Tears And Love

Tears And Love
Part Dua Puluh Enam


__ADS_3

Part Dua Puluh Enam


Mang


Ujang memacu cepat mobil milik Pak Andre. Dia sudah meminta izin pada Pak Andre


untuk membawanya dengan alasan ingin menjenguk keluarganya yang sakit. Padahal


Mang Ujang mengambil cuti dan meminjam mobil Pak Andre karena mempunyai rencana


lain.


Dia


ingin menebus kesalahan serta dosanya dengan berharap akan mendapatkan sebuah


kebenaran. Walaupun dia akan menerima hukuman yang berat sekalipun. Namun Mang


Ujang sudah tidak mau lagi dihantui oleh perasaan bersalah.


Mang


Ujang menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang terlihat sederhana tapi asri.


Dengan langkah pelan Mang Ujang mendekati rumah tersebut dan mengetuk daun


pintunya secara perlahan.


Setelah


beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu yang dicat warna hijau itu sedikit


demi sedikit terbuka. Seorang perempuan setengah baya kini sudah berdiri di


depan Mang Ujang dengan ekspresi bingung karena pagi buta seperti ini sudah ada


yang bertamu.


“Ada


keperluan apa, Nduk?” tanya Ibu itu


dengan tatapan penuh selidik.


“Ehm,


begini. Sebenarnya saya ingin mencari anak yang sembilan tahun lalu dititipkan


di panti asuhan ini.” kata Mang Ujang pelan.


Ibu


itu mengernyitkan keningnya sehingga memunculkan kerutan di kulit dahinya yang


sudah mengendur. “Namanya siapa, ya? Sembilan tahun yang lalu ada beberapa anak


yang ditinggal orang tuanya di panti asuhan ini.”


“Namanya


… Sasi Amora.”


Ibu


itu mengangguk pelan. “Tunggu sebentar.”


Mang


Ujang mengangguk dan duduk di salah satu kursi rotan yang ada di teras panti


tersebut. Mang Ujang merasa gelisah karena takut kalau ternyata Sasi sudah


diambil dan diangkat anak oleh seseorang. Hal ini pasti akan semakin


menyulitkannya dan menambah rasa bersalah di hatinya.


Rasa


bersalah Mang Ujang sedikit tertutupi saat melihat Ibu itu menghampirinya


dengan beberapa laki-laki bertampang lumayan sangar. Di tangan Ibu itu terdapat


berkas yang terlihat kusam. Ibu itu kemudian duduk di kursi rotan yang terdapat

__ADS_1


di depan Mang Ujang. Sedangkan laki-laki yang datang bersamanya tadi hanya


berdiri sambil menatap Mang Ujang penuh arti.


“Ini


daftar nama anak-anak yang pernah tinggal di panti ini dan anak yang sudah


mempunyai orang tua asuh,” kata Ibu itu sambil menyerahkan beberapa berkas kepada


Mang Ujang.


“Sebenarnya


kami tidak boleh memperlihatkan berkas ini secara sembarangan. Tapi Bunda


memaksa, jadi kami memperbolehkan Bunda dengan syarat bahwa kami akan berada di


dekat Bunda. Karena sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertamu,” kata salah


seorang laki-laki yang berwajah paling sangar di belakang Ibu itu.


Mang


Ujang menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat tatapan laki-laki itu


yang seolah ingin membunuhnya. Dengan gemetaran Mang Ujang membuka berkas yang


paling bawah.


“Bu,


anak yang ini apa masih ada di sini?” tanya Mang Ujang sambil menunjukkan salah


satu foto anak yang tertera di daftar tersebut.


Ibu


itu memakai kacamatanya dan melihat foto yang dimaksud Mang Ujang. Ibu itu tersenyum


sambil mengangguk kecil.


“Amora


Mang


Ujang menggeleng.


“Bukan


Amora Sasi. Tapi Sasi Amora,” ralat Mang Ujang dengan yakin.


Dia


tidak mungkin salah menyebutkan nama Sasi. Waktu Sasi kecil, dialah yang


membantu Pak Reno mengurusi berkas-berkas Sasi. Jadi tanpa disuruh, Mang Ujang


akhirnya hapal nama Sasi di luar kepala.


“Tapi


yang tertulis di sini adalah Amora Sasi, bukan Sasi Amora,” balas Ibu itu tak


kalah yakin. “Dititipkan oleh Bapak Joko karena beliau akan pindah ke Jakarta.


Katanya anak itu sudah tidak mempunyai orang tua. Dia menitipkan anak ini


karena dia tidak mempunyai biaya untuk mengurus dua anak sekaligus. Benar,


kan?” Ibu itu mencoba memastikan.


Mang


Ujang langsung mengangguk-angguk saat Ibu itu membaca profil singkat yang


tertulis di berkas tersebut. “Iya, di mana anak itu sekarang? Apa dia masih


tinggal di tempat ini?” kejar Mang Ujang. Mang Ujang terlihat senang karena


Sasi memang pernah tinggal di panti asuhan ini.


Ibu

__ADS_1


itu kembali membaca berkas tersebut. Kemudian ia menutup berkas itu dan menaruhnya


di atas meja sambil menatap Mang Ujang.


“Sayang,


sekali. Anak itu sudah memiliki orang tua angkat setelah beberapa hari tinggal


di panti ini. Dia diasuh oleh keluarga Bapak Januarja.”


Mang


Ujang terlihat lesu saat mendengar bahwa Sasi sudah diangkat dan tidak tinggal


lagi di panti ini. Kemudian Mang Ujang bangkit dari duduknya dan mengucapkan


terima kasih dengan sangat pelan.


“Kamu


di mana, Non Sasi? Mamang merasa sangat bersalah sama kamu.”


***


“Ma, aku baik-baik aja.”


Bu Nia menggeleng keras. Air matanya jatuh tak tertahankan


saat melihat putri kecilnya berdiri tepat di depan matanya. Bu Nia langsung


memeluk putri kecilnya itu dengan sangat erat.


“Mama kangen sama kamu, Nak. Kenapa kamu dan Papa


meninggalkan Mama? Mama sangat tidak mau kehilangan kamu Sasi,” lirih Bu Nia


berkata.


Bu Nia dapat merasakan putri kecilnya kini menggeleng


pelan.


“Aku nggak benar-benar pergi dari Mama. Aku selalu ada


di dekat Mama dan tanpa Mama sadari. Aku juga merindukan Mama, jauh lebih rindu


…,” bisiknya pelan.


“Jangan tinggalkan Mama lagi. Mama tidak mau!”


“Aku juga tidak mau pergi dari Mama. Tapi, takdir yang


membuat kita terpisah. Maafin aku, Ma, kalau selama ini aku buat Mama sedih.”


Bu Nia menggeleng sambil memegangi kedua pipi putri


kecilnya. Menatap lurus mata beningnya yang sangat ia rindukan.


“Kamu tidak pernah membuat Mama sedih. Mama bahagia


karena memiliki kamu, Sasi.”


“Sasi sayang sama Mama. Sasi akan berusaha untuk


berada di dekat Mama.”


Bu Nia memeluk Sasi lagi dengan erat. Tidak mau lagi


putri kecilnya ini pergi jauh meninggalkannya. Bu Nia menyipitkan matanya saat


sebuah cahaya yang menyilaukan kini berada di depan matanya. Setelah seberkas cahaya


itu menghilang, Bu Nia kaget karena Sasi kini sudah tidak ada di dalam


pelukannya lagi.


“Sasi!!!”


pekik Bu Nia keras. Bu Nia mengeluarkan air matanya saat menyadari bahwa itu


semua hanyalah mimpi. Mimpi yang seringkali muncul karena dia begitu merindukan


Sasi.

__ADS_1


“Apa benar kamu selalu ada di dekat Mama, Nak?”


__ADS_2