lantas mengambil alih baki di tangan Nia.
Nia mengangguk, memberikan baki yang ia pegang ke Yogi. Meski terlihat enggan, Nia akhirnya berlalu dari hadapan Yogi.
Sudah dua bulan semenjak kematian Amora. Selama itu pula Sora masih berkabung dalam duka. Yogi tidak bisa menbantu banyak, begitu pula dengan Nia. Meski beberapa hari yang lalu Sora nampaknya sudah berhasil keluar dari kesedihan, tapi siapa yang mengetahui isi hati manusia?
__ADS_1
Entah apa yang membuat Sora kembali berkutat dalam nestapa. Mungkin karena ia tidak sengaja melihat foto masa kecil Amora yang dipegang Nia.
Tidak ada yang tahu pasti.
Selepas kepergian Nia, Yogi membulatkan tekad untuk mendekati Sora yang duduk di pinggir jendela. Bahkan suara daun pintu yang Yogi buka, tidak lantas membuat Sora menoleh.
"Gue kira cuma cewek aja yang cengeng. Ternyata lo juga bisa cengeng," ejek Yogi. Pemuda itu meletakkan baki makanan yang ia bawa ke atas nakas. Bersedekap sembari mendekati Sora yang masih bergeming.
Keheningan menyapa. Yogi mengikuti arah pandangan Sora: langit biru di atas sana. Senyum miring terbit di wajah Yogi.
Perlahan, Sora menoleh. Tahu bahwa Yogi tengah mengartikan namanya. Ya, Sora berarti langit dalam bahasa Jepang. Baik Yogi maupun Sora sudah mengetahui hal tersebut. Bahkan hal tersebut tidak jarang membuat Yogi mengatai Sora.
"Amora berarti cinta. Sora dan Amora, langit cinta."
Menoleh ke arah Sora, Yogi tersentak menyadari tatapan pemuda itu yang mengarah lurus padanya. Ah, sepertinya Yogi berhasil menarik perhatian Sora.
__ADS_1
"Ra, Amora emang udah nggak ada di dunia ini, tapi bukan berarti lo juga mesti kehilangan hidup lo. Sah-sah aja kalau lo sedih, tapi apa lo nggak mikir, kalau Amora tahu lo kayak gini sepeninggal dia, tu cewek bakal baik-baik aja?"
Yogi geli sendiri mendengar kalimat yang terlontar dari bibirnya. Dari mana ia belajar kata-kata bijak seperti itu?
"Gue masih berusaha untuk menerima takdir," balas Sora, tak berselang lama. Pemuda itu lantas berdiri, menatap kosong baki makanna yang tadi dibawa Yogi.
"Jangan lupa dimakan. Mama sudah buatin buat lo," kata Yogi, begitu menyadari arah tatapan Sora.
"Hm, nggak janji."
"Lo tadi bilang mau menerima takdir, tapi kenyataannya nggak demikian. Malah gue yang lebih dulu nerima takdir dan mau manggil Nia dengan panggilan 'Mama'. Mana Sora yang selalu dibanggakan papa sebagai orang yang lebih dewasa dari gue?"
Sora membisu.
"Ternyata cowok yang dibanggain bokap gue, nggak lebih dari cowok pengecut yang cengeng dan nggak bisa nerima takdir! Payah!"
__ADS_1
Setelah mengatakannya, Yogi berlalu dari hadapan Sora. Tidak menoleh ataupun membiarkan Sora untuk membalas kata-katanya. Yogi ingin Sora memikirkan ulang ucapannya.