
Part Dua Puluh Enam
Mang
Ujang memacu cepat mobil milik Pak Andre. Dia sudah meminta izin pada Pak Andre
untuk membawanya dengan alasan ingin menjenguk keluarganya yang sakit. Padahal
Mang Ujang mengambil cuti dan meminjam mobil Pak Andre karena mempunyai rencana
lain.
Dia
ingin menebus kesalahan serta dosanya dengan berharap akan mendapatkan sebuah
kebenaran. Walaupun dia akan menerima hukuman yang berat sekalipun. Namun Mang
Ujang sudah tidak mau lagi dihantui oleh perasaan bersalah.
Mang
Ujang menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang terlihat sederhana tapi asri.
Dengan langkah pelan Mang Ujang mendekati rumah tersebut dan mengetuk daun
pintunya secara perlahan.
Setelah
beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu yang dicat warna hijau itu sedikit
demi sedikit terbuka. Seorang perempuan setengah baya kini sudah berdiri di
depan Mang Ujang dengan ekspresi bingung karena pagi buta seperti ini sudah ada
yang bertamu.
“Ada
keperluan apa, Nduk?” tanya Ibu itu
dengan tatapan penuh selidik.
“Ehm,
begini. Sebenarnya saya ingin mencari anak yang sembilan tahun lalu dititipkan
di panti asuhan ini.” kata Mang Ujang pelan.
Ibu
itu mengernyitkan keningnya sehingga memunculkan kerutan di kulit dahinya yang
sudah mengendur. “Namanya siapa, ya? Sembilan tahun yang lalu ada beberapa anak
yang ditinggal orang tuanya di panti asuhan ini.”
“Namanya
… Sasi Amora.”
Ibu
itu mengangguk pelan. “Tunggu sebentar.”
Mang
Ujang mengangguk dan duduk di salah satu kursi rotan yang ada di teras panti
tersebut. Mang Ujang merasa gelisah karena takut kalau ternyata Sasi sudah
diambil dan diangkat anak oleh seseorang. Hal ini pasti akan semakin
menyulitkannya dan menambah rasa bersalah di hatinya.
Rasa
bersalah Mang Ujang sedikit tertutupi saat melihat Ibu itu menghampirinya
dengan beberapa laki-laki bertampang lumayan sangar. Di tangan Ibu itu terdapat
berkas yang terlihat kusam. Ibu itu kemudian duduk di kursi rotan yang terdapat
__ADS_1
di depan Mang Ujang. Sedangkan laki-laki yang datang bersamanya tadi hanya
berdiri sambil menatap Mang Ujang penuh arti.
“Ini
daftar nama anak-anak yang pernah tinggal di panti ini dan anak yang sudah
mempunyai orang tua asuh,” kata Ibu itu sambil menyerahkan beberapa berkas kepada
Mang Ujang.
“Sebenarnya
kami tidak boleh memperlihatkan berkas ini secara sembarangan. Tapi Bunda
memaksa, jadi kami memperbolehkan Bunda dengan syarat bahwa kami akan berada di
dekat Bunda. Karena sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertamu,” kata salah
seorang laki-laki yang berwajah paling sangar di belakang Ibu itu.
Mang
Ujang menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat tatapan laki-laki itu
yang seolah ingin membunuhnya. Dengan gemetaran Mang Ujang membuka berkas yang
paling bawah.
“Bu,
anak yang ini apa masih ada di sini?” tanya Mang Ujang sambil menunjukkan salah
satu foto anak yang tertera di daftar tersebut.
Ibu
itu memakai kacamatanya dan melihat foto yang dimaksud Mang Ujang. Ibu itu tersenyum
sambil mengangguk kecil.
“Amora
Mang
Ujang menggeleng.
“Bukan
Amora Sasi. Tapi Sasi Amora,” ralat Mang Ujang dengan yakin.
Dia
tidak mungkin salah menyebutkan nama Sasi. Waktu Sasi kecil, dialah yang
membantu Pak Reno mengurusi berkas-berkas Sasi. Jadi tanpa disuruh, Mang Ujang
akhirnya hapal nama Sasi di luar kepala.
“Tapi
yang tertulis di sini adalah Amora Sasi, bukan Sasi Amora,” balas Ibu itu tak
kalah yakin. “Dititipkan oleh Bapak Joko karena beliau akan pindah ke Jakarta.
Katanya anak itu sudah tidak mempunyai orang tua. Dia menitipkan anak ini
karena dia tidak mempunyai biaya untuk mengurus dua anak sekaligus. Benar,
kan?” Ibu itu mencoba memastikan.
Mang
Ujang langsung mengangguk-angguk saat Ibu itu membaca profil singkat yang
tertulis di berkas tersebut. “Iya, di mana anak itu sekarang? Apa dia masih
tinggal di tempat ini?” kejar Mang Ujang. Mang Ujang terlihat senang karena
Sasi memang pernah tinggal di panti asuhan ini.
Ibu
__ADS_1
itu kembali membaca berkas tersebut. Kemudian ia menutup berkas itu dan menaruhnya
di atas meja sambil menatap Mang Ujang.
“Sayang,
sekali. Anak itu sudah memiliki orang tua angkat setelah beberapa hari tinggal
di panti ini. Dia diasuh oleh keluarga Bapak Januarja.”
Mang
Ujang terlihat lesu saat mendengar bahwa Sasi sudah diangkat dan tidak tinggal
lagi di panti ini. Kemudian Mang Ujang bangkit dari duduknya dan mengucapkan
terima kasih dengan sangat pelan.
“Kamu
di mana, Non Sasi? Mamang merasa sangat bersalah sama kamu.”
***
“Ma, aku baik-baik aja.”
Bu Nia menggeleng keras. Air matanya jatuh tak tertahankan
saat melihat putri kecilnya berdiri tepat di depan matanya. Bu Nia langsung
memeluk putri kecilnya itu dengan sangat erat.
“Mama kangen sama kamu, Nak. Kenapa kamu dan Papa
meninggalkan Mama? Mama sangat tidak mau kehilangan kamu Sasi,” lirih Bu Nia
berkata.
Bu Nia dapat merasakan putri kecilnya kini menggeleng
pelan.
“Aku nggak benar-benar pergi dari Mama. Aku selalu ada
di dekat Mama dan tanpa Mama sadari. Aku juga merindukan Mama, jauh lebih rindu
…,” bisiknya pelan.
“Jangan tinggalkan Mama lagi. Mama tidak mau!”
“Aku juga tidak mau pergi dari Mama. Tapi, takdir yang
membuat kita terpisah. Maafin aku, Ma, kalau selama ini aku buat Mama sedih.”
Bu Nia menggeleng sambil memegangi kedua pipi putri
kecilnya. Menatap lurus mata beningnya yang sangat ia rindukan.
“Kamu tidak pernah membuat Mama sedih. Mama bahagia
karena memiliki kamu, Sasi.”
“Sasi sayang sama Mama. Sasi akan berusaha untuk
berada di dekat Mama.”
Bu Nia memeluk Sasi lagi dengan erat. Tidak mau lagi
putri kecilnya ini pergi jauh meninggalkannya. Bu Nia menyipitkan matanya saat
sebuah cahaya yang menyilaukan kini berada di depan matanya. Setelah seberkas cahaya
itu menghilang, Bu Nia kaget karena Sasi kini sudah tidak ada di dalam
pelukannya lagi.
“Sasi!!!”
pekik Bu Nia keras. Bu Nia mengeluarkan air matanya saat menyadari bahwa itu
semua hanyalah mimpi. Mimpi yang seringkali muncul karena dia begitu merindukan
Sasi.
__ADS_1
“Apa benar kamu selalu ada di dekat Mama, Nak?”