
Sudah memasuki bulan Ramadhan. Fika menyambutnya dengan sangat sukacita. untuk sahur pertama Fika memasak rendang ayam. Emang Harry ada memberikan uang sebesar 50ribu ke Fika untuk belanja dan masak rendang ayam itu. Ayam hari itu menginjak di angka 33 ribu perkilo nya. Fika pun membeli hanya sekilo saja dan di tambah ceker ayamnya 1 kilo dengan harga 20ribu perkilo nya. Harry sangat suka dengan ceker ayam. Bagi Harry lebih baik ceker saja pun daripada ayamnya. Namun anak anak juga kan tak pintar makan ceker. Sebenarnya juga Fakhri belum pintar makan ayam. Sehingga Fika tetap selalu sedia nugget dan telur khusus untuk Fakhri. Karena dia tak kan pernah bisa makan lauk dan sayur yang di masak Fika. Fakhri tak bisa makan pedas. sayur yang bisa di makannya hanya seperti sup dan sayur daun ubi tumbuk. lauk pun hanya lah perkedel, telur dan nugget. Itulah kenapa di kulkas Fika wajib menyetok telur dan nugget itu khusus Fakhri. Sosis Fakhri juga suka ya. kalau nugget kadang Fika buat sendiri dari bahan dasar ayam yang di blender bersama tahu serta wortel yang di beri merica sedikit dan bumbu perasa. Fika seorang ibu yang cukup rajin membuat cemilan di rumah. Karena menurutnya agak boros kalau jajan di luar belum lagi ketahuan kejelasan kebersihan dan ke higenis an dalam makanan itu. kalau buat sendiri kan jelas semuanya. Selain itu kan lebih hemat juga. Dengan jumlah uang yang sama untuk membeli dan membuat makanan tersebut akan menghasilkan yang sangat beda. Kalau beli hanya dapat sedikit, kalau buat hasil lebih banyak dan makan pun puas tanpa merasa kekurangan. Karena kan kalau beli pasti sedikit dan pasti juga kekurangan. Fika banyak belajar dari mamanya yang begitu. Sedari kecil Fika bukanlah anak yang hobby jajan. Karena Fika lah yang menjadi pedagangnya. Fika menjual aneka kue dan mie saat di sekolah. Setiap pergi sekolah Fika sudah menggendong tas ranselnya. kedua tangannya membawa dagangannya. sebelah kanannya menenteng plastik berisi aneka kue, sebelah kiri menenteng plastik berisikan mie. Kalau semua dagangan habis Fika akan di beri upah dan upah itu di tabung Fika untuk bisa ikut dengan teman temannya. Kadang ada seorang teman mengajak main di time zone saat hari minggu. Kalau bukan dari hasil dagang darimana Fika bisa ikut bermain di time zone. untuk ke sana saja harus menaiki angkot dan bayar. belum lagi beli koin time zone nya. Itulah kenapa Fika senang dagang. Dengan hasilnya sendiri Fika menikmati. Bukan minta ke orang tuanya. Sehingga Fika sudah paham kerasnya bekerja mencari cuan. Fika di lahir kan bukan dari keluarga kaya yang bisa di manja. Emang 2 kali setahun orang tua Fika membawa seluruh anaknya ke tempat bermain dahulu namanya " taman ria". Namun ke sana pun kami main gratis karena dahulu kalau bisa mendapatkan juara mulai dari 1 sampai 10 akan dapat gratis tiket bermain. Sedangkan adik Fika selalu juara 1. Sedangkan Fika dan kakaknya juga mendapatkan juara kadang di 3 kadang di 5 pokoknya masih di 10 besar. hanya abang Fika yang tak pernah mendapatkan juara karena abangnya dahulu waktu bayi pernah terserang step karena demam yang cukup tinggi.