Tentang Fika

Tentang Fika
Bab 72


__ADS_3

Fika teringat saat Ramadhan tahun kemaren di rumah mertuanya dan Harry masih di penjara. Fika cukup sangat lelah karena Fika sudah kerja di luar di rumah mertua Fika membereskan rumah, memasak, dan mencuci pakaian.


Bahkan pas menjelang lebaran Fika membereskan rumah mertuanya sendirian saja. Padahal ada juga adik iparnya yaitu istrinya sani. Namun dia seperti majikan saja.


Tiap tahun 2 kakak ipar Fika selalu mengantar makanan. Fika pun begitu juga bila tidak tinggal dengan mertuanya. Jika tinggal dengan mertuanya Fika lah yang masak untuk lebaran.


Kali ini Fika tinggal tidak bersama dengan mertua. Namun Fika sangat benci dengan kebiasaan Harry yang selalu payah kalau di bangunkan untuk makan sahur. Padahal makan sahur itu rukun sah nya. Harry selalu berdalih masih kenyang karena malam udah makan. Kalau di bangunin bisa bertengkar. Itulah hal sepele jadi awal mula pertengkaran.


Sebenarnya Fika mengingatkan agar tidak di contoh anaknya. Karena malah kadang Harry tak sanggup puasa. Alhamdulillah Fikri saat TK sudah bisa puasa penuh 1 harian namun kadang beberapa hari ada yang tinggal. Itulah Fika meminta Harry agar ikutan sahur. Agar Fikri tambah semangat puasanya. Karena bagaimana Fikri mau semangat sementara papanya aja bermalas malasan puasa.


" pa, bangun yok sahur...Fikri, bangun yok sahur." ucap Fika sambil menggoyang kan badan Harry dan Fikri. Fakhri di biarkan nya tidur.

__ADS_1


" Iya ma, ntar lagi lah ma." ucap Harry dengan mata tertutup.


" Udah jam berapa ini. yok buruan. nanti keburu imsak."


Harry pun bangun dengan tergontai menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar tak mengantuk lagi.


" Pa, Fikri ini bangunin." ucap Fika


Namun Fikri tak kunjung bangun.


" Gendong aja pa dulu bawa kamar mandi." ucap Fika.

__ADS_1


Harry pun menggendong Fikri membawa ke kamar mandi untuk di basuh wajahnya agar tak mengantuk.


Lalu duduk bersama Fika, Harry dan Fikri makan sahur dengan lauk kemarin sore sambel udang dan kentang serta sayur sop.


Fikri makan di suapin. Harry pun begitu juga tak mau kalah. Fika lah yang menyuapi mereka berdua.


Selesai makan Harry pergi ke mesjid bersama Fikri. Fika sholat dirumahnya saja. Karena Fakhri sedang tidur tak mungkin di tinggal.


Selesai sholat Fika tidur lagi. Namun tidurnya sambil terjaga karena pintu tak di kunci menunggu Harry dan Fikri yang kembali dari mesjid.


Kadang begitu indah seperti itukan. Sahur bersama. Harry membawa anaknya sholat di mesjid. Fika merasa bahagia sekali. Namun cerita akan lain jika Harry meminta jatah mingguan di malam jumat. Ya jumat pagi nya tak kan puasa dia. Karena tak mampu mandi di subuh hari. Alasannya dingin, tak apalah sekali tak puasa dan sholat. Kalau Fika memaksa akan terjadi pertengkaran. Namun jika Fika tak memberi jatah mingguannya dia akan menuntut sudah memberi nafkah kok tidak di kasih jatah. Di situ Fika merasa marah. Karena bukannya cukup uang yang di beri Harry untuk belanja. itu Fika pasti akan menambahnya lagi dengan uang gaji dari hasil kerja Fika dan jualan. Kadang apakah Harry tak pernah mikir uang yang di berinya cukup untuk makan mereka sehari hari. Kadang sangking kesalnya Fika meminta Harry lah yang belanja agar dia paham.

__ADS_1


__ADS_2